Melati Untuk Alvaro

Melati Untuk Alvaro
58


__ADS_3

"abang ayo cepatlah, aku sudah tidak sabar ining sampai rumah. aku begitu merindukan dedek"


"alice sabar sedikit dong" ucap al sambil berdiri dari duduknya.


"habisnya abang lama sekali"


"kak alice, kak al" panggil gisa, dan billa bersamaan.


"ada apa?" ketus al


"kak al galak sekali sih, kami hanya ingin bareng sampai depan" ucap billa sembari mencebikkan bibirnya.


"yasudah ayo"


mereka berempat segera berjalan menuju kedepan gerbang dan disana sudah nampak supir mereka telah menunggu.


"billa, gisa. aku dan abang duluan ya" ucap alice


"iya kak alice, hati-hati dijalan ya"


"iya gisa. kalian juga hati-hati ya"


"iya kak"


setelah menempuh perjalan hampir 20 menit mereka pun telah sampai dirumah. alice segera masuk kedalam kamarnya mandi dan berganti pakaian, setelahnya ia segera menuju kamar alex.


"hai dedek sayang" ucap alice ketika sudah sampai dikamar adik kecilnya.


"kakak sudah pulang? abang mana kak?" tanya melati.


"abang masih dikamarnya mi"


"alex ayo bangun kakak kangen tau sama kamu"


"dedeknya jangan dibangunkan sayang"


"biarkan saja mi, habisnya alice kangen alex"


"mainnya nanti ya, soalnya dedeknya baru saja tidur sayang"


"iya deh mi"


"siang mi" ucap al ketika baru saja masuk


"siang abang. abang sudah makan?"


"sudah mi, tingga alice yang belum makan"


"ayo kakak makan dulu"


"alice belum lapar mi"


"tidak boleh menunda-nunda makan, nanti kamu bisa sakit kak. ayo cepat makan"


"iya mi" dengan berat hati akhirnya alice pergi menuju meja makan.


"mami apa alex baru saja tidur?"


"iya bang, dedek baru saja tidur. jangan dibangunkan ya, jangan seperti kakak alice yang suka menggangu dedeknya tidur."


"iya mi, apa al boleh tidur disini?"


"boleh sayang. tidurlah, abang pasti lelah karna habis pulang sekolah"

__ADS_1


"terimakasih mami"


al segera merebahkan tubuhnya tepat disamping adik kecilnya dan segera memejamkan matanya, entah mengapa siang ini al sangat lelah.


"abang" panggil alice.


"hustt jangan berisik kak, abang dan dedek sedang tidur"


"maaf mi alice tidak tau"


"tidak masalah sayang, sekarang kamu tidurlah disamping abang. biar dedek mami pindah di boks bayinya" ucap melati sembari memindahkan alex.


"mami kelonin" ucap alice dengan manjanya.


melati paling tidak bisa menolak putrinya jika ia sudah bersikap begitu manja. dengan terpaksa melati berbaring ditengah dan kedua tangannya segera merengkuh tubuh kedua anaknya.


"tidurlah sayang"


"iya mi"


*******


"ro loe sibuk?"


"tidak kenapa kau kusut sekali?"


"aku setiap malam begadang karna sikecil rewel terus, apa kau tidak bergadang"


"tidak, anakku sangat penurut"


"enak sekali kau"


"tidurlah didalam"


"bima mau kemari yo, dia akan mengganggumu jika kamu tidur disini"


"biarlah, dia berani mengusik tidurku akan kupatahkan lehernya" ucap gio sembari merebahkan tubuhnya disofa, dan tak butuh waktu lama gio sudah lelap dibuai oleh mimpi.


"yo gue laper, makan dulu yuk"


"yo" panggil varo ketika tak ada tanggapan dari gio.


"astaga anak ini sudah tidur. huft menyebalkan sekali"


*********


"sayang kamu sudah pulang?" tanya melati ketika melihat varo sudah kembali.


"iya sayang, aku sengaja pulang cepat karna kangen dengan anak-anak. anak-anak dimana sayang"


"mereka semua masih tidur sayang"


"yah kenapa mereka kompak sekali. yasudah aku kekamar dulu ya sayang"


"iya sayang"


varo segera menuju kedalam kamar dan mengganti baju kerjanya dengan baju rumahan.


drtttt..... drtt.... drttt


suara getar ponsel varo menandakan kalau didalamnya ada panggilan masuk. varo segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelfonnya, dan ternyata itu adalah mama syifa.


"halo ma, ada apa?"

__ADS_1


"huhuhu"


"mama kenapa? mama kenapa menangis?"


"ka kakek nak"


"kakek kenapa ma?"


"kakek meninggal nak" ucap mama syifa dengan terus menangis.


"ti tidak mama pasti bercandakan?"


"tidak sayang mama tidak bercanda"


"kenapa kakek pergi meninggalkan kita ma?" ucap varo dan tak terasa air matanya pun telah jatuh membasahi pipinya.


"tolong persiapkan semuanya ya nak, mama mau mengurus atministrasi kakek. agar kakek cepat bisa dibawa pulang"


"iya ma varo akan persiapkan semuanya"


setelah panggilan telfonnya terputus varo segera turun kebawah untuk menyampaikan kabar duka itu kepada melati.


"sayang kenapa kamu menangis?" tanya melati yang baru saja melihat varo turun dari tangga.


varo tak langsung menjawab pertanyaan melati ia justru langsung memeluk istrinya itu dan semakin menangis.


"sayang kamu kenapa?"


"kakek sayang"


"kakek kenapa yank? kamu bicara yang jelas"


"kakek sudah meninggal sayang"


"tidak, itu tidak mungkin. kamu pasti sedang bercandakan yank"


"aku tidak bercanda sayang, kakek memang sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya"


"tidak, kamu bohong" ucap melati dan tak lama pandangannya menjadi gelap dan tak sadarkan diri.


"sayang bangun, sayang" ucap varo sembari menepuk-nepuk pelan pipi melati.


"papi, mami kenapa pi?"


"mami tidak apa-apa sayang. kalian jaga mami dulu ya" ucap varo sembari mengangkat tubuh melati dan membawanya kedalam kamar.


"kalian jaga mami ya" ucap varo kepada al dan juga alice.


"iya pi"


setelah meletakkan melati didalam kamar varo segera keluar dan menghubungi gio dan juga bima, untuk membantunya mempersiapkan semua keperluan untuk pemakaman kakek.


setelah menungggu hampir 3 jam akhirnya jenazah kakek telah sampai dirumah. setelah disolatkan, jenazah kakek segera dimakamkan.


"makasih ya kalian sudah mau membantuku"


"loe ngomong apa sih ro, kakek sudah kami anggap seperti kakek kami sendiri. berkat kakek kami bisa jadi seperti sekarang, kakek tidak pernah membeda-bedakan kita meskipun aku dan bima hanya cucu angkatnya"


"iya ro. bukan hanya loe yang kehilangan kakek, tapi aku dan gio juga merasakan hal yang sama"


"aku harap persahabatan kita tidak akan pernah putus hingga maut memisahkan kita"


"iya, aku harap juga begitu" ucap varo sembari memeluk gio, dan bima pun juga ikut memeluk gio dan varo.

__ADS_1


__ADS_2