
"sayang kenapa kakek pergi meninggalkan kita secepat ini, bahkan beliau belum sempat melihat alexs yank"
"kita ikhlaskan kakek ya sayang, semua yang bernyawa pasti akan kembali kepada Tuhan" ucap varo sembari memeluk melati.
"mami, mami jangan sedih terus dong" ucap alice yang baru saja masuk kedalam kamar.
"iya mi, kita ikhlaskan kakek buyut ya. sekarang yang terpenting kita doakan kakek buyut supaya kakek buyut dapat tempat terindah disisi Tuhan" ucap al berusaha menguatakan sang mami.
"iya sayang benar kata anak-anak kita tidak boleh bersedih terus. kita masih punya anak-anak yang harus kita jaga"
"iya kau benar sayang. lalu bagaimana dengan mama?"
"mama baik-baik saja, sekarang mama sedang dibawah dengan mama dan papa"
*************
20 tahun kemudian.
abang al, dan alexs pun tumbuh menjadi pria yang begitu tanpan. sedangkan kakak alice tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. begitu pula dengan billa, bella, gisa dan gisel, mereka juga tumbuh menjadi wanita yang begitu cantik.
karna kakak alice adalah satu-satunya anak perempuan ia begitu sangat manja kepada abang dan juga adiknya, namun tak jarang abang al dan alexs pun sering bermanja-manjaan kepada kakak alice.
"kakak suapi aku anggur" ucap alexs sembari tidur di pangkuan sang kakak.
"kamu ini manja sekali sih lexs"
"dia memang manja apa kau baru tau?" tanya abang al yang baru saja pulang kerja.
"abang pun juga sama, abang kadang juga manja sama kakak"
"karna dia adalah adikku" ucap abang al sembari mencium alice.
"dia juga kakakku" ucap alexs tidak mau kalah dan ikut mencium alice.
"ahhh aku serasa di rebutkan oleh dua pria tampan" ucap alice sembari terkekeh.
"kakak terlalu narsis" ucap alexs
"biarin wek" ucap alice sembari menjulurkan lidahnya.
"kakak dan abang kapan menikah, aku sudah pengen punya keponakan"
"hey anak kecil, bicara apa kau ini"
"kapan aku terlihat besar dimata kalian berdua. aku ini sudah 20 tahun abang, kakak"
__ADS_1
"bagi kami kau akan tetap menjadi adik kecil kami lexs" ucap alice sembari mencubit kedua pipi alexs.
"menyebalkan. ahh andai saja aku sebesar abang, aku pasti sudah menjadikan kak gisa sebagai pacarku"
"bicara apa kau ini?"
"kakak lihatlah kak gisa adalah wanita yang begitu sempurna, sayangnya dia sukanya sama abang, bukan sama aku" ucap alexs sembari memberengut.
"alexs kau kalau mimpi jangan ketinggian mana mungkin gisa menyukai bocah ingusan seperti dirimu"
"kakak ini tega sekali, setidaknya meskipun alexs cuma anak kecil alexs bukan gundukan gunung es seperti abang"
"kurang ajar kau ini, berani-beraninya bilang aku gundukan gunung es. awas saja kau akan kupotong uang jajanmu"
"abang ku yang paling tampan aku hanya bercanda tadi"
"giliran ada maunya kau bilang aku tampan" ketus abang al.
"abangku sayang kau ini memang tampan, tapi jangan dingin dong supaya aku cepat punya kakak ipar yang cantik, dan keponakan-keponakan yang lucu. coba abang lihat, sampai usia abang menginjak 27 tahun saja abang masih betah menjomblo, sedangkan aku, sudah tidak terhitung berapa kali aku berganti kekasih"
"abang orang baik-baik bukan buaya sepertimu" ucap alice berusaha membela abang al.
"kakak selalu saja membela abang, kalau seperti ini terus kapan aku punya keponakan yang lucu. sedangkan sebelum abang menikah, papi melarang kakak menikah"
"abang cepatlah cari kekasih, agar papi mengizinkanku menikah dengan jason"
"jangan bermimpi, abang tidak akan menikah sampai usia 35 tahun" ucap abang al sembari berlalu pergi.
"abangggggg" teriak kakak alice karena sebal kepada sang abang.
"kakak kamu itu kenapa teriak-teriak seperti itu?" tanya mami melati.
"habisnya abang menyebalkan mi, masak dia bilang tidak akan menikah sebelum berusia 35 tahun" jawab alice sembari mencebikkan bibirnya.
"abang hanya bercanda saja sayang, mami yakin abang juga sudah memiliki pilihannya sendiri"
"mami tidak usah berusaha menghibur alice. alice tau betul seperti apa abang, bahkan dengan gisa yang sangat cantik saja abang acuh dan dingin mi. padahal gisa sudah menyukai abang semenjak kecil mi"
"iya mi, kenapa sih abang dingin sekali jadi orang. padahal kak gisa sangat cantik, alexs saja kalau diminta menjadi pendamping kak gisa alexs tidak akan menolak"
"alexs kamu masih kecil, fokus sama kuliah kamu"
"iya-iya mi"
**********
__ADS_1
"kakak mau kemana pagi-pagi seperti ini sudah rapi?" tanya papi varo.
"iya, cucu oma mau kemana?" tanya oma syifa.
"alice pagi ini ada pemotretan bersama gisa pi, oma"
"kakak apa tidak ingin menjadi seorang artis?" tanya alexs sembari melahap sarapannya.
"artis, aku sama sekali tidak tertarik dibidang itu"
"kakak dan kak gisa jadi artis saja, kalian berdua sama-sama cantik. nanti kakak dan kak gisa akan jadi artis papan atas"
"terserah kau saja bocah"
tingg.... tingg.... tingg..... tingg
suara notif ponsel alice menandakan ada pesan masuk didalamnya.
*gisa:
kak alice barusan aku dapat kabar dari kak cristin kalau pemotretan hari ini di cancel.
alice:
baiklah sa*.
"loh kenapa anak papi jadi cemberut gitu"
"alice sebal pi, udah rapi gini pemotretannya malah di cancel"
"itu teguran dari Tuhan supaya weekend seperti ini kakak dirumah saja dan berkumpul bersama keluarga"
"aku setuju dengan alexs" ucap abang al ikut ambil suara"
"kalian ini menyebalkan"
seusai sarapan mereka semua berkumpul diruang keluarga. kakak alice pun tak henti-hentinya bermanja kepada mami dan omanya, sedangkan abang, alexs, dan papi tengah asyik bermain game.
*"Tuhan terima kasih untuk semua ini, aku begitu bersyukur memiliki tiga anak yang begitu baik dan cerdas, suami yang begitu mencintaiku, dan mertua yang begitu menyayangiku. terima kasih Tuhan, keluargaku adalah anugrah terindah dalam hidupku"* gumam melati dalam hati.
~selesai~
terimakasih para reader yang sudah setia membaca novel sederhana saya. mohon maaf apa bila alurnya tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.
terimakasih banyak atas dukungan kalian semua. dan jangan lupa baca sequel lanjutannya yang mengisahkan tentang kisah abang al.
__ADS_1