Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Langkah baru...


__ADS_3

Sejak melihat Chris dan Madeline malam itu, Alex menjadi selalu was-was jika berada di luar apartemen. Bahkan saat berada di kampus pun dia di hantui rasa cemas jika tiba-tiba Chris atau Madeline muncul di depannya. Padahal jika dipikir, buat apa coba dua mahkluk itu muncul di kampus.


"Di sini rupanya kamu. Kelas sudah selesai dari tadi, malah masih mendekam di sini," tegur Amel pada Alex yang menikmati istirahat siang di dalam ruang kelas.


"Lagi males, di luar dingin," alasan Alex.


"Belakangan ini susah banget di cari," protes Amel.


Memang sejak saat itu Alex selalu menghabiskan jam istirahatnya di ruang kelas atau perpustakaan kampus. Dirinya bahkan membawa bekal roti atau sandwich, supaya tidak perlu pergi ke kantin.


Bahkan di tempat kerjanya juga dia selalu awas mengawasi pintu masuk untuk melihat setiap tamu yang datang. Tangannya selalu sigap bergerak menutup wajahnya dengan nampan saat sosok yang mirip mereka berdua memasuki Bar.


"Heiiiiii, mikirin apa sih, omongan ku di anggurin!" Amel mengipas wajah Alex dengan buku yang dia ambil di atas meja.


"Hehehe maaf, tadi kamu ngomong apa?"


"Hubungan kamu dengan Ben gimana? Sudah sejauh mana nih,, aku denger-denger dia terus nempel kamu." ucap Amel tersenyum ingin tahu.


Kenapa juga Amel bertanya soal hubungannya dengan Ben? Bukannya sejak awal Amel mengincar Ben?.Apa mungkin karena sekarang dia sudah jadian dengan Ryan, makanya dia tidak tertarik lagi dengan Ben?. Pikiran Alex menerka-nerka apa yang sedang terjadi.


"Males banget ngomong sama patung," gerutu Amel kesal.


"Maaf, maaf, habis aku bingung mau jawab apa, aku dan Ben ya gitu-gitu saja, nggak ada yang spesial. Lagian kan Ben itu incaran kamu," sahut Alex memegang lengan Amel agar kembali duduk.


"Yaaah, bagaimana ya, masa aku ngotot mengejar orang yang sudah jelas-jelas sedang sibuk mengejar yang lain. Capek sendiri, kan?"


"Ben nggak ngejar aku, itu cuman gosip, " jelas Alex.


"Gosip nggak bakalan jadi gosip kalau nggak ada sumber nya. Lagian apa yang kurang dari Ben, awas nanti di sosor yang lain baru nyesel."


Mendengar ucapan Amel tadi, bayangan Ryan terlintas di kepala Alex. Kenapa coba, dia yang muncul, padahal yang sedang di bahas itu Ben, bukan Ryan.


Memang sejak mereka minum di rooftop, Ben semakin sering menghabiskan waktu dengan Alex, dari mulai antar jemput setiap mereka ada jam kuliah yang sama, sampai menjemput ke tempat kerja Alex. Selain itu mereka juga bertemu setiap ada acara bareng grup memancing yang lain. Dan tingkah Ben pun semakin agresif. Seperti saat piknik kemarin Ben tak segan-segan menyuapi Alex dan bersandar manja di bahu Alex di depan yang lainnya. Dia juga tidak menyerah dalam mengundang Alex ke apartemen nya. Alex tentu saja akhirnya berkunjung ke sana, tapi juga bersama teman satu grup mereka,akan tetapi jika hanya berdua saja Alex selalu menolak dengan seribu alasan yang sudah dia siapkan dan hafalkan di luar kepala.


Tentu saja perlakuan spesial Ben sering membuat Alex senang, siapa coba yang tidak suka diperlakukan bak seorang ratu. Namun sampai saat ini Ben tidak pernah meminta Alex untuk menjadi kekasihnya, meskipun cara Ben memperlakukannya seolah-olah mereka memang sedang pacaran, makanya banyak yang salah paham.


"Aku nggak mau terlalu percaya diri, bisa saja memang Ben orangnya baik dengan semua orang," ucap Alex menjelaskan.


"Ya ampun, klise banget jawabannya. Memang kamu lihat dia juga bersikap begitu dengan yang lain?"


Alex tidak bisa menjawab pertanyaan Amel, karena memang apa yang di katakan Amel ada benarnya. Tapi tetap saja kalau belum di tembak berarti belum ada status apa-apa selain pertemanan. Kenapa juga cinta harus membingungkan begini. Belum juga masalah Chris selesai, perasaannya di buat bingung dengan keadaan persahabatan dengan Ryan, sekarang muncul Ben yang sering membuatnya ge-er (gede rasa) sendiri. Masa sih dirinya memiliki perasaan pada 3 pria secara bersamaan. Maruk sekali kamu Lex.


Malamnya Alex bercerita mengenai problematika kehidupan cinta nya pada sahabat-sahabatnya yang berada di sebrang samudra lewat grup panggilan video.

__ADS_1


"Aduh Lex, kenapa coba kamu nggak langsung mepet Ryan waktu baru putus sama si Chris. Kalau aku sih setujunya sama Ryan, soalnya dia itu Baik banget," ucap Ratna.


"Lagian kenapa coba baru sekarang kamu bilang kalau Ryan itu dulu nembak kamu," timpal Stefi.


"Iya nih, meskipun aku nggak kenal si Ryan, tapi dari cerita kamu, sepertinya dia mengerti dan menjaga kamu banget. Tapi ya mau bagaimana lagi, sahabat kita yang satu ini kerja saja yang cepat, tapi kalau urusan cinta, siput aja jauh lebih cepat," sambung Nayla.


" Kalian ini ya, aku minta saran malah di kasi omelan," protes Alex.


Masker di wajah Stefi yang mulai mengering membuatnya susah membuka mulut, dengan Kaku dia berkata," Tapi Lex, sebenarnya apa sih yang membuatmu masih sendiri, padahal kalau mau cari pengganti Chris nggak sulit kok. "


" Aku juga nggak ngerti. Apa mungkin karena aku masih takut melakukan itu," ucap Alex memberi tanda kutip dengan dua jari tangannya.


"Ini nih susahnya Perawan Mencari Cinta," ledek Nayla. Disambut tawa Ratna dan Stefi.


"Bukan itu sih masalahnya Lex, kalau kamu mau, bisa saja dari awal kamu menjelaskan kalau kamu mau menjalani hubungan seperti apa, kalau dia nya mau, ya lanjut, kalau tidak mau, ya cari lagi. " Stefi yang sudah membasuh bersih wajahnya dari masker berkomentar.


" Benar itu kata Stefi, kamu nya saja yang sudah takut duluan. Sekarang Ryan sudah di ambil orang. Bisa jadi si Ben terus ngajak kamu ke apartemen karena dia udah pasang spanduk gede bertuliskan 'Alex Maukah Kamu Jadi Pacarku', terus kamu nya sudah panik duluan, " canda Nayla.


" Aaaaah sudah, ganti topik saja, yang ada kalau nggak di omelin aku di ejek terus dari tadi, "protes Alex kesal.


Mereka mengobrol cukup lama sampai Alex menerima telfon dari Ben yang mengajaknya untuk pergi makan malam di luar.


Awalnya Alex enggan untuk pergi keluar, namun setelah mengingat wejangan dari sahabat-sahabatnya tadi dia memutuskan untuk mencoba mengenal Ben lebih dekat. Bagaimanapun, jika di banding laki-laki lain yang mendekatinya saat ini, Alex merasa lebih nyaman dengan Ben, mungkin karena mereka adalah teman akrab.


Ben tampak gagah dan rapi dengan setelah jas nya. Ini pertama kalinya Alex melihat Ben berpenampilan formal. Biasanya kalaupun dia mengenakan kemeja, sudah pasti lengan nya di gulung sampai siku dan 2 kancing paling atas terbuka.


"Ada hari spesial apa ini?" tanya Alex sambil meluruskan dasi Ben yang agak miring.


"Temanku merayakan ulang tahun di salah satu hotel besar di sini, aku tidak mau datang sendiri," sahut Ben.


"Temanmu? Berarti Beth dan yang lain akan ada di sana juga, kan?"


"Tidak, ini teman lama ku Beth ataupun teman-teman yang lain tidak ada yang mengenalnya," jelas Ben seraya membuka pintu mobil untuk Alex.


"Kamu terlihat sangat cantik malam ini," ucap Ben sebelum menutup pintu mobil.


Alex jadi tersipu malu mendengar pujian Ben, tapi dia tetap bersikap tenang. Pokoknya dia tidak boleh bertindak terlalu jauh, karena Ben masih belum menyatakan perasaannya.


Sesampainya di tempat tujuan Ben menyerahkan lengannya agar Alex bisa melingkarkan tangannya dan kemudian mereka masuk ke dalam.


Suasana pesta sangat meriah dan juga mewah. Rupanya yang berulang tahun menyewa seluruh restoran, khusus untuk perayaan ulang tahunnya.


Ben memperkenalkan Alex pada Joshepine si pemilik acara. Gadis seumuran Ben, namun tingkahnya masih seperti anak-anak, apalagi dengan gaun yang mirip seperti dongeng Cinderella.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun," ucap Alex seraya memeluk dan menempel kan pipi kanan-kiri.


"Terima kasih, wow Ben ini pertama kalinya kamu bawa pacarmu," ucap Joshepine. Ben hanya tertawa.


"Aku harap kalian menikmati pestanya. Tidak, kalian harus menikmati pestanya! Aku permisi dulu ya, ada banyak yang harus ku sapa," ucap Joshepine berlalu pergi.


Malam itu Ben bersikap seperti pria sejati. Dia menarik kursi untuk Alex saat akan duduk atau berdiri. Ben juga memperkenalkannya dengan beberapa orang yang lain, yang sepertinya teman masa kecil Ben. Setiap kali mereka membahas topik kenangan masa kecil mereka, Ben selalu menceritakan keseluruhan cerita pada Alex sehingga dia tidak merasa tersisih sama sekali.


Musik dansa mulai di mainkan, Joshepine turun ke lantai dansa bersama kekasihnya sebagai pasangan pembuka yang kemudian di susul oleh pasangan lainnya.


"Maukah anda berdansa dengan ku?" tanya Ben sembari membungkuk 45 derajat di depan Alex.


Alex tahu Ben yang pecicilan dan selalu bercanda, atau Ben yang terlihat serius dan tegas saat dia mengajar di kampus. Tapi malam ini Alex melihat sisi lain dari Ben. Sisi yang membuat nya tampak gagah tidak hanya dari segi penampilan, tapi juga tindakan.


Di pertengahan musik Ben meletakkan tangan kanan Alex yang tadi di genggamnya ke lehernya , sehingga saat ini kedua tangan Alex melingkar di leher Ben, sementara tangan Ben merengkuh pinggang Alex dan menariknya lembut sehingga jarak di antara mereka semakin dekat.


Biasanya Alex akan menolak, jika mereka berada terlalu dekat, tapi malam ini suasananya terasa berbeda. Apakah malam ini Ben akan menyatakan perasaannya?. Tebak Alex dalam hati. Bagaimana kalau setelah itu Ben menciumnya di lantai dansa ini di depan semua orang, bisa-bisa wajahku merah seperti truk pemadam. Alex sudah jauh menghayal,dan kemudian tersadar karena dia merasa menginjak sesuatu yang ternyata adalah sepatu Ben.


"Maaf, sakit ya?"


"Berat badanmu berapa sih, aku tidak merasakan apapun kalau bukan kamu yang minta maaf. Kamu selama ini makan yang cukup kan?"


"Kau itu mengejek atau memujiku," gerutu Alex. Ben hanya tersenyum lembut dan memandang Alex mesra.


Dan musik dansa yang mengalun pelan serta lembut pun berhenti berganti dengan musik hip-hop yang membuat semua orang turun berdisko ria.


Khayalan Alex di tembak di lantai dansa nan romantis pupus sudah.


"Sepertinya ini acara terakhir, mereka akan menari dan minum sampai pagi, mau pulang sekarang?" tanya Ben.


Alex menjawab dengan anggukan, dia masih sedikit linglung lantaran terhempas dari khayalannya yang sudah sampai langit ketujuh.


Setelah pamit pada Joshepine mereka lalu pergi meninggalkan tempat pesta.


Ketika di dalam mobil Ben memasangkan sabuk pengaman untuk Alex, dan saat mengambil sabuk pengaman di sisi Alex jarak mereka sangat berdekatan seolah mereka akan berciuman. Alex sampai harus menahan nafasnya yang memburu. Mungkin karena dia rindu bagaimana rasanya berciuman, di tambah suasana yang mendukung serta sosok Ben yang terlihat seksi membuat Alex menginginkan ciuman itu. Namun lagi-lagi bayangkan Alex tentang ciuman panas menggelora terhempas jatuh.


"Apa kau menikmati pestanya?" tanya Ben mulai menyetir.


"Ya, aku menikmatinya," sahut Alex sambil mengontrol nafasnya.


"Bagaiman kalau kita lanjutkan pestanya di apartemen ku, hanya kita berdua. Melanjutkan dansa yang tadi di potong."


Ya benar sekali, kita bisa melanjutkannya di apartemenmu dan kita bisa berciuman sepuasnya tanpa harus malu di lihat orang banyak. Begitulah jawaban yang ada di kepala Alex, dan dari mulutnya kata-kata yang keluar adalah, " Ini sudah terlalu larut, aku pulang saja."

__ADS_1


Entah karena pengaruh minuman dan perlakuan Ben yang bak pria sejati memperlakukannya kekasihnya membuat Alex jadi sedikit bergairah. Sayangnya Ben masih menggantung status mereka, sehingga Alex tidak mau bertindak lebih jauh dan memilih menahan diri. Walaupun bisa saja Ben menyatakan perasaannya di apartemen lalu mengantarnya pulang, tapi sepertinya malam ini cukup sampai di sini. Alex merasa dia sudah cukup membuka diri.


__ADS_2