Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Kebenaran?....


__ADS_3

"Alex, lihat ini perpustakaan favorite mu sudah resmi menjadi restoran terkenal. Ayo kita ke sana, hitung-hitung mengenang masa-masa waktu masih jadi perpustakaan," ajak Amel sambil menunjukkan koran lokal yang halaman depannya berisikan berita pembukaan restoran Black Grill.


" Tidaaak! " teriak Alex keras sehingga semua penghuni perpustakaan kampus saat itu menoleh padanya.


" Aku sedang ada banyak tugas minggu ini," kilah Alex, kali ini dengan suara hampir berbisik.


"Yaaaaah, sayang sekali padahal rencananya ajak Ryan juga, dan kamu bisa ajak Ben," ucap Amel kecewa.


Alex tidak menggubris Amel dan berpura-pura sibuk membaca buku di depannya. Datang saat hari biasa saja akan berpikir sejuta kali dulu, ini malah di ajak datang saat malam pembukaan. Cari-cari masalah namanya. Bisa-bisa malam pembukaan berubah jadi malam reunian. Batin Alex.


Tidak hanya sekali itu saja Amel memintanya, tapi selama seharian di kampus hampis setiap pergantian mata kuliah dan jam istirahat dia menemui Alex hanya untuk mengajaknya pergi ke pambukaan Restoran Black Grill, belum lagi semua pesan lewat ponsel.


"Heran deh, harusnya kamu sama Ryan menjadi orang yang paling bersemangat pergi, secara itu dulu perpustakaan yang paling sering kalian kunjungi. Ini malah kompak dua-duanya tidak mau." omel Amel saat Lagi-lagi dia mencegat Alex yang kali ini hendak pulang kuliah.


Ryan saja malas, apalagi aku. Pikir Alex dalam hati. Karena penasaran kenapa Amel begitu gencar mengajaknya Alex kemudian berkata," Memangnya harus saat pembukaan? Hari lainnya tidak bisa? Itu restoran pasti enggak hanya buka malam nanti."


"Tapi khusus nanti malam ada discount sampai 50%." Akhirnya terkuak alasan kengototan Amel.


Tetap menolak walau dengan iming-iming potongan setengah harga, Alex meninggalkan temannya yang ngambek seperti anak kecil. Padahal Amel tetap bisa pergi sendiri atau dengan yang lain. Untuk apa dia ngotot pergi dengan Alex.


Dari dalam Bis yang di tumpangi Alex, dia bisa melihat dari kejauhan gedung perpustakaan umum yang telah di sulap sehingga semakin tampak antik dan juga mewah.


Untuk seminggu ke depan Alex meminta ijin cuti dari kerja sambilannya, jadi sepulang kuliah dirinya hanya mendekam di dalam kamar. Dirinya benar-benar mengantisipasi kemungkinan bertemu Chris atau Madeline.


Bahkan dirinya harus absen dari jadwal memancing dengan yang lain. Awalnya Ben mengira Alex ingin menjauh darinya, namun Alex berhasil meyakinkan nya dengan alasan jika dirinya sedang ada sedikit masalah keluarga di rumah yang harus di selesai kan. Bahkan Alex berjanji saat masalah keluarganya selesai dirinya akan mentraktir Ben minum di tempat kerjanya.


' Ting Tong'


Dari lubang intip di pintu, Alex melihat sosok Ryan.


Di bukakan nya pintu dengan senyum sumringah yang merekah. Baru juga 2 hari mendekam dalam apartemen Alex sudah merasa sangat bosan.


"Hai, apa kabar?" tanya Ryan. Memang cukup lama mereka tidak bertemu untuk mengobrol. Beberapa kali mereka berpapasan, dan hanya bertegur sapa sambil lalu.


"Aku bosaaaaaannnn," keluh Alex mempersilahkan Ryan masuk.


"Kamu nggak apa-apa? Tadi Amel ngambek dan ngomel-ngomel gara-gara kita kompak nolak pergi ke Black Grill," ucap Ryan dengan ekspresi lucu-lucu khawatir.


Aku kira dia kesini karena benar-benar khawatir, tahunya malah karena pacarnya ngomel-ngomel. Jadi sekarang sudah berani curhat nih ceritanya. Batin Alex sedikit dongkol.


" Kamu juga sih, ngapain coba ikutan nggak mau. Enggak ada hubungannya juga kali sama kamu. Lagian mungkin sekarang Chris sudah lupa dengan tampangmu. Ketemu juga cuman sekali, kan?" sahut Alex dengan nada sedikit kesal.


"Bukan masalah dia ingat atau tidak, tapi aku sendiri sepertinya akan refleks menghajar nya jika bertemu dengannya." tukas Ryan.


"dan lagi, kita masih bisa ke sana hari lain. Nanti aku traktir kalian berdua, biar Amel nggak ngambek dan hitung-hitung menyembuhkan fobiamu terhadap ******** itu," lanjut Ryan.


"Siapa juga yang fobia!" protes Alex tidak terima.


"Lagian buat apa aku jadi obat nyamuk," gerutu Alex lirih sambil berlalu ke dapur untuk mengambil minum untuk tamunya.


"Bilang apa tadi?" tanya Ryan penasaran.

__ADS_1


"Aku bilang aku mau ambil minum dan cemilan dulu," sahut Alex bohong.


Alex... Alex, kenapa kamu tidak interogasi saja Ryan sekarang. Kapan mereka jadian, bagaimana ceritanya sampai jadian, dan banyak lagi. Sebagai sahabat seharusnya kamu bahagia. Padahal biasanya kamu bisa bercerita hal yang paling privasi sekali pada nya. Masa pertanyaan segitu kamu ragu. Apa kamu masih berusaha menyangkal hubungan mereka? Apa sebenarnya kamu tidak rela Ryan menjadi milik yang lain? Banyak sekali hal berkecamuk dalam pikiran Alex.


Ryan menemani Alex cukup lama, bahkan mereka memasak makan malam bersama dan Ryan baru pamit setelah selesai mencuci peralatan makan.


Malamnya dia mengobrol dengan sahabat - sahabatnya di kampung halaman.


Alex melaporkan kemajuan hubungannya dengan Ben. Awalnya dia mengira dirinya akan mendapat pujian karena berani mencoba, tapi kenyataannya malah omelan lagi yang dia dapat.


"Kemajuanmu bagai siput pincang Lex," ujar Nayla.


"Hush, jangan gitu Nay, bagi Alex kita ini hal seperti itu sudah kemajuan besar," Ratna sedikit membela Alex, tentu saja setelah tadinya mengomel dulu.


"Yah, mau bagaimana lagi. Susah berurusan dengan anak gadis yang masih eheemm.. eheemm," ucap Nayla lagi.


"Kalian ini, memang apa salahku coba kalau aku ingin menjaga nya untuk laki-laki yang akan menikahiku." Alex kesal karena selalu saja hal itu di jadikan bahan ejekan. Meskipun dia tahu sahabat-sahabatnya hanya bergurau.


Alex tidak pernah sedikit pun meremehkan wanita manapun yang memilih untuk melepas keperawanannya sebelum menikah. Itu bukan urusannya, dan setiap orang memiliki pilihan masing-masing, hanya saja lama-lama dia kesal juga karena zaman sekarang banyak yang malah menganggap remeh para wanita yang memilih untuk menyerahkan yang pertama pada suami mereka. Seolah-olah kami hidup di zaman batu dan hal seperti itu sudah tidak Zaman nya lagi.


"Kita bukannya nyuruh kamu ikut ke apartemen Ben atau cowok manapun untuk melakukan begini-begitu. Maksud kami, kalian itu jalan di tempat, kamu nunggu di tembak, si Ben nunggu kamu ke apartemen. Bagaimana kalau kamu coba terima undangannya dan lihat di sana, kalau ternyata maunya begitu ya sudah bilang baik-baik. Masalah beres,"ucap Stefi panjang lebar mewakili yang lain.


" Tapi ya, si Ben itu, apa susah nya sih nembak di Taman ato di parkiran gitu, memang harus di apartemen ya? "Nayla penasaran.


" Siapa tahu memang dia bukannya mau nembak, tapi cuman mau 'itu' saja, "celetuk Ratna.


" Menurutku apapun itu ya harus di selesaikan, mau stuck di hubungan yang nggak jelas dan saban hari capek cari alasan nolak main ke apartemen? " tanya Nayla.


Memang benar juga apa yang di sarankan sahabatnya. Hanya saja, bagaimana jadinya jika nanti tidak berakhir baik. Akankah hubungan nya dengan Ben akan jadi canggung dan dia juga bisa kehilangan teman-teman yang lain karena ini.


*****


Akhirnya masa inkubasinya berakhir hari ini. Untungnya memang ada banyak tugas dari kampus sehingga dia sedikit di sibukkan, dan teman-teman kuliahnya juga bersedia mengerjakan tugas kelompok di apartemennya. Sepulang kuliah nanti Alex berencana menikmati hari terakhirnya dengan makan dan tiduran sambil menonton film secara marathon, toh besok dirinya tidak ada kuliah.


"Alex kalau nggak salah kamu temen deket dengan Amel ya?" tanya Mila teman satu jurusannya.


"Lumayan dekat, tapi juga tidak terlalu dekat," jawab Alex, karena memang selama ini Amel yang sejak awal menempel padanya, dan Alex hanya mencoba menghargai pertemanan mereka.


"Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengannya, apalagi kalau kamu sedang punya pacar atau gebetan," ucap Mila memberi saran.


"Kenapa ya?" tanya Alex penasaran, kenapa juga tiba-tiba teman sekelasnya seperti tahu sesuatu tentang Amel yang tidak dia ketahui.


"Katanya Amel itu suka mendekati pacar orang, apalagi teman atau orang yang dia kenal, pasti bakal diembat cowoknya," sahut Mila.


Betapa tercengang nya Alex mendengar berita itu. Bagaimana mungkin, bukannya Amel sedang pacaran dengan Ryan. Kalau masalah mengejar cowok memang itu seperti hobby buat Amel, dan dia juga cepat sekali putus lalu mengejar yang baru. Tapi sepertinya belakangan ini dia sudah tidak seperti itu dan Alex mengira itu karena akhirnya dia merasa cocok dengan Ryan.


Walau sepertinya itu bukan urusannya, secara dia tidak punya pacar dan gebetan, tapi tetap saja berita tadi mengusik Alex karena Ryan.


Tanpa pikir panjang dia langsung menghubungi nomor Ryan.


"Hallo Lex, ada angin apa nih," goda Ryan di tempat lain.

__ADS_1


"Enggak ada apa-apa, hari inkubasi terakhir nih. Mau marathon film nggak di tempatku? Ajak Amel juga,"


"Boleh, tapi kamu saja yang ajak Amel, kalian memang nya nggak ketemuan di kampus?"


"Nggak, jam kuliah kita beda. Eh, ngomong-ngomong hubungan kamu dan Amel gimana?" tanya Alex canggung.


"Baik-baik saja, kenapa?"


"Nggak apa-apa, ya sudah ketemu nanti sore ya," Alex mengakhiri panggilannya.


Sepertinya gossip yang Mila katakan tidak benar, mungkin dia mendengar pembicaraan orang tentang Amel yang dulu. Tebak Alex.


Sore menjelang malam Ryan tiba di apartemen Alex lengkap dengan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng ala restoran (isinya lengkap dengan daging, telur, sayur). Mereka langsung menuju dapur untuk mengeksekusi semua bahan yang sudah tersedia.


"Aku pikir tadi bakalan datang bareng Amel," ucap Alex yang tengah menumis daging dan sayuran.


"Memang nya tadi dia bilang mau datang bareng6aku?"


"Loh, kenapa nanya balik, memangnya tadi kamu bilang apa ke dia?" Alex menekan-nekan daging agar kaldu nya keluar bercampur dengan sayuran dan bawang goreng.


"Aku nggak hubungin dia, tadi aku pikir kamu yang akhirnya kasi tau dia."


"Hah! Enggak, aku mikirnya kamu yang kasi tau." Alex dan Ryan bengong saling pandang kemudian tertawa geli dengan kesalah pahaman yang terjadi.


Mereka lalu memutuskan untuk menghubungi Amel setelah acara memasak selesai. Tidak perlu waktu lama untuk memasak nasi goreng, apalagi bahan-bahan yang di bawa Ryan sudah semua terpotong dan tercuci bersih dan langsung siap terjun ke wajan.


Saat hendak mengambil ponsel untuk menghubungi Amel tiba-tiba ponsel Alex berdering lebih dulu dan nama Amel tertera di layar.


"Panjang umur kamu Mel..."


"Lex, kamu ada di apartemen kan? Aku ke sana ya, bentar lagi sampai," ucap Amel sesenggukan.


"Iya Mel kebe..." ucapan Alex di potong untuk kedua kalinya, tapi kali ini di potong karena Amel memutus panggilan.


Dengan wajah panik Alex bergegas ke ruang tamu.


"Amel tadi telfon duluan dan dia lagi nangis, katanya mau kesini, bentar lagi sampai. Kamu nggak takut dia salah paham kalau lihat kamu di sini?" cerocos Alex terburu-buru.


"Salah paham?" tanya Ryan tidak mengerti.


"Iya salah paham soal kita," sahut Alex. Dia tidak mau Amel cemburu melihat pacarnya ternyata ada di sini dan berpikir yang tidak-tidak.


"Kalau kamu segitunya takut Amel berpikir kita ini pacaran, aku akan pergi kok. Aku nggak bermaksud membuat kamu nggak nyaman," ucap Ryan dengan tampang kecewa.


Alex yang tadinya panik sekarang malah bingung mendengar ucapan Ryan.


"Kenapa kita? Bukannya kamu dan Amel yang pacaran?"


Sekarang giliran Ryan yang kebingungan. Masih dengan tampang kaget dan bingung Ryan berkata, "Siapa yang pacaran dengan Amel?"


Belum selesai masalah kesalah pahaman yang baru saja tercipta secara mendadak bel apartemen Alex sudah berbunyi dan terdengar suara Amel memanggil dari luar.

__ADS_1


*****Pengumuman ** **


Maaf membuat kalian menunggu, aku sibuk karena ada dua pernikahan dalam seminggu (bukan pernikahan ku 😁😁 tapi sepupu), jadi kesibukan semakin bertambah. Aku harap kalian tidak pada kabur ya Salam sayang dan kecup muach muach dari Thor yang suka ngilang ini.


__ADS_2