Melati Untuk Alvaro

Melati Untuk Alvaro
14


__ADS_3

pagi itu jam di dinding menunjukkan pukul 06.30 dan varo baru saja membuka matanya karna merasa silau akan cahaya matahari yang masuk melalui cela gorden. ia melihat di sampingnya istrinya belum juga bangun, varo memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


"kenapa dia belum juga bangun" gumam varo setelah keluar dari kamar mandi. "apa dia tidak bekerja"


"mel bangun ini sudah siang" namun masih tidak ada pergerakan dari istrinya. varo melangkah mendekati melati, ia mengguncang bahu melati bermaksud untuk membangunkannya.


"mel, ayo bangun ini sudah siang mel. apa kamu tidak pergi bekerja.?" tetapi melati masih saja tidak beranjak bangun. varo lantas membelai pipi melati, dan betapa terkejutnya varo karna suhu badan melati begitu tinggi.


"astaga dia demam" varo langsung bergegas mengambil plaster penurun panas di dalam laci samping tempat tidurnya. "kenapa suhu tubuhnya tinggi sekali" gumam varo khawatir dengan keadaan istrinya tersebut.


varo bergegas menelfon dokter pribadi keluarganya, setelah menunggu sekitar 30 menit dokter itu telah sampai di mansion keluarga efendi.


"bagaimana keadaan istri saya dok .?" tanya varo setelah dokter selesai memeriksa keadaan istrinya.


"tidak ada yang perlu di khawatirkan, ini hanya demam biasa saja. saya akan membuatkan beberapa resep obat dan juga vitamin."


"ah syukurlah" ucap varo, mama, dan kakek secara bersamaan, mereka begitu lega karna kondisi melati baik-baik saja.


"ini resep obat yang harus di tebus, kalau begitu saya permisi dulu tuan efendi." pamit dokter kepada keluarga efendi.


"baik dok terimakasih"


mama mengantar dokter herman sampai depan rumah, setelah itu ia meminta pak adi untuk menebus resep obat yang telah dokter herman berikan tadi.


"di rumah saja, tidak usah pergi ke kantor. rawatlah istrimu varo"


"iya kek, terimakasih" kakek menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar cucunya.


"cepat sembuh mel, aku akan selalu disini menjagamu" ucap varo sambil mengelus kepala melati.


tokk..... tokk...... tokk


"masuk"


"permisi den ini saya membawakan bubur, dan juga obat untuk non melati"


"taruh saja di meja bik" setelah meletakkan bubur itu bik siti pamit pergi lagi kedapur.


"mel bangun, ayo buka matamu"


dengan enggan melati mengerjapkan matanya, ia begitu malas untuk bangun, kepalanya benar-benar pusing.


"makanlah dulu, lantas minum obatmu" ucap varo sambil bersiap menyuapi melati.


"tapi aku tidak berselera varo"


"kalau kamu tidak mau makan dan minum obat, kamu kapan sembuhnya mel.? makanlah barang hanya beberapa suap" kata varo dengan memohon. mau tidak mau melati membuka mulutnya, ia merasa tidak enak kepada suaminya, karna mengurus dirinya sampai-sampai varo tidak pergi bekerja.


"sudah varo. aku sudah kenyang"


"ayolah mel buka mulutmu. ini baru suapan ke lima"


"tapi aku sudah kenyang varo"


"baiklah, paling tidak perutmu sekarang sudah terisi. kalau begitu minum obatnya"


"iya" melati meneguk obat yang telah disiapkan oleh suaminya dengan terpaksa, karna memang ia tidak begitu menyukai mengkomsumsi obat-obatan.


"apa kamu tidak pergi bekerja.?"


"tidak, aku di rumah saja. aku ingin menjagamu"


"aku sudah agak mendingan varo, mending kamu pergi ke kantor. nanti kamu di marahi lagi"


"siapa yang mau memarahiku, orang aku bosnya"


"owh iya, aku lupa" melati tersenyum karna merutuki kebodohannya, siapa juga yang berani memarahi suaminya itu, orang dia bosnya.


varo memutuskan untuk bekerja sambil terus menjaga melati, ia tidak sedetik pun meninggalkan istrinya sendirian.

__ADS_1


melati memperhatikan suaminya yang ada di samping tengah fokus dengan laptopnya, ia merasa bosan karna dari pagi sampai sore tidak boleh keluar kamar sama varo, bahkan makan siang pun diantar ke kamar oleh bik siti.


"varo"


"iya, ada apa.?" jawab varo sambil terus fokus kepada laptopnya.


"aku bosan.!"


"lalu kamu mau apa.? kamu masih sakit, tidak usah macam-macam ya"


melati mencebikkan bibirnya setelah mendapat ultimatum dari suaminya. varo langsung menutup laptopnya ketika melihat istinya mengerucutkan bibirnya.



"mel, apa kamu tidak berkeinginan pergi kemana gitu.?"


"maksudnya.?"


"apa kamu tidak berkeinginan pergi ke suatu tempat.?"


melati nampak berfikir sejenak, ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut suaminya itu.


"dulu waktu kecil aku selalu berkhayal letika aku besar nanti, aku ingin pergi ke bali bersama pria yang aku cintai, pergi ke pantai sambil menikmati senja yang begitu indah"


"kenapa hanya di bali.? kenapa tidak ke paris, london, atau prancis.!"


"kenapa harus jauh-jauh pergi ke luar negeri jika di indonesia saja sudah sangat indah"


"iya juga sih"


"kenapa kamu bertanya seperti itu.?"


"tidak apa-apa, memangnya tidak boleh kalau aku bertanya.!"


"iya boleh sih"


**************************


"alhamdulilah akhirnya proyek itu bisa kita menangkan"


"iya aku begitu lega"


"loe kenapa diam terus sih ro.?"


"gue kepikiran sama melati yo, kemarin dia sakit sedangkan sekarang sudah aku tinggal bekerja"


"ciee..... ada yang menghawatirkan binik nie" ejek gio


"udah mulai cintai kalik yo"


"bisa jadi bim, soalnya istrinya kan cantiknya kebangetan"


"padahal dulu ada yang bilang ke kita kalau nggak bakal jatuh cinta sama si cupu"


"terus-terusin aja kalian meledekku" sambar varo sebal. dan di sambut tawa renyah dari kedua sahabatnya.


"udah ah yuk makan gue laper banget nih"


"yaelah bim, makan aja yang loe pikirin"


"namanya juga kebutuhan yo"


"yaudah ayo kita pergi ke cafe yang di lobby aja"


"ya udah ayo. gue udah laper banget"


mereka bergegas menuju cafe yang berada di lobby, setelah memesan dan menunggu beberapa saat, makanan yang mereka pesan datang dan mereka langsung memakannya dengan lahap.


"kemarin gue bertanya sama melati, keinginannya dari kecil adalah pergi ke bali bersama pria yang dia cintai, sambil melihat indahnya senja di pinggir pantai"

__ADS_1


"gila, sederhana banget keinginan istri loe"


"gue juga nggak tau yo. mungkin saja dia sudah bosan pergi ke luar negeri. karna memang dulu orang tuanya sering mengajaknya pergi keluar negeri"


"mungkin bisa jadi sih"


"trus gimana rencana kamu, tentang bulan madunya" tanya gio penasaran.


"gue nggak tau, secara keinginannya melatikan pergi bersama pria yang dia cintai, sedangkan aku belum tau gimana perasaannya terhadapku"


"yaelah bro gas aja kalik. gue tau sebenarnya melati itu udah mulai mencintai kamu. langsung kosongkan jadwal aja, setelah melati sembuh nanti langsung ajak berangkat."


"apa loe yakin bim kalau melati udah ada perasaan sama gue.?"


"yaelah orang kalau nggak peka ya gini nih. dari sorot matanya aja kelihatan bro" kata bima dengan santai.


"oke deh, kalau gitu gue bakal kosongin jadwal gue minggu depan"


"nah gitu dong, gerak cepat.!"


setelah menyelesaikan makan siangnya, varo cs pun bergegas kembali ke jakarta, dan kembali ke kantor untuk melakukan rapat dengan investor lainnya.


*****************


*"sudah selarut ini kenapa varo belum juga kembali"* gumam melati dalam hati. ia terus saja berjalan mondar-mandir karna menghawatirkan suaminya.


tokk...... tokk...... tokk


"masuk"


"melati sayang apa kamu sudah merasa baikan nak"


"melati sudah mendingan ma"


"yasudah istirahatlah sayang ini sudah malam" ucap mama sambik mengelus rambut melati.


"iya ma"


"yasudah mama keluar dulu, kamu lekas tidur nak"


melati begitu gelisah karna sekarang jam sudah menunjukkan pukul 23.30 sedangkan suaminya belum juga kembali. tak lama terdengar suara mesin mobil.


"akhirnya dia kembali" melati begitu lega karna suaminya sudah kembali.


"kenapa kamu belum tidur.?" tanya varo kepada melati, begitu ia memasuki kamar.


"aku belum mengantuk"


"apa kondisimu sudah mendingan.?"


"aku sudah tidak kenapa-kenapa varo, aku sudah sembuh.!"


"apa kamu yakin.?" tanya varo sambil memegang kening melati, ia pun merasakan kalau kening melati sudah dalam suhu normal.


"yasudah aku mau mandi dulu"


"iya"


varo bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. setelah beberapa saat dia telah selesai dengan pakaian lengkapnya.


"kenapa kamu belum tidur.? apa kamu menungguku.?" goda varo


"PD banget sih kamu"


"tinggal mengaku saja apa susahnya"


"tau ah" ucap melati sambil memunggungi varo.


varo bergegas membaringkan dirinya disamping melati, ia memeluk melati dari belakang. dia paham kalau istrinya itu sudah terbiasa tidur sambil memeluknya, kalau tidak begitu melati tidak akan bisa tidur.

__ADS_1


melati begitu nyaman saat berada dalam dekapan varo, ia pun membalikan tubuhnya menghadap suaminya, dan menyembunyikan wajahnya ke dada bidang varo. tak butuh waktu lama melati telah lelap dibuai oleh mimpi.


__ADS_2