
"Aleeeexxxx!!!"teriak Stefi dan Ratna berbarengan membuat semua mata tertuju pada mereka. Tanpa menghiraukan semua tatapan orang, mereka berlari kecil ke meja tempat Alex dan Ryan mengobrol.
" Hampir sejam nih kita nungguin kalian." protes Alex. Dia sudah mewanti-wanti sahabatnya untuk tidak telat karena dia juga ada janji dengan Chris.
"Maaf,, nih gara-gara nungguin si Stefi." ucap Ratna melempar kesalahan.
"Aku udah selesaikan semua tugasku dari tadi, eh malah atasanku kasi tugas lagi, makanya telat deh, maaf ya."
"Sudah-sudah, kalian duduk aku ambilin es krim ya, yang biasa kan." Ryan berdiri dari tempatnya duduk.
"Eh nanti aja, kita ngegossip dulu, soalnya kan ga banyak waktunya. Es krim masih bisa nanti habis kita gosip-gosip." Ratna menahan Ryan yang sudah beranjak berdiri.
"Ryan udah tahu semuanya kali, kalian pikir kita sejam nungguin kalian diem aja gitu nggak ngobrol apa-apa. Sana bantuin pegawaimu. Mereka nggak usah di kasi es krim." ucap Alex bohong. Alex tahu mengambil es krim hanya alasan Ryan untuk pergi.
Bagaimanapun tegarnya Ryan menerima kenyataan bahwa Alex lebih memilih Chris, tetap saja akan menyakitkan untuk berpura-pura bahagia di depan Ratna dan Stefi yang sudah pasti akan meminta Alex menceritakan semua kejadian secara mendetail.
"Wah ternyata selama ini kita sudah berburuk sangka ya?" sesal Ratna.
"Apa kita perlu minta maaf ya?" timpal Stefi.
"Kalian jangan berlebihan deh. Udah ya aku harus pergi nih." ucap Alex pamit, tapi di tahan oleh keduanya.
"Kita belum puas, ceritain lagi, pasti ada beberapa adegan yang terlewat kan." pinta Ratna.
"Siapa suruh telat, udah ah aku harus siap-siap nih, kan mau kencan." ucap Alex menolak permintaan kedua sahabatnya. Dia melambai pamit pada Ryan yang tengah sibuk melayani pembeli. Sejak Ryan membantu usaha es krim orang tuanya banyak sekali gadis-gadis yang datang untuk membeli es krim untuk melihat Ryan. Bahkan ada yang terang-terangan minta foto bareng. Rasa bersalah Alex jadi sedikit reda, melihat Ryan yang dikelilingi banyak wanita. Pasti akan mudah baginya mencari penggantiku,begitulah pikir Alex.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depannya ketika Alex hendak menuju pangkalan taxi di depan Mall.
"Masuk!" perintah Chris tegas ketika kaca mobil terbuka.
Alex tampak terkejut karena seharusnya jam ketemuan mereka masih 2 jam lagi dan itu pun di rumah, bukannya sekarang di Mall lagi. Bagaimana Chris tahu dirinya di sini?. Alex tidak memberi tahu orang rumah kemana dia pergi. Dia hanya bilang pergi dengan teman-temannya.
"Ini kita mau kemana? Kenapa kamu datangnya sekarang, kok tahu aku ada di Mall, kita janjiannya kan nanti jam 1 siang, kenapa sekarang sudah di jemput. Antar aku pulang dulu." cerocos Alex.
"Kenapa harus menunggu 2 jam lagi kalau sudah bertemu sekarang, supaya kamu bisa ketemu cowok lain lagi." gerutu Chris kesal.
"Maksudmu?" tanya Alex bingung. Kini dia melihat ada raut kesal di wajah Chris yang tadinya hanya datar.
"Masih bertanya, bukankah tadi kalian asyik saling suap es krim, kenapa juga dia membelai rambutmu. Hanya aku yang boleh melakukannya mengerti." ucap Chris masih dengan tampang kesal.
Alex yang mendengar ucapan Chris tidak bisa menahan tawa mengetahui kesalah pahaman yang terjadi dan kemudian mencoba menjelaskan," Itu Ryan, dia temanku tadi dia hanya mengucapkan selamat atas hubungan kita."
Alex hanya menjelaskan sebagian saja, karena dia tidak mau ambil resiko jika nanti seumpama Chris emosi dan menantang Ryan . Dia sendiri belum mengenal Chris sepenuhnya.
"Jangan bohong padaku."
"Hey Tuan, pakai otak cerdasmu untuk berpikir, mana mungkin aku menemui selingkuhanku bersama Ratna dan Stefi."
"Jadi tadi mereka juga di sana?" Chris malah bertanya balik.
"Makanya lain kali kalau mau jadi mata-mata jangan setengah-setengah,mereka bertiga ngotot ingin bertemu karena ingin mendengar berita bahagia dari kita." omel Alex.
Tadi memang Chris melihat sebatas Alex yang bergantian menyuapi pria yang tak dikenalnya itu, lalu kemudian Chris menerima panggilan telfon kalau tamu pentingnya sudah sampai di restoran Black Grill yang terletak di Mall.
" Tetap saja walaupun teman, lain kali tidak boleh ada yang menyuapi mu selain aku." ancam Chris,"dan kalau kalian sedekat itu harusnya kamu perkenalan teman pria mu itu padaku." tambahnya.
__ADS_1
"Mau nya sih begitu, tapi besok dia sudah balik ke negara TY, cuti kuliahnya sudah selesai. Kalau mau kamu bisa ikut ke airport besok, aku Ratna dan Stefi akan ke sana. " jelas Alex. "Ngomong-ngomong ini kita mau kemana, sepertinya rumahku sudah jauh sekali."
"Kita akan ke apartemen ku, kamu sendiri yang bilang kita harus saling mengenal lebih jauh kan. Jadi kupikir kita mulai dari apartemen ku."
Mata Alex membelalak lebar saat tahu tujuan mereka.
"Kenapa?. Kamu tidak mau?" tanya Chris yang tidak bisa menebak ekspresi yang di tunjukkan kekasihnya.
"Siapa yang tidak mau, aku senang sekali, tapi aku tidak mau perlihatkan padamu aku terlalu senang. Nanti kamu mikir yang aneh-aneh." ucap Alex. Selama ini dia hanya tahu Chris adalah pemilik restoran Black Grill dan dia kaya, itu saja. Mengetahui dimana dia tinggal adalah langkah awal dari pengenalan lebih dalam dan Alex merasa senang. Hal ini sedikit meredakan pemikirannya yang selalu menganggap dirinya hanya wanita mainan di mata Chris.
"Kamu yakin hanya aku saja yang memikirkan hal yang aneh-aneh." goda Chris mengingat Alex lah yang menciumnya terlebih dulu semalam.
Mendengar itu Alex menutup wajahnya malu.
Apartemen Chris terletak di kota sebelah, tapi tidak terlalu jauh karena lokasinya tepat di perbatasan. Apartemen mewah yang memiliki fasilitas lengkap dari mulai gym, kolam renang, restoran, bahkan Mall dan juga private beach. Untuk masuk wilayah apartemen saja kamu harus menunjukkan sebuah kartu berwarna gold pada petugas keamanan yang kemudian men-scan kartu itu agar gerbang terbuka secara otomatis.
"Jadi tanpa kartu itu tak ada yang boleh masuk, meskipun mereka hanya ingin makan di Restoran sini atau belanja di Mall nya?" tanya Alex penasaran. Apartemen ter-mewah yang pernah di kunjunginya adalah milik Tante Laura adik ibunya, gerbang masuknya selalu terbuka dan petugas yang menjaga gerbang ke seringan tidur setiap Alex berkunjung kesana,jika di bandingkan dengan milik Chris bagai bumi dan matahari.
"Semua fasilitas di sini khusus di bangun untuk pemilik apartemen dan tamu mereka."jawab Chris.
" Cih memangnya sepenting apa sih penghuni di sini sampai di buatkan Mall pribadi." gerutu Alex tapi wajahnya menunjukkan muka takjub.
" Kebanyakan sih wanita simpanan Pejabat atau orang penting, selebihnya hanya di jadi kan tempat singgah konglomerat dunia. Mereka membeli tempat seperti ini di negara manapun jadi gampang untuk mereka mengadakan pesta tanpa di ketahui orang kebanyakan." Chris menjelaskan secara mendetail.
" Apa?!! "teriak Alex kaget." Terus kamu tinggal di sini juga untuk itu?, supaya bisa gonta ganti cewek tiap hari dan selama ini mereka pikir kamu itu setia sama mereka gitu?, atau supaya bisa tebar pesona di depan para wanita simpanan itu? "Alex jadi emosi,ternyata tempat yang bagaikan hotel bintang tujuh ini tidak seindah tampilannya.
Chris tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Alex, sambil mencubit pipinya yang mengembung karena cemberut dia berkata," Kenapa sekarang kamu yang sepertinya salah paham. Aku tidak pernah membawa wanita manapun kesini selain Madeline, itu pun karena urusan pekerjaan."
Mobil yang dikendarai mereka berdua berhenti di depan bangunan tinggi nan megah. Seorang pria berseragam membukakan pintu mobil untuk Alex dan kemudian menerima kunci mobil dari tangan Chris untuk di parkirkan di tempatnya. Kemudian Chris mengajak Alex menuju elevator dimana pintunya baru akan terbuka setelah kau meletakkan kartu gold tadi di sensor pemindai. Di dalam elevator berdiri seorang petugas dengan seragam yang sama dengan yang membukakan Alex pintu mobil. Tanpa ada percakapan apa-apa petugas itu mengangguk dan tersenyum pada mereka berdua kemudian menekan tombol nomer 17.
Apa dia harus mengingatkan semua penghuni di sini. Wah ternyata biarpun cuma penjaga elevator lumayan sulit juga ya. Bayangkan saja betap luasnya gedung ini dan berapa angka dan wajah yang harus dia ingat. Pikir Alex dalam hati.
Chris menempelkan kartu emasnya ke alat pemindai di gagang pintu lalu dia membuka pintu dan mengajak Alex yang masih bengong untuk masuk.
Apartemen tantenya sendiri memiliki 5 penghuni di satu lantainya dan bahkan gedungnya tidak seluas gedung ini,dan itu pun sudah termasuk 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, dapur, ruang tamu, dan kamar pembantu. Alex tak bisa membayangkan apa saja yang ada di dalam apartemen Chris.
"Selamat siang Tuan, saya baru saja akan menyiapkan makan siang." seorang wanita umur 40-an datang menyambut mereka.
"Terima kasih Bi Ina, kenalkan ini Alex kekasihku. Alex kamu mau makan apa?" tanya Chris langsung merangkul dan membelai kepala Alex yang kemudian salah tingkah.
"Apa saja,, apa perlu aku bantu Bi?"
"Tidak usah Non, terima kasih." jawab Bi Ina sopan lalu pergi untuk menyiapkan makan siang.
"Kenapa malah mau kabur ke dapur dengan Bibi. Kamu itu milikku dan harus selalu di sisiku mengerti." perintah Chris yang kemudian mengajak Alex berkeliling apartemennya yang ternyata memiliki gym dan kolam renang di dalamnya,ruang kerjanya saja seluas bangunan rumah Alex dan itu termasuk ruangan yang paling kecil di antara ruangan lainnya.
Selesai makan siang mereka duduk mengobrol dan menonton di ruang cinema yang memiliki mesin pembuat popcorn,dan Bar yang lengkap berisikan berbagai jenis minuman. Saat hari menjelang sore mereka berjalan di Pantai yang pengunjungnya bisa di hitung dengan sebelah jari tangan. Biarpun Alex terkurung seharian di tempat itu dia tidak merasa bosan karena memang semua fasilitasnya lengkap dan lagi dia bersama Chris. Mereka menghabiskan waktu mereka di pantai sambil melihat matahari terbenam.
"Kamu mau mandi di kamarku atau kamar tamu?" tanya Chris saat mereka kembali dari pantai karena hari sudah mulai gelap.
"Kamar tamu." sahut Alex cepat. Dia tidak mau berpikir lama-lama, nanti hati kecilnya menyabotase otaknya lagi seperti kemarin.
"Baiklah akan kusuruh Bibi menyiapkan kamarmu." Chris lalu memanggil Bi Ina untuk menyiapkan kamar yang akan di pakai mandi oleh Alex.
Hanya perlu waktu 5 menit dan Chris mengajak Alex menuju kamar di sebelah kamar utama.
__ADS_1
"Masuklah, setelah mandi kita makan malam." ucap Chris membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Alex masuk.
Di dalam kamar yang luas itu Alex melihat sebuah dress kasual berwarna pink kalem dari bahan katun yang lembut terletak di atas tempat tidur beserta pakaian dalam berwarna sama di sebelahnya. Alex malu sendiri melihatnya, memikirkan Chris yang tengah membeli semua ini untuknya. Meskipun dia tahu sendiri kemungkinan besar Chris membelinya secara online atau mungkin menyuruh butik langganannya untuk menyiapkan semua.
Alex meminta Bi Ina untuk makan malam bersama mereka, meski awalnya di tolak, akhirnya Bi Ina menurut ketika Chris yang menyuruhnya bergabung. Sesekali Alex bertanya soal Chris pada Bi Ina. Ternyata Bi Ina sendiri tidak tahu kalau Chris sudah mengencani banyak wanita selama ini, karena memang dia tidak pernah membawa wanita lain selain Alex dan tentu saja Madeline, tapi hanya Alex lah yang di perkenalan Chris sebagai kekasihnya. Chris memang tidak sering membawa siapa pun pulang ke apartemen nya, begitu juga teman-temannya. Dia lebih memilih untuk bertemu di luar, dan hanya mengijinkan mereka datang ke rumah jika memang untuk urusan mendesak dan itu sangat jarang terjadi.
Alex jadi mengetahui sisi lembut Chris. Ternyata dia sering memberi libur pada Bi Ina untuk pulang bertemu keluarganya dan juga selalu memberi bonus yang cukup besar. Kalau bukan karena Bi Ina merasa dia harus menjaga Chris seperti anaknya sendiri dia sudah dari dulu bisa berhenti bekerja karena dengan gaji dan bonus yang Chris berikan dia bisa hidup berkecukupan karena memiliki usaha kue dan sawah yang luas di kampung yang saat ini di kelola anak-anaknya.
"Aku tidak akan mengantarmu pulang." ucap Chris yang memeluk erat Alex yang saat ini bersandar di pangkuannya. Mereka sedang menikmati alunan musik di depan perapian di ruang keluarga.
"Kamu mau menculikku ya, mengajak anak gadis orang menginap tanpa minta ijin orang tua nya."
Chris kemudian meraih ponsel yang tadi dia letakkan di meja di depan sofa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Alex
"Menghubungi orang tuamu tentu saja." sahut Chris santai.
Alex dengan cepat merebut ponsel dari tangan Chris. Tadi siang saat dalam perjalanan kemari Alex mengirim pesan pada ibunya kalau dia akan pergi main ke rumah Stefi setelah jalan-jalan bareng yang lain karena Stefi sedang libur. Akan ketahuan nanti kalau dia berbohong jika Chris menghubungi orang tuanya sekarang. Bukannya ingin jadi anak durhaka seperti Malin Kundang, tapi Alex masih belum merasa yakin untuk memperkenalkan Chris sebagai kekasihnya saat ini,dan dia tidak ingin membuat orang rumah panik kalau seharian ini dia bersama laki-laki. Meskipun umurnya bisa di bilang cukup dewasa untuk melakukan apapun, tetap saja Alex merasa apa yang dia lakukan salah sehingga dia memilih untuk berbohong.
"Tidak usah menghubungi siapa pun, aku sendiri yang akan memberi tahu orang tuaku." ucap Alex yang menggenggam erat ponsel Chris karena pria itu berusaha mengambilnya kembali.
"Terserah apa katamu Ratu kecil ku, yang jelas malam ini kau milikku." Chris tak lagi berusaha merebut ponselnya, tangannya beralih memeluk Alex dan mencium pipinya mesra dari belakang.
Alex yang baru sadar akan perkataannya sudah tidak bisa berkutik lagi. Chris memeluk erat dirinya dan merebahkan kepalanya di bahu Alex menyenandungkan lagu yang sedang di putar sambil bergerak ke kanan dan kiri mengikuti irama lagu. Alex menahan senyum melihat tingkah konyol Chris. Sepertinya kali ini dia harus berbohong lagi pada orang tuanya, tapi sebelumnya dia harus meminta bantuan Stefi untuk bekerja sama.
"Tapi Chris aku tidak akan tidur di kamarmu." tegas Alex yang saat ini sudah duduk memutar berhadapan dengan Chris.
"Tenang saja aku juga tidak akan tidur di kamarku." ucap Chris yang sibuk mendaratkan ciuman lembut sebanyak banyaknya ke leher Alex.
"Apa maksudmu? Aku tidak akan mengijinkanmu masuk ke kamarku." Alex menarik wajah Chris dari lehernya dan menatapnya tegas. Dia tidak ingin Chris berpikir terlalu jauh hanya karena dirinya setuju untuk bermalam di sini.
"Kita akan menonton semalaman sampai besok" ucap Chris bersorak seperti anak kecil yang di ijinkan makan es krim sepuasnya. "Tenang saja belahan jiwaku, aku tidak akan berbuat sesuatu yang tidak kau inginkan." jelas Chris mencolek hidung Alex.
Meskipun akan sangat berat menahan diri, tapi Chris akan memegang kata-katanya karena dia tidak ingin kehilangan wanita yang sangat di cintainya. Entah sejak kapan dia manjadi setergila-gila ini pada seorang wanita. Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dulu dia memperlakukan wanita layaknya pakaian yang akan dia pakai kapan pun dia mau dan membuangnya jika dia bosan lalu mencari yang baru. Apa mungkin dia seperti ini karena Alex adalah wanita pertama yang memberi penolakan padanya,lalu apakah perasaan cintanya tetap sebesar ini jika Alex sudah sepenuhnya jadi miliknya?.
"Apa yang kau pikiran Chris?" tanya Alex membuyarkan lamunan Chris. Alex merasa tadi tatapan Chris padanya adalah tatapan ragu dan bimbang. Apa yang tadi sedang di pikirkan Chris?. Batin Alex dalam hati.
"Aku sedang berpikir haruskah aku membuat mu tidur cepat sehingga aku bisa melakukan yang ku inginkan." ucap Chris di barengi tawa bercanda.
"Chriiiiiiisssss" teriak Alex kesal.
"Aku bercanda,, jangan khawatir." ucap Chris yang langsung mendekap kepala Alex ke dadanya.
Setelah puas mengobrol dan bercanda di ruang keluarga Chris menggendong Alex menuju Ruang Cinema tempat mereka akan menghabiskan sisa malam ini dengan menonton film. Bi Ina sudah menyiapkan selimut dan semangkok besar popcorn di meja samping. Sofa di ruangan ini bentuknya seperti perpaduan antara sofa dan tempat tidur. Sandarannya seperti sofa, tapi dudukannya panjang sehingga kau bisa meluruskan kakimu. Chris menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, tangan kirinya berada di atas lengan sofa dan tangan kanannya memeluk Alex yang duduk di pangkuannya dengan kaki yang juga di selonjorkan. Kepala Alex bersandar di dada Chris dengan santainya sambil menikmati semangkuk besar popcorn yang dia letakkan di pangkuannya. Sekali-sekali dia mengangkat tangan melampaui kepalanya sendiri untuk menyuapi Chris popcorn. Belum selesai satu film dia sudah tertidur pulas. Dengan pelan Chris memindahkannya ke samping dan membaringkan kepalanya di atas bantal kemudian menyelimutinya.
"Untunglah kau cepat tertidur gadis kecil ku. Kau tak tahu betapa susahnya mengontrol diri dengan kau di pangkuan ku." bisik Chris kemudian mengecup kening Alex. Selanjutnya Chris melanjutkan menonton sambil terus meminum whiskey agar dirinya mabuk dan cepat tertidur sehingga dia tidak mencoba melakukan hal yang tidak dinginkan Alex. Dan berhasil, setelah menghabiskan keseluruhan isi botol dia mendengkur lembut masih dengan posisi bersandar.
Saat mendengar suara dengkuran, Alex membuka kedua matanya. Ya benar sekali, tadi itu dia hanya pura-pura tertidur. Dia ingin tahu apakah Chris benar-benar menjaga ucapannya,dan ternyata dia membuktikannya. Untung saja tadi dia berhasil menahan dirinya saat Chris berbisik di telinganya yang sangat sensitif dengan sentuhan bibir Chris.
Dengan pelan dan sekuat tenaga Alex merebahkan badan Chris. Karena jika dia bersandar tidur sampai pagi, bisa-bisa seluruh badannya sakit saat bangun nanti.
"Terima kasih sudah menjaga ucapanmu Chris. Kalau begini sepertinya hatiku semakin ingin menyerahkan diriku secepatnya. Tapi kuharap kau bisa lebih bersabar." kali ini giliran Alex yang berbisik di telinga Chris. Dia lalu merebahkan dirinya di sebelah Chris dan tidur dengan tenang di bawah selimut yang sama.
******Pengumuman****
__ADS_1
Maaf ya Satu episode isinya cuman satu hari kencan mereka doang. Habisnya Thor ingin menceritakan nya secara mendetail 😅😅, maaf Kalo alur ceritanya jadi lambat.
Terima kasih atas support nya ya, jangan lupa, like, comment dan vote Kalo tidak merepotkan 😁😁