
Aaaaahhhjjj bagaimana ini, aku benar-benar tidak ingin masuk kerja hari ini. Bagaimana kalau aku bakal lihat mereka mesra-mesraan. Biarpun kemarin sudah senang-senang bareng Ratna dan Stefi, sepertinya itu tidak begitu membantu sekarang. Gerutu Alex dalam hati.
Semoga saja mereka sudah di sana pagi ini, jadi aku tidak perlu bertemu mereka sore nanti. Alex berguling-guling di tempat tidur nya untuk menghilangkan perasaan panik dan kesal.
Hari ini atasannya, Bu Madeline akan kembali kerja setelah kembali dari tugas bisnis luar negri. Sebenarnya bukan Bu Madeline masalahnya, tapi Chris si bos besar. Alex tidak ingin bertemu dengannya, hatinya masih sakit dan dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Dengan langkah gontai sore itu Alex berangkat kerja, berharap kalau dia tidak akan bertemu Bu Madeline ataupun Chris. Sayangnya harapannya sia-sia karena Bu Madeline juga kerja jam sore. Yang lebih menyebalkan lagi wajahnya tampak berseri bahagia seperti orang yang sedang jatuh cinta. Alhasil banyak staff yang menggodanya, terutama para senior yang memang tahu hubungannya dengan Chris sebelumnya.
Bu Madeline menyuruh semua staff kerja sore untuk kumpul di kantornya karena ada pengumuman yang akan di sampaikan. Lagi-lagi Alex berharap kalau dia sibuk melayani tamu agar tidak harus ikut, tapi sayangnya jam kerja staff pagi belum selesai, jadi mereka yang melayani tamu selama staff sore mendengarkan pengumuman.
"Terima kasih sudah berkumpul di sini. Langsung saja saya sampaikan, ada berita bahagia untuk kita semua. Kerena Chris sangat puas dengan hasil kerja kita minggu depan kita akan mengadakan perayaan untuk keberhasilan kita sebagai tim. Restoran akan tutup senin depan dan kita akan bersenang-senang di pantai, tentu saja akan ada makanan dan permainan yang seru, " ucap Bu Madeline disambut sorakan bahagia semua staff, kecuali Alex yang hanya bertepuk tangan dan memasang senyum palsu.
"Baiklah itu saja yang saya sampaikan, semoga ini bisa memotifasi kalian semua untuk mencapai hasil yang lebih dan lebih lagi. Kalian bisa kembali bekerja."
Hari itu semua staff hanya membalas 2 hal, pesta staff dan kemungkinan kembali nya Bu Madeline dan Chris menjadi sepasang kekasih. Tak satupun dari dua topik itu di sukai Alex, parahnya dia hari ini satu tim dengan Naila yang tak berhenti berkicau mengenai dua hal itu.
"Jane cerita kan padaku dong, bagaimana gaya pacaran mereka dulu, pasti romantis ya, secara ngeliat mereka makan dan ngobrol di sini hampir tiap hari aja udah bikin baper." tanya Naila pada Jane. Meja bagian mereka baru saja di tinggalkan para tamu jadi sekarang mereka bisa mengobrol sambil membersihkan meja-meja bagian mereka. Alex ingin menghindar dari obrolan, tapi mereka satu tim, jadi mau tidak mau dia harus berada di sana juga membersihkan meja.
"Bagaimana ya, mereka tidak terlalu menunjukkannya di tempat kerja, tapi bisa di lihat kalau Bu Madeline yang lebih agresif dan dia selalu yang terlihat lebih mesra di banding Tuan Chris kalau di depan umum. Tapi kata rekanku dulu, katanya Bu Madeline pernah cerita ke dia kalau Tuan Chris itu romantis banget kalau lagi berdua saja, apalagi kalau urusan ranjang, " jelas Jane.
Naila memekik tertahan mendengar jawaban Jane seolah-olah kepalanya sedang membayangkan sesuatu.
"Pastilah Bu Madeline lebih agresif di depan umum, biar semua orang tahu kalo pria idaman semua wanita itu miliknya, " ucap Naila geli masih membayangkan yang bukan-bukan. "Lex kamu hari ini kenapa sih kok kayaknya nggak ada hasrat buat kerja."
"Hasrat buat kerja sih ada, tapi lagi males aja sama sesuatu hal, " sahutnya datar sambil terus menggosok meja.
"Lex ini meja kayaknya bisa jadi tipis kamu gosok dengan semangat gitu, " ucap Jane yang melihat Alex mengelap meja dengan menggebu-gebu.
Mau bagaimana lagi, dirinya kesal sekali, kemana pun dia pergi selalu saja yang jadi topik pasangan lama yang bersatu kembali. "Lex kamu bisa temani saya ke Pantai S sekarang, saya harus mengecek dulu sebelum memesannya untuk acara Senin depan." perintah Bu Madeline.
Alex hanya bengong menatap kosong, masih memegang lap yang dia pakai menggosok meja.
Ya Tuhan cobaan apa lagi yang kau turunkan pada hambamu ini. Nggak segini juga kali kasi cobaan di rapel sehari. Jangan-jangan nanti dia bakal ketemu Chris di sana terus jadi obat nyamuk. Ini sih namanya takdir ngajak dia berantem.
"Lex, sana ganti baju dulu, saya tunggu di pos security ya. Jangan lama-lama, " perintah Bu Madeline lalu berlalu meninggalkan Alex yang masih meratapi nasibnya.
Dengan malas tapi cepat (nah lho gimana tuh maksudnya) Alex mengganti seragamnya. Memang sudah menjadi peraruran di Paradiso kalau staff tidak boleh keluar area memakai baju seragam.
Hanya perlu waktu lima belas menit untuk menuju pantai yang di maksud, tapi suasana dalam perjalanan terasa kikuk. Setelah urusan pantai selesai Madeline tidak langsung membawa Alex kembali ke restoran, tapi mereka singgah ke sebuah Cafe.
"Nggak terlalu sibuk kan di restoran, mampir bentar ya, " ucap Madeline.
"Iya Bu, " sahut Alex singkat.
Barista yang melayani pesanan mereka berbincang dengan Madeline saat dia memesankan minuman di counter.
"Ternyata masih ada yang ingat saya, padahal sudah setahun lebih. Dulu saya sering kesini dengan Chris." Madeline menjelaskan tanpa Alex bertanya.
Alex tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan atasannya, jadi dia hanya tersenyum simpul.
"Kamu kok diem banget dari tadi, nggak suka ya saya ajak kesini?"
"Bukan begitu Bu, saya hanya sedikit canggung, nggak tahu harus ngobrol gimana."
"Dasar kamu ini, tapi saya suka sih, makanya saya ajak kamu, ketimbang Naila, bisa-bisa saya di interogasi habis-habisan." Bu Madeline tertawa. "Sebenernya sih saya ajak kamu karena saya mau curhat sedikit."
"Curhat Bu?. Tapi saya nggak pinter kasi nasehat atau masukan Bu, mending yang lain, " sahut Alex gugup, entah kenapa dia merasa enggan membina hubungan yang lebih dari atasan dengan bawahan.
"Kamu dengerin aja cukup kok, nggak tahu kenapa kayaknya ngobrol sama kamu lebih sreg ketimbang anak-anak yang lain, mereka terlalu rame menurut Saya, " ucap Bu Madeline dibarengi tawa ramah.
"Lex, menurut kamu apa artinya kalau mantanmu tidak mengganti kunci apartment yang mana kamu masih pegang kunci duplikatnya?" tanya Bu Madeline.
Entah kenapa perut Alex merasa bergejolah seolah ada ombak besar bersahut sahutan silih berganti. Memang tidak di sebut siapa yang diceritakan, tapi Alex langsung teringat Chris. Hatinya kembali terasa perih, tapi untungnya kali ini matanya bisa di ajak kompromi, atau mungkin juga karena stok air matanya sudah habis lantaran seminggu belakangan dia terus menangis.
" Gimana ya Bu, soalnya saya belum pernah pacaran, mungkin mantan ibu masih membuka hatinya untuk Ibu, " jawab Alex sekedarnya.
__ADS_1
"Aku pikir juga begitu, soalnya kemarin setiap urusan kerja selesai kita pergi mengunjungi tempat-tempat yang dulu kita sering kunjungi, dan dia masih ingat tempat favoritku."Bu Madeline tersenyum bahagia sementara Alex berusaha keras untuk tersenyum. Kini jelas sudah kalau mantan yang di maksud Chris.
Sepanjang perjalanan kembali ke restoran Bu Madeline bercerita tentang perjalanan bisnis mereka yang menyenangkan seolah mereka sedang merayakan hari jadi mereka dengan mengunjungi tiap tempat yang dulu mereka kunjungi saat berpacaran. Alex kebanyakan menjawab dengan anggukan setuju atau tawa kecil seakan dia ikut berbahagia untuk mereka.
************
Seminggu yang lalu di negara PP.
Pukul empat dini hari pesawat jet pribadi yang di naiki Chris dan Madeline mendarat di airpot disambut oleh seorang pria seumuran Chris yang memakai setelan jas rapi.
"Seharusnya kau cukup kirim supirmu untuk menjemput kami John, " ucap Chris pada pria itu.
"Tidak apa-apa Tuan, kita bisa membahas sedikit pekerjaan selama perjalanan anda ke hotel, " sahut John .
"Tidak bisakah kita istirahat dulu, bukankah pertemuannya masih lusa." saran Madeline. Dia sedikit kesal karena seharusnya mereka baru berangkat besok pagi, tapi tengah malam kemarin tiba-tiba Chris menghubunginya dan menyuruhnya bersiap-siap. Padahal hari ini dia sudah ada janji dengan salon langganannya untuk perawatan dari rambut sampai ujung kaki, agar Chris terpesona melihatnya.
"Semakin cepat kita membahasnya semakin baik dan kita bisa memikirkan beberapa opsi sebagai rencana cadangan." Chris membenarkan ucapan John.
Madeline tidak tahu apa yang terjadi, awalnya Chris lah yang bersikeras untuk berangkat lusa, tepat di hari pertemuan berlangsung, dan tiba-tiba dia memajukan jadwal seenak hati. Terlebih lagi dia terlihat gusar dan memikirkan sesuatu. Tidak mungkin urusan kerja kali ini yang membuatnya seperti itu. Sesusah apapun urusan bisnisnya dia selalu tahu cara mengatasinya, dan sebelum ini dia sudah menghadapi banyak masalah yang lebih besar dan sulit. Madeline benar-benar ingin tahu apa yang terjadi, siapa tahu ini bisa menjadi cara untuk membuat Chris kembali pada nya.
"Jadi perusahaan kayu Bois de Teck, mencoba menghasut penduduk sekitar agar memboikot pembangunan restoran kita?" tanya Chris pada John.
"Benar sekali, mereka menggunakan masalah pemanasan global yang memang saat ini menjadi pusat perhatian di negara ini."
"Tapi tanah itu bukanlah lahan hijau yang di lindungi, itu tanah milik pribadi, berani-beraninya mereka membuat masalah dengan ku, " ucap Chris geram.
Sebenarnya dia lebih memikirkan masalah yang dia buat pada Alex ketimbang masalah pekerjaan, berkali-kali dia melihat ponselnya berharap ada pesan dari Alex.
" Apa kau sudah selidiki semua yang kusuruh? " tanya Chris pada John.
" Semua sudah saya letakkan di meja kamar hotel anda Tuan, " jawab John berbarengan dengan tibanya mereka di hotel bintang 5 yang bangunannya mewah bak kerajaan kuno, tapi dengan fasilitas modern.
" Berikan kunci kamar ku, kau antar Madeline ke kamar nya, "perintah Chris pada John." Istirahatlah sebentar dan temui aku di kamar sejam lagi, "perintahnya pada Madeline.
Madeline tersenyum senang mendengar ucapan Chris yang terdengar seperti ajakan kencan. Begitu sampai di kamar dia langsung berendam dengan air hangat yang ditetesi aroma therapy. Dia memilih pakaian yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Setelah selesai berdandan dia segera menuju kamar Chris yang dua lantai di atas kamarnya. Kamar VIP yang sebenarnya lebih tepat di sebut apartment super mewah. Dia sudah memasang senyum menggoda ketika mendengar suara pintu membuka dan berapa terkejutnya dia ketika melihat sosok di balik pintu.
Ternyata dia masih saja mencoba mendekati Tuan Chris. Gigih juga dia, padahal sudah setahun lebih hubungan mereka berakhir. Harusnya dia sadar usahanya sia-sia. Kalau bukan karena cara kerjamu yang lumayan sudah tentu kau tak akan ada kesempatan berada di dekatnya sedikit pun. Ucap John dalam hati.
Madeline yang tampak kesal tapi juga malu masuk dan langsung menemui Chris yang tengah duduk di ruang kerja.
Chris langsung menyuruh Madeline duduk dan memanggil John untuk bergabung dengan mereka.
"Ini adalah daftar penduduk yang harus kalian temui, mereka adalah yang paling keras menyuarakan protes pada restoran yang akan aku bangun. Tugas kalian adalah mencari tahu tujuan mereka sebenarnya, mengapa mereka memihak musuhku, "ucap Chris sambil menyerahkan kertas berisi kan daftar yang di maksud.
Meskipun tidak suka, mau tidak mau Madeline harus melakukan tugas yang di berikan. Ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan tugas begini, berkat hobby nya bermain drama di teater semasa kuliah dulu, dia bisa dengan mudah dekat dan mendapatkan informasi dengan orang asing sekalipun.
Setelah keduanya pergi meninggalkan kamar Chris melempar dirinya ke atas ranjang. Dilihatnya kembali ponselnya.
Pesan dari Alex masih tidak ada. Apa mungkin dia harus menghubungi lebih dulu?. Tapi apa yang harus di ucapkan. Dia tidak pernah berada dalam posisi ini sebelumnya. Dia bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan meskipun dia baru semalam bertemu dengan wanita itu. Bagaimana kalau Alex sangat marah dan membenci dirinya dan tidak mau bertemu dengannya lagi. Ketakutannya semakin membuatnya gusar.
************
Besok adalah hari pertemuannya dengan pemilik perusahaan kayu Bois de Teck. Madeline dan John sudah menyelesaikan tugas mereka tepat waktu. Madeline bahkan berhasil menjadi teman dengan beberapa orang dalam daftar penyelidikan. Kemampuannya mengambil hati orang tidak usah di ragukan lagi.
John pergi meninggalkan kamar Chris lebih dulu karena ada beberapa persiapan yang harus dia lakukan untuk besok.
"Chris bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan dan makan malam di luar, sudah lama aku tidak liburan, toh semua persiapan sudah selesai dan besok sudah pasti musuh akan menyerah, " ucap Chris dengan nada lembut.
"Baiklah, karena kau sudah melakukan tugas dengan baik, ayo kita keluar." Chris mengabulkan permintaan Madeline. Bukan apa-apa, selama menunggu kedua bawahannya mengerjakan tugas Chris hanya mengurung diri di kamar hotel dan pikirannya hanya dipenuhi oleh Alex dan Alex. Jadi mungkin kalau dia memiliki sedikit kegiatan dia bisa menghilangkan bayangan Alex dari kepalanya.
Awalnya mereka berjalan di Taman kota, yang merupakan tempat wisata. Ada berbagai pertunjukan artis jalanan. Bangku-bangku taman yang sebagian besar di duduki oleh pasangan yang asik mengobrol sambil menikmati air mancur yang meliuk menari mengikuti alunan lagu cinta. Susana malam dengan lampu yang temaram menambah keromantisan tempat itu. Kemudian mereka pergi makan malam di atas kapal yang berlayar di atas danau. Lagi-lagi tempat yang di penuhi oleh pasangan yang sedang berkencan. Terakhir mereka pergi ke sebuah Bar yang memiliki pertunjukan live music dan bisa di tebak kalau di sana pun di penuhi oleh pasangan yang sedang di mabuk cinta. Bukannya bagaimana, tapi semua sudah di susun oleh Madeline, dia ingin mengenang masa-masa pacaran mereka dulu dengan mengunjungi tempat-tempat yang dulu mereka kunjungi saat berkencan. Dia berharap Chris akan teringat kembali masa indah dulu dan kembali berpacaran dengannya.
"Chris kau ingat lagu ini, ayo berdansa dengan ku, " pinta Madeline saat lagu yang dia pesan dinyanyikan.
"Kau sendiri saja." tolak Chris tak berminat.
__ADS_1
"Ayolah bagaimana caranya aku berdansa sendiri lihat pasangan yang lain."
"Kita kan bukan pasangan. Ayo kita pulang saja." Chris langsung beranjak tanpa menunggu jawaban dari Madeline.
Sesampai di hotel Madeline mengajak Chris untuk minum-minum bersama, namun Chris menolak.
********
Keesokan paginya Chris dan John menuju gedung M, yang merupakan kantor dan tempat pertemuan dengan pemilik perusahaan Bois de Teck yang sementara Madeline tetap di hotel karena tugas nya telah selesai.
"Senang bertemu dengan anda Chris, " ucap laki-laki setengah baya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Aku kesini bukan untuk basa-basi Edward," ucap Chris yang tidak menyambut jabatan tangan Edward, dan memilih langsung duduk di sofa.
" Kau tahu kenapa aku mengundangmu kemari?. Aku ingin menawarkan kerja sama denganmu. Aku tahu kau mengalami kendala dalam membangun restoranmu, maka da... "
" Sudahi basa-basi mu, Apa kau benar-benar berpikir aku hanya diam saja saat kau mengusik bisnisku. Coba kau lihat apa yang ada dalam disk ini, " ucap Chris. John yang tadinya berdiri di dekat pintu maju menyerahkan disk yang di maksud Tuannya.
Edward mengambilnya dan menyerahkan pada asisten pribadinya yang kemudian memasukkannya ke laptop di atas meja. Terdengar percakapan yang mengungkapkan perbuatan Edward yang membayar para penduduk untuk menolak pembangunan restoran. Dan juga ada bukti perjanjian Chris dengan ketua Aktifis peduli lingkungan, bahwa Chris akan membiarkan dan merawat lahan mangroves yang mengitari area restorannya.
"Itu belum seberapa, jika kau masih membuat ulah akan kuperlihatkan pada seluruh penduduk di sini rencana kerja samamu dengan aparat negara yang dapat menghancurkan lingkungan hidup, " jelas Chris santai tapi menakutkan.
Wajah Edward berubah panik dan tegang. Dia sadar kalau tindakannya Salah. Tidak seharusnya dia menantang Chris walaupun dia bukanlah penduduk di negara ini. Dia yang awalnya berpikir akan menang hanya karena lawan nya adalah orang asing sekarang malah kalah telak bahkan sebelum bertarung.
"Saya benar-benar sudah meremehkan anda Tuan. Saya harap anda dapat mengampuni saya. Saya akan lakukan apapun yang anda perintahkan sebagai pertanggung jawaban atas kelancangan tindakan Saya," gaya bicara Edward langsung berubah total. Kali ini dia main aman karena takut perusahaannya akan bangkrut bila Chris memutuskan untuk memberinya pelajaran. Perusahaan ini dia rintis dari awal hingga semaju sekarang, dia tak ingin kembali ke masa-masa sulit dulu. "Sepertinya ketamakan telah menutup mata saya sehingga saya ingin lebih dan lebih. Sekali lagi tolong ampuni saya Tuan."
Chris memandang sinis lawan bicaranya kemudian berkata, "Aku tak ada urusan apa-apa denganmu setelah ini. Tapi jika sekali lagi kau berbuat ulah padaku akan kubuat kau menderita hingga kehidupanmu yang berikutnya." Chris kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan.
Malam harinya saat Chris melamun di kamar hotelnya sebuah ketukan terdengar.
" Ada perlu apa Maddy? " tanya Chris. Jika tidak sedang dalam urusan kerja begitulah Chris memanggil Madeline.
Yang ditanya langsung masuk dan berkata, "John baru saja memberi ku tiket pesawat pulang untuk besok, kenapa kamu tidak ikut pulang?" tanya Madeline. Dia duduk di sofa menyilangkan kalinya sehingga paha mulusnya terlihat jelas apalagi dengan gaun pendeknya.
"Masih ada yang harus aku lakukan," sahut Chris singkat sembari mengambil sebotol wine dan dua gelas wine kemudian duduk di sebelah Madeline.
"Kalau begitu bolehkah aku tinggal denganmu di sini sampai urusanmu selesai, siapa tahu kamu perlu bantuan ku, " pinta Madeline seraya meraih gelas berisi wine yang di serahkan Chris.
"Tugasmu di sini sudah selesai, dan lagi aku mengijinkanmu ambil cuti pendek sampai akhir minggu, jadi gunakanlah sebaik-baiknyan. " Chris tetap menolak permintaan Madeline.
Madeline berdiri dengan tampang merajuk, meletakkan gelasnya di meja kemudian membungkukkan badanya di depan Chris. Belahan dadanya terlihat jelas lantaran gaunnya yang model longgar mengikuti gaya grafitasi ketika dia membungkukkan bagian atas tubuhnya.
"Apa kau mencoba merayuku?. Itu tidak akan berhasil."
"Kenapa apa karena ada wanita lain sekarang. Dulu kau tidak pernah menolakku, meskipun setelah kita putus tidak sekalipun kau menolakku. Meski kau tengah mengencani wanita lain, kau tidak pernah menolakku."
"Karena kali ini berbeda, jadi berhentilah."Chris menegaskan.
Madeline melempar dirinya duduk dengan lututnya di atas sofa tetap menghadap ke arah Chris yang kali ini sedang memeriksa ponselnya.
" Kau terus memeriksa ponselmu dan kemudian berwajah murungbegitu. Apa dia tidak menghiraukanmu?"Madeline dengan cepat meraih ponsel Chris lalu duduk di pangkuan Chris mencoba mendekatkan wajahnya mencium Chris.
Chris bergerak cepat menahan wajah Madeline dengan tangannya yang sebesar wajah Madeline.
" Aku bilang berhentilah."
Dengan tampang cemberut Madeline beringsut turun dari pangkuan Chris. Memangnya apa sih yang telah di lakukan Alex sampai kau tergila-gila begini?. Tanya Madeline dalam hati. Sejak pertama kali melihat mereka berdua keluar dari pameran dan berjalan kaki ke sebuah restoran perasaannya sudah kurang enak, tapi dia tetap kurang begitu yakin dan menganggap Chris hanya menginginkan Alex untuk bersenang-senang dan tidak lebih. Akan tetapi sekarang dia memastikan nya langsung ternyata ketakutannya di awal benar.
"Baiklah aku tak akan mengganggu lagi, tapi satu malam perpisahan tidak akan merubah apapun kan toh dia tidak akan tahu. Aku akan merahasiakannya, " ucap Madeline masih belum menyerah, telunjuknya menyusuri lembut kening Chris turun ke hidung, bibir, leher, dada dan..... Chris menangkap tangannya.
" Pergilah ke kamarmu sekarang, aku tidak harus mengabulkan apapun itu yang kau sebut malam terakhir. Aku ini atasan mu jadi kau harus patuh, kalau kau tidak mau mendapat masalah, " ancam Chris. Bagaimanapun juga dirinya seorang pria. Dia sendiri tidak yakin apa masih akan bisa menolak jika Madeline merayunya lagi. Tak bisa di pungkiri jika dia terlihat seksi dengan gaun pendaknya yang longgar dan bertali kecil. Apalagi saat ini satu talinya melorot turun dari bahunya menambahnya terlihat lebih menggoda. Dirinya benar-benar berusaha keras mengontrol kesadarannya.
"Kau benar-benar telah berubah. Memangnya apa yang telah dia berikan sampai kau jadi sok alim seperti ini. Apakah dia benar-benar melayanimu sehebat itu?." Kali ini Madeline berbisik di telinga Chris dan sengaja membuat bibirnya dan telinga Chris bersentuhan dia tahu betul jika telinga Chris sangat sensitif.
Chris menoleh menatap Madeline dengan tatapan tajam tapi sayu yang membuatnya terlihat sangat gagah dan lemah di saat bersamaan. Madeline tersenyum tipis melihat ekspresi wajah pria di depannya. Dia berhasil begitulah pikirnya.
__ADS_1
#####PENGUMUMAN
Jangan lupa like, dan vote yaaa. Kalau ada saran, kritik, pujian, curahan Hati (Eh...Thor nya ngawur nih) silahkan tulis di kolom komentar yaaaaa. Jaga kesehatan, dan jaga hatimu untukkuuuuu duhai kau yang selalu kuuu (mulut Thor di sumpel tetangga gara2 suara sumbang katanya mendatangkan petaka)