Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Susana baru....


__ADS_3

"Kak Andre, Kak Novi, aku titip ayah dan ibu ya," ucap Alex setelah memeluk kakak dan Kakak iparnya bergiliran.


"Maaf ya gara-gara aku bulan madu kalian sampai di undur," lanjut Alex.


Karena membantu persiapan keberangkatan nya dan juga ingin bersama-sama sampai hari keberangkatan Alex, Andre dan novita memutuskan untuk tidak langsung berbulan madu setelah hari pernikahan mereka hingga hari keberangkatan Alex tiba.


" Enggak apa-apa Lex, ini besok juga kita berangkat bulan madu, kok," sahut Novita pada adik iparnya.


"Semoga kalau pulang nanti aku sudah punya ke ponakan."


Alex memeluk anggota keluarganya bergiliran disusul kemudian oleh sahabat-sahabatnya yang mengantarnya ke Bandara.


"Jangan lupa kasi kabar ya!" teriak Ratna pada sosok Alex yang sudah berjalan menjauh.


Akhirnya tiba juga hari keberangkatan Alex. Hari yang selama ini dia sebut sebagai 'Awal Baru', karena memang tujuannya pindah jauh adalah untuk melupakan Chris dan memulai hidup tanpa nya.


Cukup panjang perjalanan yang harus Alex tempuh, penerbangan pertama selama 9 jam, kemudian dia harus transit selama 3 jam disusul dengan penerbangan ke dua selama 3 jam.


Alex menapakkan kakinya di lantai Bandara International NY. Wajahnya tampak lelah karena perjalanan panjang. Di negara ini lah Chris melakukan nya dengan wanita itu, dan saat ini dirinya malah akan menghabiskan waktunya di negara yang telah memberikan kenangan pahit pada dirinya. Benar-benar ironis, pikir Alex tersenyum kecut.


Begitu melewati proses pengecekan dan mendapatkan dua koper besar bawaannya Alex segera menuju pintu keluar. Dengan awas dia mengedarkan pandangannya ke kerumunan orang-orang di luar pintu kedatangan. Mencari sosok Ryan yang sudah berjanji akan datang menjemputnya.


Ryan berdiri di sana mengangkat tinggi papan bertuliskan nama lengkap Alex sambil melambaikan tangan kanannya dengan semangat saat melihat sosok Alex semakin mendekat.


"Ryan kau tidak usah repot membuat papan begini, mana yang di tulis nama lengkap ku lagi," ucap Alex merebut papan yang bertuliskan namanya.


"Tadinya mau aku tulis nomer telfon mu sekalian," canda Ryan.


Mereka langsung menuju apartment tempat Alex akan tinggal agar Alex bisa beristirahat dengan cepat.


Apartment tempat tinggal Alex dan Ryan berada di gedung yang sama hanya berbeda lantai. Ryan berada di lantai 4 sedangkan Alex berada di lantai 9. Tempatnya cukup strategist karena di depan gedung berjejer toko-toko kecil yang lengkap menjual kebutuhan sehari-hari, juga restoran kecil yang menjual makanan cepat saji.


Pemilik apartment sudah menunggu Alex untuk memberi kan kunci apartment dan menjelaskan peraturan yang berlaku. Apartments nya sendiri tidak begitu besar, terdiri dari satu kamar tidur dengan kamar mandi terletak di dalam kamar tidur, sedangkan dapur nya menjadi satu dengan ruang tamu tanpa ada tembok sekat. Apartment yang sederhana tapi cukup bagus untuk orang yang tinggal sendirian, selain itu harganya juga terjangkau.


"Jika ada sesuatu yang ingin di tanyakan kau bisa menghubungi ku atau bertanya pada penyewa lain," kata Shasha, wanita paruh baya pemilik gedung apartment.


Setelah menyerahkan kunci Shasha kemudian pamit pergi. Alex yang masih merasa lelah langsung merebahkan dirinya di sofa ruang tamu.


'Ting.. Tong..'


Belum 5 menit dia merebahkan diri sudah ada seseorang yang datang bertamu.


Apa mungkin ada sesuatu yang di lupakan oleh pemilik gedung? Atau tetangga sebelah ingin berkenalan. Tebak Alex seraya berjalan untuk membukakan pintu tamu pertamanya.


Sosok Ryan berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah box karton. Tadi Ryan memang langsung pergi begitu mengantar Alex bertemu dengan pemilik apartment.


"Hei maaf mengganggu istirahatmu. Aku bawakan ini, dan juga kartu baru untuk ponselmu," ucap Ryan menyerahkan box yang dia bawa.


"Ayo masuk, wah senang nya aku tadi memang ingin turun untuk beli minum dan cemilan dan Kartu Sim baru untuk ponsel ku. Senangnya punya tetangga satu gedung yang pengertian," ucap Alex girang, karena sebenarnya dia masih lelah dan malas sekali untuk keluar apartment.


Box yang di bawa Ryan berisi roti, selai coklat, dan bahan membuat sandwich, juga air mineral, jus dan minuman soda. Mata Alex terbelalak ketika melihat satu ember medium es krim rasa coklat kesukaannya berada di tumpukan paling bawah. Di biarkannya yang lain berserakan di meja dapur sementara dia menuju sofa sambil membuka es krim nya.

__ADS_1


Ryan hanya tersenyum geli melihat tingkah Alex yang seperti anak kecil. Akhirnya dia berdiri menggantikan Alex menatap semua isi box yang tadi dia bawa ke dalam kulkas dan rak di dapur.


"Biarin aja nggak apa, nanti aku beresin sendiri," ucap Alex dengan mulut penuh es krim.


"Udah beres kok, cuman dikit doang. Kamu mending mandi terus istirahat biar nanti bangunnya segar, " saran Ryan yang kemudian pamit pulang agar Alex bisa beristirahat dengan bebas.


Ryan benar-benar senang dengan kedatangan Alex. Bagaimana pun juga, sebagai seorang sahabat dirinya ikut sedih atas kejadian yang menimpa Alex perihal hubungannya dengan Chris, akan tetapi jauh di hatinya yang terdalam rasa yang dulu pernah di tolak oleh Alex masih ada, dan dia masih ingin memperjuangkannya kembali. Tentu saja dia tidak akan mengutarakan maksudnya sekarang juga, karena pastilah luka sakit hati Alex belum sembuh. Di sini lah Ryan merasa beruntung karena saat ini di tempat yang baru ini, dia akan selalu menemani dan membantu Alex, membuatnya tertawa dan bahagia. Membuat Alex melihatnya sebagai lelaki yang pantas berada di sisinya sebagai seorang sahabat dan juga kekasih.


Alex langsung terlelap sehabis mandi, dan baru terbangun keesokan paginya. Untungnya kemarin dia sudah langsung menghubungi keluarganya dengan ponsel Ryan, jadi paling tidak keluarganya tidak akan panik. Setelah beranjak dari tempat tidur dan mencuci wajah, Alex langsung mengganti kartu di ponselnya dengan yang di berikan Ryan kemarin. Keluarganya sempat mengomelinya karena hanya memberi kabar saat tiba dan itu pun dengan ponsel Ryan, kemudian mengilang seharian. Sedangkan sahabatnya protes dan marah-marah, karena Alex tidak menghubungi mereka sama sekali kemarin.


Begitu selesai menghubungi semua keluarga dan teman Alex kembali meringkuk malas di tempat tidur, sampai Ryan kembali datang bertamu membawakan Alex nasi goreng yang dia masak sendiri.


"Aku jadi nggak enah kalau begini, masa kamu terus yang kasi makan dari kemarin," ucap Alex yang tengah asik menikmati nasi goreng pemberian Ryan.


"Udah kaya sama orang lain aja, santai aja Lex, kalau nggak enak sama aku, lain kali kamu bisa traktir aku biar impas," sahut Ryan.


"Hari ini rencana kamu apa?" sambung Ryan.


"Bongkar koper, kemarin nggak sempat karena ketiduran."


"Iya, aku sampai di serbu pertanyaan oleh keluargamu dan teman-teman," protes Ryan bergurau.


Selesai sarapan mereka duduk santai sebentar sambil mengobrol. Saat Alex membongkar kopernya di kamar Ryan membantu Alex mencarikan kerja sampingan di internet.


Rasanya seperti pengantin baru yang sedang pindahan. Meskipun tidak tidur bersama, tapi sekarang mereka hanya berdua saja di apartment, jauh dari keluarga. Pikir Ryan sambil senyum-senyum sendiri di sofa ruang tamu.


Siangnya karena Alex masih merasa lelah akibat perjalanan panjang kemarin mereka memesan makanan untuk di antar ke apartemen. Kali ini Alex bersikeras untuk membayar. Dia tidak enak karena Ryan sudah banyak membantu nya, meskipun mungkin Ryan malah akan sangat bahagia kalau Alex minta di bawakan sarapan tiap hari.


Entah bagaimana caranya Adelia berhasil menghasut teman sekelas nya untuk menjauhinya. Awalnya Alex tidak terlalu peduli karena dia sendiri selalu sibuk membaca komik dan majalah anime sambil mojok di sudut kantin sekolah. Namun lama-lama teman sekelasnya mulai membuli nya dengan mengejek gigi nya yang dulu masih tonggos, serta kaca mata model lama seperti nenek-nenek yang selalu menghiasi mata minusnya. Dari mulai sengaja berbisik dengan suara yang dapat didengar jelas oleh Alex, sampai sengaja membuatnya menyelesaikan tugas kelompok sendirian sedangkan anggota yang lain bersenang-senang dan mengucilkan Alex. Sayangnya pembulian tidak hanya terjadi di kelasnya saja. Ketika Alex lah yang mendapat ranking juara umum di akhir tahun ajaran, Adelia berusaha membuat semua siswa menjauh Alex. Sayangnya daripada mencari tahu dan membuktikan kalau apapun yang Adelia lakukan adalah salah, Alex lebih memilih diam tak melawan dan hanya menangis sendiri saat dirinya sudah tidak tahan akan perlakuan teman-teman sekolahnya. Sebenarnya tidak semua siswa membencinya, hanya saja mereka merasa malas untuk ikut campur, dan mereka juga tidak mengenal begitu mengenal Alex, karena memang Alex sejak awal tidak terlalu panda I bergaul. Mereka memilih tidak ikut campur. Ratna dan Stefi lah yang selalu menemani dan menyemangati Alex, namun mereka tidak satu kelas dengan Alex, jadi tidak banyak yang bisa mereka lakukan.


Ejekan bahkan menjadi semakin parah saat Alex memutuskan untuk menggunakan kawat gigi untuk memperbaiki posisi giginya. Uang yang sudah lama dia tabung untuk biaya kuliah akhirnya dia gunakan untuk mempermak giginya. Begitu dirinya lulus SMA dan kawat giginya di lepas, Alex langsung memangkas giginya yang memang lebih panjang dari ukuran normal. Selain membuatnya rapi dan rata, warnanya juga jadi sedikit lebih putih. Prosedur selanjutnya adalah melakukan operas pada mata untuk menghilangkan minusnya. Alhasil tabungannya selama 6 tahun ludes dan dia memilih untuk mencari kerja, karena tidak ingin membebani orang tuanya dengan biaya kuliah, apalagi saat itu kakaknya masih menempuh S-2 di kampus terkemuka dimana biayanya tidak sedikit.


Meskipun penampilannya sudah berubah, tapi tetap saja rasa percaya dirinya tidak muncul dan dia selalu merasa orang-orang tetap akan mengejeknya.


Setelah lulus SMA hanya Stefi dan Ratna yang masih tetap berhubungan dengannya. Kebanyakan teman sekolahnya melanjutkan kuliah di kota lain, begitu juga Ratna dan Stefi. Mereka sesekali bertemu saat cuti kuliah. Setiap Kalia Ratna dan Stefi bergosip tentang teman sekolah dulu Alex lebih sering bengong karena dirinya tidak begitu mengingat nama ataupun wajah teman-teman sekolahnya, apalagi karena memang dirinya tidak kenal banyak murid. Hanya orang-orang yang paling sering membuli yang dia ingat, dan Alex tidak peduli dengan mereka.


"Hei kok bengong? Masih lapar?" pertanyaan Ryan membuyarkan lamunan masa lalu Alex.


"Enggak aku lagi mikir sesuatu aja sih," sahut Alex.


Setelah mengobrol sedikit Ryan pamit pulang karena dia harus bersiap untuk pergi kerja sambilan. Meskipun uang kiriman orang tuanya selalu lebih dari cukup dirinya tetap bekerja sambilan dan menabung hasilnya.


Sepeninggal Ryan, kembali Alex merebahkan diri di kasur. Mungkin karena perbedaan waktu dan perjalanan panjang yang melelahkan membuat kondisi tubuhnya lemas. Hari ke dua pun di habiskan Alex dengan tidur dan bermalas-malasan.


Malamnya Alex terbangun karena perut lapar. Di urungkan niatnya untuk menghubungi Ryan. Dia tidak boleh selalu tergantung pada Ryan. Dengan malas Alex bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke luar setelah memastikan penampilannya tidak berantakan. Jalanan tampak terang dan ramai, mungkin karena ini jam makan malam, jadi orang-orang banyak yang keluar mencari makan.


Alex berjalan pelan menyusuri deretan toko di sepanjang gedung di depan apartment nya. Dilihatnya ada sebuah tempat makan kecil di ujung yang tampak ramai pengunjung. Ketika di dekati ternyata itu adalah sebuah Restoran China. Alex pun tertarik untuk mencoba makanan di sana karena dia sudah rindu masakan rumah dan masakan China tampaknya yang paling mendekati cita rasa masakan ibu nya.


Ternyata semua meja sudah terisi, ketika dia hendak berbalik meninggalkan tempat itu dilihatnya salah satu pengunjung sudah selesai dan meninggalkan mejanya setelah membayar pada pelayan. Dengan santai Alex datang menghampiri meja yang tengah di bersihkan oleh pelayan. Meja kecil di pojok yang hanya terdiri dari 2 kursi, sangat pas untuk dirinya yang datang sendiri. Setibanya di meja Alex menarik kursinya bersiap untuk duduk, dan ternyata dirinya bukan satu-satunya orang yang mengincar meja itu. Dari arah pintu masuk muncul seorang pria berambut coklat dengan cepat berjalan dan menarik kursi yang satunya.


"Maaf aku lebih dulu, jadi silahkan mencari kursi lain," ucapnya angkuh.

__ADS_1


"Tapi aku pikir aku yang lebih dulu datang," ucap Alex tidak mau kalah. Jelas-jelas tadi dia baru datang dari luar dan Alex sudah ada di dalam restoran. Kalau bukan karena lapar sebenarnya Alex malas untuk berdebat.


"Maaf Tuan dan Nona, bagaimana kalau kalian duduk bersama saja," ucap si pelayan memberi saran.


"Tidak bisa, teman ku akan datang, aku perlu 2 kursi," ucap pria rambut coklat menolak saran si pelayan.


"Kalau begitu mari saya carikan meja lain Nona."


Alex sebenarnya kesal karena dia lah yang seharusnya mendapat meja itu, tapi dia tidak punya keberanian untuk membuat keributan di tempat yang masih asing untuknya. Akhirnya dia pergi mengikuti pelayan tadi. Lebih menyebalkan lagi pria yang merebut tempatnya tadi bahkan tidak mengucapkan terima kasih karena dirinya sudah merelakan tempatnya di ambil.


Sayangnya tidak ada satu meja pun yang kosong. Si pelayan sudah tampak panik, mungkin dia mengira Alex akan melabraknya. Merasa kasihan melihat wajah panik pelayan tadi Alex memutuskan untuk membungkus makanan yang dia pesan dan memakannya di apartment. Karena masih kesal setelah makan dia hanya menaruh piringnya di meja dapur lalu kembali tidur. Bahkan ponselnya yang penuh berisikan pesan dari orang rumah tak di gubrisnya.


Hari ketiga adalah hari dimana Alex tidak bisa lagi bermalas - malasan. Hari ini adalah jadwalnya untuk pergi ke kampus untuk pendaftaran ulang. Segera dia bersiap dan menemui Ryan yang sudah menunggunya di bawah. Kampus mereka tidaklah sama, akan tetapi jarak kampus Alex dengan kampus Ryan tidak terlalu jauh dan juga sejarah. Tadinya Ryan ingin mengantar Alex dengan mobilnya, tapi Alex menolak. Alex pikir tidak mungkin setiap hari dia akan nebeng di mobil Ryan, maka dari itu dia ingin tahu lebih dulu bus mana yang di pakai menuju kampus.


"Ini nomer dan jadwal bus yang menuju kampus, terus ini kartu buat bayar bus," ucap Ryan menyerahkan sebuah kertas dan kartu yang mirip dengan kartu debit.


Sepanjang perjalanan Ryan menjelaskan beberapa tempat yang kami lewati. Alex lebih dulu sampai di kampusnya. Ryan menawarkan diri menemaninya, tapi Alex menolak lagi.


Kampusnya sangat luas dan mirip dengan bangunan kuno, tapi jika di teliti dalamnya terlihat modern. Setelah pendaftaran ulang


Alex memilih untuk berkeliling kampusnya agar lusa saat hari pertamanya di kampus mulai dirinya sedikit mengenal area kampus.


Alex bahkan ikut masuk ke kelas dan duduk di sana sebentar. Dirinya sengaja duduk di dekat pintu keluar Yan ada di belakang, agar nanti dia bisa langsung keluar saat dosen masuk.


Mata Alex menangkap sosok pria berambut coklat yang di kenalnya masuk melalui pintu depan ruang kelas. Pria menyebalkan yang dia temui semalam. Alex tiba-tiba teringat dengan piring kotornya di apartment.


Kenapa juga berdiri di meja dosen, apa dia sejenis ketua jelas dan sedang memberi tugas karena dosen tidak ada?. Alex menerka-nerka.


"Baiklah keluar kan novel yang sudah kalian pilih untuk kalian ulas, jika ada novel yang terlalu gampang saya akan tolak dan akan memberi kalian judul novel yang harus kalian ulas," ucap pria rambut coklat tegas dan Alex bisa mendengar bisik-bisik mengeluh di antara mahasiswa yang hadir.


" Lagaknya sudah seperti dosen killer saja, padahal dosen juga bukan. Mana ada dosen semuda itu,"gerutu Alex lirih sehingga tak terdengar oleh orang yang duduk dua bangku di sebelahnya.


Pria rambut coklat berjalan ke balakang dengan cepat seraya melihat buku-buku yang diangkat oleh para mahasiswa untuk di tunjukkan padanya.


"Kamu yang di pojok sendiri, mana novel pilihanmu?"


Alex terkejut karena dirinya di panggil. Tadinya dia berniat kabur saat si dosen abal-abal fokus memeriksa novel-novel lain yang di depan, tapi siapa yang mengira pandangannya beredar cepat dan melihat Alex tidak mengangkat tangan menunjukkan novel.


" Maaf tapi aku..."


"Tidak ada alasan, cepat pergi ke perpustakaan dan bawa kemari 2 buah novel filsafat, karena kamu lalai kamu harus mengulas 2 buah novel,"cerocos Pria rambut coklat tidak memberi kesempatan untuk Alex menjelaskan.


Dengan tampang kesal Alex keluar dari ruangan, tapi tentu saja dia tidak benar-benar menuju perpustakaan sesuai perintah yang di berikan. Siapa juga yang mau mengerjakan tugas yang tidak ada hubungannya dengan jurusan yang dia ambil. Dirinya kan tadi hanya ingin merasakan suasana ruang kelas di kampus, dan kelas tadi yang paling dekat dengan pintu keluar.


Kenapa juga aku harus bertemu lagi dengan pria menyebalkan itu. Sepertinya tadi dia tidak ingat kalau semalam kita bertemu dan rebutan kursi. Untung sepertinya kita beda jurusan, jadi aku tidak akan sering bertemu dengannya. Kenapa rasanya dunia ini hanya selebar daun kelor ya. Batin Alex kesal.


Akhirnya Alex memilih berjalan di area luar gedung karena malas kalau nanti dia bertemu pria berambut coklat menyebalkan itu lagi. Halaman kampus yang luas, banyak bangku dan meja taman di mana-mana. Lapangan olah raga yang luas dan lengkap untuk setiap jenis olah raga yang tersedia.


Apa aku akan berada di sini saat ini jika hubungannya dengan Chris tidak berakhir? Bagaimana kabar Chris saat ini, mungkin dia sudah mendapat pengganti ku. Mungkin saat ini dia bersama gadis itu. Isi kepala Alex tiba-tiba di penuhi kembali oleh Chris.


******Pengumuman * * **

__ADS_1


Terima kasih yang masih setia dan menunggu update nya ya. Oh ya Thor sebenarnya berpikir untuk mengganti judulnya, biar lebih greget gitu dan nyantol di mata, berharap banyak yang tertarik dengan judul terus jadi baca novelnya, giman menurut kalian?


__ADS_2