Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Teman???


__ADS_3

Belakangan hari ini Ben menjadi sangat sibuk karena sidang skripsi sehingga dirinya jarang bisa berkumpul dengan yang lain. Sekalinya bisa ngumpul selalu saja dia harus pergi mendahului atau datang saat acara akan selesai. Seperti hari ini misalnya,Ben baru muncul saat hidangan Hotpot yang tersisa di meja hanya kuah dan beberapa sayuran yang sudah terlalu matang karena sudah terlalu lama berada dalam panci.


Dengan tampang lelah Ben duduk bersila dan merebahkan kepalanya di bahu kiri Alex. Sementara Alex yang sekarang sudah terbiasa dengan tingkah manja Ben membelai kepala Ben lembut bak seorang ibu yang menghibur anaknya yang masih kecil, lalu menyerahkan es teh nya untuk di minum Ben.


"Tidak usah merenggut seperti bocah begitu. Paling tidak setelah ini berakhir kau bisa pergi dari kampus dan bebas dari tugas dan buku pelajaran," ucap Anthony.


"Mau aku ambilkan daftar menu, supaya kamu bisa pesan yang baru?" tanya Amel perhatian.


"Nggak, makasi. Aku juga nggak bisa lama-lama." ucap Ben menolak.


"Kalau memang sesibuk itu harusnya tadi tidak usah datang," ujar Bethany.


"Kalian ini berbisik sekali. Diam sebentar, aku kesini untuk men-charge diriku."


"Men-charge, kau pikir anak orang power bank apa," celetukan Leslie membuat yang lain tak bisa menahan tawa sehingga Ben mendelik protes pada semuanya karena bukannya diam mereka malah bertambah ribut.


"Ben, tunggu sebentar," panggilan Alex di tempat parkir.


"Kalau nanti kau sudah tidak sibuk, bisa tidak kita bertemu. Ada yang ingin kubicarakan."


"Ya tentu saja, setelah 4 hari aku tidak akan sibuk lagi, apa kau bisa menunggu? Kalau memang penting sekali mungkin nanti malam aku bisa mampir sebentar ke tempat kerjamu," usul Ben.


"Tidak usah, 4 hari lagi juga nggak apa-apa kok."


Alex sebenarnya ingin secepatnya, tapi dia juga tidak ingin mementingkan urusannya, apalagi dia tahu betapa sibuknya Ben saat ini. Alex hanya ingin menanyakan tentang kepastian hubungan mereka. Karena semakin hari sikap Ben semakin terlihat seperti seorang kekasih padanya, akan tetapi sampai detik ini tidak sekalipun Ben pernah bilang, suka, cinta atau memintanya menjadi kekasihnya. Dan karena hal itu persahabatan Alex dan Ryan juga semakin menjauh.


Semua berpencar melanjutkan acara masing-masing, kecuali Alex, Bethany dan Leslie. Mereka sudah berencana untuk pergi shopping bersama, namun mereka tidak memberi tahu yang lain, karena Bethany sebagai pencetus acara, tidak ingin Amel mengetahuinya lalu ikut shopping dengan mereka.


Saat sedang asik memilih-milih pakaian untuk di coba, Alex dikejutkan dengan sosok wanita yang kemarin sempat membuatnya mengisolasi diri.


"Waah Alex, aku tidak menyangka bisa bertemu dirimu di sini. Aku dengar kau sudah tidak bekerja di Black Grill lagi," ucap Madeline dengan nada sinis dan senyum kemenangan.


Bethany dan Leslie yang tadinya berada di


Rak sebelah datang dan berdiri mengapit Alex.


" Sekarang ucapan ku terbukti bukan? Kau tidak mungkin bertahan lama dengan Chris. Hubungan ku dengannya dulu saja lebih lama darimu,dan tidak seperti dirimu yang di buang, Chris masih tetap membiarkanku berada di dekatnya. Kasihan sekali, kau sampai harus meninggalkan pekerjaan impianmu," ucap Madeline mengejek lalu berlalu begitu saja, dirinya bahkan tidak menatap Bethany dan Leslie seolah mereka berdua hanya manekin.


Alex berjalan cepat mengejar Madeline kemudian menjambak rambutnya keras sehingga dia terjungkal ke belakang, setidaknya begitulah khayalan yang ada di dalam kepala Alex saat ini. Kenyataannya Alex hanya menatap kesal punggung Madeline yang semakin menjauh darinya.


"Siapa dia Lex?" tanya Bethany.


"Coba tadi kamu beri kode, aku pasti langsung bungkam mulut comberannya lalu kuseret ke kamar pas dan kubejek-bejek mulutnya di sana." ucap si tomboy Leslie.


"Sudah enggak usah di ambil pusing. Dia itu mantannya dari mantan ku yang sampai sekarang belum bisa move on. Jadi gila juga nanti kita, kalau meladeni orang gila," sahut Alex.


******


Jam menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat. Alex berpamitan pada atasannya dan staf yang lain. Ben sudah menunggunya di parkiran. Sesuai janji setelah kesibukannya berakhir mereka bertemu untuk membicarakan sesuatu. Mereka menuju Coffee Bar, tempat minum baru yang menunya adalah berbagai macam coffee yang di mix dengan minuman beralkohol. Tempatnya lebih tenang dari bar kebanyakan. Musik yang di putar juga tidak memekakkan telinga sehingga sangat cocok menjadi tempat ngobrol.


Plaaakkk!


"Dasar wanita murahan, suka sekali menggoda milik orang."


Alex dan Ben di suguhi adegan yang biasa muncul di drama TV. Yang lebih mengerutkan lagi mereka kenal dengan para pemainnya.

__ADS_1


Amel memegang pipinya yang memerah, dia tidak bergeming sedikit pun. Entah karena takut, kesakitan, atau terkejut melihat dua sosok yang baru masuk adalah teman-teman nya. Sementara perempuan yang menamparnya langsung berlalu pergi sambil menyeret pria yang terlihat pucat dan menurut begitu saja di seret keluar, padahal si perempuan jauh lebih kecil darinya. Sally, perempuan yang pernah memperingatkan Alex soal Amel saat berpapasan di kampus. Berarti pria yang di seretnya tadi adalah Roy kekasihnya.


"Sepertinya hal seperti ini lebih baik di bicarakan sesama perempuan," ucak Ben dengan suara berbisik.


"Hampirilah dia, aku akan menunggu di lounge bar. Kalau suasana sudah tenang kembalilah padaku," lanjut Ben.


Alex menghampiri Amel dan menggiringnya duduk di kursi.


"Kamu ngapain lagi berurusan sama mereka?" tanya Alex yang bingung dengan kejadian barusan.


"Ini semua gara-gara Sally, dia selalu mengejek ku di kampus, jadi kupepet saja pacarnya biar mereka putus. Biar tahu rasa, siapa suruh cari masalah dengan ku," sahut Amel geram. Di tempelkannya es kopi pesanan nya tadi di pipinya yang masih merah habis di tampar.


"Harusnya kamu biarin aja, ngapain juga pakai kasi pelajaran, terus sekarang siapa yang dapat pelajaran? Mana tadi kamu liat nggak si Roy nggak ngebelain kamu sama sekali dan memilih pergi dengan Sally. Kalian itu salah, kamu udah tahu pacar orang masih saja... Mau beri pelajaran juga nggak gini caranya. Roy juga salah, udah punya pacar masih saja. "


" Sudah sudah, aku sudah kena tampar masa harus kena omelanmu juga, "tukas Amel kesal.


" Kamu pikir itu saja, siap-siap saja besok di kampus jadi target gosip lagi. "


" Urusan besok itu, " jawab Amel acuh.


Alex hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya yang satu ini.


" Kalian berdua lagi kencan? Maaf ya, secara tidak langsung aku mengganggu kencan kalian, " ucap Amel sambil melirik Ben yang tengah mengobrol dengan bartender.


"Kita nggak kencan, hanya ngobrol biasa, kebetulan ketemu tadi," ucap Alex bohong. Dia tidak mau menceritakan maksud pertemuannya dengan Ben.


"Ya sudah, panggil suruh kesini, kita ngobrol bareng. Suasana hatiku lagi kacau ini, perlu teman ngobrol juga. Kalau ngobrol sama kamu saja, adanya aku di omelin terus."


Alex pergi menemui Ben untuk memintanya bergabung.


"Katanya sudah, tapi suasana hatinya masih buruk."


"Memangnya tadi itu kenapa?"


"Panjang ceritanya, nanti saja aku cerita kan."


"Lalu kamu bagaimana? Kita kesini karena ada yang mau kamu bicara kan."


"Enggak apa, itu bisa nanti. Enggak terlalu penting juga" Lagi-lagi Alex harus mengundur urusannya.


"Apa yang kamu pesan itu?" tanya Amel menunjuk minuman yang sedang diseruput Ben.


"Moccarum."


"Sama, aku juga, jangan-jangan kita jodoh," canda Amel.


Minuman yang di maksud adalah es kopi moccacino yang di campur rum. Mereka asik mengobrol, dan tidak sedikit pun kejadian tadi di bahas agar tidak merusak suasana.


"Sudah tengah malam nih, ayo kita pulang," ajak Alex yang sudah lumayan mengantuk, dan juga lelah sehabis kerja sambilan.


"Bentar dulu Lex, suasana hatiku masih kacau ini," larang Amel.


"Tapi ini sudah jam 12 malam, besok aku ada kuliah pagi," elak Alex yang matanya semakin berat.


"Kau itu bukan Cinderella, nggak apa-apa kalau sekali pulang subuh. Bukannya kalau kerja sambilan biasanya juga pulang pagi?" ucap Amel bersikeras menahan Alex.

__ADS_1


Kalau saja bukan karena lelah dan mengantuk, Alex tidak akan meminta untuk pulang. Apalagi selama di sini Amel terlihat banyak bercanda dan tertawa, jadi Alex pikir tidak masalah jika dia pulang. Tapi mungkin Amel menutupi kegundahannya dengan tawa dan canda. Sudah pasti besok dia jadi bulan-bulanan pedasnya mulut mahasiswa di kampus atas kejadian tadi.


"Kalau begitu tidak apa kan kalau Ben menemanimu sebentar lagi di sini. Aku nggak mau minum sendiri," lanjut Amel.


"Aku sih bisa pulang sendiri, nggak apa-apa. Kamu bisa kan nemenin Amel di sini?" tanya Alex pada Ben.


"Aku antar kamu terus aku balik ke sini ya," usul Ben.


"Nggak usah, lagian deket juga. Aku bisa naik taxi," tolak Alex. Akan tetapi karena Ben bersikeras Alex pun tidak bisa menolak lagi.


"Selamat tidur," ucap Ben mengacak lembut rambut Alex sebelum dia keluar dari mobil.


Paginya, suara bel pintu apartemen Alex berbunyi berulang-ulang hingga masuk ke dalam mimpi Alex. Dengan malas di ambil ponselnya yang tergeletak di lantai samping tempat tidur. Masih pukul 07.00 pagi. Dirinya sudah menyetel alarm pukul 07.30 dan ternyata ada alarm lain yang lebih dulu membangunkannya.


Suara bel kembali terdengar, berarti siapa pun itu, dia masih berdiri menunggu Alex membukakan pintu. Dengan malas Alex beranjak dari tempat tidur. Siapa gerangan yang bertamu pagi-pagi begini sudah gitu ngotot pula nonstop memencet bel.


Amel berdiri masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang di pakainya semalam.


"Pagi Lex, boleh aku masuk? Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Sebenarnya lebih tepatnya aku ingin meminta maaf," ucap Amel dengan tampang mengiba.


Alex yang masih belum sepenuhnya bangun dari tidur tidak dapat menangkap arah pembicaraan Amel. Di persilahkannya Amel duduk lalu dia sendiri membuat 2 cangkir teh hangat.


" Ada apa ini, kenapa tiba-tiba kamu ingin minta maaf padaku?"


"Aku jadian dengan Ben."


Untung saja cangkir teh yang tadi di bawa Alex sudah mendarat di meja ketika Amel bicara, kalau tidak pastilah dua cangkir itu lepas dari tangan Alex dan berakhir di lantai.


"Tapi ini semua terjadi karena Ben meyakinkan ku jika kalian berdua tidak ada hubungan apa-apa selain teman," lanjut Amel cepat.


Alex awalnya merasa sangat kaget dan tidak bisa mengontrol emosinya, tapi ketika mendengar penjelasan lanjutan Amel tadi entah kenapa keteguhan hatinya muncul. Ya benar sekali, Ben tidak pernah memintanya menjadi kekasihnya, jadi dirinya akan tampak bodoh jika sekarang dia bersikap marah atau sedih di depan Amel. Dia tidak punya hak untuk itu karena dia bukan apa-apa Ben.


"Kenapa kamu harus minta maaf, aku dan Ben memang hanya berteman, tidak lebih," ucap Alex berusaha tenang.


"Tapi bukannya kamu suka pada Ben? Makanya aku merasa bersalah karena malah aku yang jadian dengannya."


"Kamu itu salah paham, aku punya orang lain yang aku suka. Hanya saja aku belum berani mendekatinya. Aku tidak ada perasaan lebih pada Ben," ucap Alex bohong.


Alex tidak mau tampak menyedihkan, dan lemah hanya karena masalah pria, setidaknya bukan di depan orang-orang yang bukan sahabat atau keluarganya. Jadi dirinya sebisa mungkin


" Jadi kamu tidak marah padaku, kan? " tanya Amel.


" Tentu saja tidak, ngomong-ngomong bajumu masih sama dengan semalam. Apa kalian berada di sana sampai pagi," ucap Alex mengganti topik.


"Sebenarnya aku menginap di apartemen Ben semalam," sahut Amel tersipu.


Alex tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, tapi untungnya dia bisa segera menguasai diri dan dengan ekspresi penuh penasaran dan senang yang di buat-buat Alex berkata, "Waaaaahhh hubungan kalian maju secepat kilat ya. Apa semalam kalian eheem-eheem"


"Aduuuuh Alex aku jadi malu nih. Kamu tahu tidak, aku benar-benar merasa bahagia. Selama ini baru sekarang ada laki-laki yang begitu lembut memperlakukanku di atas ranjang. Dia melakukan semua yang aku minta. Aku benar-benar puas," sahut Amel tanpa malu.


Alex yang mulai tidak bisa berpura-pura lagi diselamatkan oleh bunyi alarm di ponselnya. Dengan alasan akan bersiap-siap untuk kuliah Alex berhasil membuat Amel pulang. Di hempasnya tubuhnya kembali ke tempat tidur dan air mata mengalir dari matanya.


Alex merasa dikhianati, bukan saja oleh Ben tapi juga Amel. Bukankah selama ini Amel yang paling semangat memberi dukungan soal hubungannya dengan Ben. Amel selalu meyakinkan Alex, jika Ben itu menyukainya. Terlebih lagi semua sikap Ben selama ini benar-benar membuat Alex berpikir kalau Ben memiliki perasaan untuknya. Lalu hanya dalam waktu semalam dia berkata jika tidak ada apa-apa di antara kami.


****Pengumuman ****

__ADS_1


Kasian Alex ya 😢😢 jangan lupa like, comment, rate dan vote ya. Happy Thanksgiving semua (nggak tau itu perayaan apa, Thor cuma ikut2 kasi ucapan selamat, tapi ini thro ngucapin nya dengan tulus ya)


__ADS_2