
pagi itu jam di dinding menunjukkan pukul 05.30, melati sudah bangun dari tidurnya. ia pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, ia tidak bisa jika hanya bermalas-malasan ia akan membantu para pelayan untuk menyiapkan sarapan. hal itu pun juga sering ia lakukan ketika masih di rumah kedua orang tuanya dahulu.
setelah selesai mandi melati bergegas keluar kamar dan menuju dapur.
"pagi bik..!"
"pagi non mel"
"bibik lagi masak apa.? biar saya bantu ya bik."
"tidak usah non. non melati kembali saja ke kamar, biar ini bibik saja yang kerjakan"
"aku mau membantu bibik, lagian aku bosen di kamar terus tanpa melakukan apapun" ucap melati sambil memasang muka memohon.
"baiklah, non melati bantu bibik bersihkan sayur-sayuran saja"
"siap bik" jawab melati dengan antusias.
setelah semua masakan matang melati dan bik siti langsung menyusun semua masakan di atas meja makan.
"sayang, kamu sedang apa nak.?"
"aku membantu bik siti masak ma."
"aduh sayang itukan tugasnya pelayan, kenapa kamu kerjakan nak.!"
"nggak apa-apa ma, lagian mel seneng kok bisa bantu bik siti. mel juga bosan kalau di kamar terus"
"ya sudah terserah kamu saja sayang, tapi jangan sampai kamu kecapean ya nak"
"iya ma" jawab melati sambil tersenyum.
"mana suamimu nak.?"
"varo belum bangun ma"
"ya sudah kamu bangunkan suamimu, ajak dia untuk segera sarapan"
"iya ma" melati bergegas meninggalkan dapur dan naik kelantai dua dimana kamarnya berada. setelah sampai kamar, melati tak mendapati siapapun di sana, namun ia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. ia bergegas membuka lemari pakaian untuk menyiapkan baju ganti untuk varo, karna sebelum menikah mama sempat berpesan kepada melati untuk membantu segala kebutuhan suaminya. belum sempat melati mengambil baju varo, sudah terdengar suara varo yang menegurnya, dan melati pun terpaksa menghentikan niatnya untuk mengambilkan baju ganti suaminya tersebut.
"ngapain loe, pegang-pegang baju gue.?"
"aku hanya mau menyiapkan pakaian ganti untukmu"
"tidak perlu. lain kali jangan pernah sentuh barang-barangku tanpa izin dariku, mengerti kamu.!"
"oke-oke baiklah, aku tidak akan menyentuh barang-barangmu"
"keluar sana loe, ngapain juga masih diam di situ.? mau lihat gue ganti baju"
"iya-iya aku keluar. cepatlah sedikit mama dan kakek telah menunggumu di ruang makan"
__ADS_1
"iya, crewet sekali"
melati berlalu meninggalkan kamarnya. ia benar-benar kesal terhadap suaminya itu, padahal ia berniat baik membantunya menyiapkan pakaian ganti, tapi malah ia harus di ajak berdebat sepagi ini oleh varo.
"loh mel, kamu kok sendiri nak.? mana suamimu"
"varo masih ganti baju kek, sebentar lagi dia juga akan turun"
mereka pun memulai memakan sarapannya. tak lama varo datang dan bergabung dengan mereka untuk sarapan. melati pun berniat mengambilkan nasi untuk suaminya, tetapi langsung di sela oleh varo.
"mau ngapain loe.?"
"ngambilin kamu makanan lah, emang mau ngapain lagi"
"nggak usah, gue bisa sendiri" ketus varo sambil mengisi piring makannya.
"varo jangan seperti itu sama istrimu. lain kali biarkan melati yang menyiapkan segalanya, itu sudah menjadi tugasnya sebagai istri kamu nak"
"tapi aku bisa sendiri ma"
"mama tau kamu bisa sendiri sayang, tapi paling tidak berilah kesempatan istrimu untuk berbakti terhadap suaminya"
"baiklah ma" jawab varo penuh dengan keterpaksaan.
"mel sayang, hari ini kamu pergi bekerja atau tidak nak.?"
"mel pergi bekerja ma"
"kenapa harus sama varo sih ma.? kantor varo sama butiknya melatikan berlawanan arah, biarlah dia naik taksi saja. varo bisa telat ke kantor kalau harus mengantar dia"
"varo, kamu itukan suaminya. harusnya kamulah yang harus mengantar istrimu bekerja, mana tanggung jawabmu sebagai seorang suami"
"oke-oke baiklah aku bakal antar dia" varo benar-benar kesal terhadap sang mama, bisa-bisanya mamanya lebih membela melati dari pada dirinya yang notabene adalah anak kandungnya.
"iya udah ayo berangkat, nanti kesiangan lagi"
"iya sebentar, aku ambil tas dulu" melati langsung kekamar dan mengambil tas jinjingnya, setelah berpamitan kepada mama dan kakek ia bergegas menyusul varo yang telah menunggunya di dalam mobil.
"lama banget sih loe" ucap varo ketika melati baru saja memasuki mobil.
"iya-iya maaf, tadi aku juga bersiap dulu"
"mau bersiap seperti apapun loe tuh tetep saja jelek" ucap varo sambil menekankan kata terakhirnya.
varo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. setelah sampai di jalan raya, yang merupakan jalur utama, varo pun menepikan mobilnya.
"turun loe.!"
"tapi inikan belum sampai butikku, bahkan masih sangat jauh dari butik varo"
"siapa perduli. gue mau loe turun sekarang, loe naik taksi sana.! gue nggak sudi nganterin loe sampai ke butik"
__ADS_1
"oke baiklah" melati keluar dari mobil dengan perasaan dongkol, dia benar-benar kesal kepada suaminya, bisa-bisanya varo menurunkannya di pinggir jalan seperti ini. tak lama menunggu sebuah taksi lewat dan melati langsung menghentikannya.
"butik x, jalan x ya pak" ucap melati kepada sopir taksi tersebut
"baik mbak"
sekitar 15 menit melati sampai di butiknya. setelah membayar, melati lantas turun dan masuk kedalan butik.
"maaf mbak melati, ada tamu yang ingin bertemu dengan mbak melati" ucap salah satu penjaga butiknya.
"siapa yang mencariku sepagi ini elly.?"
"nona eliza mbak. dia datang kemari untuk melihat-lihat desain gaun pengantin"
"oh baiklah, lalu dimana nona eliza berada sekarang ?"
"sedang bersama mbak sarah dan mbak liyla di ruangan anda"
"oke baiklah" melati bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana ruang kerjanya berada. sesampainya di sana melati langsung masuk, karna kebetulan pintunya tidak tertutup.
"permisi, maaf menunggu lama ya.?"
"oh tidak sama sekali nona melati. saya juga baru saja sampai, lagian ada nona sarah dan nona liyla yang menemani saya"
"jadi bagaimana nona eliza, apa sudah ada desain yang cocok dengan anda.?"
"ya nona melati. saya tertarik dengan desain anda yang ini" ucap eliza sambil menunjukkan salah satu desain gaun pernikahan yang melati buat.
"oh yang ini. oke baiklah nona, kalau begitu anda dan pasangan anda silahkan ikut nona liyla keruangannya untuk pengukuran"
"baiklah nona, saya permisi dulu" ucap eliza kepada melati dan sarah, ia pun mengikuti liyla untuk pengukuran badannya.
setelah sampai ruangan liyla, liyla pun langsung mengerjakan tugasnya. ia tampak serius mengukur setiap inci tubuh eliza dan calon suaminya.
"nona lilya, apakah saya boleh bertanya.?"
"boleh nona.! memangnya nona eliza mau tanya apa.?"
"apa nona melati sudah memiliki pasangan.?"
"iya sudah nona.! teman saya yang satu itu sudah menikah. memangnya kenapa nona.?"
"yahh sayang sekali, padahal saya punya rencana untuk menjodohkannya dengan adik saya, berarti saya terlambat dong ya"
"mungkin iya nona" jawab liyla sambil tersenyum.
"nona melati itu tidak hanya cerdas. dia juga cantik dan baik, baru ke dua kalinya saya bertemu dengannya, tapi saya dapat melihat dengan jelas bahwa dia wanita yang sangat baik"
"apa yang anda bilang memang benar nona. melati memang gadis yang baik, meskipun ia dari keluarga yang berada namun tak pernah memang rendah orang yang berada dibawahnya" mereka pun larut dalam pembicaraan mereka
sedangkan sarah dan melati tengah di sibukkan dengan mempersiapkan keperluan untuk event minggu depan.
__ADS_1