
Alex menikmati nasi gorengnya dengan lahap dan meskipun dia terlihat mendengarkan obrolan pagi keluarganya dengan khusuk, tapi telinganya tetap awas menanti suara bel pintu. Biarpun kemarin dia sudah salah tingkah dan menghindar tapi tak bisa di pungkiri jika dia menantikan kedatangan Chris. Tapi hari ini dia kerja sore, jadi kemungkinan Chris datang dan memencet bel rumahnya sepertinya sangat kecil sekali.
'Tiiing...' baru saja bell rumah berbunyi Alex sudah melesat ke pintu depan. Dia berhasil membuka pintu bahkan sebelum bunyi bell nya berhenti.
"Pintunya di buka lebih cepat dari kemarin. Apa kau sedang menungguku tadi di balik pintu?"
"Enak saja buat apa aku menunggumu di balik pintu, " sanggah Alex. Dia memang menunggu Chris, tapi tidak di depan pintu, jadi dia tidak bohong dengan menyanggah apa yang Chris katakan.
Mereka berdua langsung menuju meja makan. Chris benar-benar bertingkah seolah dia berada di rumah sendiri. Setelah menyapa anggota keluarga yang lain dia langsung ikut sarapan bersama tanpa menunggu untuk di tawarkan seperti kemarin.
"Nasi gorengnya nggak terlalu pedas kan?" tanya ibu, karena semua anggota keluarga Purnomo sangat menyukai masakan pedas, jadi apa yang menurut mereka tidak pedas bukan berarti juga tidak pedas untuk yang lain.
"Nggak Bu, aku juga suka pedas."
"Kalau kurang nambah ya, " ucap ibu lagi.
Alex berusaha menyembunyikan salah tingkahnya yang merasa senang di awang-awang. Entah kenapa meskipun perasaan salah tingkahnya saat berada dekat dengan Chris sangat menyusahkannya tapi dia merasa ingin berada di dekatnya terus-menerus.
"Hari ini aku kan kerja sore, kenapa pagi-pagi sudah di sini numpang sarapan." Alex mengutuk dirinya sendiri atas apa yang ia ucapkan. Dia sendiri tak habis pikir, kenapa yang terpikir olehnya untuk mengobrol dengan Chris isinya cuman sindiran dan ejekan. Padahal dulu dia terlihat selalu ketakutan jika harus berhadapan dengan Chris.
Kenapa coba aku tidak bisa bersikap manis atau normal selayaknya wanita yang lain yang selalu berada di sekitar Chris. Kutuknya kesal.
"Jangan ngomong sembarangan, dia kesini karena ada janji denganku. Kami mau mensurvey soal donasi yang akan di berikan orang tua Chris, " jelas Andre.
Wajah Alex terasa panas karena malu mendengar jawaban Andre, dan dia pun mencoba mencari topik pembicaraan lain, " Kak, ini kan hari sabtu harusnya kau libur."
" Tidak masalah, kami hanya akan mengunjungi tiga tempat yang akan mendapat bantuan utama. Aku sudah memberi kan semua daftar UKM (Usaha Kerja Mandiri) yang akan menerima bantuan, dan dia memilih 3 UKM yang akan mendapat bantuan lebih besar dari yang lain. Jadi kami perlu mensurvey apakah mereka benar-benar pantas atau tidak. " jelas Andre panjang.
" Ternyata kakakku ini yang terhebat, segitunya bekerja keras untuk menolong sesama, " puji Alex yang memang selalu bangga dan sayang pada kakaknya, walaupun mereka itu biasanya saling ejek dan becanda terus.
" Terima kasih adikku sayang, kalau begitu kamu cobalah melakukan sesuatu yang bisa membuat kakakmu ini bangga." Semua orang terkekeh dengan ucapan Andre kecuali Alex yang merengut sebal.
"Baru saja aku puji sampai langit ketujuh tau-taunya aku dihempas jauh ke dalam perut bumi," protes Alex kesal. Dia menyempatkan diri melirik Chris yang tengah tertawa lucu mendengarkan obrolan kakak adik ini. Melihat itu Alex jadi merasa melayang ringan bahagia.
Ya Tuhan perasaan macam apa ini?. Kumohon jangan sampai aku jatuh cinta pada makhluk tampan di depan ku ini. Dia merasa nyaman bersama ku karena dia pikir aku bisa jadi teman yang tulus berteman dengannya tanpa embel-embel apapun seperti orang-orang yang selama ini ditemuinya. Jangan sampai aku kehilangan arah ya Tuhan. Alex berdoa dalam hati.
Ketika pikirannya sudah kembali ke kesadarannya Alex terkejut karena Chris dan kakaknya sudah beranjak dari kursi mereka. Ingin sebenarnya dia ikut, toh dia kerja sore hari ini, tapi nggak etis sih rasanya karena dia tidak ada hubungannya dengan hal yang kedua pria ini lakukan.
Akan tetapi dia tidak bisa menghentikan langkahnya mengikuti mereka keluar menuju halaman depan.
"Mau kemana?" tanya Andre heran melihat adiknya berjalan mengekor.
__ADS_1
"Mau antar sampai depan."
"Wah sepertinya aku harus mencatat hari ini, tumben kau mengantarku ke depan. Lagian kenapa pakai acara mengantar, aku ga pergi jauh untuk waktu yang lama sampai perlu di antar. Memangnya kau pikir aku ini pergi wajib militer, " goda Andre merangkul bahu adiknya erat lalu berbisik," Lagakmu sudah seperti pengantin baru saja
so sweet. Tenang 2 jam lagi aku balikin Chris kok. "
Wajah Alex berubah merah mendengar candaan kakaknya, Segera dia melirik Chris yang hanya berada selangkah di depan mereka. Menerka-nerka apakah ucapan kakaknya tadi terdengar olehnya atau tidak. Ingin sekali dia menginjak kaki atau mencubit tangan kakaknya dengan keras, tetapi entah kenapa tenaganya seakan hilang menguap ke udara. Chris tampak tetap anteng berjalan, jadi sepertinya dia tidak mendengar apa-apa dan itu membuat Alex bernapas lega.
"Pakai mobilku saja, " ucap Chris pada Andre.
"Boleh tidak aku yang nyetir?. Biar pernah sekali saja nyetir mobil mahal." Andre nyengir seperti anak kecil yang ingin meminjam mainan kakaknya. Yah mau bagaimana lagi memangkenyataannya Chris lebih tua lima tahun darinya.
Tanpa menyahut Chris langsung melempar kuncinya ke arah Andre yang langsung menangkap lalu berlari ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Sementara Chris berjalan mendekati Alex.
"Aku pergi dulu ya istriku sayang, " ucapnya lembut di telinga Alex sambil tersenyum jail lalu pergi menyusul Andre yang sudah duduk di dalam mobil.
Mobil langsung melaju meninggalkan Alex yang masih berdiri terpaku seperti patung. Jika tadi tenaganya hilang ketika di goda oleh Andre, sekarang ia merasa jiwa nya tersedot keluar dari tubuh nya. Ternyata Chris mendengar ucapan Kakaknya tadi, tapi kenapa dia diam saja dan tetap berjalan seolah-olah dia tidak mendengar apa-apa. Lalu kenapa juga dia ikut mengatakan hal seperti itu.
Sementara itu di dalam mobil Andre tampak sangat senang dan takjub dengan mobil yang di kendarainya.
"Ternyata begini rasanya menyetir mobil mahal. Rasa percaya dirimu langsung meningkat berlipat lipat ya, " ucapnya takjub.
"Maaf bagaimana aku harus memanggilmu?. Pak Chris, Pak Prasetya?" tanya Andre karena meskipun sudah bertemu berulang-ulang kali dia tidak pernah benar-benar memanggil pria di sebelahnya. Posisinya agak sedikit membingungkan, karena Chris saat ini adalah teman adiknya, tapi umur Chris lima tahun lebih tua darinya, dan juga saat ini dia adalah donatur terbesar yang memang tim nya harapkan, jadi tidak lah salah jika Andre merasa bingung.
"Baiklah kalau begitu aku tak akan sungkan lagi memanggilmu Chris."
Mengadakan kunjungan tidak lah sulit atau perlu waktu lama, karena Chris hanya ingin memastikan tempat dan peralatan yang mereka gunakan bersih dan layak. Karena ketiganya adalah jenis usaha kecil, mereka membuat produk mereka di rumah dengan peralatan seadanya. Sedikit pertanyaannya mengenai berapa penghasilan mereka dan apa kesulitan yang di alami.
Tak perlu waktu dua jam mereka sudah kembali berada di rumah. Ayah dan Ibu sudah berangkat ke toko percetakan hanya menyisakan Alex yang tengah menonton TV di ruang keluarga. Tapi di lihat dari matanya dia sama sekali tak menyimak apa yang di tontonnya. Kepalanya masih tidak bisa menghapus kejadian dengan Chris tadi di beranda rumah. Dan sekarang dia sudah kembali di buat salah tingkah oleh kepulangan Andre dan Chris.
"Masih sekitar dua jam-an kan sampai nanti kau harus mengantar Alex?. Istirahat saja di sini dari pada bolak-balik. Oh ya ngomong-ngomong kau tinggal di mana sih?"
"Aku tinggal di kota Z daerah dekat bukit Spears."
"Waaaahh kau punya rumah di sana, itu kan daerah elit. Mau-maunya kau diperbudak adikku mengantar jemputnya, padahal rumahmu di kota sebelah. "
" Seenaknya saja, siapa yang memperbudak hah! " Alex melempar bantal sofa ke arah Andre yang langsung mengelak dan bantalnya mendarat di muka Chris.
" Sudah di perbudak sekarang di siksa. Aku tak akan melarangmu jika kau ingin melaporkannya ke polisi, " gurau Andre." Aku mau istirahat di kamar ya, jangan ada yang ganggu, " ucapnya ngeloyor pergi.
Alex langsung kembali mengarahkan pandangannya ke arah TV karena sekarang hanya tinggal berdua saja dengan Chris.
__ADS_1
" Kenapa kau tidak menyambut suamimu dengan manis?" Chris duduk dekat di sebelah Alex hingga bahu mereka bersentuhan.
"Apa sih, jangan macam-macam lagi mau kulempar pakai meja sekalian." Tidak ada lagi cara lain menyembunyikan kegugupannya selain dengan cara bersikap kasar, tapi tentu saja dia tak benar-benar bermaksud melempar meja ke arah Chris.
"Kukira kau itu akan bersikap semakin imut dan manis kalau sedang malu-malu gugup, " ucap Chris menyandarkan badannya santai di punggung sofa.
"Tidak lucu tau bercandamu itu."
"Terus kenapa kau malu-malu begitu, apa jangan-jangan kau memang naksir aku ya?"
"Jangan sembarangan ya, aku ini belum pernah punya pacar atau teman pria jadi tentu saja aku jadi salah tingkah jika bercandamu seperti itu, " kilah Alex. Memang sih itu lah yang membuat Alex galau akan perasaannya karena memang baru Chris saja pria yang dekat dengannya selain Ayah dan Kak Andre.
" Lalu pria yang kencan denganmu di restoran China itu siapa?"
"Dia temanku, anak pemilik toko ice cream langgananku sejak SMP."
"Tadi kau bilang tidak punya teman pria."
"Itu kami baru kenal sehari sebelumnya, bukan teman lama."
"Baru kenal sudah di ajak makan malam, apa itu tidak merayu namanya."
"Mana ada di ajak makan namanya merayu. Jangan-jangan kau cemburu ya." Alex sudah agak santai dan tidak kikuk lagi, jadi dia memutuskan untuk bergurau dengan Chris, sedikit membalas apa yang dia lakukan pada nya tadi.
"Kalau memang aku cemburu memangnya kau akan melakukan apa untuk menghilangkan rasa cemburuku, " ucap Chris dengan nada manja lebay dan kini wajahnya dekat dengan wajah Alex. Matanya menatap lurus mata gadis di depannya yang membelalak kaget.
Alex membeku lagi, kalau tadi dia membeku karena bulu kuduknya merinding merasakan napas Chris di telinganya sekarang dia merasakannya di wajahnya.
Aroma mint segar berhembus lembut di wajahnya. Ada perasaan aneh yang tidak bisa dia ungkapkan, perutnya terasa mulas tapi ini bukan mulas yang menyakitkan saat kau sakit perut, melainkan lebih ke perasaan geli merinding aneh tapi dia menikmatinya.
Mata Chris beralih dari mata ke bibir Alex dan melihat itu Alex otomatis melirik bibir Chris. Bibir yang berwarna merah muda segar dan terasa kenyal. Alex merasakan mulutnya basah sehingga dia harus menelan ludah.
"Sudah ku bilang jangan berbuat yang aneh-aneh juga." Alex menepuk jidat Chris keras sampai dia meringis. Hampir saja tadi dia lepas kendali. Sudah terbayang di benaknya adegan ciuman dari karakter anime favoritnya.
"Terjawab sudah alasan kenapa tak ada lelaki yang mendekatimu, " gerutu Chris masih mengelus dahinya yang terasa sedikit panas.
Alex... Alex.. entah aku harus merasa lega atau kesal melihatmu yang ajaib begini. Bagaimana mungkin kau masih belum bisa menangkap arti dari ucapan dan tindakanku padamu. Apa mungkin sebenernya ada banyak pria yang mendekatimu tapi memang dasar kau tidak peka.
***********PENGUMUMAN ******
Thor ingin meminta maaf karena cukup lama tidak update, karena Thor benar-benar sibuk. Sedikit merasa lega karena novel nya baru punya sedikit pembaca jadi tidak mengecewakan terlalu banyak orang, tapi tetap merasa bersalah pada pembaca yang sedang menunggu episodes terbaru.
__ADS_1
MAAF SEKALI LAGI (Thor membungkuk 90°**)