Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Kehilangan...


__ADS_3

Alex teringat jika gedung Perpustakaan Tua sudah mulai di rombak menjadi Restoran Black Grill. Berapa bodoh dan lugunya Alex yang merasa tenang saat tahu lokasi restoran tidak dekat dengan kampus atau tempat tinggalnya. Tidak mungkin jika Chris jauh-jauh datang kemari hanya untuk pergi ke bekas Perpustakaan saja dan tidak mengunjungi tempat lain.


Kenapa Madeline bersama Chris? Apakah mereka kembali menjalin hubungan? Lalu bagaimana dengan wanita di kamar hotel waktu itu?. Apakah dia hanya pelampiasan satu malam? Pertanyaan - pertanyaan muncul satu persatu di kepala Alex.


Kira-kira bagaimana ya ekspresi Madeline jika mereka bertemu tadi. Pasti senyum kemenangan mereka di wajahnya, melihat sekarang dirinya lah yang ada di samping Chris.


Alex segera mengambil ponsel dari tas nya, dirinya mencari nama 'Ryan' di daftar kontak. Namun dirinya urung menghubungi Ryan karena mungkin saja saat ini dia sedang bersama Amel. Alex memutuskan untuk menghubungi Ben, meskipun tempatnya tinggal lebih jauh daripada Ryan.


Untungnya Ben tiba sebelum atasannya pergi, jadi Alex tidak perlu menunggu di pinggir jalan. Dia tidak tahu ke mana Chris dan Madeline, bisa saja ke Bar sebelah. Lagipula mengapa coba mereka kemari, ini bukanlah kawasan elit. Bukankah mereka hanya mengunjungi tempat mahal dan mewah.


"Tidak sopan, sudah jauh-jauh menjemput aku di acuhkan," protes Ben melihat Alex melamun sepanjang jalan.


"Maaf, soalnya aku sedang banyak pikiran."


"Bagaimana kalau kau main ke apartemen ku, nanti aku pijat kepala mu biar lebih rileks."


"Tidak usah, aku langsung pulang dan istirahat di rumah saja," tolak Alex.


"Kalau begitu aku temani kamu di apartemen ya, biarpun aku ini seorang pria, aku bisa jadi pendengar yang baik."


"Tidak usah."


"Baiklah... Baiklah, benar kata yang lain, aku ini cocoknya memang hanya jadi supir," ucap Ben pura-pura ngambek.


Alex yang awalnya hanya memikirkan Chris lalu sadar jika dia tidak sopan pada Ben yang sudah repot menjemput nya. Alex kemudian mengajak Ben pergi makan ke tempat yang agak jauh, karena dirinya masih takut akan berpapasan lagi dengan Chris atau bahkan Madeline.

__ADS_1


Tengah malam begini tempat makan yang masih buka hanya Bar dan restoran cepat saji. Berhubung mereka berdua sudah sering makan Ayam goreng di depan Bar tempat kerja Alex, Ben kemudian membawa Alex ke Rooftop Bar yang terletak di lantai teratas gedung apartemen nya.


Sesuai dengan namanya Bar itu terletak atap gedung. Meskipun terdapat area indoor, namun sebagian besar area bar nya adalah outdoor dan hanya beratapkan langit malam. Mereka memesan menu yang ringan, karena sejatinya Alex tidak terlalu lapar, dia hanya merasa tidak enak pada Ben yang telah menolongnya, walaupun tadi itu Ben hanya bercanda. Setelah makan mereka memesan bir dan duduk mengobrol.


"Aku sudah mengantuk ini, pulang yuk," ajak Alex. Tanpa terasa dirinya sudah menghabiskan 4 botol bir.


"Minum satu lagi nih, aku sudah minum 5 botol," ucap Ben seraya menyerahkan botol terakhir.


Awalnya mereka hanya memesan satu paket promo yang berisikan 5 botol bir, namun mereka sedang asik mengobrol saat semua botol menjadi kosong sehingga mereka memesan satu paket lagi.


" Tidak mau, perutku sudah penuh,"ucap Alex menepis botol yang di berikan Ben.


Alex tidak kuat minum, saat ini dia merasa tubuhnya seakan sedikit melayang, meskipun kesadarannya masih ada. Maka dari itu dia menolak bir pemberian Ben, karena dia tidak ingin mabuk dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Jika aku meminum ini berarti kau harus tidur di apartemen ku, karena tidak mungkin aku menyetir." Ben memberi alasan.


"Apartemen ku ada di gedung ini, cuma 5 lantai ke bawah." sahut Ben bersiap meminum bir terakhir mereka.


Alex menghentikannya dan mengambil botol dari tangan Ben, kemudian meminumnya pelan. Dia tidak mau harus menginap di apartemen Ben. Alex merasa belakangan ini sifat Ben berubah, seolah sedang berusaha mendekati dan merayunya. Meskipun mereka belum mabuk, tapi tetap saja mereka saat ini berada di bawah pengaruh alkohol. Alex tidak mau sesuatu yang tidak didinginkan terjadi. Apalagi saat ini status hubungan mereka masih sebatas teman.


"Tenang saja aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh." Ben meyakinkan.


"Bukan begitu, besok aku libur dan aku ingin bangun siang, makanya aku ingin tidur di apartemen ku. Aku juga tidak terbiasa menginap di tempat orang," ucap Alex memberi alasan.


Mereka berada di sana sedikit lebih lama karena Alex meminum bir nya sangat pelan agar kesadarannya masih ada, dia bahkan menyisakan nya lebih dari setengah.

__ADS_1


Sampai di depan gedung apartemennya Alex langsung pamit dan keluar mobil setelah mengucapkan terima kasih. Dirinya berusaha keras untuk tetap sadar meskipun langkahnya terasa sangat ringan seolah dia sedang berjalan di atas awan.


Lift berhenti di lantai 4. Sosok Ryan terlihat berdiri di depan pintu lift yang sedang membuka.


Dari sorot mata Alex dan aroma bir yang tercium, Ryan bisa menebak kondisi Alex saat ini. Sambil menekan tombol 10, lantai tempat laundry dan gym bagi penghuni apartemen, Ryan berkata, "Habis minum dengan siapa?"


"Ben, tadi kebetulan habis kerja kita keluar bareng. Kamu mau ngapain ke lantai 10?"


"Tadi aku mencuci selimut, terus lupa. Sekarang aku kedinginan tidak bisa tidur, karena tidak ada selimut."


Itu saja? Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan Ryan? Aku sudah bilang kan, tadi aku minum dengan Ben. Kenapa kau tidak marah? Kenapa tidak meminta ku pergi minum denganmu lain waktu? Kenapa kau bersikap biasa saja, padahal aku pergi dengan pria lain?. Protes Alex dalam hati.


Memicing Alex menatap Ryan karena pengaruh alkohol dan kantuk membuat matanya semakin berat dan susah untuk di buka. Saat mulutnya terbuka hendak mengungkapkan semua kekesalan yang tadi ada di dalam kepalanya tiba-tiba pintu lift terbuka. Ternyata mereka sudah sampai di lantai apartemen Alex.


"Mana kunci apartemen mu?" ucap Ryan mengulurkan tangannya meminta kunci.


Alex mengobrak-abrik isi tasnya kemudian meletakkan kunci apartment nya di tangan Ryan.


Setelah membukakan pintu apartemen, Ryan menarik anak kunci dan meletakkannya ke lubang kunci di pintu bagian dalam. Di suruhnya Alex masuk, lalu dirinya pergi ke lantai 10 setelah memastikan Alex mengunci pintu dari dalam.


Saat kembali ke kamarnya Ryan tak henti merutuki kebodohannya. Kenapa dirinya memilih menunggu hingga luka hati Alex sembuh, sekarang lagi-lagi dia di dahului pria lain. Apakah selama ini kebaikannya tidak cukup, sehingga Alex lebih memilih orang lain. Ryan yang awalnya pergi mengambil selimut yang tertinggal agar dia bisa tidur nyenyak malah jadi tidak bisa tidur sama sekali.


*******


Tenggorokan Alex terasa sangat kering seperti gurun pasir keesokannya saat dia terbangun. Sambil meneguk air dingin dia berusaha mengingat kembali kejadian semalam dari sejak melihat sosok Chris dan Madeline, hingga bertemu Ryan.

__ADS_1


Bagaimanapun juga ternyata Ryan masih peduli padanya. Buktinya semalam bisa saja dia langsung menuju lantai 10, namun Ryan memastikan nya masuk ke dalam apartemen.


Entah sejak kapan hubungannya dengan Ryan menjadi renggang. Apakah sejak Ryan dan Amel dekat? Sebenarnya hubungan apa yang di miliki mereka berdua saat ini. Apa mereka benar-benar pacaran? Lalu kenapa dirinya tidak di beri tahu. Bahkan seharusnya dirinya di traktir makan untuk perayaan jadian, berhubung kedua orang itu adalah sahabat dan teman baiknya.


__ADS_2