Melati Untuk Alvaro

Melati Untuk Alvaro
53


__ADS_3

"sayang apa kamu sudah isi?"


"kenapa kamu tanya seperti itu sayang?"


"aku sudah tidak sabar ingin menimang-nimang bayi lagi"


"maaf ya sayang, kelihatannya belum"


"tidak apa-apa kita hanya perlu berusaha lagi" ucap varo sembari mencium kening melati.


"apa kau marah kepadaku?"


"tidak sayang, untuk apa aku marah. anakkan titipan dari Allah, kalau Allah belum memberikannya lagi untuk kita maka kita harus banyak-banyak bersabar"


"unchh pintarnya suamiku"


"mami, papi apa kalian sudah tidur?" teriak alice dari balik pintu.


"belum nak masuklah"


"apa dedek menggangu?"


"sama sekali tidak sayang, lalu kemana abangmu?"


"abang ada dikamarnya sedang belajar piano diponselnya"


"lalu kenapa kau tidak ikut belajar piano dedek?"


"tidak papi, dedek tidak berbakat bermain piano. dedek sebel nggak bisa-bisa, padahal abang sudah jago"


"itu karna abang mau bersabar dan terus berusaha"


"dedek juga berusaha papi, tetapi tetap saja tidak bisa"


"itu karna dedek kurang bersabar sayang"


"apa iya dedek kurang sabar mami?"


"iya sayang, kalau dedek mau bersabar dan terus berusaha pasti dedek bisa sejago abang"


"iya dedek rasa mami dan papi benar. dedek kurang bersabar, baiklah kalau begitu dedek mau belajar piano bersama abang. dada mami, papi" alice pun segera mengecup kedua pipi orang tuanya dan segera pergi mencari abang al.


"abang"


"kenapa dedek?"


"dedek mau belajar main piano lagi, ajari dedek ya bang"


"nah gitu dong, sini abang akan ajari kamu"


"kenapa kita tidak belajar dipiano nyata saja abang? dibawahkan ada"


"ini akan lebih mudah dedek, nanti kalau dedek sudah bisa kita main piano sungguhan"

__ADS_1


"baiklah bang"


dengan telaten abang al mengajari alice bermain piano.


"abang dedek sudah mulai bisa"


"iya itu karna adik abang pintar"


"bukan dedek yang pintar abang, tapi abang yang pintar. abang adalah guru yang paling hebat" ucap alice sembari memeluk al


"abang sayang dedek. abang berharap dedek bisa selalu bahagia"


"dedek juga sayang abang. dan dedek juga berharap nanti abang bisa menikah dengan dedek gisa"


"masih kecil kok nikah-nikah"


"tidak apa-apa abang, coba abang lihat dedek gisa sangat cantik abang. aku akan sangat bahagia jika dedek gisa menjadi kakak iparku"


"anak kecil nggak boleh ngomong sembarangan"


"iya-iya abang" ucap alice sembari mencebikkan bibirnya.


*********


"papi. kata papi kita akan punya adik bayi, lalu mana adik bayinya papi?" tanya alice kepada varo.


"makanya dedek berdoa kepada Tuhan supaya cepat diberi dedek bayi"


"kami akan memberikannya untuk alice tapi seperti yang dibilang papi tadi, alice harus berdoa kepada Tuhan supaya mami melati, mama sarah, dan mama liyla cepat hamil. supaya alice punya tiga adik bayi" ucap gio


"iya papa gio benar"


"jangan banyak-banyak nanti abang pusing jagainnya. jagain kamu, gisa, dan billa saja sudah bikin abang kesal karna kalian crewet sekali jika sudah bersama"


"emansipasi wanita abang"


"emansipasi apanya, kalian sudah mirip seperti ibu-ibu komplek yang tengah bergosip dedek"


"namanya juga perempuan abang, ya wajarlah"


"iya tau nih, kakak al apaan sih"


"kau yang apaan" ucap al sembari menatap tajam gisa.


"papi kakak al galak sekali" adu gisa kepada varo


"al tidak boleh seperti itu kepada adiknya"


"iya papi"


"gisa nanti kalau kau punya adik bayi maunya laki-laki atau perempuan?"


"gisa mau laki-laki kak alice biar nanti dia tampan seperti kak al"

__ADS_1


"jangan seperti abang gisa"


"memangnya kenapa kak alice?"


"apa kau mau adikmu seperti abang. tampan sih, tapi sangat galak dan dingin"


"tidak mau kak alice. maksud gisa tampannya saja yang meniru kak al"


"jangan berharap, orang tampan sepertiku ini limitied edition. stok langka, jadi jangan berharap ingin memiliki adik tampan seperti diriku" sarkas al


"iya-iya kak al pelit sekali tidak mau berbagi tampannya dengan adik gisa"


"kau ini ada-ada saja gisa, mana mungkin tampannya kakak al bisa dibagi"


"lalu gimana biar adik gisa tampan seperti kakak al papa?"


"berdoa kepada Tuhan"


"baiklah kalau begitu gisa akan berdoa supaya adik gisa bisa setampan kakak al"


"anak papa memang pintar" ucap gio sembari mengacak gemas rambut gisa.


"gisa. kalau nanti gisa sudah besar apa gisa mau menikah dengan kakak al?" tanya bima.


"mau papa bima, soalnya kakak al sangat tampan. kata mama kakak al sangat cocok menjadi menantu idaman mama"


"apa mamamu benar berkata seperti itu?"


"iya papa bima"


"hahahaha" seketika tawa varo, gio, dan bima pun pecah mendengar penuturan polos gisa.


"istrimu itu benar-benar sudah gila yo"


"iya lama-lama istrimu ketularan gilanya istriku yo"


"sialan kalian ini. tapi memang al sangat tampan"


"iya dong siapa dulu papinya"


"heh jangan sombong tuan muda"


"tapi kelihatannya kalau kita berbesan akan sangat bagus ro"


"biarkan saja semuanya mengalir yo, kalau nanti mereka pas sudah besar cocok dan saling mencintai, maka kita sebagai seorang orang tua hanya bisa merestui, dan kalau mereka tidak berjodoh. hubungan keluarga kita akan tetap erat karna anak-anak kita juga bersahabat"


"iya kau benar ro"


"kalau al tidak berjodoh dengan gisa, aku juga dengan senang hati mau menerima al sebagai menantu"


"tapi aku tidak mau anakku memiliki mertua seperti istrimu, kasihan sekali anakku nanti"


"sialan loe ro" ucap bima sembari terkekeh

__ADS_1


__ADS_2