
Pekerjaan Alex di Bar sudah selesai, tamu yang tersisa pun masih satu meja saja. Karena suasana sudah sepi, Alex memilih duduk di bangku bar lounge sambil menonton rekan bartender nya memasukkan semua botol minuman ke lemari penyimpanan.
Perhatian Alex teralih saat melihat sosok yang di kenalnya muncul di layar TV yang terletak di dinding diantara hiasan botol pajangan.
'Pengusaha Sukses yang Kesepian' tertera di layar, berdampingan dengan foto Chris yang tampak dari samping saat sedang berjalan. Terdengar suara presenter menjelaskan siapa itu Chris dan kisah cintanya yang tidak sesukses bisnisnya. Chris yang saat ini mencari sosok cinta sejati.
Cinta sejati dari Hong Kong, di bayar berapa si reporter untuk memberitakan berita bohong begini. Jangan bilang dia benar-benar tidak tahu siapa itu Chris. Seharusnya paling tidak seharusnya dia berdiri di depan kamar hotel yang di tempati Chris setiap kali dia datang kemari. Di Jamin dia akan di suguhkan banyak sosok cinta sejati yang berbeda setiap malam. Batin Alex kesal.
Setelah foto dan judul yang tidak sesuai kenyataan kini tampak video Chris sedang melakukan beberapa kegiatan semua tampak seperti acara kelas atas. Badannya yang tegap tampak gagah dengan balutan setelan jas formal.
'DEG!!!'
Jantung Alex terloncat dari tempatnya saat melihat Chris keluar dari mobil dan tersenyum melambai ke arah kerumunan reporter. Senyum yang dulu selalu berhasil membuat Alex salah tingkah. Senyum yang pernah membawa Alex terbang ke awan kebahagiaan. Setahun tak bertemu dan dia terlihat semakin matang, dan seksi. Sorot matanya yang tajam, perpaduan antara tatapan penuh wibawa dan juga tatapan yang seakan siap menelanmu kapan saja. Tatapan yang membuat wanita manapun akan bergairah. Alex menggigit bibir bawahnya, teringat kembali akan ciuman membara dengan Chris.
"Mau sampai kapan kamu akan memperhatikan mantan mu itu?" tanya Ryan yang entah sejak kapan berdiri di sebelah Alex.
Diam tak tahu harus berkata apa, Alex hanya menatap Ryan merasa bersalah.
"Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi untuk membuat kekasih ku hanya memikirkan ku seorang," ucap Ryan lagi karena Alex hanya bengong menatapnya.
Dengan pikiran panik Alex akhirnya mampu berkata, "Bu-bukan begitu..."
Ryan mendaratkan telunjuknya di bibir Alex agar dia tidak melanjutkan perkataannya.
"Ayo kita pulang, aku sudah tidak sabar ingin memelukmu. Aku kangen." Ryan mengenggam tangan kiri Alex membawanya keluar.
Alex jadi semakin merasa bersalah karena bukannya protes atau marah, Ryan malah semakin romantis. Selama ini dia tidak pernah bilang kangen, karena kami selalu bertemu setiap hari. Dan terakhir dirinya bertemu dengan Ryan adalah 4 jam yang lalu saat Ryan mengantarnya ke tempat kerja.
Tidak tahu bagaimana harus mengurarakan perasaan bersalahnya, Alex langsung memeluk Ryan saat kekasihnya itu membukakan pintu mobil untuknya.
Di peluknya Ryan dengan erat dan tak ingin lepas. Berharap dengan pelukan itu rasa bersalah dan permintaan maafnya tersalurkan.
"Waaahhh bagaimana ini, bisa-bisa para gadis yang tadi memperhatikanku jadi kesal melihat adegan ini," canda Ryan membalas pelukan Alex dengan lembut.
__ADS_1
"Ryaaaannn..." rengek Alex karena keseriusannya malah di jadikan bahan candaan.
"Tidak usah di bahas lagi ya, aku nggak mau kamu jadi merasa bersalah," ucap Ryan penuh pengertian.
"Kamu sudah di sana dari tadi ya?" tanya Alex penasaran.
"Kok jadi bandel sih, aku nggak apa-apa yang terpenting saat ini, kamu itu bersamaku."
Akhirnya sebuah senyum terkembang dari bibir Alex. Bagaimana mungkin dirinya tadi sempat-sempatnya memikirkan laki-laki lain saat dia memiliki laki-laki yang selalu membuatnya bahagia.
" Menggelikan sekali, jadi ternyata kamu bekerja di Bar kecil ini. Kamu membuang Black Grill untuk bekerja di bar rongsokan ini, oh aku salah kamu di buang oleh Chris," suara melengking Madeline membuyarkan kemesraan dua sejoli.
"Maaf sekali tapi Alex lah yang membuang Chris," sahut Ryan yang geram dengan kata-kata tidak sopan Madeline.
"Yang benar saja, kau pikir aku percaya. Jadi dia meninggalkan Chris untuk bersama orang sepertimu? Memangnya siapa dirimu, paling juga kamu kerja di restoran cepat saji di depan sana!"
"Madeline cukup, tidak penting siapa yang meninggalkan siapa. Yang penting untukku adalah aku tidak bersikap seperti hewan peliharaan yang di buang tapi masih mengekor kemanapun berharap untuk di pungut kembali oleh tuannya," ucap Alex kesal.
Dia tidak suka jika ada orang yang merendahkan orang lain. Memangnya apa yang salah dengan bekerja di tempat kecil, selama itu bukan tindakan yang melanggar hukum dan tidak merugikan orang lain.
"Kamu mengataiku hewan piaraan? Aku bisa menuntutmu, asal kau tahu itu!"
"Maaf tapi aku tidak menyebut nama siapapun. Kenapa kamu merasa tersinggung?"
Mata Madeline semakin membesar, namun tak ada lagi kata-kata kotor keluar dari mulutnya. Dia sudah kalah telak, dan memilih untuk membuang muka dan pergi.
"Sebentar lagi, biarkan aku seperti ini sedikit lebih lama," pinta Ryan manja.
Sudah 15 menit dia tidur di pangkuan Alex dan membenamkan wajahnya di perut Alex, sementara Alex membelai lembut rambutnya.
"Tapi aku belum mandi. Nanti setelah aku mandi kamu boleh rebahan selama mungkin," ucap Alex seperti membujuk anak kecil.
"Mana bisa, habis mandi kamu harus tidur, kamu perlu istirahat." Ryan bangkit dari posisi tidurnya.
__ADS_1
"Sana mandi," suruhnya.
"Bagaimana kalau tidur di sini saja, besok juga libur, kan," tawar Alex. Mata Ryan langsung membelalak lebar saking senangnya.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, jelas-jelas aku bilang tidur di sini. Artinya tidak ada hal lain yang akan terjadi, hanya tidur. Tolong kondisikan otak mesum mu itu," gurau Alex yang lalu bangkit menuju kamar mandi, meninggalkan Ryan yang pura-pura memasang tampang cemberut.
Malam itu Alex terlelap di pelukan Ryan saat mereka menonton film. Ryan memindahkan Alex ke kamarnya kemudian dia kembali menuju sofa dan tidur di sana.
*****
Alex merasa seperti orang paling beruntung di dunia memiliki Ryan sebagai kekasihnya.
Selain sangat mengerti akan dirinya, Ryan juga memperlakukannya dengan sangat baik. Tak jarang banyak wanita yang melihat iri pada dirinya.
Di kampus, berita jadiannya Amel dengan Erick menyebar dengan cepat. Alex sebagai teman dari Amel pun mendapat imbasnya. Sebagian besar teman satu jurusan bertanya pada dirinya akan kebenaran berita itu. Tersenyum dan menjawab jika dirinya tidak tahu menahu adalah hal yang dilakukan Alex sejak seharian berada di kampus.
Saat istirahat, Alex melihat Ashley tengah sibuk dengan setumpuk buku di bangku taman yang agak jauh dari keramaian. Namun yang namanya jadi bahan gosip, seberapa pintar pun dirimu bersembunyi pasti mata dan mulut usil tetap mengganggumu. Alex merasa melihat dirinya yang dulu, ketika Amel berkata padanya jika dia jadian dengan Ben.
"Hai, boleh duduk?" tanya Alex basa basi.
Ashley terperanjat kaget, menghapus air mata yang mengalir tipis. Dari tadi dia tampak seperti fokus membaca dan menunduk sangat dalam sehingga tidak terlihat jika dia sedang menangis.
"Maaf, tapi bisakah kau rahasiakan soal tangisanku ini," pinta Ashley. Wajah kagetnya perlahan mengilang saat melihat Alex lah yang ada di depannya.
"Bagaimana mungkin saat itu kau tidak menangis sama sekali saat dia mengambil Ben darimu?" sambung Ashley yang langsung kembali menunduk pura-pura membaca.
"Aku menangis, aku menangis sejadi-kadinya saat itu di kamar ku sendirian saat Amel pergi setelah mengatakan jika dirinya telah menjadi kekasih dari pria yang selama ini kupikir mencintaiku. Namun setelah itu aku berkata pada diriku jika pria itu tidaklah pantas mendapatkan diriku. Pria yang sungguh-sungguh mencintaimu tidak akan berpaling begitu saja pada wanita lain hanya karena wanita itu berdiri telanjang di depannya," tutur Alex panjang.
"Aku tidak tahu apa yang kurang dari diriku. Aku pikir meskipun sejak awal hubungan kami tanpa ikatan, namun mengingat apa yang kami lakukan sudah seperti sepasang kekasih, kupikir dia tidak akan pernah melirik perempuan lain dan pada akhirnya meminta ku jadi kekasihnya. Kami bahkan sudah melakukan nya beberapa kali, "sesal Ashley.
" Tidak usah menyesalkan yang sudah lewat, jadikan pelajaran agar lain kali tidak terulang lagi. Masa Bu Asisten Dosen kalah cuma karena satu cowok sih. Memangnya dia sehebat apa sampai pantas di perebutkan. Cuman ketua mahasiswa saja."
Keduanya lalu tertawa kecil. Obrolan berlanjut ke hal-hal yang membuat Ashley bisa tertawa lagi dan mengembalikan rasa percaya dirinya. Memang mungkin sakit hati Ashley tidak hilang saat itu juga, akan tetapi paling tidak dirinya tahu jika ada orang-orang yang benar-benar perduli padanya.
__ADS_1
Alex mengajak Ashley untuk pergi belanja bersama dirinya, Bethany dan Leslie sepulang kuliah nanti. Dia sudah mengirim pesan pada Ryan untuk tidak menjemputnya.
Selama acara belanja bareng Ashley di buat tertawa oleh ucapan Bethany dan Leslie yang mengejek Amel habis-habisan. Dari mulai meniru gaya sok centil Amel yang bahkan sengaja di lebih-lebihkan, hingga adegan drama dimana Leslie berperan menjadi Ben dan Bethany berperan menjadi Ben dan bagaima Bethany bergelayut manja meniru sikap Amel pada Ben saat mereka masih pacaran, tentu saja dengan gerakan yang di lebih-lebihkan.