Melati Untuk Alvaro

Melati Untuk Alvaro
20


__ADS_3

pagi itu varo bangun lebih dulu, sedangkan melati masih lelap dengan mimpi panjangnya.


"cantik" ucap varo sambil menyelipkan anak rambut melati kebelakang telinga, dengan lembut di ciumnya kening melati, hingga membuat melati menggeliat dan perlahan membuka matanya.


"morning sayang"


"morning varo"


"hari ini kamu mau kemana.? aku bakalan turuti semua kemauan kamu"


"beneran.?"


"iya bener yank"


"aku ingin ke pantai, habis itu ke pasar seni sukawati untuk membeli oleh-oleh untuk mama, kakek dan yang lainnya"


"oke siap tuan putri. yasudah buruan siap-siap"


"kamu saja yang mandi duluan. aku akan siapkan baju, dan buatkan kamu kopi"


"baiklah yank"


varo bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sekitar 15 menit ia telah keluar dan melati bergegas memasuki kamar mandi.


"ahh begini nikmatnya ya punya istri, apa-apa ada yang siapin, pengen makan atau minum apa ada yang buatin. tau gitu gue nikah dari dulu" ucap varo sambil menikmati kopinya di atas balkon, sambil melihat indahnya pantai pagi itu.


"varo ayo kita berangkat"


"kamu udah siap yank.?"


"sudah ayo kita berangkat sekarang"


mereka berjalan kaki menuju pantai yang dekat dengan tempat mereka menginap.


"udaranya sejuk sekali varo, aku jadi ingin punya rumah disini"


"kenapa gitu.?"


"iya karna dari dulu aku suka bali, tempatnya indah, aku selalu ingin berlama-lama disini, aku juga kadang berfikir ingin pindah di bali saja"


"maaf ya yank, kalau untuk pindah kemari kelihatannya kita tidak bisa. karna pekerjaan kita semuanya ada di jakarta, tapi aku janji sama kamu, aku akan sering-sering ajak kamu ke bali.!" ucap varo sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"kamu janji.?"


"iya sayang aku janji" melati pun membalikkan tubuhnya dan memeluk suaminya.


"makasih ya varo"


"sama-sama sayang, apapun akan ku lakukan asal istriku selalu bahagia" ucap varo sambil mencium puncak kepala melati.


"varo, tolong kamu ambilkan gambarku" ucap melati sambil memberikan ponselnya.


"baiklah" ucap varo enggan.


"kenapa aku terlihat jelek sekali, kamu nggak niat ya fotoin akunya" ucap melati ketika melihat hasil jepretan varo.


"niat kok yank"


"ah sudahlah aku mau buat istana pasir dulu"


*"dia selalu saja asik selfy dan berfoto, tapi tak sekalipun mengajakku"* gumam varo dalam hati, ia kesal kepada istrinya karna selalu mengambil gambarnya sendiri, sedangkan mereka tidak memiliki foto berdua.


karna asyik bermain dan membuat istana pasir tanpa mereka sadari hari sudah siang.


"yank ini udah jam 14.09 loh, yuk ke pasar katanya kamu mau cari oleh-oleh buat orang rumah"


"astaga, aku sampai lupa waktu varo. ya sudah ayo kita pergi"

__ADS_1


varo bergegas menuntun menuju ke mobil yang telah ia sewa, untuk beberapa hari ketika mereka berada di bali.


"varo ini mobil siapa.? kamu beli mobil ya.? astaga varo kamu ini boros sekali, bahkan kita tidak punya rumah disini, dan kamu malah membeli mobil dengan harga milyaran rupiah"


"astaga yank, aku hanya menyewanya bukan membelinya" ucap varo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, varo tidak mengerti kenapa istrinya itu kini crewet sekali.


"owh, aku fikir kamu membeli mobil ini. yasudah ayo kita berangkat"


varo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke pasar seni sukawati, dimana pasar itu menjual berbagai pernak-pernik dan oleh-oleh khas bali. sekitar 30 menit mereka telah sampai di pasar yang mereka tuju. mereka bergegas turun dari mobil, dan masuk kedalam pasar.


"yank kamu mau beli apa.?"


"aku ingin mencari beberapa pernak-pernik dan makanan khas sini varo"


"oke baiklah, aku ikut kata tuan putri saja"


melati dan varo memasuki sebuah toko yang menjual berbagaik pernak-pernik, dan melati mulai mengambil beberapa pernak-pernik, tas rajut, dan beberapa tas rotan.


dan saat tengah asik memilih beberapa gamelan mini dan kerajinan batok kelapa, melati tanpa sengaja mendengar kasak-kusuk dari beberapa gadis yang berada di dalam toko itu, dari percakapan mereka, terlihat jelas mereka tengah terpesona kepada seorang pria.


"lihatlah pria itu tampan sekali"


"iya, kenapa ada pria setampan itu di dalam toko seperti ini"


"mungkin saja dia mengantar kekasihnya"


"mana mungkin pria setampan itu mau menemani seorang gadis berbelanja"


"astaga, andai tuan tampan itu belum mempunyai pasangan, aku juga mau menjadi istrinya"


"mimpi kau itu"


"made, kau inikan yang paling cantik di antara kita. coba kau maju sana, mintalah nomor ponsel pria itu" ucap salah satu diantara kumpulan gadis itu.


"baiklah aku akan mencobanya"


*"kenapa dimanapun dia berada selalu saja menjadi pusat perhatian"* gumam melati kesal.


"permisi bli"


"iya nona, apa ada yang bis...." melum sempat varo menyelesaikan perkataannya, melati telah memanggilnya


"suamiku" ucap melati sambil berlari menuju kearah varo.


"suamiku, aku sudah selesai berbelanja, ini bayarlah semua belanjaan istrimu ini" ucap melati sambil memberikan seluruh belanjaannya kepada varo, dan ia sengaja menekankan kata suamiku kepada gadis yang baru saja akan berusaha menggoda suaminya.


"ahh baiklah yank. dan nona maaf aku harus membayar belanjaan istriku dulu, kalau kau perlu bantuan, minta tolonglah kepada istriku" ucap varo bergegas pergi menuju kasir.


"maaf nona ada perlu apa ya dengan suamiku" ucap melati dengan sinis.


"owh maaf saya salah orang, saya fikir bli tadi teman lama saya" ucap gadis itu sambil pergi.


"dasar ganjen" melati benar-benar kesal, kenapa juga suaminya itu tampannya harus kelewatan.


"yank, aku sudah selesai nih. kita mau beli apa lagi.?" tanya varo sambil menenteng beberapa paper bag belanjaan melati.


"kita ketoko sebelah yuk"


melati dan varo memasuki toko yang menjual beberapa makanan khas bali. setelah itu mereka juga membeli beberapa batik khas bali, dan juga kebaya khas bali. setelah puas berbelanja mereka kembali lagi menuju ke mobil.


"kita mau kemana lagi yank.?" tanya varo sambil fokus mengendara.


melati melihat jam yang ada di ponselnya dan menunjukkan pukul 18.00


"kita kepura uluwatu dulu yuk, aku ingin melihat pertunjukan tari kecak"


"siap tuan putri"

__ADS_1


setelah sampai dan membayar tiket mereka masuk untuk menyaksikan tarian khas bali itu. cukup lama mereka berada di sana dan waktu telah menunjukkan pukul 21.00 melati memutuskan untuk kembali ke penginapan.


setelah sampai penginapan mereka bergegas masuk dan membersihkan diri.


"kamu sudah selesai yank, ayok kita makan. tadi aku sudah meminta staf hotel untuk mengantar makanan kemari. karna aku tau kamu pasti lelah"


"makasih varo"


setelah makan malam melati bergegas membongkar seluruh belanjaannya dan memasukkannya kedalam koper yang telah ia beli agar lebih praktis ketika membawanya pulang. sedangkan varo menikmati indahnya malam di atas balkon, sambil menyesap kopi.


melati bergegas membuka lemari pakaian dan mengambil lingerlie pemberian sarah.


"apa aku harus melakukannya.? kemarin aku sudah mengecewakannya, dan kali ini aku tidak boleh melakukan hal yang sama" gumam melati sambil melepas seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan lingerlie berwarna merah menyala itu.


setelah selesai ia duduk sambil bersandar disandaran ranjang, sambil meng upload beberapa foto dirinya, dan beberapa foto candid varo. dan tak lama foto itu dikomentari oleh kedua sahabatnya.


**sarah:


kenapa tidak ada foto bersama sih mel.?


liyla:


iya nih melati nggak seru**.


melati baru sadar kalau dia memang tidak pernah foto berdua dengan suaminya itu.


"ahh besok sajalah"


"apanya yang besok.?" tanya varo yang baru saja masuk dan duduk disamping istrinya itu.


"tidak apa-apa, aku hanya lupa membeli sesuatu"


"ohhh aku fikir apa" dengan susah payah varo menelan salivanya.


"yank"


"hmmm" melati hanya berdeham dan masih fokus pada ponselnya.


dengan cepat varo menarik tubuh melati kedalam pelukannya, dan dengan lembut ia menarik dagu melati agar istrinya itu menatapnya.


"kenapa sih varo.?"


bukannya menjawab varo malah mengecup bibir melati, dan ********** dengan penuh cinta.


"yank, aku menginginkan dirimu" ucap varo setelah ciuman itu berakhir "aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya" ucap varo mendamba.


melati hanya bisa mengangguk pasrah ketika suaminya itu meminta haknya, meskipun dalam diri melati masih merasakan ketakutan, atas apa yang dialami oleh mawar.


dengan lembut varo membaringkan tubuh melati dan ia mulai menindihnya.


"aku berjanji akan pelan-pelan melakukannya yank"


melati hanya bisa mengangguk pasrah. dengan penuh kasih sayang varo mengecup bibir ranum melati, dan dengan perlahan ia menanggalkan seluruh pakaian yang ia kenakan dan pakaian yang di kenakan istrinya.


varo semakin memperdalam ciumannya, kedua tangannya pun tak henti-hentinya bermain di atas dua gundukan indah milik istrinya, dan dengan perlahan varo memulai penyatuan antara mereka.


"ahh, sakit varo" ucap melati


dengan cepat varo kembali melahap bibir ranum istrinya untuk mengalihkan perhatian melati, dan dengan sekali hentakan varo berhasil memulai penyatuan mereka.


melati yang merasakan kesakitan hanya bisa meneteskan air mata, dan tangannya mencakar punggung varo, hingga menimbulkan punggung varo berdarah karna cakaran melati.


malam itu entah berapa kali varo menggempur pertahanan melati, hingga melati benar-benar lelah, dan tulang-tulangnya serasa remuk. setelah selesai melakukan pergulatan panas itu melati langsung tidur, karna ia benar-benar merasa lelah.


varo begitu puas ketika melihat bercak darah yang ada di atas sprei.


"cepat tumbuh sayang, papa dan mama sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu" ucap varo sambil mengelus perut rata melati.

__ADS_1


__ADS_2