Melati Untuk Alvaro

Melati Untuk Alvaro
28


__ADS_3

"aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu kembali varo, aku sangat merindukanmu" ucap viola sembari memeluk varo.


"vi lepaskan, jika ada yang melihat mereka pasti akan salah paham terhadap kita"


"memangnya kenapa varo.? apa kamu tidak merindukanku.? apa kamu sudah tidak mencintaiku varo.? apa semua ini gara-gara amanda bodoh itu.?"


"ini tidak ada hubungannya dengan amanda vi, aku dan dia sudah lama berakhir. dan sebaiknya kamu jangan pernah mengganggu hidupku lagi"


"tapi aku masih sangat mencintaimu varo, maafkan aku, maafkan aku karna dulu pernah menduakanmu. tapi aku sungguh menyesal varo"


"lebih baik kamu jangan menggangguku vi, karna aku sudah menikah"


"kamu bohong varo. meskipun kita sudah lama tidak bertemu, tapi aku selalu meminta informasi dari teman-teman kita mengenai dirimu. dan setelah hubungan kita berakhir, kamu hanya menjalin hubungan sama amanda, tetapi menurut informasi yang kudapatkan, hubungan kalian telah berakhir. dan mana mungkin kamu sudah menikah"


"tetapi faktanya memang seperti itu vi. aku harap kamu tidak menggangguku lagi, kita hanya sebatas masalalu vi. aku permisi, istriku telah menungguku"


"tapi aku masih sangat mencintaimu varo" teriak viola berusaha menghentikan langkah varo, tetapi semuanya sia-sia varo tetap pergi meninggalkannya.


"sayang kamu kenapa lama sekali.!"


"maaf sayang. kenapa.? apa kamu lelah.?"


"aku ngantuk sekali yank"


"yasudah ayo kita pulang"


"sarah, liyla, kak gio, kak bima, aku dan varo pamit pulang dulu ya. aku sangat lelah" pamit melati kepada sahabatnya dan sahabat suaminya.


"iya, kalian hati-hati ya"


"iya kak gio. jangan lupa pepet terus" ucap melati menggoda gio sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu.


"gio"


"viola, loe datang juga.?"


"iya, kebetulan anggun adalah sepupuku"


"oh"


"tadi aku melihat varo, dimana dia sekarang.?"


"varo pulang sama biniknya"


"jadi benar varo sudah menikah.?" tanya viola memastikan.


"iyalah, dan loe nggak usah ngarep lagi sama sahabat gue" sinis bima, dia benar-benar kesal, kenapa juga dia harus bertemu wanita tidak tau malu ini.


"tapi kenapa aku tidak mendengar kabar kalau dia sudah menikah.?"


"iya karna pernikahan itu di adakan secara sederhana. varo hanya mengundang orang-orang terdekatnya saja"


"lalu siapa istrinya.?"


"dia adik kelas kita dulu"


"siapa.?"


"dia...." belum sempat gio menjawab pertanyaan viola, sarah sudah menarik tangannya


"kak gio ayo kita pulang" ucapnya sembari menarik tangan gio. begitu pula liyla ia juga menarik tangan bima, mengikuti sarah dan gio.


"gue balik dulu vi, cewek gue lagi ngambek" pamit gio kepada viola. sedangkan viola hanya bisa mematung sambil memperhatikan gio yang perlahan menjauh.


"kamu kenapa sih sar.?" tanya gio bingung dengan sikap sarah yang tiba-tiba berubah.


"kak viola itu mantan kekasih kak varo kan


?"


"iya, tapi kenapa kamu jadi terlihat kesal setelah melihat vio.?"


"dari sorot matanya masih terlihat, kalau dia masih menyukai kak varo"


"lalu.?"


"aku khawatir dia akan merusak rumah tangga kak varo"


"kamu berfikir terlalu jauh sar. aku tau varo, yang dia cintai hanya melati, dan aku paham betul dengan varo, dia tidak akan pernah membiarkan pihak ketiga masuk kedalam kehidupannya"


"apa kak gio yakin.?" tanya sarah memastikan, ia sangat menghawatirkan sabatnya.


"aku yakin sarah, percayalah kepadaku" ucap gio sembari memegang kedua bahu sarah, berusaha meyakinkan gadis itu.

__ADS_1


"iya sar, loe nggak usah hawatir. melati aman sama varo" timpal bima berusaha ikut meyakinkan sarah, ia bisa menangkap kehawatiran dimata sarah.


"yasudah ayo sekarang kita pulang, ini sudah larut malam, aku dan bima akan mengikutimu dari belakang"


"tidak perlu kak gio"


"tidak apa sarah, ini sudah malam. aku tidak ingin kamu dan liyla sampai kenapa-kenapa dijalan"


mau tidak mau sarah hanya bisa menuruti perkataan gio.


*****


hari-hari berlalu tanpa terasa kehamilan melati telah menginjak usia 12 minggu.


"tidak terasa aku sudah hampir tiga bulan hanya berdiam diri di rumah saja, aku benar-benar bosan"


"non ini jus mangga pesenan non melati"


"makasih ya mbak"


"sama-sama non"


"oh iya mbak, apa masakan bik siti sudah matang.?"


"sudah non. apa non mel mau makan sekarang.?"


"tolong buatkan bekal untuk varo ya mbak. aku ingin mengantarkan makan siang untuknya, aku bosan dirumah terus"


"baik non"


melati segera bergegas masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaian, setelah selesai ia segera kedapur mengambil bekal untuk varo, ia juga meminta pak adi untuk mengantarkannya menuju kantor suamianya. karna dia faham kalau dia mengemudi sendiri, suaminya itu akan terus-terusan mengomelinya.


"tunggu sebentar ya pak, mel masuk dulu" pamit melati kepada pak adi ketika mereka telah sampai di kantor varo.


"baik non"


melati bergegas masuk dan menuju keruangan suaminya. di sepanjang perjalanan dia disapa oleh beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan dirinya.


"astaga gawat bu mel kemari"


"iya bagaimana ini, wanita tadi belum keluar"


"iya, kira-kira siapa wanita tadi"


"mana mungkin, bu melati saja sangat cantik. mana mungkin pak varo masih main gila dibelakang beliau"


para karyawan itu dengan asik bergosip dan melupakan pekerjaan mereka, mereka begitu penasaran dengan wanita yang datang menemui bos mereka.


"bu melati, kenapa ibu tidak telfon dulu kalau mau kemari" ucap vani gugup


"kenapa aku harus telfon dulu vani, biasanya aku juga langsung kemari. apa bapak sedang sibuk.?"


"ti-tidak bu"


"lalu kenapa kamu terlihat gugup seperti itu"


"se sebenarnya di dalam ada seorang wanita bu, dia sudah diusir oleh pak varo tapu dia tidak mau pergi. bahkan security masih ada di dalam ruangan pak varo berusaha mengusirnya tapi dia terus memeluk pak vari bu, dia tidak mau melepaskan pelukannya dari pak varo"


setelah mendengar penuturan vani melati segera menerobos masuk ke dalam ruangan suaminya, dan benar saja apa yang dikatakan vani, ada seorang wanita yang sedang memeluk varo dengan erat.


"sayang, kamu kemari" tanya varo kaget ketika melihat melati ada di dalam ruangannya. "aku bisa jelasin semua ini yank"


"kamu lepasin suamiku" ucap melati dengan lantang, entah kenapa darahnya terasa mendidih, ia tidak suka melihat suaminya di sentuh oleh wanita lain.


"ohhh jadi loe istrinya varo. gue nggak bakalan lepasin varo, gue sangat mencintainya. mendingan loe pergi deh, karna varo hanya milik gue"


"loe tuh apa-apaan sih vi. lepasin gue"


"gue nggak mau varo, gue masih sangat mencintai kamu"


"gue udah nikah vi, dan gue hanya mencintai istri gue, lepasin gue vi"


"tidak, aku tidak akan melepaskanmu varo"


melati bergegas mendekat kearah suaminya, dan berusaha menarik wanita itu agar menjauh dari suaminya. namun kekuatan melati kalah kuat dari viola.


"kenapa kamu diam saja, cepat bantu saya" ucap melati kepada security yang berada di ruangan varo.


"baik bu" security itu bergegas membantu melati untuk menarik viola yang dengan erat memeluk varo. dia menarik viola dari belakang, sedangkan varo dan melati berusaha membuka genggaman tangan viola yang dengan erat mencengkram baju varo.


setelah berhasil security itu bergegas menarik viola keluar, namun viola terus memberontak dan menendang area sensitif security itu hingga cengkraman tangannya terlepas. viola segera mendekat kearah melati dan mendorongnya dengan sangat keras, hingga membuat melati terprosok ke atas lantai.


"varo aku mohon beri aku kesempatan"

__ADS_1


"vio gue mohon loe pergi dari sini"


"gue nggak mau pergi varo, gue mau kita seperti dulu lagi"


"sayang sakit" ucap melati dengan terus memegangi perutnya.


"sayang kamu kenapa.?" dengan keras varo mendorong tubuh viola yang masih saja bergelayut pada lengannya, ia segera menghampiri istrinya yang masih terduduk di lantai.


"pe perutku sakit sekali yank ahhh" rintih melati sambil terus memegangi perutnya.


"astaga sayang ada darah" ucap varo dengan panik.


"vani.... vani... vani" ia terus memanggil-manggil sekertarisnya.


"iya pak" ucap vani ketika sudah masuk kedam ruangan varo.


"kalian berdua urus wanita gila ini, jangan biarkan dia lolos. aku akan membawa istriku kerumah sakit"


"baik pak"


varo bergegas menggendong melati menuju kerumah sakit terdekat, di sepanjang perjalan tak henti-hentinya melati terus mengeluarkan darah.


"sayang bertahanlah" ucap varo sembari memeluk melati dengan erat.


"sakit yank, perutku sangat sakit" tak henti-hentinya air mata melati menetes, ia sangat hawatir dengan bayi yang ada di dalam perutnya.


"lebih cepat pak, apa kau tak melihat istriku kesakitan"


"baik pak" sopir itu segera menambah kecepatan mobil yang mereka tumpangi.


setelah menempuh perjalan sekitar 10 menit mereka telah sampai di rumah sakit terdekat. sesampainya di rumah sakit varo segera menggendong tubuh melati, darah berceceran dimana-mana bahkan baju yang varo kenakan sudah penuh dengan darah yang keluar dari tubuh istrinya.


"dokter.... suster tolong"


tak lama dua orang perawat menghampiri varo.


"ada apa ini pak.?"


"istriku pendarahan tolong, dia sedang hamil. tolong istriku" pinta varo dengan panik.


"mari ikuti kami pak"


dua perawat itu segera menuntun varo menuju keruang rawat, dengan segera varo meletakkan tubuh lemas melati di atas blangkar rumah sakit. tak lama seorang dokter datang dan langsung memeriksa keadaan melati.


"bapak silahkan tunggu di luar"


dengan terpaksa varo meninggalkan ruangan itu, ia segera menuju ruang tunggu sembari menghubungi keluarganya.


"ahhh kenapa lama sekali" gumam varo, rasa hawatir telah menggerogoti dirinya.


tak lama mama syifa dan mama dahlia datang sambil tergopoh-gopoh.


"varo sayang, bagaimana keadaan melati nak.?"


"iya varo, bagaimana keadaan istrimu.?"


"varo juga belum tau ma. dokter masih memeriksa melati"


"kenapa bisa sampai seperti ini varo.?"


"ini semua gara-gara viola ma. kalau sampai terjadi sesuatu kepada melati dan bayi kami. aku akan membalas semua perbuatannya, akan kuhancurkan keluarganya"


"sabar sayang, sekarang yang terpenting adalah keadaan istrimu" ucap mama syifa sembari memeluk varo.


"bagaimana keadaan melati ma.?" tanya agung yang baru saja sampai.


"mama juga belum tau pa, dokter masih memeriksa putri kita"


"ya Tuhan tolong lindungi pitriku dan juga calon cucuku" ucap papa bahkan air matanya telah meleleh membasahi pipinya, ia tidak bisa menyembunyikan rasa hawatirnya terhadap melati dan calon anaknya.


"apa sebenarnya yang terjadi.?" tanya kakek yang baru saja datang.


"lebih baik om tanya kepada varo, karna varo yang tau pokok permasalahnya"


"varo jawab kakek, apa sebenarnya yang terjadi.?"


"maafkan varo kek, varo tidak bisa menjaga istri vari. ini semua gara-gara viola, dia datang ke kantor varo dan membuat keributan, dia juga mendorong melati hingga jadi seperti ini kek"


"viola, mantan pacarmu waktu sekolah dulu.?" tanya kakek memastikan.


"iya kek. varo bersumpah, kalau sampai terjadi sesuatu dengan melati dan calon bayi kami, akan varo hancurkan keluarga mereka" ucap varo sembari mengepalkan kedua tangannya.


"berani-beraninya dia membuat masalah dengan keluarga efendi" ucap kakek penuh dengan emosi, bahkan urat-urat kemarahannya terlihat sangat jelas diwajah keriputnya.

__ADS_1


__ADS_2