Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Perpisahan I...


__ADS_3

" Apa anda mencari Saya? " tanya Alex saat sudah berada di ruangan Pak Radit.


"Alex aku mohon maaf kan aku, aku bisa jelaskan semuanya." Chris langsung bangkit dari duduknya menghampiri Alex.


"Penjelasan apa yang bisa kau berikan agar aku bisa memaafkanmu. Tidak ada. Ini bukanlah kesalahpahaman seperti yang ku alami dengan Bu Madeline," ucap Alex berusaha menekan suaranya yang semakin meninggi karena amarah.


Chris berdiri diam terpaku. Apa yang di ucapkan Alex memang benar. Dia mutlak bersalah dalam hal ini,akan tetapi dirinya tidak ingin kehilangan Alex.


" Aku akui ini salahku, kesalahan yang sangat besar. Aku benar-benar minta maaf, tidak bisakah aku mendapat satu lagi kesempatan untuk menebus kesalahanku? " ujar Chris lirih.


"Maaf aku tidak bisa," sahut Alex, suaranya bergetar menahan emosi.


"Aku harap kau berhenti mencari ku dan memohon seperti ini. Keputusanku sudah bulat. Aku juga salah karena terlalu memaksa diriku untuk bisa masuk ke cara hidupmu. Kita berdua terlalu memaksa diri agar bisa masuk ke kehidupan masing-masing. Ini kesalahan kita berdua, dan sudah cukup sampai di sini sebelum kita menderita lebih dari ini. Permisi. " Alex berlalu keluar.


Air mata Alex sudah jatuh menetes. Pak Radit yang saat itu berdiri dekat area Bar segera menghampiri Alex dan mengajaknya ke belakang lewat pintu belakang Bar yang berada paling dekat dengan kantornya.


" Alex sebaiknya kamu pulang dan istirahat, Saya sudah menghubungi Jane untuk menggantikanmu. Tenangkan dirimu di rumah ya," ujar Pak Radit.


"Terima kasih Pak," sahut Alex.


Sepertinya saran Pak Radit memang benar. Tidak mungkin dia bisa lanjut bekerja dengan air mata yang terus mengalir.


"Ganti Pakaianmu, biar Saya antar kamu pulang."


"Terima kasih sekali lagi Pak, tapi saya tidak ingin merepotkan," tolak Alex.


" Ini perintah, memangnya nggak malu udah besar gini nangis, nanti orang di kereta liatin kamu, " ujar Pak Radit sedikit melucu agar Alex sedikit terhibur.


Dalam perjalanan pulang Alex berhasil menghentikan air matanya, akan tetapi dia hanya bengong dengan tatapan kosong, seolah jiwanya tidak di dalam raganya.


Sesekali Pak Radit menatapnya iba. Dia tidak tahu harus bagaimana. Seandainya aku yang lebih dulu memiliki kesempatan menjadi kekasihmu Alex, kamu tidak akan pernah terluka begini. Batin Pak Radit dalam hati.


Ya benar sekali, sejak awal pelatihan pembukaan Black Grill di Paradiso Radit sudah tertarik dengan Alex, apalagi ternyata dia itu sangat giat bekerja dan selalu professional. Make-up nya yang selalu natural dan sikapnya yang sopan membuat Alex terlihat sebagai calon istri idaman di mata Pak Radit.


Sayangnya rencananya yang hendak mendekati Alex pelan-pelan pupus ketika dia mendengar gosip skandal yang beredar belakangan ini. Pak Radit harus menelan pil pahit karena calon istri idamannya sudah menjadi milik atasannya. Yah, meskipun sepertinya hubungan mereka kini telah berakhir, bukan berarti dirinya langsung bisa menawarkan diri sebagai pangganti posisi atasannya itu.


"Alex, kita sudah sampai," ucap Pak Radit menepuk pundak Alex yang masih melamun.


"Maaf Pak, saya bengong. Terima kasih Pak." Alex segera keluar dari mobil, mengangguk sekali lagi ke arah Pak Radit sebelum masuk ke rumahnya.


Ibu pasti sudah menyusul ayah. Pikir Alex ketika melihat rumahnya kosong. Dia langsung menuju kamar dan menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua emosi nya yang campur aduk. Ternyata berusaha tegar tidak lah mudah.


Andre yang pulang kerja sore itu kaget melihat adiknya ada di rumah, apalagi dengan mata sembab dan bengkak.


"Apa pria brengsek itu mengganggumu di tempat kerja?. Mentang-mentang itu tempat punya dia, seenaknya saja. Memangnya manager di sana ga bisa apa bilang jangan bawa urusan pribadi ke tempat kerja," tukas Andre kesal


Alex pun menjelaskan kalau Pak Radit, atasannya sudah membantu sebisanya.


" Ya sudah, sebaiknya kamu ambil cuti dulu, sampai keadaan kamu stabil. Percuma juga kerja tapi sampai sana ada dia lagi nangis lagi," ujar Andre memberi saran pada adiknya.


"Iya Kak, tadi aku sudah hubungi manager ku. Aku di kasi cuti seminggu," sahut Alex.


"Kalau mau kemana biar kakak yang anter nggak usah pergi sendiri," ucap Andre lagi, di sahut dengan anggukan oleh Alex.

__ADS_1


Selama seminggu Alex lebih sering berada di rumah. Ribuan kali Chris menghubunginya tak satu pun di jawab Alex. Pesan pun tak di bacanya. Keempat sahabatnya Ratna, Stefi, Nayla dan Bimo menjenguknya sesekali. Ryan pun sering menghubunginya lewat panggilan video. Bahkan beberapa rekan lain di Black Grill juga memberi nya semangat. Kalau sedang bersama keluarga atau sahabatnya Alex bisa sedikit terhibur, akan tetapi kala sendiri tangisnya langsung pecah.


"Kamu yakin besok udah bisa balik kerja?" tanya Nayla yang saat itu datang berkunjung.


"Aku udah buat keputusan Nay, kalau aku bakal berhenti kerja di sana," ucap Alex dengan senyum kecut.


Meskipun masih sering menangis seperti orang yang lemah selama ini Alex mikirkan semuanya dengan serius. Rasa sedih dan sakitnya mungkin akan butuh waktu lama untuk sembuh, tapi Alex tidak mau terpuruk terlalu lama. Dia akan belajar menikmati rasa sedihnya dan berteman dengan rasa sakitnya untuk melanjutkan hidup yang lebih baik.


"Aku nggak mau kamu pergi Lex, tapi kalau itu yang terbaik buat kamu aku ikhlas."


"Apaan sih Nay, lebay ah. Kalau ada abang tukang bakso lewat denger kamu, bisa-bisa ada salah paham ntar. Udah kaya ngomong sama pacar aja," sahut Alex bergurau. Mereka sedang di kamar mana mungkin abang bakso lewat.


"Niat aku tuh ngehibur kamu, tapi kok malah aku yang di bikin ketawa," ucap Nayla sambil terkekeh.


********


Sesuai rencana, keesokan harinya Alex datang ke restoran dan langsung menghadap Pak Radit untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.


"Saya mengerti keadaan kamu Lex,tapi kamu tahu kan peraturannya, kalau kamu harus menyerahkan surat sebulan lebih awal dari hari terakhir kamu bekerja. Kalau kamu mau mengundurkan diri di hari yang sama dengan penyerahan surat kamu harus bayar uang penalty," ucap Pak Radit menjelaskan.


" Saya terima risikonya Pak, " sahut Alex yang sudah membulatkan tekadnya.


Pak Radit meminta Alex membawa semua atribut milik restoran yang harus di kembalikan kepada Joyce, asisten manager untuk si cek kelengkapannya.


Setelah semua beres Alex kembali ke ruangan Pak Radit untuk mengetahui berapa jumlah penalti yang harus dia bayar.


"Oke, sekarang kamu tinggal tanda tangan di sini sebagai bukti kamu sudah memenuhi semua persyaratan pengunduran dirimu," ucap Pak Radit sambil menyerahkan kertas berisikan daftar semua persyaratan pengunduran diri dalam 24 jam dan semuanya sudah di beri centang rumput.


" Tapi Pak, saya belum membayar denda penalti nya, "ucap Alex bingung.


" Sayangnya besok saat Saya umumkan siapa yang meraih penghargaan kamunya nggak ada ya, tapi nggak apa yang penting kamu bahagia, " ucap Pak Radit.


" Ingat ya Lex kamu harus bahagia. " sambungnya manjabat tangan Alex erat.


Kalau lain waktu saat lukamu sembuh kita berjumpa lagi, dan kita sama-sama sendiri, aku tidak akan lagi mengulur waktu untuk mendekatimu. Begitulah makna dari jabatan erat Pak Radit sesungguhnya.


Setelah berpamitan pada rekan-rekan kerjanya dan berjanji kalau mereka akan tetap saling kontak dan menjadi teman, Alex kemudian pamit.


******


Alex menyibukkan kehidupan menganggurnya dengan membantu persiapan acara pertunangan kakaknya. Meskipun hanya dihadiri keluarga besar kedua belah pihak dan sahabat terdekat ternyata cukup banyak juga hal yang perlu di persiapkan.


Chris sudah tidak pernah lagi menghubunginya, akan tetapi dia masih tetap mengirim pesan meminta maaf pada Alex, dan tak ada satu pun yang Alex baca.


" Ayah, Ibu, Kak Andre, ada yang mau Alex omongin. " ucap Alex saat mereka sedang santai sambil mengecek kembali semua persiapan yang sudah rampung untuk acara pertunangan besok lusa.


"Alex mau lanjut kuliah ke luar negri," sambungnya.


Seketika anggota keluarganya tampak kaget mendengar ucapan Alex. Memang mereka tahu kalau Alex sangat ingin melanjutkan kuliah dan selama ini dia menabung untuk itu karena tidak ingin merepotkan keluarganya, akan tetapi mereka tidak menyangka jika Alex memilih kuliah di luar negri.


"Apa tidak bisa di sini saja, di kota lain juga boleh, atau di tempat pamanmu saja bagaimana?. Di sana banyak kampus besar, kan?" ucap Ibu yang sudah merasa khawatir jika putri satu-satunya tinggal di tempat jauh dan asing.


"Memangnya tabunganmu cukup untuk kuliah di sana? Ayah memang akan membantu sebisanya, tapi apa itu cukup. Ini kuliah lho Lex, bukan cuman liburan," timpal Ayahnya agar Alex memikirkan kembali keputusannya.

__ADS_1


"Kakak juga pasti akan bantu kamu, tapi Kakak nggak mau kalau alasan pilihan kamu ini hanya untuk menghindar dari laki-laki itu," ucap Andre serius.


Alex pun menjelaskan pada keluarganya jika keputusannya sudah bulat dan dirinya sudah mencari informasi tentang semua hal yang dia perlukan. Sebenarnya sejak dia bertemu Chris di restoran untuk yang terakhir kalinya, dia sudah memikirkan semuanya sampai ke hal terkecil. Banyak juga saran yang dia dapat dari sahabatnya, dan akhirnya dia memilih untuk melanjutkan impiannya untuk meraih gelar sarjana.


Alex juga ingin mencari suasana baru sehingga pikirannya bisa lebih teralihkan. Dirinya juga tidak mau selalu terlihat sedih dan menangis di depan keluarganya, jadi memang lebih baik pergi sejauh mungkin.


"Tapi nanti diuar sana kamu enggak punya siapa-siapa Lex, kalau masih di sini kan lebih gampang, mau di kota lain juga tidak apa. Kita masih bisa kesana susul kamu. Ini ke luar negri nyusulnya susah, kan." Ibu tetap berusaha membujuk Alex.


"Ada Ryan, Bu. Aku bakal ke negara NY satu kampus bareng Ryan. Semua bakal dia yang bantu, jadi aku nggak sendiri," jawab Alex.


Memang sejak memutuskan untuk sekolah di luar negri, Alex langsung meminta saran pada Ryan, dan temannya itu sangat mendukung keputusannya. Ryan mencarikan semua informasi mengenai universitas yang mungkin di sukai Alex, termasuk mengusulkan universitas tempatnya kuliah, tempat tinggal sekaligus harga sewa, sampai lowongan magang yang memang sering di isi oleh anak kuliahan untuk nambah uang saku.


Melihat tekad besar Alex, keluarganya pun tidak bisa berkata apa-apa. Walaupun masih khawatir, tapi setidaknya ada Ryan yang bersedia membantu.


"Terus kapan rencananya kamu berangkat, Nak?" tanya Ayah.


"Sebulan lagi Yah. Sebenarnya semua sudah beres, aku tinggal daftar ulang nanti begitu sampai di sana, visa belajar ku juga minggu depan sudah jadi. Kalau bukan karena pernikahan Kakak ku tersayang mungkin aku berangkatnya minggu depan," jawab Alex membuat sekeluarga kaget.


Mereka mengira akan perlu waktu lama untuk memproses semuanya.


" Yah, Bu, Andre nikahnya tahun depan aja kalo gitu, " canda Andre.


" Hus, kamu jangan ngomong sembarangan. Pamali, " tegur Ibu.


Mau tak mau keluarganya harus berlapang dada menerima keputusan Alex. Mungkin memang ini lah yang terbaik, dan semoga gadis kecil mereka bisa kembali ceria dan bersemangat.


* ** **


"Buuuu, nih dua tamu tak di undang datang," ujar Alex sambil menunjuk Ratna dan Stefi.


Mereka berdua bukan kerabat kedua mempelai, bukan juga sahabat atau teman dekat kedua mempelai, makanya Alex menyebut kedua sahabatnya itu tamu tak di undang.


"Yeeee, Kak Andre itu udah kita anggap kakak sendiri tahu," protes Ratna di dukung anggukan dari Stefi.


"Ada yang perlu kita bantu nggak Tante?. Sini biar Stefi yang bantu." ucap Stefi seraya mengambil alih nampan berisi gelas kotor dari tangan Ibunya Alex.


"Nah gitu dong sekali-sekali bermanfaat dikit jadi tamu," ucap Alex melanjutkan candaannya.


Mereka yang tadinya tertawa bahagia tiba-tiba terdiam melihat sosok yang tengah melewati pintu gedung tempat acara pertunangan di adakan.


Chris tampak gagah dengan setelah jas hitam yang langsung di sambut oleh Pak Jaya, ayah dari pihak wanita. Bukan hal yang mengagetkan sih jika mereka saling kenal dan berhubungan baik, keduanya adalah orang kaya yang sama-sama berpengaruh di dunia bisnis, jadi sudah pasti Pak Jaya mengundang Chris.


Ratna mengajak Alex untuk masuk ke ruang belakang tempat makanan dan minuman di siapkan, namun Alex menolak. Dia ingin menunjukkan pada Chris kalau dia sudah baik-baik saja, meskipun sebenarnya hatinya terasa perih.


Alex sebenarnya lebih khawatir dengan kakaknya Andre, jangan sampai nanti acara ini jadi rusak kerena kakaknya tidak bisa mengontrol emosinya.


Untungnya apa yang ditakutkan Alex tidak terjadi, meskipun kakaknya tidak tersenyum, tapi paling tidak dia tetap membalas jabatan tangan Chris. Dan yang lebih menguntungkan lagi Chris tidak memiliki waktu untuk mendekati Alex, karena para undangan pihak perempuan sebagian besar adalah pelaku bisnis dan mereka selalu mengajak Chris mengobrol. Setiap kali Chris hendak menghampiri Alex pasti ada tamu lain yang menyapanya, dan saat itu di gunakan Alex untuk membuat jarak sejauh mungkin dari Chris.


Maaf Chris aku masih belum sanggup bertatapan denganmu lagi. Ucap Alex dalam hati.


*******PENGUMUMAN *****


Hayoooo kalau kalian sanggup nggak bertatapan dengan mantan?

__ADS_1


Kalau Thor kayaknya bisa nyembur api dari mata kalau ketemu mantan biar hangus sekalian sehangus hatiku ( curhat lagi curhat lagi)


Jangan lupa like, comment dan vote ya muuuuaaaacccchhhh.


__ADS_2