Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Jadilah kekasihku...


__ADS_3

Alex merasa sangat malu atas perbuatannya apalagi di tambah penolakan Ryan. Dia berlari pergi meninggalkan Ryan menuju atap apartemen. Di kuncinya satu-satunya pintu menuju atap. Untungnya saat itu tidak ada orang lain sehingga Alex bisa menangis melupakan perasaannya.


Sementara itu Ryan dengan gusar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di usap wajahnya dengan kedua tangannya. Harusnya tadi aku menahannya dan menjelaskan semuanya. Sekarang situasi nya malah jadi susah begini. Sesal Ryan.


Ponsel Alex tergeletak di sofa, yang artinya Ryan tidak mungkin bisa menghubungi Alex untuk menanyakan keberadaannya saat ini.


Ryan terlambat merespon kaburnya Alex, dan malah bengong terduduk masih belum sepenuhnya sadar akan apa yang terjadi.


Padahal tadi itu dia sedang mengingat kata-kata yang telah dia rangkai untuk menyatakan perasaannya pada Alex. Kata-kata yang jadi buyar ketika Alex tiba-tiba menciumnya.


Empat jam sudah Alex berada di atap gedung angin mulai terasa semakin dingin karena malam semakin larut. Alex menggigil karena dia hanya mengenakan pakaian seadanya. Karena sudah tidak tahan dengan dinginnya malam Alex memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Pasti saat ini Ryan sudah pulang, pikir Alex.


Alex berdiri diam di ambang pintu karena tidak tahu harus berbuat apa, melihat Ryan yang masih berada di tempatnya. Dirinya tidak mungkin kabur lagi.


"Maaf bisakah kamu pulang, aku ingin sendiri," pinta Alex.


"Alex kumohon ijinkan aku menjelaskan semuanya. Kamu sudah salah paham. Alexandria Purnomo, maukah kau menjadi kekasih ku?"


Semua ***** bengek yang sudah di persiapkan Ryan dari mulai puisi cinta hingga posisi berlutut, dan kata-kata romantis sudah hilang dari kepalanya. Dia hanya tidak mau Alex salah paham lebih jauh.


Alex masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dengan suara bergetar dia berkata, "Kalau kamu mengatakannya karena rasa bersalah sebaiknya hentikan. Aku tidak mau menjalani hubungan dengan keterpaksaan."


"Bukan begitu Alex," ucap Ryan mendekat.


"Aku memang berencana mengungkapkan perasaan ku padamu. Hanya saja skenario yang ada di kepala ku ternyata berakhir berbeda. Harusnya tadi saat aku bertanya padamu, kau menjawab 'Boleh, siapa sih gadis beruntung itu', lalu di sanalah aku harusnya mengungkapkan perasaan ku padamu," jelas Ryan yang sudah berdiri tepat di depan Alex dan meraih kedua tangannya.


Alex terkikik pendek mendengar penjelasan skenario yang Ryan ciptakan. Mana dia tahu kalau skenarionya seperti itu. Lagipula ini bukanlah adegan film.


" Kenapa tanganmu dingin sekali. Tadi kamu kabur kemana, kalau sakit bagaimana, cepat sini duduk, aku buat kan teh ya," ucap Ryan beruntun.


Alex menahan tangan Ryan yang hendak pergi membuat teh. Ditepuknya sofa di sampingnya menyuruh Ryan duduk. Yang dia inginkan saat ini adalah pelukan hangat Ryan. Disandarkan kepalanya di dada bidang Ryan. Sementara Ryan memeluk tubuh mungil Alex dan menggenggam erat tangannya yang masih terasa dingin.


"Aku jadi merasa seperti orang bodoh dan malu sekali saat kamu menolak ciuman ku," ucap Alex.


"Bukannya menolak, aku pikir jika aku yang seharusnya menyatakan perasaan ku lebih dulu karena aku ini seorang pria dan cinta ku ini lebih besar daripada cinta mu."


"Siapa bilang, memangnya kamu ngukur pakai apa. Jelas-jelas aku yang ambil tindakan duluan."


"Memang lebih besar cinta ku, buktinya aku sabar menunggumu."


"Iya saking sabarnya aku hampir terjerumus dalam cinta yang salah karena kau tidak kunjung menyatakan perasaanmu."


"Iya, Iya maaf ini salahku. Aku terlanjur takut kalau di tolak untuk kedua kalinya, jadi aku harus benar-benar memastikan perasaanmu dulu," ucap Ryan mengaku salah tapi tetap mencoba membela diri.


Mereka berdua tertawa mengakhiri perdebatan mereka.

__ADS_1


"Bagaimana respon teman-teman di rumah ya?" ujar Alex penasaran.


"Mau tahu? Sini."


Ryan menyalakan kamera depan di ponselnya dan mengambil foto saat dirinya mencium kening Alex yang masih rebahan nyaman di dadanya. Kemudian dia mengirimkan foto itu ke grup obrolan yang beranggotakan Ratna, Stefi, Nayla dan Bimo.


Dalam hitungan detik ponsel Ryan di serbu pesan dari mereka.


Nayla : Waaaaaaaah AKHIRNYA!


Ratna : Memang sejak lama menginginkan


ini terjadi.


Stefi : Aku cemburu heheheh, Selamat ya


teruntuk dua sahabat ku, aku turut


BAHAGIAAAAA!!!


Bimo : Kalau pulang harus kita rayakan ini!!!


Dan masih banyak lagi pesan yang mereka kirimkan yang isinya pertanyaan-pertanyaan konyol. Dari mulai bagaimana kejadiannya, siapa yang menyatakan duluan, apakah kalian sudah berciuman, siap yang lebih dulu mencium, dan masih banyak lagi. Semua itu tidak di hiraukan Ryan. Dia meletakkan ponselnya dan memilih memeluk kekasihnya dengan lembut dan mesra. Di kecupnya kembali kening Alex, lalu hidung dan di daratkannya bibirnya dengan pelan dan lembut di bibir Alex. Mata Alex terpejam menikmati kecupan lembut Ryan yang mendarat di bibirnya lagi dan lagi.


"Ryan aku harap kau tidak akan meminta sesuatu yang sangat berat bagiku untuk menyerahkannya," pinta Alex membelai pipi Ryan.


"Meskipun kau harus bersabar untuk waktu yang sangat lama? Aku tidak sedang membicarakan hitungan hari atau bulan, tapi tahunan."


"Akan aku tunggu. Jika memang kau hanya akan menyerahkannya setelah ada ikatan pernikahan pun akan aku tunggu. Malah bisa aku jadikan motivasi untuk semangat bekerja dan menabung agar secepatnya bisa memiliki mu seutuhnya."


Alex menghambur ke pelukan Ryan hingga Ryan nyaris tersungkur ke belakang. Ternyata begini rasanya jadian dengan sahabatmu. Tidak ada rasa canggung saat ada hal yang di utarakan. Alex tersenyum bahagia.


Ponsel Alex berdering dan foto Ben tampak di layar.


"Hallo Ben, ada apa?" Alex menjawab panggilan dari Ben.


"Hai Lex, kamu ada waktu sebentar? Aku ingin bicara sebelum aku kembali ke Ibu Kota," pinta Ben.


"Ya tentu saja, bagaimana kalau bertemu di kedai depan apartemen."


"Baiklah, 10 menit lagi aku sampai di sana."


"Oke kita bertemu di sana ya. Bye." Alex mengakhiri panggilan.


"Ben ingin bicara sesuatu dan mengajak bertemu, kamu mau ikut?" tanya Alex pada Ryan.

__ADS_1


"Tidak usah, sepertinya dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik."


"Kamu tidak marah, kan, kalau aku menemui Ben?"


"Buat apa aku marah, aku tahu kekasih ku ini tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak," sahut Ryan tenang. Dirinya sudah sangat mengenal Alex dengan baik dan percaya padanya.


"Kalau begitu aku mau mandi dulu ya."


"Aku juga harus pulang, nanti ingat pakai jaket, di luar dingin."


Alex mengantar Ryan sampai depan pintu. Sebuah kecupan dia berikan sebelum menutup pintu.


Sesampainya di kedai yang di maksud Ben sudah duduk di sana memegang secangkir kopi ngangat.


"Sudah lama, maaf tadi mandi dulu," ucap Alex memberi alasan.


"Baru juga kok."


"Ada apa? Bagaimana dengan Amel?" Dari ekspresi wajah Ben, bisa di tebak jika tidak ada berita baik mengenai hubungan mereka.


"Nggak ada apa-apa, cuman mau ketemu kamu sebelum balik." sahut Ben.


"Aku dan Amel sudah tidak ada kesempatan lagi," sambungnya lesu.


"Sudahlah, jangan sampai ini mengganggu kehidupanmu, apalagi kalau sampai kamu tidak fokus kerja gara-gara ini lalu di pecat. Masih banyak perempuan yang ngantre buat jadi pacarmu," hibur Alex.


Ben tersenyum kecut dan berkata, "Seharusnya aku saat itu tidak berpaling pada Amel saat aku mendekatimu. Mungkin ini karma buruk ku."


Akhirnya dia mengaku juga sekarang, pikir Alex.


"Mungkin jika malam itu aku tidak tergiur rayuannya, saat ini kita yang pacaran ya? Tapi jujur aku benar-benar mencintainya dengan tulus sejak malam itu ketika dia menyerahkan dirinya padaku. Aku pikir kami akan hidup bahagia hingga tua."


"Maaf Ben, tapi aku pikir tidak ada yang berubah meskipun saat itu kamu tidak menerima Amel. Karena aku tidak mungkin menyerahkan sesuatu yang berharga selama belum ada ikatan pernikahan. Tidak usah minta maaf padaku."


"Aku tahu, tidak seharusnya aku berpikir jika sex adalah dasar dari sebuah hubungan yang serius. Aku terlanjur berpikir salah karena hubungan terdahulu. Tapi aku berjanji, mulai sekarang aku akan lebih menghargai wanita dalam menjalani sebuah hubungan."


"Nah begitu dong! Kamu itu masih muda dan masih akan bertemu banyak orang, masih akan mengenal banyak cinta. Jadi lain kali hati-hati dalam memilih, jangan cepat tergiur yang seksi," ucap Alex bergurau.


"Terima kasih nasihatnya Nek," canda Ben.


Mereka tidak mengobrol lama karena Ben harus kembali pulang ke Ibu Kota dan bekerja esok harinya.


Alex tersenyum sendiri saat di dalam lift menuju apartemennya. Dia merasa bahagia karena dirinya yang sering mendapat cemooh hanya karena memilih mempertahankan keperawanannya kini telah bertemu dengan seseorang yang menerima dan menghormati keputusannya. Untung saja dia tetap teguh memegang prinsip dan juga bersabar.


*****Pengumuman ****

__ADS_1


Untuk merayakan hari jadi Alex dan Ryan, bagaimana kalau kalian memberikan comments, like, rate dan vote 🤣😂🤣😂🤣😂


__ADS_2