
*"hari-hari kulalui seperti biasanya mengurus butik, dan melakukan tugasku sebagia istri. terkadang aku masih meresa sedih ketika mengingat calon bayiku yang telah tiada namun ketika aku ingat hal itu aku segera menepisnya, aku tidak mau terlihat rapuh dan membuat suamiku sedih kembali. pernah suatu malam aku memergoki suami tengah terisak di kamar calon buahati kami, ia menangis dan menyalahkan dirinya sendiri karna merasa tidak bisa melindungi kami, hatiku begitu teriris melihat varo seperti itu. aku merasa itu semua karna ulahku yang diam-diam masih sering melamun dan bersedih, dan mungkin saja varo mengetahuinya."*
melati masih sibuk dengan lamunannya sampai ia tidak kosentrasi mengerjakan pekerjaannya.
drttt..... drttt..... drttt
dering ponsel yang berbunyi membuyarkan lamunan melati hingga membuat ia terlonjak karna kaget. melati bergegas mengambil ponselnya yang masih ia letakkan di dalam tas jinjingnya, ia segera mengangkat panggilan itu karna tak mau membuat sang penelfon menunggu lama.
"halo sally. ada apa.?"
"apa pesananku sudah jadi nona.?"
"sudah sally, sekarang pun kamu bisa mengambilnya"
"oke nona kebetulan aku sedang di jalan tidak jauh dari butikmu, sekalian saja saya mampir"
"baik sally, aku tunggu kedatanganmu"
setelah panggilan berakhir melati bergegas keruangan liyla dia meminta agar liyla mempersiapkan segala pesanan sally, setelah dari rungan liyla ia segera menuju ruangan sarah.
"ada apa dengan wajahmu, kenapa ditekuk seperti itu.?"
"kenapa sampai sekarang aku belum mengandung lagi ya sar"
"sabar mel, semuanyakan butuh proses. kalau sudah tiba waktunya Tuhan pasti memberikannya lagi untukmu dan kak varo"
"kamu benar, aku tidak boleh bersedih lagi. suamiku masih sangat membutuhkanku"
"nah gitu dong, jangan sedih-sedih terus ya sahabatku sayang" ucap sarah sembari memeluk melati dengan erat.
"lalu bagaimana persiapan pernikahanmu dan kak gio sar.?"
"semuanya sudah beres mel"
"aku bahagia sekali sar, akhirnya sahabatku ini akan menikah. aku tak perlu khawatir melepaskanmu kepada kak gio, dia seorang pria yang baik. aku doakan kalian berdua selalu bahagia"
"amin"
tokk.... tokk..... tokk
"masuk"
__ADS_1
"ternyata loe disini mel.! pantes aku dan sally cariin diruang kerjamu tidak ada"
"iya aku bosan sekali, apa sudah selesai.?"
"sudah beres semuanya mel"
liyla dan sally pun duduk di sofa yang berseberangan dengan melati dan sarah. mereka membicarakan banyak hal seputar pekerjaan mereka.
"oh ya nona melati apa tuan varo tidak ikut lagi kemari.?"
"tidak sally, suamiku sedang sibuk bekerja"
"kenapa tiba-tiba kamu menanyakan kak varo sally.!"
"iya sally, atau jangan-jangan kamu menyukai kak varo ya.?" tanya sarah penuh selidik.
"mana mungkin aku menyukai suaminya nona melati. aku hanya gemas saja melihatnya, dia kelewat tampan, uhh aku kan jadi gemas nona"
"astaga sally kenapa kamu bisa melambai seperti ini, bahkan dengan sesama jenis pun kamu seperti ini" sarkas liyla
"aku juga tidak ingin seperti ini nona, tapi entahlah mungkin sudah takdirku seperti ini" jawab sally sedih.
"iya sally maafkan liyla ya, dia itu kalau ngomong memang suka nggak difilter dulu"
"tidak masalah nona"
"apa kami boleh tau sally kenapa kamu bisa jadi seperti ini, kalau di lihat-lihat kamu cukup tampan"
"sebenarnya ini semua karna ibuku. aku adalah anak bungsu dari lima bersaudara, ke empat kakakku adalah perempuan, entah kenapa ibuku selalu lebih sayang kepada kakak-kakakku dan selaku mengabaikan diriku. aku merasa tidak dianggap oleh ibu, hingga akhirnya jadilah aku yang sekarang" ucap sally dengan wajah sendu.
"yang sabar sally, seperti apapun kondisimu sekarang kamu harus banya-banyak bersyukur. karna lihatlah berkat dirimu yang sekarang, kamu bisa menjadi MUA terkenal sally" ujar melati berusaha menguatkan sally.
"iya nona melati kau benar"
*******
pagi itu melati bangun pukul 05.00 karna dia mendengar suara varo yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi.
"sayang kamu kenapa.?"
"aku tidak apa-apa sayang mungkin aku masuk angin"
__ADS_1
"apa kamu demam.? apa kamu pusing yank.?" melati segera memeriksa kening varo, namun tidak demam, suhu tubuhnya normal.
"tidak sayang, aku tidak deman dan tidak pusing, hanya muntah-muntah saja"
"yasudah ayo kekamar, aku akan membuatkanmu wedang jahe, agar tubuhmu hangat"
melati segera menuntun tubuh lemas varo ke atas ranjang, ia segera pergi kedapur untuk membuatkan suaminya itu wedang jahe.
"tumben non mel bikin wedang jahe.?"
"iya bik soalnya varo masuk angin"
"apa perlu saya panggilkan dokter non.?"
"tidak usah bik. karna varo tidak demam dan juga tidak pusing, mungkin istirahat sejenak juga sembuh. mungkin saja dia kelelahan"
"bisa jadi sih non"
"kak mel" panggil arka sembari berlari kearahnya dan memeluk melati
"arka, kamu sudah bangun sayang.?" tanyanya sembari mengelus kepala arka.
"iya kak"
"kak mel kekamar dulu ya arka, soalnya kak varo lagi sakit"
"apa arka boleh ikut kak.?"
"boleh, ayo kita temui kak varo" melati bergegas membawa wedang jahe buatannya, di ikuti oleh arka di belakangnya.
"ini minumlah dulu sayang" ucap melati ketika sampai di dalam kamar.
"makasih sayang" varo segera bangun dari tidurnya dan menyesap wedang jahe buatan istrinya.
"kak varo sakit apa.?" tanya arka sembari mendekat kearah varo.
"kak varo tidak kenapa-kenapa, mungkin kakak hanya kecapean"
"biar arka pijit kak varo. kak varo harus cepat sembuh, biar kak mel nggak sedih" ucap arka sembari jemari mungilnya memijat kaki varo.
"anak pintar" varo mengacak gemas kepala arka, dia juga mulai menyayangi anak asisten rumah tangganya itu.
__ADS_1