
Sebulan sudah Alex menjalani rutinitas baru nya di negara NY. Sekarang dirinya sudah hafal tempat nongkrong dekat apartemen yang menyediakan Wi-Fi gratis untuk mengerjakan tugas kuliah nya. Kalau mau yang lebih irit lagi, nongkrong nya di apartemen Ryan, di sana Alex tidak perlu membayar minuman dan makanan yang dia habiskan. Walaupun Alex sekarang sudah memiliki pekerjaan sambilan selepas kuliah, dia tetap memilih untuk hidup hemat dan menabung uangnya sebanyak mungkin. Bisa di bilang motto hidupnya saat ini adalah : Kalau ada yang gratis kenapa harus bayar.
Sosok Chris terkadang masih muncul di benak Alex, apalagi seminggu kemarin Nayla memberi tahunya, jika Chris menanyakan keberadaannya. Ya, benar sekali, Alex tidak memberi tahu Chris dimana dirinya sekarang dan dirinya sudah mewanti-wanti keluarga dan sahabatnya untuk tidak membocorkan keberadaannya. Alex sendiri lah yang nanti akan memberi kabar saat luka di hatinya telah benar-benar sembuh.
"Hei pagi-pagi sudah sibuk dandan, emang mau tunjukin ke siapa?" tanya Alex pada teman barunya yang bernama Amel.
"Hari ini aku ada kuliah filsuf sejarah," sahut Amel.
"Terus hubungannya dengan make-up apaan?" tanya Alex mengerutkan alis karena masih belum mengerti.
"Hari ini yang ngajar asisten dosen, dia cakep banget, mahasiswa senior di sini, katanya dia pinter banget sampai sering ikut kuliah percepatan, jadi sekarang dia udah semester akhir S-2 padahal umurnya baru 25 tahun. Udah pinter, tampan lagi. Siapa tahu aku dapet rejeki di lirik sama dia,"cerocos Amel masih sibuk menyapukan makeup ke wajahnya.
" Kalau urusan cowok tampan semangatnya setinggi langit, giliran buat tugas ada aja alasan nya, udah ya aku masuk duluan, ada kelas. "Alex langsung meninggalkan Amel yang masih berkutat mendempul wajahnya.
Alex dan Amel memang berbeda jurusan, tapi karena mereka merasa senasib di negri rantau dan memang keduanya sama-sama anak baru, mereka jadi cepat akrab. Mereka sering mengerjakan tugas kuliah bersama, meskipun tugas yang di kerjakan berbeda.
Amel itu orangnya ceplas-ceplos, bisa di bilang mulutnya itu tidak ada rem nya, dan lemah banget sama yang namanya cowok tampan. Bahkan saat pertama kali di kenalkan ke Ryan dia langsung meminta Alex untuk membantu nya pendekatan dengan Ryan. Ryan sendiri langsung menolak tapi sepertinya Amel masih terus berusaha biarpun tidak terlalu terlihat seperti sebelumnya.
Sebenarnya sifat Amel berbeda jauh dengan Alex, dan ada beberapa dari sifat Amel yang Alex kurang suka. Tapi Alex pikir selama itu tidak merugikan dirinya dan orang banyak, sepertinya tidak masalah,toh dirinya sudah cukup dewasa untuk bisa menyaring mana yang harus di tiru dan mana yang tidak. Apa lagi dirinya juga tidak sepenuhnya baik dan di terima semua orang juga. Semua ada baik dan buruknya.
"Aleeeexxxx!!!" panggil Amel setengah berteriak.
"Udah ga ada kuliah lagi kan, nongkrong yuk cari es kopi biar segerrrr," lanjut Amel setelah Alex datang menghampirinya.
"Kamu bukannya masih ada kuliah sampai sore, ya?" tanya Alex sekaligus mengingatkan.
Alex tidak tahu apa tujuan temannya yang satu ini kuliah, karena dia lumayan sering bolos. Tapi jangan salah, sebenarnya orangnya cukup pintar dan juga pintar bergaul. Berkat dia Alex jadi kenal banyak mahasiswa dan lebih gampang bergaul.
"Males, palingan di suruh baca buku terus di kasi tugas, mending ngopi sambil ngobrol. Kamu nggak penasaran sama asisten dosen yang aku ceritakan tadi? Sumpah dia ganteng banget, aku jatuh cinta," ucap Amel langsung menyeret Alex ke kedai Kopi depan Kampus.
"Terus berarti Ryan bukan target kamu lagi nih?" tanya Alex penasaran.
Sebenarnya dia kurang suka jika Amel mengejar Ryan. Bukan bagaimana, tapi Amel bukan tipe anak yang menghargai sebuah hubungan. Baru sebulan di sini mantannya sudah ada 2 orang, itu pun yang terakhir dia campakkan begitu saja karena dia ingin menjadikan Ryan pacar barunya. Awalnya Alex agak khawatir karena Ryan adalah sahabatnya, tapi dirinya tidak bisa melarang Amel untuk tidak mendekati Ryan. Untungnya Ryan menolaknya baik-baik, tapi tetap saja Alex sedikit khawatir karena ternyata Amel tidak menyerah begitu saja. Ingin memperingatkan Ryan juga sepertinya kurang pantas, Alex khawatir nanti Ryan berpikir dirinya terlalu possesif sebagai sahabat.
Semoga saja si asisten dosen ini menerima perasaan Amel, jadi aku tidak perlu khawatir dengan Ryan. Bagaimanapun juga kalau di kejar terus, bisa saja Ryan jadi luluh. Pikir Alex khawatir.
"Kamu itu, bikin aku nggak enak sama orang tuamu tahu Mel. Mereka bilang ke aku titip Amel supaya kuliah nya rajin," ucap Alex mengingatkan. Minggu lalu orang tua Amel datang berkunjung dan Amel memperkenalkan Alex pada mereka.
"Udah deh Lex, nggak usah di jadiin beban, lagian kamu bukan pengasuh aku, kamu ga di bayar sama orang tuaku buat jaga aku, kan? Makanya omongan mereka nggak usah di ambil pusing."
Dan akhirnya Alex pun menikmati kopi nya sambil mendengarkan celoteh Amel tentang incaran baru nya, yang katanya paling tampan dan sempurna di segala hal. Amel bahkan berencana untuk membeli baju baru, karena si asisten dosen akan mengajar kelasnya selama 6 bulan ke depan.
"Lex, kamu dengerin aku nggak sih?" tanya Amel.
"Iya dengerin kok," sahut Alex tapi matanya tetap fokus ke layar ponselnya.
Alex tidak berbohong karena dirinya memang mendengarkan celotehan teman baiknya meski cuman 5 menit di awal saja.
__ADS_1
"Lihat apa sih, sepertinya seru sekali." Amel merebut ponsel Alex.
"Kirain apa, ternyata cuma pembukaan restoran baru," ucap Amel tidak tertarik dan mengembalikan ponsel pada pemiliknya.
Amel tidak tahu kisah masa lalunya dengan pemilik restoran yang ada dalam berita. Restoran Black Grill akan buka cabang ke 3 dan 4 di negara ini, dan salah satu lokasi nya adalah di kota ini.
Apa mungkin Chris tahu dirinya di sini,dan itu sebabnya dirinya membuka cabang di sini. Alex sadarlah, dirimu tidak mungkin sepenting dan seberharga itu bagi Chris. Barangkali saat ini laki-laki itu sedang bermesraan dengan wanita lain. Tapi bukankah Nayla bilang Chris menanyakan tentang dirinya? Apakah itu berarti dia masih ingin kembali padaku?. Alex berdebat dengan dirinya sendiri.
"Hoi!! Di panggil dari tadi nggak nyahut," seru Amel keras sambil mencubit lengan Alex agar tersadar dari lamunannya.
Alex kaget karena di depannya bukan hanya ada Amel, tapi juga Ryan. Dari tatapan tajam Ryan sepertinya dia tahu penyebab melamunnya Alex. Apa tadi Ryan sempat melirik ponselnya?.
"Iya kenapa? Tadi lagi mikirin tugas yang banyak sekali," ucap Alex bohong, dan dirinya bisa melihat senyum tipis Ryan dan sebelah alisnya terangkat, pertanda kalau Alex ketahuan bohong.
"Aku kesini buat jemput kamu, ayo pulang," ajak Ryan.
"Wah, aku jadi iri, sama sahabat aja kamu perhatian sekali. Bagaimana kalau sama pacar ya," ucap Amel sedikit manja dan menggoda.
"Heh masa kamu lupa sama asisten dosen mu itu," tegur Alex bergurau, tapi juga berharap Ryan menjadi semakin tahu kalau Amel itu gampang jatuh cinta dan tidak cocok untuknya.
Amel hanya memonyongkan bibirnya sebagai bentuk protes saat Alex melambaikan tangan meninggalkannya.
Ryan tidak membahas atau bertanya mengenai Black Grill ataupun penyebab melamunnya. Dari dulu hingga detik ini Ryan adalah sahabat yang paling bisa mengerti Alex, dan selalu memilih menunggu hingga Alex sendiri yang mulai bicara mengenai masalahnya, tetapi Ryan selalu awas mengawasi setiap langkah yang Alex ambil dan selalu ada saat di butuhkan.
Ryan mengantar Alex sampai di depan apartemennya. Ketika hendak masuk ke apartemennya, Alex tiba-tiba berbalik dan memeluk Ryan. Entah kenapa Alex merasa dirinya akan merasa tenang jika melakukannya, seolah-olah beribu kata gundah yang ingin dia ucapkan tersalurkan melalui sebuah pelukan.
"Hei, sudah lah kamu tidak perlu khawatir, kota ini besar, belum tentu restoran nya di bangun di dekat sini, apalagi dekat kampus. Makanan di restoran itu terlalu mahal untuk mahasiswa. Kalaupun memang dekat sini aku janji aku akan pasti kan kalian tidak bertemu, jadi jangan takut, "ucap Ryan menepuk-nepuk punggung Alex lembut.
Alex sadar dirinya tidak seharusnya panik begini. Bukankah dia dan Chris sudah berpisah baik-baik,kenapa juga dia harus takut kalau nanti tiba-tiba berpapasan dengannya. Tapi apa benar perasaan yang dimilikinya saat ini adalah perasaan takut akan bertemu, lalu mengapa jauh di lubuk hatinya ada desir rasa senang terlintas walau hanya sesaat.
"Makasi ya kamu dari dulu selalu ada buat aku," ucap Alex melepas pelukannya dan memukul pelan dada Ryan agar tidak merasa canggung.
*******
Setelah merenung sepanjang sore dan otaknya kembali ke jalan yang benar, Alex merasa malu jika mengingat adegan dirinya memeluk Ryan. Alex merasa pelukannya sedikit berlebihan, dia jadi sedikit merasa kalau selama ini terlalu bergantung pada Ryan. Dari sejak awal mereka bertemu Alex selalu lari pada Ryan setiap kali ada masalah. Ryan selalu memberi ketenangan dan nasehat yang baik untuknya, padahal di posisinya saat itu seharusnya dia mengambil kesempatan untuk menjatuhkan Chris dan menggantikan tempat Chris di sisi Alex.
Apa Ryan masih menyukai ku? Kalau aku pacaran dengannya, pasti dia akan selalu ada di sisiku dan membuatku nyaman. Alex segera mengusir khayalan gila nya. Bagaimana kalau hubungan mereka berakhir, itu artinya dia akan kehilangan seorang sahabat yang sangat berarti.
"Lex, ini pesanan meja 5 ya," ucap Ben, bartender di Bar tempat dia bekerja sambilan.
Dengan cepat Alex membawa nampan berisi minuman ke meja yang di maksud.
Sampai di sana dirinya melihat dua pria sedang beradu mulut.
"Aku sudah duduk dari tadi di sini dan kemudian aku pergi ke toilet, jadi kamu lah yang harus menyingkir!" Usir seorang pria berotot pada pria berambut coklat di depannya.
Ya ampun, apa pria ini punya hobby merebut tempat orang. Gerutu Alex setelah melihat sosok yang di ajak pria berotot tadi bicara.
__ADS_1
"Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu? " tanya Alex sopan.
"Apakah itu mojito pesanan ku? Untuk meja 5 bukan?" Pria berotot bertanya pada Alex.
"Iya Tuan benar sekali, apakah ini pesanan anda?" sahut Alex.
"Lihat sendiri, ini adalah bukti kalau aku lah yang lebih dulu duduk di sini, jadi menyingkirlah!" Bukannya menjawab pertanyaan Alex, pria tadi menunjukkan pada lawan bicaranya kalau dirinya pemilik meja no 5.
"Silahkan dinikmati minuman anda Tuan," ucap Alex menaruh gelas di atas meja.
"Tuan mari saya bantu mencari meja lain, kami masih banyak meja kosong," ujar Alex sambil menggiring pria rambut coklat di depannya sebelum terjadi hal yang tidak di inginkan.
Alex memberi meja yang cukup jauh agar mereka tidak saling bertatap muka. Memang risiko bekerja di Bar lebih besar di banding bekerja di restoran, akan tetapi pekerjaan sebagai pelayan bar lebih gampang, bayaran serya tip yang di terima lebih besar daripada bekerja sambilan di restoran. Meskipun tentu saja banyak orang-orang aneh yang datang kemari untuk melepas stress.
Pria berambut coklat tadi memesan sebotol whiskey untuk dirinya sendiri. Dari tampang, sepertinya dia buka tipe orang yang suka minum, tapi tentu saja kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari tampangnya saja.
4 jam terasa cepat berlalu, bagi Alex yang terbiasa bekerja dengan jam kerja penuh, bekerja sambilan yang hanya setengah dari jam kerja serasa main-main saja untuknya. Apa lagi bekerja di Bar jauh lebih ringan, tidak ada banyak piring berat yang harus di angkatnya, serta tidak ada meja yang harus dia set dengan segala jenis alat makan.
Ketika hendak menuju halte bus Alex melihat si pria berambut coklat berjalan sempoyongan di depannya. Mungkin dia terlalu banyak minum jadi saat ini dia sedang dalam keadaan mabuk.
'Bruuukkk' tiba-tiba pria berambut coklat ambruk tepat di depan Alex. Segera dia memastikan keadaan pria itu, dan ternyata dia tertidur karena terlalu banyak minum.
"Apakah pacarmu baik-baik saja?" tanya seorang pria paruh baya datang menghampiri. Sepertinya beliau salah mengira, dan tidak melihat kalau tadi Alex hanya kebetulan berada di dekatnya saat dia ambruk.
"Dia hanya tertidur karena mabuk, dan saya buka..."
"Apa kalian bawa mobil? Atau perlu aku panggil taxi? Aku sedang buru-buru, tapi aku akan membantumu membopongnya ke dalam mobil,"
Melihat Bapak Tua tampak tidak punya banyak waktu dan terasa sedang mengejar nya untuk segera bertindak, Alex yang tadinya kaget melihat orang ambruk jadi bertambah panik dan tidak bisa menjelaskan kalau pria yang sedang tidur lelap ini bukan pacarnya. Dengan wajah panik Alex berkata, "Taxi."
Pria Tua tadi langsung melambaikan tangan pada Taxi yang sedang melintas, kemudian segera membantu Alex membopong 'pacar' nya ke dalam taxi,lalu kemudian bapak itu pergi begitu saja.
Di dalam taxi Alex bengong tidak tahu harus bagaimana saat supir bertanya ke mana tujuan mereka. Alex mengambil nafas pelan lalu dihembuskan, untuk menyenangkan dirinya. Kemudian di berikannya alamat gedung apartemen kepada supir taxi.
Alex tadinya hendak menghubungi Ryan, tapi diurungkan niatnya itu karena tidak ingin mengganggu Ryan yang sudah pasti sedang tidur jam segini. Akhirnya sesampai di apartemen Alex meminta tolong petugas penjaga apartemen agar dia bisa menitipkan pria yang dia bawa di pos mereka
"Maaf Nona, tapi kami tidak bisa menampungnya, ini sudah peraturan. Biar kami bawa saja dia ke kantor polisi. Dia bisa istirahat di sana sampai dia sadar," saran Pak penjaga.
Alis Alex mengernyit mendengar kata kantor polisi. Rasanya terlalu kejam jika dia di titip kan di sana. Alex memang tidak mengenalnya, akan tetapi dirinya tahu jika pria ini adalah teman satu kampusnya, jadi Alex merasa kasihan jika harus membawanya ke kantor polisi.
"Tidak usah Pak, kalau begitu bisa tolong bantu saya bawa dia ke apartemen saya," pinta Alex yang di Iya kan oleh penjaga.
Sampai di apartemen Alex merebahkan pria itu di atas sofa kemudian menaruh bantal di bawah kepalanya dan menyelimutinya.
Tidak akan terjadi apa-apa, pikir Alex. Badan pria ini tidak besar dan berotot, dia akan tidur di kamar dengan pintu terkunci. Kalaupun pria ini berbuat hal buruk, tinggal pukul dengan panci kepalanya.
* * * * Pengumuman * * * *
__ADS_1
Otak Thor lagi buntu ini, karena terlalu banyak kesibukan, jadi pikiran bercabang.
Ayo kasi Thor semangat dengan baca, like dan comments yaaa. Padahal pengen baca banyak novel yang tersendat di noveltoon, tapi masih menunggu waktu luang ini. Novel - novel favorite ku,,, yang sabar ya,, kalau sudah nggak sibuk aku pantengin kalian begadang sampai pagi.