Melati Untuk Alvaro

Melati Untuk Alvaro
07


__ADS_3

sore itu sepulang dari butik, melati langsung menuju kamarnya dan membersihkan dirinya di kamar mandi. setelah selesai ia lantas turun membantu bik siti untuk menyiapkan makan malam.


setelah selesai memasak melati dan bik siti menyusun semua makanan yang telah mereka buat di meja makan.


"malam ma." sapa melati kepada mama mertuanya yang baru saja tiba didapur


"malam sayang. yuk kita makan sekarang, mama sudah lapar sekali mel"


"ayo ma"


"oh ya mel, apa suamimu belum kembali.?"


"varo belum pulang ma"


"coba kamu telfon suamimu mel, tanyakan sudah sampai mana dia.! tidak biasanya dia pulang terlambat"


"mel tadi sudah telfon varo ma, tetapi tidak di angkat" dusta melati. jangankan untuk menghubungi suaminya, bahkan nomor ponsel suaminya saja dia tidak punya.


"kebiasaan sekali bocah nakal itu"


"mungkin varo ada pekerjaan mendadak ma, makanya dia pulang terlambat"


"iya, mungkin bisa jadi sih mel"


setelah selesai makan malam, melati langsung membereskan meja makan dan mencuci piring. setelah selesai ia langsung menuju kamar.


setibanya di kamar ia memutuskan untuk membaca buku. dua jam sudah melati membaca bukunya sambil menunggu varo pulang, namun yang di tunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"kemana varo.? kenapa sudah selarut ini ia masih belum kembali" ekor mata melati melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 22.30 tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda suaminya itu akan pulang.



setelah lelah menunggu, melati memutuskan untuk tidur. ia benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. di tutup buku yang semula ia baca di letakkan diatas nakas, ia pun melepas kuncir rambutnya. ia merebahkan tubuh lelahnya, tak butuh waktu lama melati talah lelap di buai oleh mimpi.

__ADS_1


********************************


sedangkan di tempat lain. varo dan kedua sahabatnya tampak berada di sebuah bar yang cukup terkenal di kota itu.


"ayolah ro kita pulang sekarang kasian binik loe, dia pasti sedang cemas mikirin loe" ejek bima.


"ahh crewet banget sih loe. loe tau nggak.? gue bahkan nggak pernah berfikir kalau tuh cewek cupu bakal jadi istri gue" ketus varo, sambil terus menenggak minuman beralkohol di tangannya.


"iya kita tau ro, kayak apa kriteria cewek yang loe suka. tapi menurut gue, tuh cewek cupu nggak buruk-buruk banget bro"


"kali ini gue setuju sama gio. binik loe itu cuma perlu sedikit di make over bro.! gue yakin dia nggak kalah cantik sama gadis-gadis di luar sana"


"betul tuh. belajarlah buat menerima dan mencintai melati, dia gadis yang baik bro"


"ahh..... sudahlah, ayo kita pulang" ajak varo kepada gio dan juga bima.


setelah keluar dari bar, dan menuju ke tempat parkir, mereka pun lantas berpisah untuk pulang kerumah masing-masing.


*************************


varo pun langsung menuju kamarnya. ketika masuk, hal pertama yang ia lihat adalah melati yang lelap akan tidurnya. di perhatikannya setiap inci wajah melati yang mulus tanpa noda.


varo menghampiri melati, dan dengan sangat hati-hati ia melepas kaca mata yang di kenakan oleh istrinya tersebut.


"cantik..." gumam varo. varo menarik bibirnya ke atas, hingga membentuk seulas senyum di bibirnya.


"dia terlihat polos kalau sedang tidur seperti ini" tak henti-hentinya varo bergumam, sambil memperhatikan wajah cantik istrinya.


"mungkin benar kata gio dan bima, gue harus belajar menerima dia. lagian gue juga nggak tega kalau harus menceraikannya, dan mengecewakan kakek" gumam varo.


ia lantas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai ia merebahkan tubuh lelahnya di samping istrinya.


************

__ADS_1


seminggu kemudian.


pernikahan varo dan melati masih sama saja belum ada kemajuan sama sekali, hanya saja varo sudah agak melunak dan mengizinkan melati untuk menyiapkan segala keperluannya.


seperti biasa varo mengantarkan melati bekerja, dan menurunkannya di jalan utama. sampai sekarang ia masih juga belum mau mengantarkan melati sampai ke tempat kerjanya.


"dia masih saja dingin" gumam melati, sambil melihat mobil varo yang perlahan hilang dari pandangan matanya.


"oke baiklah, jangan menyerah mel. kamu pasti bisa.! kamu nggak boleh mengecewakan papa dan mama. kamu harus bisa bertahan, semangat melati" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


tak lama taksi yang ia pesan telah datang. setelah sampai dibutik, melati bergegas turun dan menghampiri kedua sahabatnya yang tampak tengah panik.


"sarah, liyla kalian kenapa.? kenapa kalian tampak panik seperti ini.?"


"gimana kita nggak panik mel, model yang kita sewa mendadak mengabari bahwa dia tidak bisa datang karna sakit"


"iya mel, gimana ini.?"


melati tampak berfikir sejenak, ia memperhatikan kedua sahabatnya. ia berfikir kedua sahabatnya pun juga tidak kalah cantik dari seorang model.


"kenapa tidak salah satu dari kalian saja yang menggantikan model itu" ide itu tiba-tiba keluar begitu saja dari otak melati


"kita" ucap sarah dan liyla bersamaan.


"iya, kalian. memangnya siapa lagi.? kalian tidak kalah cantik dengan para model itu"


sarah dan liyla pun saling tatap.


"kamukan tau mel aku orangnya pemalu" jawab liyla "aku tidak cukup berani untuk itu, aku juga tidak ingin mempermalukan butik kita"


"dan kamu juga tau kan mel kalau gue orangnya panikan dan ceroboh, nggak mungin juga kalau gue yang gantiin tuh model"


"trus kalau kalian tidak ada yang mau, siapa yang akan menggantikan model itu.?"

__ADS_1


sarah dan liyla pun saling tatap dan tersenyum.


"kenapa tidak kamu saja mel" ucap mereka secara bersamaan.


__ADS_2