Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Kebenaran....


__ADS_3

"Ayah, Ibu, Kak Andre, Alex pergi dulu ya, " pamit Alex berlalu pergi meninggalkan keluarganya yang tengah duduk-duduk santai menikmati akhir pekan di rumah.


"Loh bukannya kalau Sabtu Alex kerja sore ya?" tanya Andre


" Iya, itu dia keluar bareng Ratna, bukannya berangkat kerja. Katanya mau ke mall, " sahut Ibu.


Ya benar sekali hari ini Alex sengaja meminta bantuan sahabatnya untuk menemaninya berbelanja di mall. Sebenarnya dia juga mengajak Stefi, tapi yang bersangkutan lagi sibuk kencan dengan gebetan barunya. Ketika sampai di mall Alex tidak melihat penampakan Ratna, maka sambil menunggu dia memesan minuman kesukaannya,ice americano di cafe Starluck. Handphone nya bergetar saat dia mengambil minuman pesanannya. Ternyata ada pesan dari Ratna yang mengatakan kalau dia sudah ada di depan mall. Langsung saja Alex membalasnya dengan menyuruh Ratna menuju ke Starluck.


Selang 3 menit Ratna sudah tiba dan menghampiri sahabatnya.


"Nih." Alex menyodorkan rainbow milkshake kesukaan Ratna yang tadi sengaja di pesannya.


"Thanks ya, kamu masih inget aja."


"Idih lebay ah, kayak kita udah ga ketemu bertahan-tahun. Baru juga kemarin lusa kamu nginep di rumahku." Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.


Mereka berkeliling mall sambil menikmati minuman favorite mereka masing-masing. Hari ini Alex khusus mengajak Ratna untuk meminta bantuannya memilih baju. Bukannya dia tidak bisa memilih baju sendiri, hanya saja Ratna dan Stefi selalu bilang kalau bajunya itu terlihat lucu dan imut seperti anak-anak, atau seperti cosplay tokoh kartun.


"Sebenernya ada hal spesial apa sih, kok tumben-tumben nya seorang Alex meminta pendapatku dalam memilih baju?" tanya Ratna curiga. Dari sejak SMA dia dan Stefi sudah berkali-kali membahas masalah selera pakaian Alex pada yang bersangkutan tapi tak pernah di gubris sedikit pun. Bukannya jelek sih, cuman kadang ga sesuai umur.


" Rencananya lusa aku akan pergi dengan Chris..." kata-kata Alex terpotong oleh pekikan Ratna.


"OMG kalian mau kencan. Oh aku jadi iri."


" Pelankan suaramu, iri bagaimana, kau kan sudah punya calon suami,sadar dong sadar." Alex mencubit lengan Ratna dan menyeretnya menjauh dari tatapan pengunjung lain."Lagian siapa yang kencan coba, " tambah Alex.


"OK sayangku, kamu mau baju model apa?. Dress, ayo kita cari dress yang sexy buat kamu." Ratna menjawab pertanyaannya sendiri. "Supaya Tuan Alex terpukau meleleh hatinya dan tak bisa melupakan kencan pertama kalian, " tambahnya menggoda Alex.


"Eh jangan dress dong, gimana Kalo kita perginya ke sawah, masa pake dress."


"Laki-laki mana yang ngajak cewek kencan ke sawah?"


"Kan aku bilang ini bukan kencan, " gerutu Alex. "Udah jangan becanda lagi, kita ga bisa di sini lama-lama, aku kan masih harus kerja. Kau sih enak libur."


"Kalau gitu kamu tanya aja Chris kalian nanti mau kemana, jadi ga bingung kan mau beli baju apa, " saran Ratna.


"Caranya?"


"Telfon kek, sms kek, " jawab Ratna nggak sabar.


"Aku ga ada kontaknya Chris." Alex nyengir.


"Kok bisa?. Terus kalian janjiannya kemarin gimana?. Nyelipin surat di bawah bill gitu tiap kali si Chris datang ke restoran?"


"Emang sinetron apa." Alex kemudian menceritakan secara singkat kejadian di malam dimana Chris mengantarnya pulang.

__ADS_1


"So sweet... Kenapa ga cerita pas aku nginep kemarin sih." Ratna mengambil sebuah dress dari display dan menempelkannya di badan Alex, lalu menaruhnya kembali karena dress nya terlalu panjang.


"Gimana mau cerita kamu langsung molor 10 detik setelah menyentuh bantal, " protes Alex yang hanya dibalas tawa cekikikan.


"Terus memangnya setelah malam itu kalian ga pernah ketemu lagi gitu?" tanya Ratna penasaran.


"Ya ketemu sih tapi di restoran." Alex mengambil t-shirt bergambar doraemon yang langsung di jambret sahabatnya dan di taruh kembali ke tempatnya.


"Kenapa juga kamu ga nanya di restoran. Bagaimana hidangannya Tuan, apakah sesuai selera anda. Bagaimana dengan selera pakaian anda untuk kencan kita nanti." Ratna memperagakan diri sebagai pramusaji.


"Ngawur ga mungkin kan aku nanya begitu di depan atasanku."


"Ya nanya nya pas ga ada atasan lah. Emang atasanmu terus-terusan ada di antara kalian apa.Nggak mungkin, kan, "


"Mereka kan selalu makan bareng jadi mana ada aku kesempatan ngobrol atau basa-basi."


" Tunggu - tunggu. Tunggu sebentar." Ratna memegang tangan Alex yang sudah hendak menuju rak pakaian selanjutnya. "Kamu bilang mereka selalu makan berdua?. Atasan kamu itu cewek kan? " tanya Ratna tak percaya. Alex mengangguk menjawab.


" Kasian sekali sahabatku yang satu ini. Betapa polosnya dirimu." Ratna menatap iba.


" Dari awal juga mereka selalu makan bareng kok, jadi ga aneh. " jelas Alex.


" Atasanmu udah nikah belum?. Atau punya pacar? " selidik Ratna.


" Belum nikah, tapi kalau masalah pacar aku ga tau, bukan urusanku juga. "


" Ngomong apa sih. Eh Non, aku kesini mau di bantu pilih baju, kok malah ngelantur ga jelas persaingan cinta lah ini lah itu lah. Buruan bantuin cari baju, " protes Alex karena belum juga mereka mendapatkan apa yang mereka cari.


Menyadari kalau perlu waktu dan usaha yang cukup besar untuk menjelaskan pada sahabatnya yang satu ini mengenai lika-liku kehidupan cinta, Ratna tak lagi berkomentar apa-apa. Akan tetapi di otaknya dia sibuk menyusun rencana misi pengetahuan dasar cinta yang akan dia ajarkan pada Alex. Dan langkah awal dari misi ini adalah perekrutan tenaga pengajar tambahan dari seorang spesialis cinta yang tak lain adalah Stefi.


Setelah mengobrak-abrik empat toko akhirnya sebuah pilihan jatuh pada crop-top halter neck maroon dan celana panjang high waist hitam. Perpaduan yang cukup aman, karena bisa di pasangkan dengan flat shoes atau sandal kalau ke tempat kasual atau high heels untuk tempat yang formal dan elegant.


Sesampainya di rumah Alex menyempatkan diri berkumpul dengan anggota keluarga dan mengobrol santai sebelum dia berangkat kerja.


**************


"Lex untung kamu udah datang,, tolong bawain ke meja 7 ya, perutku sakit nih." Dion menyerahkan nampan berisi 2 porsi Balsamic-Seasoned Steak. Segera Alex menuju area restoran untuk menghidangkan pesanan yang dia bawa. Ternyata yang duduk di meja 7 adalah Chris dan Bu Madeline. Entah kenapa mood Alex jadi berubah melihat dua sosok yang duduk di meja tujuh tengah asik mengobrol di barengi tawa kecil sesekali.


"Silahkan hidangannya Tuan." Alex bersikap professional.


Dari sekilas obrolan yang didengar tadi ketika meletakkan hidangan di meja, sepertinya mereka berdua cukup dekat satu sama lain.


Apa mungkin mereka sudah saling kenal sebelumnya?. Atau karena mereka sering bertemu dan nyambung mengobrol makanya jadi cepat dekat. Alex merasa iri karena dia tidak dengan mudah bisa dekat dengan orang baru.


Bu Madeline tampak beranjak pergi dari tempat duduknya menuju ruang kerjanya, mungkin mungkin ada hal penting yang harus di kerjaan, karena ini pertama kalinya dia tidak menemani Chris sampai selesai. Alex mendatangi meja untuk mengambil piring yang sudah tak di jamah lagi. Chris tampak tengah menikmati segelas white wine.

__ADS_1


"Kau tidak lupa kan, kalau kau harus membayar hutangmu lusa?" tanya Chris saat Alex mengambil piringnya.


"Tentu saja saya masih ingat."


"Apakah kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?"


"Bertanya apa?" tanya Alex bingung.


Chris menghela napas mendengar jawaban Alex. Baru kali ini dia bertemu gadis sejenis Alex. Biasanya gadis-gadis akan antusias bertanya apa saja topik yang bisa di tanyakan seputar rencana pertemuan mereka.


"Kau tak penasaran dimana dan kapan kita bertemu nanti?. Dan apa yang akan kita lakukan?" pancing Chris.


" Eh saya tidak kepikiran soal itu, " ucap Alex baru sadar.


" Sudahlah kau siap-siap saja begitu kau bangun di pagi hari. Yang lain aku yang urus. "


" Baik Tuan, apakah ada hal lain yang anda perlukan, dessert atau hidangan lain? " tanya Alex setelah pembicaraan mereka berakhir, tangannya sudah mulai lelah memegang piring kotor yang tadi diambilnya.


" Tidak ada terima kasih. "


Alex segera meninggalkan Chris membawa piring kotor menuju sidestand.


"Tadi boss bilang apa?, kenapa kau lama berdiri bicara dengannya? " tanya Dion ketika Alex menaruh piring di nampan sidestand.


"Bos siapa?" tanya Alex bingung, karena dia tidak sempat bicara apa-apa pada Bu Madeline.


"Siapa lagi, ya bos besar kita. Kau tadi kan baru mengambil piring di meja tujuh, kan." Dion menegaskan.


"Bu Madeline sudah pergi sebelum aku kesana, jadi aku tidak berbicara apapun."


"Aku juga tahu itu. Aku tanya soal Bos Chris, tadi kamu ngobrol dengannya kan, dia bilang apa?"


"Kenapa kau panggil dia Bos?" Alex bertambah bingung.


" Jangan bilang kau tidak tahu dia siapa?" melihat dari expresi kebingungan Alex, Dion sudah bisa menebak jawaban rekan kerjanya itu. "Dia itu Tuan Christopher Lynch Prasetya, pemilik restoran Black Grill yang tersebar di seluruh belahan bumi ini, " ucapan Dion terdengar bak petir di siang bolong bagi Alex.


"Hei lagi ngobrol apa sih seru banget." Naila datang bergabung. Dia baru saja menghidangkan makanan ke meja tamu.


"Nih temenmu masa dia ga tau kalau Tuan Chris itu owner Black Grill, " jelas Dion.


"Lex!!!, kamu itu lho masuk peringkat 3 terbaik dari 15 orang yang berhasil lolos kemarin. Udah jelas-jelas kan foto nya terpampang di dinding kelas pelatihan kemarin. Dan sudah di perkenalan juga pas ada teori tenang sejarah berdirinya Black Grill, " ucap Naila tak percaya." Aku saja yang dapet peringkat paling bontot inget kok, " tambahnya.


" Ya aku kan ga kesana cuman untuk ngeliatin fotonya aja, lagian pas pelajaran sejarah Black Grill yang di kasi liat foto doang, coba kalau orangnya datang langsung, ga mungkin aku bakal lupa." Alex membela diri. Meskipun pembelaan dirinya itu hanya untuk menutupi betapa paniknya dia saat ini,karena masalah sebenarnya jauh lebih rumit dari yang di pikirkan dua rekannya ini. Ingin rasanya dia menghilang saja dari muka bumi.


**************PENGUMUMAN *************

__ADS_1


Terima kasih bagi pembaca karya pertama ku ini,, kalau berkenan jangan lupa like, rate dan vote ya. (bayangkan Thor sedang bergaya centil amit2 saat mengatakan nya ya 😂🤣😂🤣**)


__ADS_2