
Tiga hari berlalu sudah setelah kejadian malam saat Ben mencium pipi Alex. Tak sekalipun Ryan menghubungi Alex, sehingga Alex memilih untuk menghubungi Ryan lebih dulu. Dirinya tidak ingin kejadian salah paham seperti saat Alex melihat Ryan dengan Amel terjadi padanya
Akhirnya dengan alasan masak makan malam kebanyakan Alex menghubungi Ryan untuk mengundangnya makan bersama.
"Maaf Lex, tapi sebaiknya beberapa hari kedepan kita tidak usah bertemu dulu," ucap Ryan lewat ponsel.
"Kenapa? Kalau memang aku ada salah padamu katakan saja sekarang," tanya Alex. Ini pertama kalinya Ryan berkata ingin menjauh darinya, dan itu membuat hatinya serasa di pukul bertubi-tubi.
"Aku ini laki-laki, terlebih lagi Ben adalah teman lamaku. Aku tidak mau hadir di antara hubungan kalian."
Ternyata Ryan melihat kejadian malam itu. Pikir Alex. Tidak ingin kesalahpahaman terjadi berlarut-larut, dengan gugup Alex berkata," Kamu salah paham aku tidak ada apa - apa dengan Ben. "
" Bukankah ciuman malam itu sudah menunjukkan apa artinya dirimu untuk Ben?" Ryan mematikan ponselnya.
Andai saja semudah itu Ryan. Sampai detik ini Ben tidak pernah meminta Alex menjadi kekasihnya ataupun menyatakan perasaannya dengan jelas dan gamblang. Meskipun semua orang mengatakan pada Alex jika Ben itu menyukainya. Meskipun semua tingkah lakunya menunjukkan jika Ben menyukai Alex, tapi kata suka tidak pernah terlontar langsung dari bibir Ben.
"Jadi bagaimana menurutmu Mel? Kalau kamu jadi teman ku ini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Alex saat dia istirahat di kantin kampus bersama Amel.
Alex berbohong dan mengatakan masalah yang dia hadapi ini adalah masalah teman nya. Entah kenapa Alex tidak ingin Amel tahu jika ini adalah masalahnya. Alex memang sejak awal tidak ingin terlalu dekat dengan Amel. Dirinya hanya ingin berteman dengan Amel sebatas makan ataupun jalan bareng, akan tetapi untuk alasan curhat Alex merasa masih belum bisa sedekat itu.
"Kalau aku sih lanjut saja, bukankah si cowok sudah bersikap seolah dia itu pacar temanmu."
"Tapi si cowok kan belum meminta temanku untuk menjadi pacarnya. Bagaimana kalau nanti si cowok dekat dengan cewek lain. Temanku bisa protes apa coba, toh dari awal memang tidak pernah ada kata pacaran," tukas Alex tidak setuju dengan pendapat Amel.
"Kalau memang begitu ya tinggalin saja cari cowok baru."
"Ya nggak segampang itu dong!" Alex sedikit terbawa suasana.
"Enggak kamu, enggak temenmu, kalian itu hidup di zaman kapan sih, repot banget mikirnya, kan juga cuman pacaran," ucap Amel santai sambil menyeruput es jeruknya.
Sepertinya Alex tampak menyesal meminta saran dari orang yang salah. Memangnya saran apa yang bisa di harapkan dari cewek yang hobby nya gonta-ganti pacar.
Saat berjalan kembali ke kampus mereka berdua berpapasan dengan Sally.
"Hai, aku nggak tahu siapa kamu, tapi aku saranin kamu jauh-jauh dari Amel. Pacar ku dulu pernah di rebut sekali olehnya," ucap Sally pada Alex sambil tetap berjalan melewati mereka.
"Jaga cowokmu baik-baik, jangan sampai ku rebut untuk kedua kalinya!" bentak Amel kesal.
***
Alex sudah selesai bersiap-siap dan jemputannya datang tepat waktu. Seketika apartemennya jadi ramai oleh ocehan, Bethany, Leslie, Fred, Anthony dan Amel. Sedangkan Ben hanya diam dengan tampang merenggut.
__ADS_1
" Ada apa ini, biasanya juga kalian tunggu di parkiran, kan?" tanya Alex heran.
"Nggak apa-apa dong, memangnya cuma Ben saja yang boleh masuk kesini," ucap Leslie.
"Iya, kita nggak mau nunggu lama di parkiran sementara si Ben menikmati saat-saat berduaan," lantur Fred yang langsung di sikut oleh Ben.
"Pada mau tinggal di sini atau berangkat sekarang?" tanya Alex.
"Berangkat sekarang lah, sudah lapar sekali ini," sahut Anthony sambil mengeluh perutnya.
"Tahu gitu untuk apa coba kalian semua ikut ke atas, lagian nggak sampai semenit juga udah turun lagi," omel Amel.
"Yee, kenapa juga kamu yang sewot, kita nggak ada maksa kamu ikut naik kok," tukas Bethany tidak senang.
Bethany sejak awal memang tidak begitu suka dengan Amel. Berbeda dengan Alex yang bergabung dengan grup mereka karena memang Ben yang mengajaknya, Amel sendiri tidak di ajak oleh siapa pun, dia sendiri yang selalu bertanya ingin tahu kegiatan apa yang akan mereka lakukan dan menggabungkan dirinya sendiri. Selama ini dirinya hanya diam saja karena tidak ada penolakan dari teman-teman yang lain, jadi Bethany bersikap dewasa dan sewajarnya pada Amel.
Sampai juga mereka di restoran seafood tepi pantai. Sesuai janji mereka dulu kalau mereka akan datang lagi karena Alex dulu tidak bisa ikut makan bareng. Semua langsung memilih jenis seafood yang mereka inginkan lalu menuju tempat memanggang yang telah di siapkan. Tidak ada kursi dan meja yang di sediakan. Hanya ada meja kecil tempat menaruh makanan mereka dan pengunjung duduk di atas kayu balok seadanya yang di letakkan di dekat bara tempat memanggang. Suasananya benar-benar terasa seperti sedang camping.
Saat Anthony dan Fred sedang sibuk memanggang, Ben menarik tangan Alex menjauh dari yang lain menuju tepi pantai.
"Ben, mau kemana? Aku nggak mau ke sana nanti bajuku basah."
"Plankton! Indahnya!" pekik Alex girang. Ini pertama kalinya dia melihat pendar cahaya plankton di malam hari. Hijau kebiruan seperti pasir yang bersinar.
Ben menariknya semakin ke tengah sehingga kaki Alex terkadang terkena hempasan sisa ombak hanya sebatas mata kakinya. Alex tidak peduli kakinya basah karena dia sibuk menatap indahnya hamparan plankton yang berada di dalam air.
Sebuah guruh suara seperti guntur tiba-tiba terdengar mendekat. Ketika menoleh ke arah datangnya suara, Alex melihat ombak besar datang siap menghempas ke arahnya. Dengan ketakutan dirinya langsung memeluk Ben yang dengan sigap langsung mengangkat tubuhnya.
Air laut membenam kaki Ben hingga selutut, membuat bagian bawah celananya yang untungnya sepanjang lutut sedikit basah. Alex yang tangannya kini melingkar di leher Ben, masih memejamkan matanya menanti ombak menghempas tubuhnya. Beberapa menit berlalu, air laut sudah sedari tadi kembali ke tempatnya dan kedua orang itu masih di posisi terakhir mereka.
Alex yang menanti datangnya ombak besar yang tadi di lihatnya memberanikan diri membuka mata dan sedikit mengangkat wajahnya untuk melihat dimana ombak tadi. Betapa malunya dia karena yang dia lihat bukannya ombak, melainkan sepasang mata yang menatapnya tajam dan sangat dekat. Bukannya menjauh, Ben malah semakin mendekatkan wajahnya hingga sekarang kening mereka beradu.
"Kalau seperti ini, rasanya aku berharap ombak besar datang bertubi-tubi tanpa henti," ucap Ben lembut tapi juga tegas dan tatapannya sangat tajam seakan dia hendak melahap Alex.
Darah Alex serasa berdesir, tangannya meremas leher dan rambut Ben. Matanya sudah setengah terpejam dan bibirnya sudah siap menerima sentuhan bibir Ben...
" Beeeennnnn!!! Aleeeexxxx!!! Kemarilah makanan sudah siap!! Cepat kami sudah lapaaaarrrr!!!" teriak Fred dengan lantangnya.
Suasana yang romantis dan panas yang tadi tercipta buyar seketika seperti buih yang mengilang saat ombak menghempas pantai.
Alex terkejut dan melompat turun dari gendongan Ben dengan gugup lalu berkata," Ayo, aku sudah lapar."
__ADS_1
"Fred kau itu sudah bosan hidup ya, suka sekali mencari masalah," canda Leslie saat Ben dan Alex tiba.
"Mau bagaimana lagi, sinar bulan dan bintang tidak cukup menerangi gelapnya malam, jadi aku tidak melihat situasi tadi,"sahut Fred polos sambil nyengir ke arah Ben yang sedang mendelik ke arahnya.
Malam itu mereka menikmati suasana dan makanan dengan riang. Memang cukup lama mereka tidak berkumpul lantaran tugas yang menumpuk yang langsung di sambung ujian akhir semester. Jadi bisa di bilang malam ini malam perayaan berakhirnya ujian semester.
"Benar-benar malam yang memuaskan, hanya tinggal satu lagi yang membuatnya sempurna, kasur empuk di rumah," ucap Fred.
Yang lain mengangkat gelas mereka pertanda setuju dengan ucapan Fred.
"Alex pulangnya naik taxi bareng aku dan Leslie saja," ajak Anthony.
Memang tempat tinggal mereka searah, jadi selain hemat ongkos taxi juga lebih aman karena hari sudah cukup larut.
"Nggak, Alex aku yang antar," ujar Ben tegas.
"Kalau begitu sekalian juga antar kami," usul Anthony.
Tadinya mereka memang berangkat bersama dengan mobil Fred karena mereka berangkat setelah dari kampus langsung menuju apartemen Alex yang merupakan tempat berkumpul.
"Enggak mau, tempat kalian biarpun searah, tapi lebih jauh dari Alex," tolah Ben.
"Kalian ini ya, bukannya sudah bisa ngobrol pakai telepathy, masih juga ga nyambung, " sindir Fred setengah bergurau.
Anthony lalu nyengir kuda setelah sadar maksud dari gurauan Fred. Alasan yang di berikan Ben hanyalah alasan palsu, karena dirinya ingin punya waktu berduaan dengan Alex. Padahal biasanya juga Ben selalu mengantar yang lain ke rumah masing-masing kalau hanya mobilnya yang di pakai.
Saat berpisah pulang Amel kemudian menghampiri Alex dan Ben.
"Lex, aku boleh menginap di tempatmu? Orang tuaku tadi bertengkar di rumah jadi aku malas pulang," jelas Amel.
"Boleh saja, ayo masuk," sahut Alex.
Fred yang saat itu mendengar percakapan mereka karena memang mobilnya parkir di sebelah mobil Ben langsung menatap Ben dengan senyum mengejek yang kocak.
"Kau itu mau cari mati ya, dari tadi bikin orang kesal." Bethany menjewer kuping Fred dan memaksanya masuk mobil.
Dalam hati Alex merasa senang Amel ikut pulang dengannya. Dari tadi dirinya sudah bingung duluan. Akibat kejadian tadi Alex tidak tahu harus bagaimana jika dia benar-benar berduaan saja di dalam mobil dengan Ben.
****Pengumuman ****
Terima kasih yang masih setia menemani diriku yang haus akan pembaca ini 😁😁,,, eit... eiittt tunggu dulu, belum selesai. Ingat jangan lupa like, vote, rate, comment yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...!!!!
__ADS_1