
Sudah 2 minggu berlalu sejak kejadian tabrakan itu dan tak ada tanda-tanda sedikitpun dari managernya membahas sedikitpun tentang kejadian memalukan tersebut. Tapi itu tidak membuat Alex lega dikarenakan pria tampan mapan (begitulah Alex menyebutnya) sudah jadi pelanggan tetap di Black Grill. Dan setiap kali dia datang Bu Madeline managernya selalu menemaninya sampai pria itu meninggalkan restaurant.
Sepertinya managernya menaruh hati pada Tuan mapan tampan tersebut, atau mereka berdua saling jatuh hati. Pasti lah begitu, makanya Tuan mapan tampan juga lumayan sering datang kemari. Dan itu membuat posisi Alex merasa terancam.
Bagaimana kalau setelah sekian lama dia mengatakannya dan aku dipecat,karena aku tidak menceritakan kejadian tersebut pada Bu Madeline saat itu. Alex khawatir.
Mungkin karena sedang memikirkannya tanpa sengaja Alex melirik ke meja pojok dekat Bar dimana Tuan tampan mapan duduk menikmati makan siangnya bersama Bu Madeline. Mereka terlihat mengobrol santai,dan sesekali tertawa kecil. Dan entah kenapa Tuan tampan mapan menoleh ke arahnya ketika Bu Madeline sibuk mengecek handphone. Tatapan mereka saling bertemu,dan yang lebih mengejutkan lagi Tuan tampan mapan mengedipkan sebelah matanya tersenyum manis ke arah Alex, membuatnya terlihat sangat tampan, gagah serta sexy. Hampir saja Alex menjatuhkan piring kotor yang di ambilnya dari meja yang baru di tinggalkan tamu.
Memang seharusnya aku tidak berurusan lagi dengan pria itu, hampir saja aku melakukan kesalahan yang lebih besar. Pikir Alex sembari berlalu membawa tumpukan piring kotor dari sidestand ke dapur.
" Alex bisa tolong bawakan 2 sparkling water ke meja saya duduk," perintah Bu Madeline saat Alex baru saja selesai menyerahkan piring-piring kotor pada petugas cuci piring,kemudian dia berlalu masuk ke toilet wanita.
2 sparkling water, berarti Tuan itu masih ada di sana dong. Bagaimana ini. Kenapa setiap kau ingin menghindari sesuatu saat itu juga hal yang kau hindari malah kau temui.
" Silahkan Tuan," Alex menatap lekat gelas berisikan sparkling water berusaha tidak menatap pria yang saat ini sedang menatapnya.
" Terima kasih. Bagaimana kabarmu?. Akhirnya kita ada kesempatan untuk bicara lagi ya." Sapa Tuan Mapan Tampan.
"Baik Tuan, Iya benar sekali saya cukup sering melihat anda tapi baru kali ini dapat kesempatan bicara. Senang sekali anda menjadi pelanggan tetap kami." sahut Alex ditambah sedikit basa-basi.
" Apa kau suka bekerja di sini?." baru saja Alex hendak pergi menjauh dari masalah, pertanyaan berikutnya menyusul.
" Tentu saja tuan, saya sangat suka. Terima kasih atas yang kemarin dan maafkan saya. " Alex pikir mungkin Tuan mapan tampan di depannya ini ingin mendapat ucapan terima kasih karena tidak mengadu ke atasannya.
" Terima kasih dan maaf untuk apa?." tanya nya lagi, terlihat sedikit senyum seringai di wajah tampannya.
" Itu Tuan karena anda tidak mengadakan masalah kemarin pada atasan saya, dan maaf karena waktu itu saya berprasangka buruk tenang anda, ternyata anda orang yang baik dan pemaaf. " Alex sedikit menjilat.
" Hahahhahaha memangnya tampangku seperti orang jahat ya?!."
" Bukan.. Bukan begitu maksud saya, tapi.... " Alex tidak berani melanjutkan kata-katanya karena dilihatnya Bu Madeline hanya tinggal beberapa langkah dari mereka.
" Apa ada hal lain yang bisa saya bantu? . " tanya Alex mengganti topik pembicaraan.
" Terima kasih kau boleh kembali ke area mu." Sahut Bu Madeline.
Tanpa menunggu lama Alex berjalan menjauh secepat dan senormal yang dia bisa.
" Apa yang kalian obrolkan tadi dengannya Chris?. " tanya bu Madeline.
" Bukan apa-apa hanya hal biasa yang tidak penting."
" Dia staff baru, anaknya rajin dan aku suka cara kerjanya jadi jangan kau macam - macam dengannya atau anak buahku yang lain." ucap Madeline santai sambil tersenyum menggoda.
........
" Akhirnya mari pulang pulang pulang sayaaaang. " Naila bersenandung kecil meninggalkan ruang ganti menuju pos security di pintu keluar staff." Kalian dua mahkluk tidak setia kawan disana, jangan bergerak. Tunggu aku." Seru Naila kepada 2 mahkluk yang tak lain adalah Alex dan Bimo.
Mereka sudah keluar dari pos security dan sudah hendak naik bis khusus staff. Bimo tampak melambaikan tangan pada supir bus sebagai isyarat kalau dia tidak jadi naik, dan bis pun berlalu menjauh. Bis kuning yang tampak seperti bis sekolah luar negri ini memang selalu berputar sepanjang area Paradiso - land, setiap 15 menit akan ada bis kuning lain, begitu seterusnya bak bumi yang mengitari matahari. Sambil menunggu Naila mereka duduk di bangku panjang bersama beberapa staf lain dari hotel yang berada di sebelah restaurant.
" Kalian itu tega sekali sih meninggalkan gadis manis sepertiku sendiri." protes Naila
"Ayo kita main kemana gitu,, mumpung pulang bareng. Ingat kan dulu kita janji mau keluar main bareng setelah acara pembukaan selesai," lanjut Naila.
" Maaf Nay aku ga bisa, udah ada janji sama temen..."
" Jadi kita bukan temen?." Naila seenaknya memotong ucapan Alex.
" Bukan gitu cempreng. Kamu itu kalo bikin acara jangan seenaknya. Bikin rencana dulu terus atur waktu gitu. " di cubitnya teman sepelatihannya itu.
" Nyebelin ah, sok penting kamu. "canda Naila." Ya udah kita pergi berdua aja yuk Bim. " Naila memanas manasi.
" GA bisa, aku harus jemput sayang ku ke kampus. "sahut Bimo lebay. Naila memasang tampang cemberut mendengar penolakan kedua temannya.
Bis berikutnya tiba, untungnya ada cukup tempat duduk untuk semua orang yang tadi menunggu. Kalau tidak akan terjadi adu cepat karena semua orang sudah lelah dan ingin sampai rumah secepat mungkin pastinya.
Butuh waktu 5 menit menuju tempat parkir staff. Semua berhamburan keluar menuju kendaraan mereka masing-masing. Bimo sudah berjalan menuju mobil butut warisan ayahnya, sedangkan Alex dan Naila harus berjalan menuju gerbang keluar. Naila sudah di tunggu oleh supir pribadinya. Sebenernya tanpa harus bekerja pun Naila tidak akan kekurangan uang karena dia berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Hanya saja dia memilih untuk bekerja agar dia tidak harus mengambil kuliah S1 jurusan hukum seperti yang di minta orang tuanya. Alex harus menuju stasiun di seberang jalan menaiki kereta sekitar 15 menit menuju stasiun Kota tempat tinggalnya kemudian harus naik ojek atau taxi atau nebeng kak Andre untuk sampai ke rumah.
Memang benar-benar ya apa yang kau hindari itulah yang kau temui. Saat ini di depan Alex berdiri Tuan yang sukses tadi membuat nya salah tingkah di tempat kerja. Ingin rasanya dia menghilang pura-pura tidak melihat, tapi kita mengantri di gerbong yang sama dan sedikit saja pria yang tepat berdiri di depannya menoleh ke belakang maka di lihatlah dia. Sudah tidak ada cara untuk menghindar.
" Hallo Tuan, tidak menyangka bisa bertemu anda di sini." bahkan ingin menyapapun susah karena dia tidak tahu nama pria yang selama ini dia sebut sebagai Tuan mapan tampan.
__ADS_1
Bagaimana kalau dia tidak tau aku ini menyapanya, bukannya akan jadi sangat memalukan di lihat orang-orang di sampingnya yang sudah melihatnya berbicara sendiri. Memutuskan menatap sepatunya saja karena orang yang saat ini berdiri di kanan kirinya tengah menoleh kanan - kiri mencari siapa sosok yang di sapanya.
" Ternyata itu betul-betul suaramu."
Alex menatap arah suara yang di kenalnya, karena memang suara berat serak-serak becek itu gampang di ingat. Dan benar saja ternyata tanpa dia sadari sosok yang tadi berdiri di hadapannya sudah berpindah di sebelahnya.
" Iya Tuan, maaf karena saya belum tau nama anda jadi saya tidak tau harus bagaimana menyapa anda."
" Seharusnya tadi kau pegang tangan ku atau sentuh punggungku jadi aku tau. Kupikir tadi aku itu sedang bermimpi mendengar suaramu di telingaku." setengah menunduk dia berbicara karena tinggi lawan bicaranya bahkan tidak mencapai bahunya .
Apa ini kenapa juga tiba-tiba aku jadi berdebar malu-malu bahagia begini. Terus kenapa wajahku terasa panas. Batin Alex. Tak tau harus bersikap atau berkata apa dia hanya berdiri mematung sedangkan otaknya mencoba mencerna gejala-gejala aneh yang terjadi pada tubuhnya.
Belum sempat berpikir jernih Alex sudah dikejutkan lagi dengan sentuhan tangan lebar di punggungnya mendorong lembut.
Ternyata pintu kereta sudah terbuka dan orang-orang di belakang mulai mendorong masuk. Alex masuk mengikuti kemana tangan di punggungnya mendorongnya. Untunglah dia mendapatkan tempat duduk dekat jendela, jadi dia bisa menyembunyikan kegugupannya dengan pura-pura menoleh pemandangan di luar. Tapi itu tidak berlangsung lama karena sumber kekacauan yang terjadi pada jiwa dan raganya kembali membuka pembicaraan.
" Jadi kenapa kau memilih Black Grill cabang Paradiso, bukan yang ada di kotamu?. Tanya Tuan mapan tampan setelah tadi dia bertanya dimana Alex tinggal.
" Yaa karena memang sudah jadi impian saya bekerja di Paradiso, dan kebetulan Black Grill mencari staff untuk di tempatkan di sana. Awalnya saya berniat melamar di restaurant Cest LA Vie." sahut Alex menyebut nama restaurant perancis yang juga ada di Paradiso-land." Maaf Tuan bolehkah saya tau nama anda?. Tidak sopan rasanya kalau saya masih belum tau, jadi nanti kalau anda berkunjung ke Black Grill saya bisa menyapa anda. "
" Padahal aku inginnya kau sentuh tanganku saja kalau nanti ingin menyapaku lagi. Tapi baiklah, kau panggil saja aku Chris. " Chris berbicara setengah berbisik di dekat telinga Alex seolah dia tidak ingin orang lain di sekitar mendengar dia menyebut namanya.
Alex yang tadinya sudah mulai bisa menguasai diri dan merasakan kembali kakinya berpijak di bumi, sekarang kembali terhempas melayang tak tentu arah antara bahagia, malu, panik , senang.
Tak terasa 3 pemberhentian stasiun telah terlewati yang artinya Alex harus turun di stasiun berikutnya. Entah kenapa kali ini perasaan gembira yang selalu muncul setiap kali dia turun dari kereta tak seperti biasa, Ada rasa sayang yang ikut mengekor di belakang kegembiraan, karena meskipun saat ini jantungnya terasa sedang berpacu cepat entah mungkin sedang lomba lari dengan organ tubuh lainnya, Alex merasa dia masih ingin duduk mendengar suara Chris dan juga menatap wajahnya sebentar - sebentar ( karena kalau lama bisa-bisa jantungnya akan melompat keluar membunuh dirinya saking cepatnya dia berdetak.)
" Saya turun di sini Tuan.... Maksud saya Chris." Alex memperbaiki panggilannya segera, melihat Chris untuk kesekian kalinya mengerutkan alis karena masih saja Alex menambahkan kata "Tuan" untuk memangggilnya. " Sampai jumpa lagi." tambahnya sambil beranjak berdiri.
" Kenapa cepat sekali sih bilang sampai jumpa, aku kan juga turun di sini." Chris ikut beranjak dari duduknya membiarkan Alex melewatinya kemudian mengikuti di belakang. " Kau akan langsung pulang?. Bagaimana kalau segelas kopi."
Ingin sekali Iya mengiyakan ajakan Chris tapi dia tidak lupa dengan janji dengan teman-temannya.
"Maaf sekali tapi saya sudah ada janji dengan..."
" Pacar?" potong Chris cepat.
" Bukan,, hanya teman kok, teman cewek," sahut Alex cepat. "Kami sudah janji akan ke taman bermain Fam Park," tambahnya.
"Ayo masuk kenapa bengong." Chris sudah membukakan pintu taxi.
Alex yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi menurut masuk ke dalam dan kemudian Chris masuk dan memberi tahu pak supir tempat tujuan mereka.
Eh ini maksudnya apa?. Kenapa sekarang mereka berdua malah pergi bersama. Kan tadi aku sudah bilang aku ada janji dengan teman. Bagaimana ini, masa aku larang dia ikut, bagaimana kalau memang tujuannya tadi juga Fam Park. Itu kan tempat umum, aku tak ada hak melarangnya pergi kesana. Aduh kenapa situasinya jadi membingungkan begini.
Kurang dari 5 menit mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan. Chris menyuruh Alex keluar lebih dulu karena dia masih membayar ongkos taxi.
"Alex siinii!! " panggil dua gadis seumuran Alex kompak. Sesuai dugaan Alex mereka sudah sampai lebih dulu dan menunggu di depan gerbang masuk. Segera Alex berlari ke arah Ratna dan Stefi.
"Maaf ya kalian jadi harus menunggu."
" Kami juga baru datang kok, belum ada 5 menit," sahut Ratna memeluk Alex karena sudah lama tidak bertemu.
" Ayo langsung masuk sekarang yuk. " ajak Alex
" Kenalin dulu dong itu kasian di belakang bengong di cuekin."
Alex menoleh ke arah mata Stefi memandang, dan terkejut melihat Chris berdiri santai tepat di belakangnya.
Kenapa dia malah berdiri di belakangku. Tadi kan aku tidak mengajaknya. Kupikir dia juga ada janji dengan temannya.
Melihat respon lambat Alex yang masih terkejut dengan kehadirannya, Chris mengulurkan tangannya menjabat kedua teman Alex bergiliran sembari memperkenalkan diri.
" Eh Iya dia ini tamu tetap di tempat kerjaku, tadi kebetulan ketemu di kereta,dan kami sejarah," jelas Alex. "Chris kamu ada janji dengan seseorang juga di sini?"
"Nggak, aku penasaran saja dengan tempat ini. Katanya roller coaster nya seru dan menegangkan," sahut Chris nyengir seperti anak kecil.
Ratna dan Stefi melirik nakal ke arah Alex sambil tersenyum geli.
"Ayo Stef masuk." Gandeng Ratna.
" Ayo Lex, Chris," ajak Stefi.
__ADS_1
" Jadi bagaimana?. Apa kau akan menggandeng ku atau aku yang harus menggandeng," goda Chris.
" Apa sih ayo masuk," sahut Alex gugup berjalan pelan mendahului.
"Harusnya tadi anda bilang kalau ingin ikut, jadi kan saya bisa menjelaskan dengan baik. Bikin bingung saja," protes Alex.
" Bagaimana ya,, habisnya kau seenaknya mengatakan sampai jumpa padaku. Selama ini akulah yang selalu menentukan kapan akan mengatakan sampai jumpa pada orang lain. " Chris bicara dengan nada serius.
Mereka mencoba semua wahana permainan yang seru dan memacu jantung. Dan tak terasa sudah hampir malam.
" Ayo kita makan dulu sebelum pulang. " saran stefi ketika sudah puas mereka bermain.
" Kalian suka makan Italy tidak?. Aku tau restaurant dekat sini yang enak," tanya Chris.
" Mau,, mau,, kami paling suka spaghetti," sahut Ratna cepat, sebelum Alex sempat menolak tawaran tersebut.
Mereka berempat pun meluncur dengan taxi menuju restaurant yang di maksud.
Sesampainya di sana semua kecuali Chris tampak takjub dengan penampakan restaurant yang di maksud Chris. Dari pintu masuknya saja sudah kelihatan mahal.
"Pesan saja yang kalian mau, aku yang traktir karena hari ini aku benar-benar senang menikmati waktuku dengan kalian," ucap Chris melihat ketiga tamunya tampak ragu-ragu melihat menu makanan yang tersedia. Dan benar saja, begitu mendengar kata traktir mata mereka jadi berbinar bahagia.
" Hari ini benar-benar hari keberuntungan kita ya," ucap Stefi sambil menikmati strawberry cheese cake nya lahap.
"Iya terima kasih pada Alex yang sudah membawa malaikat bernama Chris," tambah Ratna.
" Hahahhahaha akulah yang beruntung karena bertemu Alex di stasiun, jadi hari ini aku benar-benar menikmati waktuku. Kapan ya terakhir kali aku masuk taman bermain?!." Chris mencoba mengingat ngingat.
" Sepertinya sudah lama sekali ya, tadi saya perhatian anda benar-benar menikmatinya. Ekspresi anda seperti anak kecil yang baru pertama kali ke taman bermain. " Alex tertawa kecil.
" Sebenernya aku penasaran dari tadi, Alex kenapa kau bicara dengan formal pada Chris?" tanya stefi, karena Chris sendiri bicara dengan bahasa umumnya pada sesama teman, begitu juga dia dan Ratna tidak menggunakan Bahasa formal pada Chris.
" Ya karena dia adalah tamu di tempat kerja ku. "
" Tapi kan sekarang kan bukan jam dan tempat kerja," sanggah Stefi yang disusul anggukan oleh Chris.
" Ya karena dia lebih tua dari kita, jadi kita harus sopan kan," jawab Alex lagi. Sebenernya dia sendiri juga ingin mengobrol dengan nyaman dengan Chris seperti kedua temannya, hanya saja dia lebih dulu mengenal Chris sebagai tamu tetap restaurant tempat dia bekerja, jadi canggung rasanya dan terkesan tidak sopan." Kalian seharusnya pakai Bahasa yang sopan. Chris lebih tua dari kita," lanjut Alex.
"Bukannya aneh memanggil pacar teman sendiri dengan panggilan Pak atau Tuan," celetuk Stefi.
"Uhhhuk... Uhuukkkk..." Alex tersedak mendengar ucapan temannya dan lebih memalukan lagi minumannya muncrat keluar melalui hidung.
" Kau tidak apa-apa?" Chris tampak menepuk nepuk punggung Alex pelan.
" Chris sebenernya umurmu berapa sih?. Kalau aku liat sih kamu ga keliatan tua kok." belum sempat Alex meluruskan kesalahpahaman yang terjadi Stefi sudah mengganti topik pembicaraan.
" Umur kalian berapa?." Tanya Chris balik.
"23 tahun."
" Tambah 10 tahun, itulah umurku."
" Waaaah kau benar-benar terlihat muda, kakak laki-laki ku yang umurnya 27 tahun saja terlihat lebih tua darimu." puji Ratna.
"Kalian ini sudah jangan bicara ngelantur. Ngapain coba bahas umur, satu lagi, siapa yang kalian sebut pacar teman tadi hah!" gerutu Alex. Memang dua temannya ini dari dulu otak dan mulut ga ada saringan sama sekali. Sering sekali seenaknya mereka menjodohkanku ketika aku terlihat dekat dengan pria, dan selalu berakhir tragis dimana pria - pria itu pergi menjauh, karena memang mereka tidak menganggapku lebih dari teman yang bisa dengan mudah di minta tolong.
Please kali ini saja jangan buat aku malu di depan laki-laki yang satu ini. Aku tidak ingin dia menjauh. Belum pernah satu kalipun ada laki-laki yang memperlakukan aku semanis hari ini. Di anggap sebagai teman saja tidak masalah. Bahkan kalaupun hanya di anggap pelayan di restaurant langganan saja juga tidak apa-apa. Harap Alex.
Setelah jamuan makan selesai kami pulang ke tempat masing-masing. Ratna dan Stefi sudah pergi duluan naik taxi yang sama karena rumah mereka searah.
"Aku bisa pulang sendiri kok, tidak jauh juga dari sini. Terima kasih untuk hari ini. Sampai jumpa," ucap Alex mengantisipasi, karena takutnya nanti Chris main nyelonong masuk ke dalam taxi seperti dari stasiun tadi. Bisa-bisa dia di interogasi orang rumah kalau ketahuan di antar laki-laki yang tidak mereka kenal.
" Bukankah tadi sudah ku bilang akulah yang selalu mengucapkan sampai jumpa pada orang lain," ucap Chris masih memegang pintu taxi terbuka. " Tapi baiklah kalau kau tidak mau mengalah. Tapi sebagai gantinya aku anggap kau berhutang padaku, dan akan kutagih nanti. Selamat malam. "Chris menutup pintu taxi dan menatapnya melaju menjauh.
Apa sih,, cuman perkara bilang sampai jumpa juga ribet banget. Memang susah ya bicara dengan orang dewasa. Maunya jadi boss terus. Gumam Alex tapi disusul senyum sumringah karena terlintas kembali kejadian dari stasiun. Bahkan sampai dia pergi tidur pun masih saja senyum melekat di bibirnya. Jadi ini ya rasanya jika perasaan suka mu di balas. Aahhhh Alex sadarlah jangan bermimpi kamu di taksir laki-laki setampan dan sebaik dia. Bisa saja tadi dia hanya kegirangan karena puas menaiki semua wahana di taman bermain. Lagi pula selama ini kan belum pernah sama sekali kau di taksir oleh laki-laki mana pun, bahkan laki-laki yang paling standar sekalipun tak pernah naksir padamu. Alex adu argument dengan batinnya sendiri.
Bukan bagaimana, tapi memang dari dulu Alex tidak memiliki kepercayaan diri dalam bergaul ataupun bersosialisasi. Dia sadar penampilannya bahkan lebih sering di jadikan bahan ejekan. Memang sih setelah dia melepas kawat gigi nya dan juga mengganti kaca mata silinder tebal dengan kontrak lens setelah lulus kuliah kemarin penampilannya jadi berubah drastis. Orang-orang yang dulunya hanya mau bicara dengannya kalau ada perlu mulai menganggapnya teman yang tidak membuat malu untuk di ajak hang out bareng. Tapi tetap saja mental rendah diri Alex tidak berubah. Dia selalu menganggap dirinya adalah itik buruk rupa dan selalu merasa kalau orang - orang menerimanya karena selama ini dia bekerja keras dan selalu membantu yang lain. Hanya stefi dan Ratna yang dulu menerimanya dari sebelum dia berubah menarik seperti sekarang. Walaupun tentu saja orang-orang baru yang di temuinya setelah berubah menjadi angsa, berteman dengan tulus dengannya, tapi rasa tidak percaya diri dan prasangka buruk kalau mereka akan memutuskan pertemanan dengannya jika mereka melihat wajah lamanya pasti akan pergi menjauh dan mengejeknya masih tertanam di dalam otaknya. Sehingga Alex selalu membuat tembok pembatas untuk dirinya sendiri dalam hal bergaul,terutama dengan lawan jenis.
*****Pengumuman ****
Terima kasih atas rate, like, comment dan sarannya, Thor seneng banget. Semoga Thor bisa memperbaiki kekurangan novel ini ya. Masalahnya otak Thor agak lemot, udah baca penjelasan PUEBI di om Google,, tetep aja ini otak nggak ngerti2. Perlu di kasi contoh yang mendetail kayaknya, ada saran nggak ya situs yg bahas PUEBI dan Tata cara penulisan novel yang super lengkap dngn contoh yang seabrek 🤔🤔
__ADS_1