Melati Untuk Alvaro

Melati Untuk Alvaro
29


__ADS_3

taklama dokter yang memeriksa melati keluar dari dalam ruang perawatan.


"bagaimana keadaan istri saya dok.?"


"iya dok, bagaimana kondisi putri kami.?"


"kondisi ibu melati baik-baik saja"


"lalu bagaimana dengan calon anak kami dok.?"


"maaf pak, bayi yang ada dalam kandungan ibu melati tidak dapat kami selamatkan"


"tidak, tidak mungkin. dokter pasti bohong"


"maafkan kami pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan bayinya, tetapi karna ibu melati mengalami pendarahan yang hebat menyebabkan bayinya tidak dapat diselamatkan"


"tidak, anakku" air mata yang sedari tadi ia bendung akhirnya melelh juga, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi melati kalau sampai dia tau dia telah kehilangan bayinya.


"varo sabar sayang" mama syifa memeluk tubuh gemetar varo, ia berusaha memberi kekuatan untuk varo.


"varo kehilangan anak varo ma. andai saja tadi varo tidak segan terhadap vio, mungkin varo tidak akan kehilangan dia ma"


"kamu harus kuat varo, kamu juga harus bisa menguatkan istrimu" ucap mama dahlia juga berusaha memberi kekuatan pada varo. "kita semua juga sedih kehilangan calon anak kalian, tapi disini kamu yang harus kuat nak, istrimu membutuhkanmu"


"mama benar, varo tidak boleh terlihat rapuh di depan melati. melati butuh varo sekarang"


"ayo kita masuk. kita lihat kondisi istrimu" mama syifa beranjak dari duduknya sambil menggandeng tangan varo menuju keruang rawat melati.


"sayang maafkan aku" ucap varo sembari memeluk dan menciumi kening melati.


"sudah jangan menangis terus, kamu itu seorang kepala keluarga varo. tugasmu sekarang adalah menguatkan istrimu, untuk masalah viola biar kakek yang mengurusnya"


"biar varo saja yang mengurusnya kek"


"tidak perlu, biar kakek saja. kamu temani istrimu"


"baiklah kek"


"aku pergi dulu"


"papa mau kemana.?"


"aku ingin mengurus masalah varo. kau disini saja, temani putramu" jawab kakek sembari berlalu pergi.


tidak lama melati tampak mengerjap-erjapkan matanya, kesarannya perlahan telah kembali.


"sayang, aku ada dimana.?"


"kamu dirumah sakit sayang"

__ADS_1


seketika ingatan melati teringat perihal dirinya yang didorong oleh viola, hingga mengalami pendarahan.


"sayang anak kita baik-baik saja kan.?" tanya melati sembari mengguncang pergelangan tangan varo.


"maafkan aku sayang, anak kita tidak bisa diselamatkan"


"kamu pasti bercandakan sayang, anak kita pasti baik-baik saja" air mata melati seketika leleh membasahi pipinya, ia meraba perutnya sembari mengelusnya.


"tidak mungkin dedek pasti masih ada didalam perut mama kan sayang" ucapnya sembari terus mengelus perutnya.


"sayang lihat aku, kamu harus kuat sayang, kamu tidak boleh rapuh, kalau kamu seperti ini anak kita di surga nanti pasti akan bersedih"


"anak kita varo"


"aku tau sayang. tapi bagaimana lagi Tuhan lebih sayang sama dedek, kita harus bisa mengikhlaskannya, biar dedek tenang di surga"


"sayang, benar apa kata suamimu. mama tau ini berat untukmu, tetapi kamu harus kuat sayang, suamimu masih membutuhkanmu. kalian sama-sama kehilangan, dan kalian harus sama-sama menguatkan" ucap mama dahlia sembari membelai kepala melati.


"melati sudah gagal melindungi dedek ma"


"tidak sayang, kamu tidak gagal. dedek pergi memang karna Tuhan lebih sayang kepada dedek"


"mama tau sayang, rasanya tidak mudah. karna mama juga pernah mengalaminya, dulu mama juga pernah kehilangan adiknya suamimu. tapi mama berusaha bangkit, masih ada varo, dan papanya varo yang membutuhkan mam. mama harap kamu bisa berlapang dada sayang, kami semua selalu ada untukmu nak" ucap mama syifa berusaha menguatkan melati.


*******


"halo beny"


"aku punya tugas untukmu, aku ingin dalam satu jam kedepan adijaya group musnah"


"baik tuan" sambungan telfon pun telah diakhiri oleh kakek, dan beny pun segera menjalankan perintah tuannya, beny adalah asisten pribadi kepercayaan kakek, dia yang selalu setia membantu kakek dalam masalah apapun.


"kenapa tuan besar memintaku melenyapkan adijaya group, apakah tuan muda yang nakal itu membuat masalah lagi" gumam beny, dia tidak mau terlalu ikut campur urusan bosnya, ia pun bergegas membereskan semua pekerjaannya.


*******


selama beberapa hari melati dirawat di rumah sakit tak sedetik pun varo meninggalkannya. keluarga dan para sahabat-sahabatnya pun tak pernah absen barang sehari saja untuk menjenguknya.


"sayang makan dulu ya"


"aku tidak mau yank" ucapnya sambil terus melamun, setelah kehilangan anaknya melati terus-terusan melamun, seolah-olah dia kehilangan semangat hidupnya.


"tapi kamu harus makan yank, biar kamu cepat pulih"


"apa kita masih bisa punya anak lagi yank.?"


"kita pasti bisa memilikinya kembali yank, kamu harus ikhlaskan dedek, supaya dia tenang di surga. dan kamu harus segera pulih, agar kita bisa beri dedek adik-adik yang lucu"


"apa dedek membenciku.?"

__ADS_1


"tidak sayang, dedek tidak mungkin membencimu. dia pasti sangat menyayangimu"


"semoga dedek tidak membenciku ya yank. aku telah gagal menjaganya, dan aku tidak ingin kalau dedek sampai membenciku"


"tidak akan sayang, dedek tidak akan membencimu. tapi kamu harus makan sayang, sudah berhari-hari kamu tidak mau makan. kalau kamu seperti ini terus, dedek akan sedih karna mamanya menyiksa dirinya sendiri"


setelah berusaha mencerna semua yang dibilang suaminya, perlahan mau membuka mulutnya dan memakan makanannya.


"alhamdulilah habis" ucap varo sembari memberihkan sisa makanan di mulut melati.


selama melati dirawat dirumah sakit, varo dengan telaten menjaganya, menyuapinya makan, memandikannya, menyisir rambu panjang melati. semua ia kerjakan dengan tangannya sendiri, ia tak pernah membiarkan perawat-perawat itu menyentuh istrinya.


"sayang aku tinggal sebentar ya, kamu baik-baik disini, kalau kamu butuh apa-apa telfon aku"


"iya sayang"


setelah varo keluar di ruangan itu melati kembali melamun, dia masih begitu merasa kehilangan, tapi dia berusaha kuat di depan suaminya. ia tak mau membuat suaminya sedih melihat dirinya yang rapuh.


drttt.... drttt.... drtt


ponsel melati bergetar menandakan ada telfon masuk di dalamnya, dengan segera ia meraih ponselnya yang ada di atas nakas, ternyata liyla melakukan panggilan video.


"hai la"


"hai mel, gimana keadaanmu.? apa sudah membaik.?"


"aku sudah baik-baik saja la"


"maafkan kita mel, nanti kita tidak bisa menjengukmu. karna kita sedang mengerjakan tiga gaun pengantin permintaan saly"


"tidak apa-apa sar. maafkan aku ya, aku tidak bisa membantu kalian di butik, kalian pasti kualahan kan"


"tidak mel, kamu tidak usah memikirkan kami. yang terpenting kamu pulih dulu, kamu sehat lagi. dan bisa berkumpul bersama kita"


"makasih ya la, sar. aku menyayangi kalian" ucap melati haru.


"iya mel, kami juga sangat menyatangimu. makanya kamu harus cepat sehat, kamu nggak boleh sedih-sedih lagi. kalau kamu sedih dedek disurga sana juga ikut sedih"


"bener tuh kata sarah. kamu nggak boleh sedih-sedih lagi mel, masih ada kita, suamimu, dan keluarga besar yang begitu menyayingimu"


"iya, aku tidak akan sedih lagi"


"janji ya mel"


"iya aku berjanji pada kalian, aku tidak akan sedih lagi"


"yasudah kamu istirah ya mel, kita lanjut kerja lagi"


setelah liyla mengakhiri panggilannya, melati membuka berita-berita terbaru, dan dia melihat berita mengenai kebangkrutan keluarga viola, bahkan seluruh anggota keluarganya di penjara karna dituduh menggelapkan uang kliennya.

__ADS_1


"ini pasti perbuatan varo, yang tidak terima karna dedek pergi. bukan aku saja yang kehilangan dedek, varo pun juga merasa kehilangan dedek"


__ADS_2