
Amel langsung menghambur memeluk Alex begitu pintu terbuka.
"Pasti nanti di kampus aku jadi bahan gosip. Pasti Malika akan mengadu yang tidak-tidak pada yang lain," cerocos Amel di sela tangisnya.
Alex yang tidak mengerti duduk permasalahan membawa Amel ke sofa ruang tamu. Ryan menyerahkan segelas air pada Alex untuk diberikan pada Amel.
" Nih minum dulu biar tenang. "ucap Alex menyerahkan gelas yang langsung di tenggak habis oleh Amel.
" Ini semua cuma salah paham, aku dan Roy nggak ada apa-apa. Cuma kebetulan saja tadi situadinya memang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Tapi itu semua bukan salah ku, dan kalaupun si Roy ternyata beneran naksir aku, tetap saja aku nggak bisa di salahkan. Memangnya aku ini orang yang bisa mengontrol perasaan setiap orang. "Amel kembali mengoceh. Bahkan lebih panjang dari yang tadi, sepertinya segelas air tadi menyegarkan tenggorokannya sehingga sekarang dia bicara lebih cepat dan lancar.
Alex melirik Ryan yang memberikan kode kalau dia mau pulang, karena tidak ingin mengganggu. Amel tampak tidak sadar akan kehadiran Ryan di sana, atau dia sedang malas bertegur sapa dan hanya ingin bicara dengan Alex saja.
Merasa tidak enak, namun juga tidak bisa menahan Ryan untuk tinggal dan mendengar ocehan temannya, Alex hanya mengangguk dengan senyum tidak enak, atas apa yang terjadi.
"Ceritanya yang jelas, terus siapa itu Malika dan Roy? Kamu pikir aku ini petugas sensus yang tau semua orang," ucap Alex meminta penjelasan.
Amel yang sudah tidak menangis lagi kemudian menceritakan semuanya. Malika adalah teman satu angkatan dan satu jurusannya, dan Roy adalah pacar Malika yang berada di jurusan lain dan 2 tingkat di atas mereka. Jadi tadi itu Malika dan 5 mahasiswa lainnya sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah Amel. Tadi itu hari terakhir dan untuk merayakan selesai nya tugas yang harus mereka kerjakan selama hampir sebulan, mereka pergi ke Cafe untuk sekedar minum dan ngobrol santai. Kebetulan Roy juga gabung karena dia tadinya mau menjemput Malika. Jadi waktu di Cafe Amel permisi ke toilet, dan letak toiletnya ada di belakang gedung, dan harus keluar dari pintu depan. Jadi Amel harus memutar.
Ketika hendak kembali ke Cafe, Amel berpapasan dengan Roy di tempat parkir pengunjung yang terletak di samping gedung (untuk ke toilet harus jalan melewati tempat parkir). Saat itu Roy bilang mau merokok karena di dalam Cafe memang dilarang merokok. Roy tidak bisa menyalakan korek api nya karena angin berhembus cukup kencang. Akhirnya Amel berinisiatif untuk menolong dengan mencoba menghalangi hembusan angin dengan pouch yang di bawanya dan posisi mereka jadi sangat dekat. Saat itu lah tiba-tiba Malika muncul dan salah paham, berteriak memaki dan membentak mereka berdua hingga menarik perhatian orang-orang di sana.
"Aku nggak mau dong semua orang berkerumun liatin aku, ya sudah aku langsung pergi, biarin si Roy saja yang jelasin. Males banget. Bikin malu saja kelakuan si Malika tadi," ucap Amel kesal, dia sudah tidak menangis lagi.
"Ya sudah nanti kalau si Malika sudah tenang tinggal minta maaf. Lagian kenapa juga kamu sok baik nebengin angin orang yang lagi nyalain rokok," tegur Alex.
Memang Amel itu cepat sekali akrab dengan cowok. Gayanya yang bisa di bilang centil suka pegang sana-sini sudah Alex hafal. Awalnya dia juga merasa risih melihat Amel yang dengan biasa menggandeng, atau menyender pada teman-teman pria yang baru di kenal nya, tapi lama-lama dia jadi terbiasa, toh juga para pria itu tidak protes, tapi malah terlihat senang, jadi buat apa dia risih sendiri.
__ADS_1
"Aku nggak mau minta maaf, enak saja. Aku tidak salah apa-apa. Dia yang harus minta maaf karena sudah membuat ku malu berkata yang bukan-bukan," protes Amel menolak saran Alex.
"Ya sudah, terserah bagaimana maumu. Kamu juga sudah besar, sudah bisa ambil keputusan sendiri," ucap Alex pasrah.
"Makan yuk, laper nih. Aku masak nasi goreng," ajak Alex yang sudah menahan lapar dari tadi.
"Kenapa masak nya banyak, memangnya kamu punya firasat kalau aku bakal datang?" tebak Amel sembari membagi rata nasi goreng di wajan ke dalam 2 piring sementara Alex membuat es teh manis.
"Tadi masak bareng Ryan dan memang awalnya mau panggil kamu setelah selesai masak. Eh taunya datang sendiri."
"Terus Ryan mana?" tanya Amel hendak mengambil satu piring lagi untuk Ryan.
"Dasar, tadi nggak liat apa dia pergi gara-gara kamu nangis sambil ngonel-ngomel. Tadi dia udah bawa turun seporsi jadi nggak usah di siapin lagi."
"Aku beneran nggak sadar kalau tadi ada Ryan, aku panggil kesini lagi ya." Amel meraih ponselnya untuk menghubungi Ryan.
Entah kenapa Alex merasa enggan untuk mempertemukan mereka berdua. Ucapan Mila terngiang kembali di telinganya.
Betapa senangnya hati Alex bisa kembali ke rutinitas kerja sambilannya. Meskipun bulan ini gajinya kena potong karena seminggu cuti. Selain itu dirinya juga sudah menetapkan hatinya untuk tidak lagi main sembunyi-sembunyian kalau misalnya dia mendengar berita Chris ada di kota ini. Setelah dipikir kenapa juga dirinya harus takut bertemu, bukankah dia sudah memutuskan untuk memulai kisah baru bahkan sampai jauh-jauh ke luar negri.
"Akhirnya setelah menunggu sampai lumutan, jadi juga aku di traktir," canda Ben sambil menenggak sebotol bir.
"Maaf ya, soalnya aku harus menunggu sampai gajian dulu," sahut Alex tertawa.
"Memangnya aku minta di traktir satu keranjang bir apa. Buatku satu botol juga cukup asal bisa lihat kamu," Ben mulai melancarkan gombalannya walaupun yang di ajak bicara dari tadi mengobrol sambil bolak-balik melayani tamu.
__ADS_1
Rencananya malam ini Alex akan menerima ajakan Ben jika dirinya di undang ke apartemen. Apa yang di ucapkan para sahabatnya memang benar. Dia tidak bisa terus menolak dan membuat hubungan mereka berdua jadi tidak pasti.
Namun yang namanya rencana bisa saja lancar dan bisa pula gagal. Amel tiba-tiba muncul saat jam kerja Alex tinggal sebentar lagi. Dirinya duduk bergabung di meja Ben, dan saat jam pulang dia mengajak Ben dan Alex untuk pergi lanjut minum ke club malam dekat situ.
Memang sejak berita dirinya disebut pelakor santer beredar di kampus Amel menjadi semakin sering mengekor Alex. Padahal sekarang teman satu angkatannya itu sudah kembali mesra dengan pacarnya, namun gosip miring tentang Amel masih saja beredar.
Yang bersangkutan sendiri masa bodoh dengan gosip itu dan tetap menolak untuk minta maaf karena katanya dia tidak salah. Amel tetap bertingkah seperti biasa layaknya dia tidak tahu menahu soal gosip tentang dirinya. Padahal malam itu dia datang ke apartemen Alex sambil menangis. Orang-orang di kampus berbisik di belakangnya dan Amel tetap mengobrol dan berteman seperti biasa dengan mereka. Katanya sih nanti juga mereka bosan dan lupa dengan gosip itu. Toh mereka tetap bersikap biasa di depannya.
Karena Amel mabuk berat mau tidak mau Alex membawanya pulang ke apartemen nya, karena tidak mungkin untuk mengantarnya pulang subuh begini dalam keadaan seperti itu. Biar saja Amel sendiri yang menjelaskan pada orang tuanya besok saat kesadarannya pulih. Mereka bertiga pulang dengan taxi, menuju tempat Alex lalu kemudian pak sopir mengantar Ben. Meskipun kesadarannya masih ada, akan tetapi Alex tidak mau mengambil resiko dan membicarakan Ben menyetir karena dia juga agak mabuk.
"Hati-hati ya, kirim pesan kalau bisa setelah sampai," ucap Alex dari jendela depan mobil.
Yang di ajak bicara tersenyum lalu mendaratkan kecupan di pipi Alex sebelum taxi melanjutkan perjalanan. Entah tadinya Ben ingin mencium bibir Alex lalu karena mabuk jadi mendaratnya di pipi atau memang tujuan pendaratan memang di pipi Alex tidak tahu.
"Ada perayaan apa nih, sampai-sampai jam segini baru pulang, sampai mabuk lagi."
Betapa kagetnya Alex mendengar suara yang sangat di kenalnya dari belakang.
Ryan dengan sigap ikut memapah Amel yang semakin sulit untuk berjalan dengan benar.
Haah!? Sejak kapan Ryan ada di sana? Apa dia melihat kejadian tadi? Bagaimana ini, bagaimana kalau Ryan salah paham dan mengira kalau dia dan Ben pacaran? Baru saja dia dan Ryan akrab kembali setelah salah paham sepihak yang terjadi, sekarang muncul kesalah pahaman lain. Alex satu-satunya orang yang tidak mabuk saat acara minum tadi menabrak pintu lift karena pikirannya sedang sibuk mencerna apa yang sedang terjadi.
Ryan hanya mengantar sampai di depan pintu apartemen dan meninggalkan mereka berdua dengan alasan melanjutkan jogging.
Setelah merebahkan Amel di tempat tidur Alex kemudian mandi karena bau rokok menempel di tubuhnya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan kejadian tadi. Kenapa Ryan tidak bertanya padanya, pasti aku dengan senang hati akan menjelaskan kesalahpahaman ini.
__ADS_1
Masa aku tiba-tiba bilang jika ciuman tadi itu bukan apa-apa, kami hanya teman,padahal dia tidak bertanya. Malah akan aneh jadinya. Kalau Ryan lalu bilang itu bukan urusannya, mau di taruh dimana mukaku. Batin Alex.
Baru saja kemarin lusa kami pergi nonton bareng, sekarang malah harus terjadi seperti ini. Sesal Alex yang berusaha memejamkan matanya untuk tidur.