
entah mengapa pagi ini ada sesuatu yang tercekat ditenggorokan melati, perutnya pun terasa diaduk-aduk. dengan segera ia beranjak dari tidurnya dan dengan susah payah ia bangun dan segera menuju kedalam kamar mandi, tubuhnya terasa lemas sekali karna pertarungan panas yang ia lakukan bersama varo semalam, entah berapa kali varo membobol pertahanan melati, dan entah mengapa percintaan mereka kali ini benar-benar penuh gairah, seolah gairah itu membakar tubuh mereka untuk terus melakukannya lagi dan lagi.
"hoek... hoek.... hoek"
"sayang kamu tidak apa-apa?" tanya varo yang baru saja bangun karna mendengar melati muntah-muntah"
"tidak sayang, mungkin aku masuk angin"
"yasudah kalau gitu aku buatkan teh hangat untukmu ya" ucap varo sembari menuntun melati menuju ranjang.
"maaf ya sayang. kalau aku sakit, aku selalu merepotkanmu"
"kamu ini bicara apa yank, ini memang sudah menjadi tugasku. bahkan apa yang aku lakukan tidak akan sebanding dengan apa yang kamu lakukan untukku dan juga untuk anak-anak, kamu tunggu sebentar ya aku buatkan teh dulu" ucap varo sembari berlalu pergi.
"iya sayang"
"papi tumben sudah bangun?" tanya abang al
"iya benar tumben papi sudah bangun, dan malah mami yang kesiangan" timpal alice.
"mami nggak kesiangan nak, mami kalian sedang sakit. makanya papi suruh istirahat dikamar, ini papi mau buatkan teh hangat untuk mami"
"mami sakit pi? perasaan kemarin mami baik-baik saja"
"iya ya bang, perasaan kemarin mami sehat-sehat aja"
"mami masuk angin, mungkin karna kelelahan juga karna habis liburan"
"kalau gitu abang dan dedek lihat mami dulu ya pi"
"iya tapi jangan lama-lama, ingat kalian harus bersiap-siap untuk sekolah"
"siap papi" ucap al dan alice bersamaan sembari memberi hormat kepada sang papi.
"mami, mami sakit apa?" tanya alice ketika sudah sampai kamar sang mami.
"iya mi, mami sakit apa? biar abang pijit ya mi"
"dedek juga akan pijit mami"
"terimakasih kesayangan-kesayangannya mami. mami tidak kenapa-kenapa sayang, mami hanya masuk angin saja"
"mami nggak boleh sakit ya mi, kalau mami sakit dedek jadi sedih"
"anak gadis mami nggak boleh sedih dan cengeng dong, dedek harusnya berdoa kepada Tuhan supaya mami lekas sembuh dan bisa mengurus abang dan dedek lagi"
"dedek akan selalu berdoa untuk kesehatan mami"
"abang pun juga mi"
"terimakasih sayang" ucap melati sembari mencium pipi al dan alice secara bergantian.
"sayang ini minum dulu tehnya mumpung masih hangat" ucap varo ketika sudah masuk kedalam kamar.
"makasih sayang. aku sangat bersyukur sekali memiliki kalian bertiga dalam hidupku, mami sayang papi, abang, dan juga dedek"
"kami juga sayang mami" ucap varo, al, dan alice secara bersamaan.
"anak-anak ayo kembali kekamar kalian masing-masing mandi dan siap-siap pergi kesekolah"
"mami sakit pi, siapa yang akan mengantar kami?"
"papi yang akan mengantar dedek dan juga abang, sekarang cepat pergi bersiap"
"siap papi" jawab al dan alice sembari berlalu pergi.
"aku mandi dulu ya sayang, kamu nggak usah pergi bekerja. istirahat saja dulu, biar pekerjaan sarah dan liyla yang mengurusnya"
__ADS_1
"iya sayang"
vari segera pergi kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan melati segera beranjak dari duduknya dan menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya, setelah selesai menyiapkan keperluan suaminya melati kembali duduk dan bersandar disandaran ranjang sembari menyesap teh buatan varo.
"sayang, kamu harusnya tidak perlu menyiapkan bajuku. aku bisa menyiapkannya sendiri"
"tidak apa-apa sayang, sekarang cepatlah bersiap nanti anak-anak telat kesekolahnya"
"iya sayang" ucap varo sembari mengenakan pakaiannya, setelah selesai berpakaian varo segera menyisir rambutnya.
"mami" panggil alice yang baru masuk dan sudah rapi memakai seragam sekolahnya.
"anak mami sudah cantik sekali"
"mami tolong ikatkan rambut dedek"
"siap tuan putri" jawab melati sembari mengambil sisir dan kuncir yang dibawa alice, dan dengan segera melati mengepang rambut putri kesayangannya.
"mami cepat sembuh ya, abang pergi kesekolah dulu" pamit al sembari mencium pipi dan juga tangan melati.
"iya sayang. jangan lupa sarapan ya bang"
"iya mi" ucap al sembari berlalu pergi.
"mami apa sudah selesai?"
"sebentar lagi sayang"
"ayo cepat mami, dedek mau nyusulin abang. dedek juga sangat lapar"
"iya sayang, nahh sudah selesai"
"dedek pergi dulu ya mi, mami cepat sembuh" ucap alice sembari menghujani ciuman kepada melati, sebelum ia beranjak pergi.
"sayang aku pergi dulu ya. kamu istirahat yang cukup, nanti sarapannya biar bik siti bawa kemari"
"iya sayang" ucap melati sembari mencium tangan varo.
"iya sayang, hati-hati dijalan"
"iya sayang"
drtt... drtt.... drtt
suara getar ponsel melati menandakan ada sebuah panggilan masuk, melati segera meraih ponselnya dan melihat siapa yang mengubunginya.
"sarah ngapain pagi-pagi seperti ini melakukan panggilan video" gumam melati, dan ia pun segera mengangkat panggilan video dari sahabatnya tersebut.
"hai sar, ada apa?"
"mel gue nggak bisa masuk kerja, gue nggak enak badan nih. loe tolong handle pekerjaan gue ya"
"aku sendiri sedang tidak enak badan sar"
"kenapa bisa bersamaan seperti ini, jadi hari ini yang bekerja cuma liyla. ahh sial, apa anak itu bisa mengurus pekerjaan kita"
"aku rasa dia bisa sar, dulu kan kita juga sering meninggalkannya sendiri"
"iya kau benar mel. lalu kau sakit apa?"
"entahlah sar, aku mual-mual dari tadi pagi. tapi yang keluar hanya cairan yang rasanya sangat asam"
"sama mel, aku juga. atau jangan-jangan kita hamil mel"
"ahh apa iya sar"
"bagaimana kalau kita pergi periksa, aku akan menjemputmu"
__ADS_1
"boleh"
"yasudah, kamu bersiap-siap ya. sebentar lagi aku akan kerumahmu"
"siap"
********
"menyebalkan sekali, kenapa melati dan sarah sakit bisa bersamaan seperti ini sih. akukan jadi sendirian, kalau tidak ada mereka butik ini terasa sangat sepi" ucap liyla sembari mencebikkan bibirnya.
tokk..... tokk...... tokk
"masuk"
"hai nona liyla"
"hai saly"
"aku ingin membahasa pesanan bajuku, tapi tadi salah seorang pelayan butik menyuruhku untuk menemui anda"
"iya saly soalnya sarah dan melati tidak masuk"
"memangnya nona melati dan nona sarah kemana?"
"sarah dan melati sedang sakit saly"
"kenapa bisa kompak sekali"
"entahlah sal aku juga tidak mengerti dengan mereka berdua, kenapa sakit bisa barengan seperti itu. lalu apa yang bisa ku bantu?"
"ini nona. ini adalah desain yang dibuat oleh klienku, aku ingin kau membuatkannya untukku. untuk ukurannya pun juga sudah ada" ucap saly sembari memberikan sebuah desain gaun pengantin kepada liyla.
"oh jadi seperti itu, ini sangat mudah saly. kau tenang saja ini akan segera jadi, mungkin minggu depan"
"cocok itu yang aku mau nona" ucap saly sembari tersenyum.
"selain ini, apa kau ada perlu lagi saly?"
"iya kemarin aku pesan kepada nona sarah untuk baju bridesmaid yang berhijap, apa itu sudah jadi"
"ya itu sudah siap saly, apa kau mau mengambilnya sekarang?"
"tentu nona, karna acaranya itu sebentar lagi"
"baiklah, ayo ikut denganku" ucap liyla sembari membawa saly kebawah.
"ely baju bridesmaid berhijap kemarin mana, tolong kamu ambilkan ya"
"baik nona" ucap ely sembari mengambil baju pesanan saly.
"ini nona"
"ini sudah semua?"
"sudah nona, soalnya sudah dipisah oleh nona sarah"
"baiklah, kembalilah bekerja"
"baik nona"
"ini saly pesanan yang kau mau. untuk pembayarannya kau mau cash atau transfer"
"transfer seperti biasanya nona"
"baiklah"
"yasudah kalau begitu saya pamit ya nona liyla"
__ADS_1
"iya saly, hati-hati dijalan"
"iya nona" ucap saly sembari berlalu pergi.