
"kenapa pesanku hanya dibaca, bahkan dia tidak menghubungiku. apa dia masih marah, ahhhh sudah sekali berhadapan dengan ibu hamil"
varo berulang kali mencoba mengubungi melati namun tak ada tanggapan dari istrinya itu, bahkan ketika varo berusaha terus menghubunginya ponselnya malah tidak aktif.
"sayang, kamu sedang apa sekarang. aku merindukanmu, kenapa kamu masih saja marah kepadaku, apa salah diriku.?"
*******
malam itu varo sampai rumah tepat jam 20.00 ia bergegas masuk kedalm kamarnya untuk segera menemui istrinya.
"sayang aku pulang"
"oh ternyata kamu masih ingat rumahmu"
"kenapa kamu ngomong seperti itu sih yank"
"kamu dari mana.?"
"akukan tadi sudah mengirim pesan padamu kalau aku ada miting dengan client asal bangkok"
"kamu bohong"
"aku tidak bohong sayang, aku bicara apa adanya"
"kamu pasti ada wanita lainkan diluar sana.?"
"sayang kamu ngomong apa sih"
"kamu jujur saja varo. kalau kamu memang benar-benar mengurus pekerjaan, lantas kenapa kamu kemarin tidak memberitahuku. pasti kamu ada wanita lain di luar sana"
"cukup.... cukup mel. aku sudah berusaha sabar menghadapi tingkahmu, dari kemarin kamu selalu uring-uringan nggak jelas. suamimu baru saja pulang kerja, bukannya kamu sambut tapi malah kau tuduh aku yang tidak-tidak. bagaimana aku bisa memberitahumu kalau aku ada miting dibandung, sedangkan dari kemarin saja kamu mendiamiku. bahkan aku saja tidak tau apa salahku" varo benar-benar kesal terhadap istrinya itu, hingga akhirnya membuat amarahnya meluap-luap dan dia membentak istrinya.
"keterlaluan kamu mel" ucap varo sembari meninggalkan kamar.
"hikss,,, hiksss kenapa dia membentakku seperti ini. lebih baik aku langsung tanya kak gio saja"
melati segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor gio.
"iya halo mel"
"kak gio apa aku boleh bertanya.?"
"boleh, memangnya kamu mau tanya apa.? tumben-tumbenan juga kamu menelfonku hanya untuk bertanya, apa ada masalah penting.?"
__ADS_1
"apa kak gio benar menyuruh varo untuk pergi kebandung.?"
"iya benar, aku menyuruhnya untuk menggantikanku miting dengan client asal bangkok, karna kebetulan pertemuan itu tidak bisa diwakilkan. sedangkan aku masih honeymoon, bima masih pergi liburan ke swiss, dan hanya suami saja yang bisa pergi menghadiri pertemuan itu. memangnya kenapa mel.?"
"ah tidak kak, tidak apa-apa. kalau gitu makasih ya kak, mel akhiri panggilannya"
"aku benar-benar keterlaluan. kenapa aku bisa berfikir seburuk itu tantang varo. maafkan aku sayang"
melati segera beranjak dari ranjang untuk mencari suaminya, ia sangat merasa bersalah karna telah menuduh suami yang tidak-tidak. baru saja ia akan menuruni tangga namun perhatiannya teralihkan oleh pintu kamar calon anak mereka yang terbuka. melati segera menghampiri kamar itu, dan benar saja varo terlihat meringkuk diatas ranjang.
"dia pasti lelah karna seharian bekerja, maafkan aku sayang aku sudah menuduhmu yang macam-macam" ucap melati sembari mengelus kepala varo dan menciumi pipinya secara betubi-tubi.
setelah puas memandangi suaminya melati segera membuka sepatu yang masih melekat dikaki suaminya, setelah selesai ia segera membaringkan dirinya disampang varo dan memeluk pria itu secara erat.
******
"kenapa dia ada disini, bukannya dia marah kepadaku" ucap varo ketika baru saja membuka matanya.
varo bergegas turun dari ranjang dan menuju kamarnya, ia segera mandi dan bersiap pergi kekantor.
"aku pergi sajalah tidak usah pamit dengannya, dari pada aku nanti dituduh-tuduh lagi, lagian aku masih kesal sekali sama dia"
varo segera turun kebawah untuk berangkat kerja.
"apa kau tidak melihatku sudah rapi seperti ini.? tentu saja aku akan berangkat kerja. tolong nanti kau bawakan sarapan ke kamar untuk istriku"
"baik tuan muda"
varo pun segera berlalu pergi, sebenarnya dia sendiri juga bingung mau berbuat apa dia dikantor sepagi ini, tapi biarlah dari pada ia kembali bertengkar dengan melati.
*"mood tuan muda kelihatannya sedang jelek, sangat bahaya jika menyinggungnya"* gumam mbak tika dalam hati, ia begitu ngeri melihat wajah varo tadi.
tokk... tokk.... tokk
"masuk"
"non mel saya membawakan sarapan untuk anda"
"kenapa diantar mbak, biasanyakan saya turun kebawah"
"maaf non, ini perintah tuan muda"
"lalu kemana suami saya mbak.?"
__ADS_1
"tuan muda sudah berangkat sejak 1 jam yang lalu nona"
"oh, makasih ya mbak sarapannya"
"iya non, kalau begitu saya permisi dulu" pamit ika dengan sopan.
"apa dia masih marah kepadaku, bahkan dia tidak pamit lagi kepadaku, mengirimiku pesan saja tidak. huhh ini semua memang salahku"
*****
malam ini varo pulang pukul 20.00 dia dengan enggan memasuki kamarnya, ia begitu malas jika harus bertengkar lagi dengan istrinya.
"sayang kamu sudah pulang.?" tanya melati ketika varo baru saja masuk kedalam kamar.
"iya" varo segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"dia beneran masih marah sama aku"
setelah selesai mandi varo bergegas naik keatas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"sayang kamu masih marah ya sama aku.?"
*"kenapa dia bilang aku yang marah, jelas-jelas dia yang marah-marah tidak jelas"* gumam varo dalam hati.
"sayang jawab aku, jangan diam saja"
*"aku akan gantian mendiamkanmu, agar kau tau gimana sakitnya diabaikan"*
"sayang jawab"
"yank"
"sayang bicarakah jangan diam saja, aku minta maaf hiks.. hikss"
tanpa terasa air mata melati sudah menetes membasahi pipinya, hal itu membuat varo tidak tega untuk terus mendiamkan istrinya.
"kenapa kamu menangis.? cengeng sekali" ucap varo sembari memeluk melati.
"maafkan aku sayang. maaf karna aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan, jangan diamkan aku lagi ya"
"tidak, tapi kamu harus janji kalau ada masalah dibicarakan baik-baik, jangan asal bicara lagi oke"
"iya sayang aku janji" ucap melati sembari memeluk erat varo.
__ADS_1