Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Hutang kedua...


__ADS_3

Alex tampak sibuk gonta-ganti pakaian dan bolak-balik cermin. Sudah hampir sejam dia berkutat dengan semua pakaian di lemarinya dan dia masih belum bisa menentukan pakaian mana yang akan ia kenakan. Dia sendiri heran kenapa juga dia harus repot seperti ini padahal dia kan tidak sedang kencan dengan Chris.


Pria itu hanya ingin memiliki seorang teman yang tidak memandang status dirinya sebagai orang terpandang,teman yang memperlakukannya seperti orang biasa pada umumnya. Ternyata menjadi orang kaya juga tidak begitu menyenangkan. Dia pikir selama ini hidupnya yang paling menyedihkan saat dulu dia masih menjadi itik buruk rupa,dia hanya memiliki Ratna dan Stefi yang menjadi sahabatnya. Nasib Chris ternyata lebih parah dari dirinya. Alex merasa sangat iba pada pria itu.


Setelah berpikir cukup lama dia akhirnya menetapkan pilihannya pada celana jeans selutut dan t-shirt Tosca polos. Sebenarnya hampir semua jenis pakaiannya adalah t-shirt bergambar kartun dan celana. Ada beberapa dress yang dia miliki tapi dia menurunkan niatnya yang tadi berencana mengenakan dress karena alasan tidak nyaman.


'Ting... Tong..' terdengar suara bell pintu. Alex masih belum selesai dengan rambutnya. Tapi dia tidak menjadi terburu-buru karena dia tahu ibunya yang tengah menonton di ruang tamu pastilah sudah membukakan pintu.


Bukannya kemarin sudah aku bilang untuk datang agak siang kenapa juga jam segini sudah datang. Gerutu Alex dalam hati.


Pintu kamar Alex terbuka dan dua sosok wanita yang dia kenal baik masuk tanpa permisi.


"Kalian!!" Alex terperanjat kaget, dia pikir tamu yang membunyikan bell tadi adalah Chris.


"Kejutaaaaaaannnn! " ucap Ratna dan Stefi kompak.


"Kita ga sabar denger cerita soal kencan kemarin nih, makanya kita kesini. Kamu ga ada text atau telfon kita sih." Ratna menjelaskan alasan keberadaan mereka.


"Iya setelah kamu cerita soal siapa Chris sebenarnya, kita agak khawatir, " Stefi menimpali.


Yaah, memang karena saking penuh kepala nya terisi Chris, Alex sampai tak sempat memikirkan hal lain.


"Kamu mau kemana kok dandan?" Stefi sadar akan penampilan Alex.


"Mau pergi dengan Chris, " jawab Alex sambil masih sibuk menyisir rambutnya yang kusut.


Ratna dan Stefi kompak berteriak, "Lagiii!?!?"


Mata mereka berbinar bahagia melihat sepertinya kekhawatiran mereka kemarin tak beralasan. Ternyata tanpa perlu di bantu teman mereka yang satu ini sudah sukses menaklukkan pria idaman setiap wanita.


"Iya, Chris yang minta, karena kemarin dia udah traktir aku, jadi sekarang giliranku."


"Terus sampai sejauh mana yang telah terjadi di antara kalian?" selidik Ratna.


Alex menatap temannya, tak mengerti dengan pertanyaannya yang dilontarkan.


"Pegangan tangan, belaian rambut, atau sudah mwah mwah mwah." Stefi memonyongkan bibirnya bersemangat.


"Hush jangan mikir aneh-aneh ya, kita tuh cuman temen. Kemarin itu cuman pergi makan dan main di pantai. Ga ada tuh kejadian mesum seperti yang ada di kepala kalian."


"Cuma temen dari Mesir,, kalo gitu kenapa ga pergi sama kita aja, kita juga bisa kok jadi temen." Ratna membantah ucapan Alex.


"Iya kita juga bisa tuh jadi temen.... Temen tapi naksir, " canda Stefi terkekeh.


"Nah yang seperti itu tuh yang Chris ga suka, dia maunya tulus temenan ga pake embel-embel harta dan cinta, " omel Alex yang mulai menyisir rambut kusutnya dengan berapi-api.


"Emangnya sedikit pun kamu ga naksir sama Chris?"


Celetukan Ratna berhasil membuat Alex salah tingkah. Dia sendiri tidak tahu pasti bagaimana perasaannya pada Chris, karena kemarin dia terlalu panik akan kehilangan pekerjaan di tambah lagi bagaimana Chris sangat berharap punya seorang teman yang benar-benar tulus,Alex jadi meyakinkan dirinya sendiri kalau dia bisa membuat Chris bahagia dengan cara menjadi temannya. Tapi tak bisa di pungkiri kalau Alex merasa perasaan yang di rasanya sepertinya lebih dari sekedar pertemanan. Soalnya selama ini Ratna dan Stefi yang merupakan sahabat nya saja tidak pernah memenuhi isi kepala dan pikirannya seperti yang Chris lakukan.


"Heyyy,kenapa bengong?" Stefi menjentikkan jarinya di depan mata Alex.


"Nggak kok lagi mikir soal kerjaan." Alex berbohong. Bisa habis dia di olok-olok kedua sahabatnya nanti.


Pintu kamar kembali terbuka dan tampak sosok Ibu berada di balik pintu.


"Lex itu Chris sudah datang."


"Iya bu ini bentar lagi selesai kok."


Ratna dan Stefi langsung berlari keluar tanpa menunggu Alex. Dengan cepat Alex menyelesaikan rambutnya. Dia yang tadinya hendak mengepang rambutnya seperti Elza di animasi Frozen akhirnya hanya mengikat cepol, karena takut kalau kedua sahabatnya akan berulah.


Entah apa yang sedang mereka bicarakan, ketika Alex tiba di ruang tamu Ibu, Chris dan dua sahabatnya sedang tertawa riang.


"Yang di tunggu-tunggu sudah siap tuh." ucap Stefi sambil masih tertawa.

__ADS_1


"Kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya Alex penasaran.


"Bukan apa-apa kok, kamu sudah siap?. Kalian juga boleh ikut kok, Alex yang akan traktir, "ajak Chris yang langsung di balas dengan delikan mata oleh Alex.


" Nggak ah, kami juga udah ada acara sendiri-sendiri kok, tadi cuman mampir aja. Penasaran Alex masih kerja di Black Grill atau nggak. "Stefi menolak ajakan Chris.


" Lain kali aja undang kita pas kamu yang traktir, kita berdua udah biasa di traktir Alex, " canda Ratna.


Mereka berempat keluar berbarengan setelah berpamitan pada Ibunya Alex. Ratna mengantar Stefi pulang dengan motor maticnya, sedangkan Alex naik ke mobil Chris.


Hari ini Alex akan mengajak Chris ke pawai kesenian kota, yang diadakan dalam rangka ulang tahun kotanya. Di sana ada banyak barang-barang hasil kerajinan masyarakat setempat. Dia bisa menebak kalau Chris pastilah sudah sering menghadiri events seni berkelas atau acara perasaan yang megah, tapi dia pasti belum pernah datang ke pesta seni rakyat seumur hidupnya. Itulah alasan Alex mengajaknya kesana.


Karena jikalaupun Alex akan menggelontorkan semua tabungan yang dia punya, itu tetap tidak akan cukup untuk menyamai gaya hidup Chris, makanya dia pikir lebih baik berikan sesuatu yang belum pernah sama sekali dia rasakan, jadi itu akan terasa special walaupun tak mahal.


"Tempat apa ini?" tanya Chris heran ketika Alex berkata pada dirinya untuk parkir karena mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Tebakan Alex benar, dengan sedikit tawa kecil yang di tahan dia berkata, "Ini pameran pesta seni."


"Pameran seni?. Kenapa bisa ada pameran seni di tempat seperti ini,, dan aku tidak mendapat undangan apapun."


Kali ini Alex tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Chris yang tak memiliki petunjuk apapun mengenai tempat yang akan di kunjunginya.


"Maaf ya aku mana mungkin bisa mengajakmu ke pameran seni yang berkelas,tapi aku pastikan kalau kau akan menikmati nya, " sahut Alex yakin.


Selain menjadi tempat untuk memamerkan hasil karya buatan masyarakat kota tempat itu juga menjual berbagai macam jajanan ringan dan berbagai macam permainan seperti yang sering ada di pasar malam.


Mereka memasuki hampir semua stand kerajinan tangan yang ada.


Melihat sosok yang sangat dikenalnya dari kejauhan Alex berteriak, "Kak Andreeeeee!"


Sepertinya kakaknya datang untuk mengontrol karena di lihat nya seragam pegawai pemerintahan masih melekat di dirinya. Sambil berlari kecil Alex datang menghampiri kakaknya.


"Kak lagi apa?, traktir bakso dong, " pinta Alex bergelayut manja di lengan kakaknya.


"Maaf ya adikku membawamu kemari, ini pasti pertama kali untukmu ya, " ucap Andre basa-basi. Meskipun dia tahu jika umur Chris lebih tua dari dirinya, Andre memilih untuk bersikap biasa seolah dia bicara dengan orang seumuran. Bagaimanapun juga, kalau nanti pria ini akan menjadi pacar adiknya, tentu saja Andre harus bertindak sebagai seorang kakak yang selalu menjaga dan melindungi adiknya. Maka dari itu dia tak ingin terlihat sungkan di depan Chris, tak peduli setinggi apa status kedudukannya di masyarakat.


Sebagai seorang kakak dia harus menunjukkan pada Chris dengan siapa dia berurusan ke depannya.


" Tidak apa-apa aku cukup menikmati nya, " sahut Chris.


" Kakak masih harus mengecek stand yang lain, kalian main-mainlah sampai puas, " Andre kemudian berlalu pergi.


Alex mengajak Chris mencoba semua permainan berhadiah yang ada di sana.


" Waaaaah lihat ini, tadi kamu bilang baru pertama ke tempat begin, tapi lihat ini, kamu memenangkan hadiah tertinggi. " Alex mengangkat tinggi boneka beruang coklat yang besarnya setengah dari dirinya.


" Aku dulu ikut club menembak, makanya game tadi itu kecil untuk ku, " jelas Chris yang kali ini memenangkan game menembak balon setelah tadi menang game lempar gelang. " Kalau kau sebegitu sukanya pada boneka nanti ku berikan yang bahkan lebih besar dari dirimu, " ucapnya lagi melihat betapa senangnya gadis di sebelahnya ketika ia berhasil menembak semua balon.


"Tidak mau!. Itu beda tahu, kalau yang ini di dapat dengan susah payah, jadi rasanya beda heheehe."


"OK sekarang apa lagi yang ingin kau lakukan?. Mau aku main lagi dan mendapatkan semua hadiah UNTUKMU!!!" intonasi suara Chris meninggi karena Alex tiba-tiba menyeretnya ke suatu tempat.


"Kau mau kesana?. Tidak usah, aku tahu Spa terbaik di kota ini, nanti akan kubawa kau ke sana, " ucap Chris buru-buru ketika melihat kemana arah yang di tuju Alex.


"Siapa juga yang mau ke Spa. Ayo kita masuk, kayaknya sepi tuh, kasian kan mereka. Kita tuh harus bagi-bagi rejeki tahu. Ga boleh pelit."


"Baiklah-baiklah kita bisa langsung memberi mereka uang lalu pergi OK."


"Dasar orang kaya, kamu bersikap begitu sama saja dengan merendahkan mereka. Mereka itu bukan pengemis yang cuman minta-minta di jalanan. Mereka itu punya keahlian dan mereka memilih untuk menghasilkan uang dengan keahlian yang mereka miliki, " nasehat Alex panjang lebar.


Meski enggan Chris masih tetap mengikuti Alex masuk ke dalam stand yang bertuliskan : PIJAT REFLEXOLOGY TUNA NETRA.


Dari empat dipan kecil yang berjejer 3 di antaranya kosong dan Satu diisi oleh seorang wanita yang tampaknya sedang menunggu suaminya selesai di pijat.


"Silahkan duduk langsung aja mbak, " ucap pemuda yang tampaknya di sana untuk membantu ke empat bapak tuna netra. "

__ADS_1


Alex langsung duduk di salah satu dipan yang kosong di ikuti Chris yang duduk di dipan sebelahnya dengan enggan.


" Ibu tidak mau di pijat juga?" tanya Alex ramah pada wanita yang tengah menunggu suaminya selesai di pijat.


" Saya tadi sudah di pijat, terus ini bapak nambah karena enak katanya, " jelas ibu itu.


30 menit serasa cepat berlalu bagi Alex yang benar-benar menikmati pijat reflexology nya karena memang kakinya terasa kaku akibat pekerjaannya sebagai pelayan restoran. Setelah membayar pada pemuda yang berlaku sebagai reseptionis dan kasir, Alex kembali pada bapak yang tadi memijatnya dan memijat Chris. Menyalami tangan mereka dan memberi mereka tip.


"Terima kasih ya pak, kaki saya jadi terasa ringan lagi, " ucapnya yang di balas dengan ucapan terima kasih juga oleh kedua bapak tadi.


" Aduuuuhhhh setelah relax sekarang jadi lapar. Kamu mau makan apa Chris? " tanya Alex sambil mengangkat tangan tinggi untuk meregangkan badan. Boneka beruangnya kini di pegang Chris.


"Kita makan di restoran Italy kemarin saja, letaknya cuman satu blok dari sini, kan."


"Kenapa di sana kemarin kamu bilang aku boleh traktir kamu di mana aja, " protes Alex. Biarpun tidak semahal restoran di tebing tengah laut kemarin tetap saja harga di restoran Italy yang di maksud Chris terlalu mahal untuk nya.


"Iya, tapi entah kenapa rasanya aku berfirasat kalau kau akan mengajakku makan di gerobak bakso pinggir jalan. Aku tidak bisa makan itu, " tolak Chris.


"iiiisssshhhhh kau belum pernah coba sih, enak tahu."


"Pokoknya tidak bisa. Sudah kita ke restoran itu saja." Chris menggandeng lengan Alex menggiringnya ke tempat parkir.


"OK ok, tapi ke sananya jalan ya, " pinta Alex.


"Iya baiklah." Chris mengabulkan permintaan Alex karena memang restorannya tidak begitu jauh dari posisi mereka sekarang.


"Bonekanya di bawa aja ya, kasian Kalo di tinggal di mobil sendiri." Alex lalu mengambil boneka beruangnya dari tangan Chris dan berjalan mendahului.


"Iya Iya Tuan Putri,, apapun perintah anda, " canda Chris. "Sini boneka nya aku yang bawa, kasian nanti kamu ga liat jalan." Chris mengambil kembali boneka dari tangan Alex.


Bagi Alex dia harus memegang boneka beruang itu dengan kedua tangan, sedangkan Chris cukup menggunakan satu tangannya saja. Sesekali Alex mengelus kepala bonekanya saat berjalan menuju tempat makan siang mereka.


" Nanti jangan pesan yang terlalu mahal ya, aku tidak mau kalau nanti aku harus cuci piring di sana karena tak bisa bayar, " ucap Alex polos dan jujur yang disambut gelak tawa oleh pria yang berjalan di sebelahnya.


" Tidak usah pikirkan itu, aku yang traktir. Makanlah sepuasmu."


"Eh, tapi kemarin kamu bilang aku yang traktir untuk bayar hutang." Alex mengingatkan.


" Kalau begitu itu artinya hutangmu belum terbayar, jadi lain kali harus kau bayar. "


Alex sendiri tidak membantah ucapan Chris. Dia tidak keberatan kalau harus di suruh bayar hutang lagi dan lagi karena dia benar-benar menikmati saat - saat bersama dengan Chris.


" Kenapa bengong,, tidak suka ya? "


" Bukan begitu, tentu saja aku suka..."


"Suka padaku?" Chris memotong ucapan Alex.


Alex jadi gelagapan salah tingkah karena tidak mengira Chris akan berkata seperti itu. Dengan cepat dia mencoba menguasai dirinya. Dia tak ingin Chris melihat ekspresinya dan kemudian malah menjauh karena berpikir teman barunya sekarang menyukainanya.


Alex sadarlah yang diinginkan Chris darimu adalah seorang teman yang menganggapnya manusia biasa, bukan pria kaya incaran para wanita. Tetaplah berada di sisinya sebagai seorang teman. Tidak lebih. Begitulah isi pembicaraan di dalam kepala Alex.


"Jangan berharap ya, aku ini masih waras dan tidak mau di anggap musuh oleh para fansmu, " jawab Alex sesantai mungkin.


Mereka berdua begitu asik mengobrol sampai-sampai tak menyadari dari seberang jalan ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan tatapan tidak senang.


Wanita berambut merah burgundy itu baru saja keluar dari salon langganannya dan tak percaya akan pemandangan yang di lihatnya di seberang jalan. Laki-laki yang dikenalnya selalu memiliki gaya hidup yang mewah baru saja keluar dari tempat pameran untuk masyarakat menengah ke bawah dan sekarang sedang berjalan kaki sambil membawa boneka beruang pasaran.


*****PENGUMUMAN*****


Maaf kalau ada salah-salah kata, nanti Thor revisi lagi kalau sudah agak tidak sibuk ☺️


Jangan lupa like, rate dan vote ya


Juga comments kalau ada saran, kritik atau pujian(yang terakhir ngarep πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…)

__ADS_1


__ADS_2