Melati Untuk Alvaro

Melati Untuk Alvaro
51


__ADS_3

"bagaimana apa semuanya sudah siap sayang?" tanya varo kepada melati.


"sudah sayang semuanya sudah beres"


"baiklah, ayo kita berangkat sekarang"


"iya"


"kesayangan-kesayangannya papi ayo kita berangkat sayang"


"iya papi" jawab al dan juga alice secara bersamaan.


mereka berempat segera berangkat kebandara dan diantar oleh pak adi. sesampainya dibandara mereka telah melihat keberadaannya sarah,gio, dan gisa.


"kalian sudah sampai?" tanya varo yang baru saja sampai didepan gio.


"iya, dan sekarang kita tinggal nunggu keluarga narsis datang"


"mereka ini, kebiasaan sekali suka terlambat"


"kau ini sperti tidak tau liyla dan bima saja, mereka akan berantem dulu bro. dan itu sudah paten harga mati"


"kau benar juga yo"


"hai apa kalian sudah menunggu lama?" tanya bima yang baru saja datang.


"ya dan kami sudah hampir basi saking lamanya menunggu kalian" sarkas gio.


"sorry-sorry yo habisnya binik gue ngajak adu mulut dulu"


"kenapa jadi aku yang disalahkan"


"memang kenyataannya seperti itu"


"sudah jangan berdebat lagi, kami sudah sangat faham jika kalian harus adu mulut dulu. karna faktanya sama-sama bodoh" sarkas varo.


"tajam sekali mulutmu bro"


"biarkan sudah sama-sama tua tapi masih saja seperti bocah yang suka berantem hanya karna rebutan mainan. dan kau liyla apa kau tak bisa menghargai dan menghormati suamimu, kurasa setelah menikah denganmu bima semakin hari semakin bodoh karna terlalu sering bertengkar denganmu" ucap varo sembari menatap tajam liyla.


"papi varo kenapa memarahi mamaku?"


"itu karna mamamu kurang ajar sama papamu, seorang isrti itu harusnya tidak berani kepada suaminya billa. nanti kalau kau sudah menikah kau tidak boleh bodoh seperti mamamu, atau papi varo akan selalu memarahi dan menghukum dirimu. apa kau mengerti?"


"iya papi varo"


"yasudah ayo kita masuk"


mereka semua segera masuk kedalam pesawat mereka karna sebentar lagi pesawat yang mereka tumpangi akan lepas landas.


setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 50menit akhirnya mereka mendarat juga dibandara ngurah rai bali.


"yey welcome to bali" ucap alice dengan sangat antusias, ya karna ini untuk pertama kalinya bocah itu pergi bali.


"akhirnya kita samapai juga. apa kakak al lelah?" tanya gisa


"tidak" jawab al cuek dan berjalan mendahului gisa.


"selalu saja gisa ditinggal" ucap gisa seraya mencebikkan bibirnya.


"kita akan menginap dimana sayang? apa kita akan menginap ditempat waktu kita honeymoon dulu?"


"tidak"


"lalu kita menginap dimana?"


"aku punya kejutan untukmu dan kau pasti akan suka"

__ADS_1


"kejutan apa?"


"kalau kuberi tahu namanya bukan kejutan sayang"


"tau loe mel, kenapa jadi lola kayak liyla" sarkas sarah.


"kenapa kau membawa-bawa aku sar"


"karna kau memang lola, loading lama"


"iya-iya terserah kau saja asal kau bahagia"


"oh iya al papi ingin kau jaga adik-adikmu bukan hanya alice saja, tetapi juga gisa dan juga billa. apa kau mengerti bang?"


"iya papi"


"bagus itu baru namanya anak laki, penuh tanggung jawab. ayo sekarang kita kepenginapan. naik taksi sendiri-sendiri ya, nanti kalian ikuti aku dari belakang"


"siap bro" ucap gio dan bima secara bersamaan.


setelah menunggu beberapa saat akhirnya mereka semua sudah mendapatkan taksi, dan segera menuju kepenginapan yang varo maksud.


bukannya berhenti disebuah penginapan taksi yang mereka tumpangi justru berhenti disebuah rumah mewah.


"sayang ini rumah siapa?" tanya melati.


"rumah kita" jawab varo santai sembari rurun dari taksi, dan membantu sopir taksi itu menurunkan barang-barang keluarganya.


"sayang kamu jangan bercanda"


"siapa juga yang bercanda yank"


"ya kamulah"


"apa mukaku terlihat bercanda?" tanya varo setelah membayar ongkos taksi yang mereka tumpangi.


"rumah ini memang sengaja aku beli untukmu dan anak-anak, dulu kau selalu bilang ingin punya rumah dibali, dan kalau bisa tinggal dibali. meskipun kita tidak bisa menetap dibali, tapi nanti kita akan sering-sering kemari liburan bersama anak-anak"


"terimakasih sayang" ucap melati sembari memeluk varo.


ya rumah itu memang sama persis seperti yang diinginkan melati, terletak tidak jauh dari pantai mungkin jarak rumah menuju kepantai hanya berjarak 100 meter.


"sama-sama sayang. sudah ayo masuk kasihan anak-anak mereka pasti sudah pada lelah"


"anak-anak ayo kita masuk" ajak melati


mereka semua segera masuk kedalam, dan varo segera membagi tempat tidur untuk mereka semua.


"kau bima dan liyla tidur disini, gio dan serah sebelah sana. aku dan anak-anak diatas. billa dan gisa tidur bersama ya"


"iya papi varo" ucap gisa dan billa bersamaan.


"yasudah ayo kita istirahat dulu, nanti malam kita baru bakar-bakar ditepi pantai depan sana"


mereka segera masuk kedalam kamar masing-masing untuk segera beristirahat. tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 17.00 mereka semua segera mandi setelah mandi mereka semua berkumpul dimeja makan untuk mengisi perut lapar mereka.


"hmtt ini sangat enak, ini namanya apa mel?" tanya liyla.


"itu namanya ayam betutu liyla"


"tauk norak sekali" sarkas bima.


"kenapa kau jadi mengataiku sayang, itu salahmu karna kau tak pernah mengajakku kemari"


"iya maaf sayang, nanti kita akan sering-sering kemari. mumpung varo sudah membeli rumah disini"


"kau benar sayang"

__ADS_1


"pasangan gak bermodal" sarkas varo.


"biarkan saja, apa gunanya punya sahabat baik kalau tidak dimanfaatkan sebaik mungkin"


"terserah kau saja"


"sudah-sudah jangan berdebat terus, lanjutkan makannya" ucap sarah.


"sayang apa kau juga mau rumah seperti ini?" tanya gio.


"mau, apa kau juga mau membelikannya untukku?"


"tentu tapi mau untuk apa, kitakan sudah punya rumah"


"untuk gisa dan suaminya nanti"


"kau kejauhan sayang gisa kita masih 5 tahun sekarang, dan akan menikah mungkin 20 tahun lagi"


"iya juga sih sayang"


"otakmu kenapa jadi sama seperti liyla"


"itu karna sarah selalu mengolok-olokku kak makanya sekarang dia ketularan"


"bisa jadi itu sayang, makanya kau jangan kebanyakan mengejek liyla."


"iya sayang" ucap sarah sembari mencebikkan bibirnya.


setelah selesai makan malam mereka segera pergi kepantai dengan berjalan kaki, dan sesampainya dipantai mereka semua segera melakukan pesta barbeque bersama-sama. para wanita melakuakan bakar-bakar sedangkan para pria tengah asyik memetik gitar sambil bernyanyi, sedangkan anak-anak tengah sibuk membuat istana pasir.


"cumi bakar dan sosis bakarnya telah jadi" ucap melati sembari membawa dua piring sosis bakar pedas untuk para orang tua dan manis untuk anak-anak.


begitu pula dengan sarah dia membawa dua piring cumi bakar pedas dan manis, sedangkan liyla masih tengah asyik bakar-bakar.


setelah semuanya matang mereka para wanita segera berkumpul dengan para suami.


"sayang terimakasih untuk semuanya" ucap melati sembari memeluk varo.


"ini sudah menjadi tugasku untuk selalu membahagiakan dirimu dan anak-anak kita sayang" jawab varo sembari menghujani puncak kepala melati dengan begitu banyak ciuman.


"sayang maafkan aku ya, kalau selama ini aku sudah kurang ajar kepadamu, maafkan aku karna aku lola jadi tidak bisa mengerti apa keinginanmu" ucap liyla sembari memeluk bima.


"tidak apa-ap sayang, aku selalu memaafkan dirimu. karna kamu adalah ratuku" ucap bima sembari mencium kening liyla.


"sayang maafkan aku ya karna selama ini aku belum bisa menjadi suami yang membanggakan untukmu"


"aku tidak butuh itu sayang, yang aku butuh hanya kamu terus disisiku hingga kita menua bersama. kita besarkan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang, itu sudah lebih dari kebahagiaan dalam hidupku" ucap sarah sembari memeluk gio.


"terimakasih sayang, terimakasih banyak. aku sangat mencintaimu" ucap gio sembari menciumi kening, mata, hidung, dan bibir sarah secara bergantian.


mereka semua duduk ditepi pantai sembari berpelukan dan menikmati hasil barbeque mereka, semabari mata mereka mengawasi anak-anak yang tengah asyik bermain pasir dengan penuh kegembiraan.


"abang nanti kalau dedek sudah besar, dedek ingin menjadi seorang arsitek biar bisa bangun istana untuk abang" ucap alice sembari menghambur kepelukan al.


"kau nanti kalau sudah besar, jadi dokter saja dedek"


"kenapa memangnya bang?"


"iya nanti kalau abang terluka kamu bisa mengobati abang, kalau kau jadi seorang arsitek dan abang terluka apa kau mau mengobati abang dengan adonan semen. kalau kau menjadi dokter kau tidak hanya bisa mengobati abang, tetapi kau juga bisa mengobati mami, papi, oma, grandma, grandpa, dan kakek buyut"


"abang benar, kalau gitu dedek ingin menjadi dokter agar dedek bisa menyembuhkan kakek buyut. supaya kakek buyut bisa bermain lagi dengan kita abang" ucap alice dengan polosnya.


"iya kau memang adik abang yang paling pintar" ucap al sembari mencium pipi alice.


"ah senangnya melihat anak-anak kita akur seperti itu sayang"


"iya sayang, aku juga senang. abang memang terlalu cepat dewasa, kebanyakan anak seusianya akan suka iri kepada saudari kembarnya dan akan terus membuat gara-gara dan ribut. tapi abang beda, dia selalu menjaga dan menyayangi adiknya. ahh sungguh manisnya anak perjaka dan anak gadisku" ucap melati sembari memeluk varo.

__ADS_1


__ADS_2