
Sejak putus dengan Ben, tidak sekalipun Amel bergabung ke acara ngumpul seperti biasa, tapi sebagai ganti nya Alex mengajak Ryan sekalian memperkenalkannya kepada teman-teman yang selalu berkumpul dengannya. Begitu juga sebaliknya, Ryan sekarang selalu mengajak Alex jika ada undangan dari temannya.
"Alex, itu tadi pacar mu? Badannya itu lho, aku sampai melotot lihatnya," ujar Mila segera menghampiri Alex ketika Ryan berlalu pergi setelah tugasnya mengantar Alex ke kampus terlaksanakan.
Alex hanya tersenyum menjawab Mila. Tahu begini dirinya tidak akan menyuruh Ryan memakai baju ukuran M, sekarang para wanita terang-terangan menatap nya, bahkan ada yang pakai senyum plus kedip satu mata. Alex yang awalnya biasa saja lama kelamaaan jadi emosi juga. Sepertinya nanti dirinya harus membuat peraturan jika Ryan hanya boleh mengenakan pakaian lama miliknya jika mengantarnya, jadi keseksian tubuhnya akan tertutup. Tunggu sebentar! Bukankah setelah mengantarnya Ryan akan langsung pergi ke kampus. Bagaimana kalau para mahasiswi di sana juga menggodanya?. Bagaimana mungkin dia baru menyadari hal ini sekarang. Batin Alex kesal.
"Kalau jalan jangan sambil bengong! Eh kamu sudah dengar gosip baru tentang sahabat mu belum?" tanya Mila saat mereka berjalan bersama menuju gedung kampus.
"Siapa?"
"Amel, siapa lagi. Dari semua sahabatmu di sini bukannya hanya dia yang tidak pernah lepas dari gosip."
"Dia hanya teman ku tidak lebih. Gosip apa kali ini?" tanya Alex penasaran.
"Katanya sekarang dia sedang pendekatan dengan Erick. Kamu tahu siapa Erick, kan?"
"Ketua mahasiswa yang baru? Bukannya dia pacar Ashley yang anak sastra?" Alex menjawab pertanyaan Mila dengan pertanyaan yang lain.
"Seratus buat kamu. Hebat kamu bisa kenal mereka juga, aku pikir kau hanya tahu Fred, Anthony, dan grupnya."
"Aku juga tahu kamu itu siapa," canda Alex.
"Beda lah, kita kan satu jurusan. Maksud ku anak-anak di luar jurusan." Mila meralat ucapannya.
"Terus?"
"Terus apa?"
"Ya itu tadi, lanjutkan gosip nya. Waahh kamu sudah nggak mungkin lulus ini6, kalau ikut audisi presenter gosip."
"Heh kau pikir aku ambil jurusan Ekonomi untuk jadi presenter gosip. Ya itu tadi, so Amel lagi kumat, secara Ashley itu kakak tingkat nya, yang sekarang bertugas mengganti posisi Ben sebagai asisten dosen pengajar. Kamu pernah nanya nggak sih sama Amel, kenapa suka sekali mengganggu hubungan orang? "
"Mana mungkin lah aku bertanya seperti itu. Biarpun kami sering terlihat bersama, tapi kami tidak sedekat itu," jelas Alex meletakkan tas nya di meja, lalu duduk dengan posisi menghadapi ke belakang karena lawan bicaranya duduk di belakangnya.
"Ya siapa tahu kamu kamu bertanya begitu saat dia rebut Ben kemarin."
"Sudah di bilang berapa kali coba. Aku nggak pacaran dengan Ben waktu itu."
"Tetap saja, saat itu seisi kampus juga tahu kalau Ben sedang berusaha mendekatimu. Kamu pikir kami anak yang baru netas, nggak mengerti masalah seperti itu," tutur Mila.
"Tapi nggak apa-apa sih, soalnya sekarang kamu dapat ganti yang lebih Hmmm. Aku yakin dia itu masuk 10 besar pria terseksi dunia. " lanjut Mila tersenyum sambil memejamkan mata.
"Sadarlah wahai temanku, kamu sedang membayangkan pria milik temanmu. Jangan-jangan kamu tertular virus dari Amel," ucap Alex pura-pura memeriksa kening Mila.
__ADS_1
"Hush, jahat kamu ya. Mana mungkin aku setega itu. Aku ini masih punya solidaritas sesama perempuan tahu. Lagian, masa aku di suruh tutup mata setiap kali pacar mu kemari. Enggak apa-apa lah, mengagumi dari jauh itu kan tidak melanggar hukum," kilah Mila.
Obrolan mereka berhenti karena dosen pengajar masuk. Alex sedikit tidak konsentrasi karena memikirkan gosip yang di ceritakan Mila tadi. Kenapa Amel tidak pernah kapok ya? Apa sih yang mau dia capai dengan mengganggu hubungan orang? Seberapa keras pun Alex berpikir dia tidak menemukan jawabannya.
Hari ini Alex hanya memiliki 3 mata kuliah. Masih satu jam lagi jam kuliah Ryan berakhir dan menjemputnya. Hari ini mereka akan pergi ke mall dekat kampus untuk membeli oleh-oleh. Di sana sedang ada diskon besar, jadi meskipun kepulangan mereka masih dua bulan lagi mereka memilih untuk membeli oleh-oleh sekarang. Siapa tahu saat itu tidak lagi ada diskon dimana-mana.
Sambil membaca novel dan menikmati jus nanas kesukaannya Alex duduk sendiri di bangku taman.
"Sendirian?" tanya Amel yang entah kapan datangnya.
"Iya, sudah selesai kuliah. Kamu kemana saja, nggak pernah ngumpul bareng lagi?" tanya Alex basa-basi.
"Kamu tahu sendiri lah aku sudah putus dengan Ben," jawab Amel santai.
"Ben sedang sangat sibuk dengan pekerjaan, jadi dia juga jarang sekali datang. Jadi nggak usah khawatir."
"Enggak ah, lagi pula sejak awal aku ini bukan tim inti."
Alex sedikit geram dengan jawaban Amel. Sejak kapan dalam berteman ada yang namanya tim inti dan bukan tim inti. Bethany saja yang sejak awal tidak terlalu suka dengan Amel masih tetap bersikap ramah dan baik padanya. Meskipun kesal Alex memilih untuk diam.
"Kamu sudah jadian dengan Ryan ya, belakangan ini aku mendengar gosip ada mahasiswa ganteng, seksi dari kampus sebelah yang selalu setia mengantar jemput kekasihnya," selidik Amel.
"Iya kami sudah jadian," sahut Alex singkat dan datar, menyembunyikan kekesalannya dengan pura-pura asik membaca novel.
"Wah, selamat ya. Aku yang ngejar-ngejar dia, malah kamu yang jadian."
" Aku juga tadi sempat mendengar gosip tentang mu dan Erick. Kalian beneran pacaran?" giliran Alex yang bertanya.
"Gosip tentang ku memang cepat sekali menyebar ya," ucap Amel tertawa dengan bangga.
"Kamu hanya dekat, tidak pacaran. Nggak tahu nanti akhirnya bagaimana," lanjut Amel.
"Bukannya Erick itu pacaran dengan Ashley?" pancing Alex.
"Cuma gosip. Ashley sendiri bilang kalau dia bukan pacarnya Erick, dan kami beberapa kali pergi nongkrong bertiga, nggak ada masalah."
"Yaa,mungkin saja mereka memang belum pacaran. Masih pendekatan terus kamu masuk ke dalam lingkaran, jadi wajar saja Ashley bilang dia bukan pacar Erick. Tapi tidak menutup kemungkinan jika nanti mereka pacaran, kan?" ucap Alex yang teringat pengalaman nya sendiri.
"Bagaimana ya, kalau misalnya ada yang lebih baik muncul menurut ku sah-sah saja jika Erick akhirnya memilih yang terbaik."
"Jadi kamu sudah menganggap jika dirimu lebih baik dari Ashley?" satu alis Alex terangkat, tidak percaya akan apa yang didengarnya dari mulut Amel. Kenapa ada orang sesombong ini.
"Lihat saja penampilanku, pria manapun pasti merasa bangga memperkenalkan ku sebagai kekasih mereka. Dan aku sangat pandai di ranjang. Sekali saja mereka bercinta dengan ku sudah pasti mereka akan ketagihan," tutur Amel penuh percaya diri.
__ADS_1
"Terserah kau saja, tapi tidak semua pria hanya mementingkan urusan ranjang. Sebuah hubungan tidak selalu di ukur dari segi sex," nasihat Alex.
"Tunggu, tunggu, jangan bilang jika kau dan Ryan belum..." Amel tidak melanjutkan ucapannya melainkan malah menutup mulutnya tak percaya.
"Apa salahnya? Aku dan Ryan sudah membicarakannya dan dia tidak keberatan," jawab Alex sedikit emosi.
"Yaa, mungkin untuk saat ini dia bisa bertahan, berapa lama kalian jadian? Sebulan? Dua bulan? Awalnya memang tidak masalah, tapi kalau sudah lebih dari 3 bulan, maksimal 4 bulan deh. Aku yakin dia tidak akan bertahan," cibir Amel.
"Jangan bicara sembarangan. Aku kenal siapa Ryan dan dia bukan pria seperti itu,"
"Kita lihat saja nanti..."
"Sedang ngobrolin apa sih, keliatannya serius sekali?" Kehadiran Ryan membuat Amel tidak bisa melanjutkan perkataannya.
"Ngobrolin urusan wanita, kamu tidak usah ikut campur," jawab Alex datar dengan ekspresi kesal.
"Jemputan sudah datang nih. Kapan-kapan kalian harus traktir ya sebagai perayaan jadian kalian, nanti kita double date," ucap Amel sambil mengelus bahu Ryan lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Memangnya dia sudah punya pacar baru?" tanya Ryan pada Alex.
"Mungkin sebentar lagi." Alex kemudian menceritakan mengenai gosip tentang Amel.
"Entah apa yang salah dengan otaknya. Sudahlah, bukan urusan kita."
Mereka berdua lalu pergi belanja sesuai rencana. Karena kepulangan mereka masih 2 bulan lagi, mereka memutuskan hanya membeli barang yang tahan lama, seperti pakaian, sepatu, dan aksesoris seperti, gelang, kalung, tas, dan dompet. Untuk makanan mereka hanya akan membawa makanan khas sedikit saja dan akan mereka beli nanti mendekati hari keberangkatan.
"Istirahat ya, nanti kamu ada kerja sambilan," ucap Ryan mengingatkan. Di taruhnya barang belanjaan mereka di atas sofa lalu di peluknya Alex dengan mesra.
"Belanjaannya nanti saja aku pisahkan, duduk sini!" perintah Alex, dan setelah Ryan duduk di sofa yang di tunjuk, Alex kemudian duduk bersandar di pangkuan Ryan.
Mereka mulai bertukar ciuman. Alex suka cara Ryan menciumnya, singkat, lembut, dan berulang-ulang, tapi penuh perasaan. Tangannya pun tidak pernah bergerilya ke area yang cukup sensitif bagi Alex.
"Kenapa kamu selalu mencium ku dengan singkat. Apa rasanya tidak enak?" canda Alex.
"Kau ingin tahu seberapa lama aku sebenarnya ingin merasakannya?"
Alex mengangguk manja meminta sebuah jawaban.
"Kamu sendiri tahu kan apa yang akan terjadi jika sepasang kekasih berciuman dengan lama dan penuh gairah?"
Alex menutup wajahnya malu, dan Ryan tertawa melihat tingkah manis wanita yang dicintainya.
"Aku sudah berjanji padamu dan aku akan menepatinya. Aku sedang mengontrol diriku, karena bohong jika aku bilang aku tidak menginginkannya. Bersabarlah, jika aku sudah bisa mengontrol keinginanku dengan baik akan kucium bibirmu sangat lama dan dalam hingga kau yang meminta ku untuk berhenti," ucap Ryan sambil menatap lembut kedua mata Alex.
__ADS_1
Alex yang baru kali ini merasa bahagia dan senyaman ini menyusupkan kepala nya ke pelukan Ryan lebih dalam lagi.
Dirinya yang tadi sedikit memikirkan perkataan Amel, kini merasa benar-benar yakin jika Ryan tidaklah seperti pria kebanyakan yang di maksud Amel.