
Madeline mendekatkan bibirnya ke bibir Chris, matanya sudah sedikit terpejam bersiap menikmati hangatnya bibir pria idamannya.
Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini, akan kubuat kau tidak akan pernah melupakan malam ini Chris. Madeline bicara dalam hati.
Dia bisa merasakan nafas Chris berhembus di wajahnya, kemudian telapak tangan Chris menyentuh pipinya dan seluruh wajahnya. Eh tunggu dulu...,kenapa auranya tiba-tiba terasa aneh.
Madeline membuka matanya, dari sela-sela jari tangan Chris yang sebesar wajahnya, terlihat Chris menatapnya tajam.
"Kau ingin pergi sendiri atau ku suruh John menyeretmu, " dengus Chris kesal. Dia kesal pada dirinya sendiri yang ingin menikmati tubuh Madeline. Sedikit saja dia memberi celah tadi, pastilah saat ini mereka sedang menikmati malam dengan menggebu-gebu.
Madeline meninggalkan kamar dengan tampang kesal, sedih sekaligus malu, Chris kemudian mengambil sebotol whiskey dan menenggaknya langsung dari botolnya. Berharap hasratnya yang tadi dibangkitkan oleh Madeline tenggelam.
*********
"Kenapa juga bos mu curhat ke kamu, kan banyak staff lain yang bahkan sudah dia kenal sebelum bertugas di Paradiso. Sepertinya aku mencium sesuatu yang janggal," ucap Stefi sambil mengelus dagunya.
"Mungkin dia tidak ingin jadi bahan gossip, secara rekan kerja ku yang lain kompak suka ghibah, " sahut Alex perpikir positif.
"Menurut ku juga sedikit aneh sih." Ryan yang datang dengan nampan berisi empat mangkuk es krim ikut menimpali.
Sejak Bu Madeline kembali bekerja, kedua sahabatnya selalu ingin bertemu dan mengobrol dengan Alex biarpun hanya sebentar. Mereka tidak ingin Alex menanggung kesedihannya sendiri. Alex pun menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan mereka pada Ryan. Dan kemudian toko es krim milik orang tua Ryan di jadikan sebagai tempat pertemuan rutin,dan Ryan pun sekarang mengetahui penyebab Alex menangis.
"Tapi kenapa Chris tidak pernah lagi datang kesana coba. Itu lebih membuat ku kesal ketimbang soal curhatan bos wanita mu, " giliran Ratna mengemukakan pendapat (udah kayak lagi rapat penting aja).
"Malu mungkin, " sahut Alex singkat.
"Nggak mungkin itu, sebagai cowok apalagi setajir si Tuan Chris itu. Pasti dia malah akan sering datang dan pamer kemesraan di depanmu Lex, " jelas Ryan dari cara pandang pria.
" Kalian para cowok itu memang nyebelin dan bikin kesel tahu , padahal ini kan bukan kompetisi dan ajang pamer, " omel Stefi.
"Bener tuh, mantan ku juga dulu gitu, suka banget mamerin gonta ganti cewek. Berasa yang paling hebat." Ratna malah curhat.
"Kenapa malah aku yang di serang sih. Lex kasi aja nomer ponsel si Tuan Kaya ke mereka biar abis di omelin. Masa pria baik seperti ku yang kena omel." Ryan memasang tampang memelas.
"Cup,,, cup,,, cup Ryan cayank dak oyeh nanis." Alex menepuk-nepuk kepala Ryan.
"Kita ganti topik yuk, males banget ngomongin mereka terus. Udah kayak artis aja mereka, " imbuh Alex pada teman-temannya.
"Eh Ryan kamu kapan balik ke luar negri?. Jangan-jangan ini sebenarnya kamu lagi bolos kuliah karena nggak mau pisah dengan kita, " ucap Stefi.
Ryan tersedak es krim mendengar ucapan Stefi lalu berkata, "Pe-de banget kamu, aku balik minggu depan, kemudian mulai kuliah dua hari setelahnya, " jelas Ryan.
"Yah nggak bisa dapet es krim gratis lagi dong," sesal Ratna.
"OH jadi kalian temenan sama aku cuman buat es krim gratis." Ryan berkacak pinggang pura-pura marah.
" Comblangin kita dong, siapa tahu kan ada cowok pirang, tampan, berhidung mancung yang terpikat dengan ke eksotikkan kita, " pinta Stefi.
" Woi nyadar cowok kalian ntar di kemanain. Nih mbak yang di sebelah aja yang lagi jomblo nggak minta di comblangin." Ryan melirik Alex.
"Ya udah deh kita ngalah. Cariin jodoh tuh buat mbak di sebelah."
"Kalau itu sih nggak usah jauh-jauh, ini mas ganteng di depan kalian lagi nyari jodoh juga." Ryan nyengir mengedip-ngedipkan matanya yang disambut ketokan sendok dari tiga gadis yang bersamanya.
" Ini penganiyayaan nih namanya. "Ryan mengelus-elus kepalanya yang sebenarnya tidak sakit.
Setelah puas mengobrol dan makan es krim rapat pun bubar. Stefi dan Ratna pulang bareng karena rumah mereka searah. Alex di antar oleh Ryan setelah di paksa berkali-kali oleh yang lain.
" Thanks udah di anter, mau mampir bentar nggak?"
"Nggak, kamu istirahat aja, kan siang nanti harus kerja."
"Ya udah, makasi ya, hati-hati di jalan." Alex lalu keluar dari mobil Ryan.
"Lex, soal ucapan ku di toko tadi, aku sebenernya serius lho."
"Maksudnya?" tanya Alex bingung, dia menunduk berbicara lewat kaca mobil.
"Aku udah penasaran dan suka kamu dari dulu sebelum kita kenal, tiap kamu dateng dengan tampang sedih atau nangis aku jadi ingin peluk kamu, nenangin kamu, tapi dulu aku itu anaknya pemalu, jadi cuman berani liatin kamu diem-diem."
"Tapi Ryan...."
"Tunggu Lex aku belum selesai,, aku tahu saat ini kamu masih sedih dan bingung,, jadi aku bakal nungguin sampai masalahmu selesai, dan selama itu kita temenan ya, " ucap Ryan tersenyum bijak. Dia tidak ingin memanfaatkan kegalauan hati Alex lalu muncul bak kesatria yang datang untuk menyelamatkan. Tapi dia juga tidak bisa menunggu untuk mengungkapkan perasaannya, karena dia tidak punya banyak waktu lagi.
"Makasih ya Ryan atas pengertiannya."
"Jangan canggung nanti ya, aku kan masih seminggu lagi di sini,mau ntar kita berdua di ledekin Ratna dan Stefi terus." Mereka berdua tertawa berbarengan.
__ADS_1
"Kalau mereka tahu apa yang kamu bilang tadi bisa-bisa kita di jadikan bahan lawak terus hehhehhe."
"Sampai kamu tahu pasti jawabannya kita masih temenan seperti biasa ya. Udah sana kamu masuk sekarang, " ucap Ryan, kemudian Alex berjalan masuk rumah.
Alex tadi sempat kaget dan gugup dengan ucapan Ryan dan tak tahu harus menjawab apa, tapi begitu Ryan menjelaskan lagi dia jadi lega. Bukan lega-lega amat sih, tetap ada deg-degan nya juga, cuman bisa di kontrol. Wajah Ryan tersirat di benaknya.
Sejak awal bertemu selalu saja saat dirinya ada masalah dan Ryan lah yang ada di sampingnya, biarpun keseringan dia tidak tahu apa masalahnya, akan tetapi dia selalu berusaha menenangkan dirinya. Selama ini dia hanya menganggap Ryan sebatas teman, jujur saja dirinya terlalu takut untuk berpikiran lebih dari itu karena masa masa pahit di sekolah dulu. Mungkin itu sebabnya dia tidak peka pada perasaan lawan jenis.
Sudah sepuluh hari sejak kepulangan Bu Madeline, dan tidak sekalipun Chris pernah menampakkan batang hidungnya di restoran. Mungkin akan lebih baik jika dia muncul dan menunjukkan kemesraan dengan Bu Madeline, dirinya sudah lelah mendengarkan curhatan orang yang sedang jatuh cinta. Jika tamu tidak terlalu ramai ada saja alasan yang diciptakan untuk memangggilnya, bahkan alasan mengantar pulang karena sudah malam pun di gunakan,padahal bukan dirinya saja yang pulang larut malam. Rekan kerjanya pun jadi sering bertanya-tanya perihal kedekatannya dengan Bu Madeline. Untungnya dia selalu bekerja giat, jadi tidak sampai ada omongan yang tidak-tidak.
"Nah ini dia orangnya datang. Bos ingin bertemu kamu. Di tunggu di meja lima sana cepet, " ucap Pak Radit di lorong saat Alex memang hendak menuju restoran setelah selesai ganti baju seragam.
Bukannya hari ini Bu Madeline libur. Masa sih dia kesini cuman untuk menemuinya. Kira-kira curhatan apa lagi yang akan di cerita kan. Pikir Alex yang benar-benar sudah muak mendengar semua kisah romantis dan super manisnya. Bisa-bisa sebentar lagi dia kena diabetes saking manisnya semua kisah yang dia dengar dari atasannya itu. Sehebat apa sih curhatannya kali ini sampai-sampai Pak Radit yang seorang asisten manager yang di utus mencari nya.
Baru saja Alex sampai di ujung lorong dan menampakkan satu kalinya di lantai restoran dia sudah di buat lemas oleh sosok yang tengah duduk di meja lima. Sudah terlambat baginya untuk berbalik sekedar minum air putih atau berdoa, karena tatapan tajam Chris sudah terkunci pada dirinya.
"Lex kamu di tungguin dari tadi sama Bos besar tuh," ucap Nayla menghampirinya.
"Selamat siang Tuan, ada apa anda mencari Saya?" Alex berusaha menahan emosinya. Sebenarnya dia sendiri pun tidak tahu apakah saat ini dia sedang sedih, marah, kesal, atau bahagia.
"Kenapa kamu bicara formal begitu padaku?"
"Saya sedang bekerja Tuan, ini adalah profesionalitas, " ucap Alex datar. Sepertinya ada bagusnya juga perasaannya bercampur aduk, sekarang dia malah terlihat tidak menunjukkan emosi apapun.
"Baiklah, itu sepertinya juga akan menjadi alasan jika sekarang aku menyuruhmu duduk kan?"
"Benar Tuan."
"Kenapa kamu nggak pernah menghubungi ku sedikit pun. Tidakkah kamu ingin bicara dengan ku tentang sesuatu, atau penasaran kenapa aku lama tidak datang kemari, atau mungkin orang tuamu bertanya tentang diriku?"
"Saya tahu anda ada urusan pekerjaan sampai ke luar negri sehingga tidak bisa datang kemari, dan tidak, keluarga saya tidak bertanya soal anda. Dan saya pikir saya dan keluarga saya tidak memiliki hak untuk ingin tahu keberadaan anda. Itu adalah privasi anda. "
Sebenarnya orang rumah dulu sempat bertanya tentang Chris, dan Alex hanya menjawab seadanya kalau dia sibuk dengan pekerjaan. Sepertinya keluarganya mengerti ada sesuatu yang terjadi karena mereka tidak lagi bertanya dan juga berhenti menggodanya soal Chris. Selama dirinya tidak bercerita apa-apa, keluarganya akan memberinya privasi. Lagian kenapa juga dia tiba-tiba datang setelah hampir tiga minggu tidak ada kabar. Kenapa bukan dia saja yang menghubungi duluan jika memang menurutnya ada yang perlu di bicara kan.
"Apa kamu masih marah soal kejadian malam itu?. Aku benar-benar minta maaf, aku hanya..."
"Maaf Tuan saya harus bekerja sekarang, jika ada yang ingin anda bicarakan di luar masalah pekerjaan saya harap tidak di tempat kerja dan jam kerja." Alex terpaksa harus memotong ucapan Chris karena Jane sudah mendekat mengantar tamu yang baru datang untuk duduk di meja sebelah,padahal meja lain masih banyak yang kosong. Apa lagi kalau bukan untuk menguping pembicaraan agar ada bahan gosip.
" Jadi begitulah kenapa aku memanggil mu karena aku harus mengecek sendiri semua kandidat pegawai teladan di setiap cabang. Kau bisa kembali bekerja terima kasih, " ucap Chris di luar topik. Sepertinya dia sepemikiran dengan Alex, maka dari itu ketika Jane datang dan mempersilahkan tamunya duduk di meja sebelah Chris langsung mengganti topik.
Alex kemudian berlalu meninggalkan Chris, tapi bukan berarti masalahnya selesai.
*******
Malamnya sepulang kerja dia melihat mobil Chris terparkir di gerbang keluar staf. Ragu-ragu Alex menghampiri, takut kalau dia melihat yang tidak-tidak. Sekarang kan sedang ramai di berita soal mobil bergoyang.
Lex, kenapa pikiranmu jadi kesana terus sih. Batin Alex kesal pada otaknya yang mulai agak bersifat 21+
Kaca jendela bergerak turun, Chris melambaikan tangannya menyuruh Alex masuk ke mobilnya.
"Aku akan mengantarmu pulang setelah kita bicara."
"Kita bicara di minimarket 24 jam dekat rumahku saja, " pinta Alex. Dia pikir jika pembicaraan kali ini tidak berakhir baik maka sepanjang perjalanan pulang akan jadi canggung, jadi dia minta bicara dekat rumah, agar nanti dia bisa kabur jalan kaki kalau suasana jadi tidak enak.
Chris tidak bicara apa-apa dan langsung menghidupkan mesin mobil.
Setelah beberapa menit sunyi dalam perjalanan pulang Chris lalu membuka pembicaraan, "Aku kangen kamu, dan aku benar-benar minta maaf mengenai malam itu."
Tidak ada jawaban apapun Chris melihat Alex dari kaca spion depan mobilnya. Yang di ajak bicara ternyata tertidur.
"Pasti capek ya, apa tadi di restoran sibuk."
Kangen dari Hong Kong, seenaknya saja mempermainkan perasaan orang. Kau tidak tahu ya aku ini sampai tahu panggilan sayang kalian berdua. Gerutu Alex dalam hati masih berpura-pura tidur.
Untunglah jalanan tidak macet, jadi mereka cepat sampai. Bisa kram leher Alex kalau kelamaaan pura-pura tidur.
"Bangun, kita sudah sampai, " ucap Chris sambil membelai lembut kepala Alex. Yang dibangunkan terlonjak kaget dengan sentuhan yang tidak di prediksi. Untung dia masih pakai sabuk pengaman, kalau tidak mungkin saja tadi dia melompat sampai atap mobil.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Chris.
"Nggak kok, maaf ya aku ketiduran, " ucap Alex kemudian segera keluar mobil dan menuju meja yang terletak di teras depan minimarket.
Chris masuk ke dalam dan kembali dengan dua kopi panas untuk menghangatkan badan dari angin malam.
"Aku minta maaf karena malam itu aku keterlaluan. Aku tidak bisa mengontrol hasratku karena aku sudah tertarik padamu sejak awal kita bertemu, aku sudah berdiri di sana memperhatikan tingkahmu. Awalnya aku hanya kagum kau sangat ramah dan sabar melakukan tugas paling tidak di sukai oleh semua staf restoran. Lalu semakin lama ku perhatikan setiap kali aku datang ke sana aku jadi semakin tertarik padamu. Maaf mungkin aku terdengar sedang membela diriku, aku salah itu sudah pasti dan aku hanya ingin kamu memaafkanku dan kita mulai dari awal, aku berjanji hal kemarin tidak akan terulang lagi, "ucap Chris panjang lebar.
" Maaf Chris, tapi semua tidak segampang yang kamu katakan,karena ini sudah bukan lagi hanya soal kamu dan aku. "
__ADS_1
" Apa maksudmu? "tanya Chris bingung.
" Aku adalah seorang perempuan dan aku tidak mau menyakiti perasaan wanita lain."
"Alex, aku benar-benar tidak mengerti ucapanmu. Kenapa kamu membawa wanita lain, apa hubungannya dengan masalah kita?"
Bisa-bisanya pria ini berkata begitu. Dia tidak mengerti betapa bangga dan bahagianya wajah Bu Madeline setiap kali staf menggodanya soal dia dan Chris, apalagi saat dia curhat denganku.
" Meski mungkin wanita yang kau kencani sekarang hanya lah pelampiasan untukmu, akan tetapi tidak begitu baginya dan aku tidak mau jadi perusak hubungan orang."
"Alex tatap aku, " pinta Chris seraya menggenggam tangan Alex. "Aku tidak pernah berkencan dengan wanita manapun sejak bersama denganmu. Aku bersumpah demi nyawaku, " tambah Chris sungguh-sungguh.
Jantung Alex berdegup kencang saat Chris menggenggam tangannya. Dia tidak ingin ini terjadi tapi tangannya tidak menolak sentuhan Chris dan anteng saja diam dalam dekapan tangan besar dan lebar. Kenapa sekarang tubuk dan otaknya tidak sinkron. Dasar penghianat kau tangan.
" Jangan sembarangan bersumpah Chris. Mungkin bagimu itu tidak di nama kan kencan, hanya pelampiasan nafsu mu. Tapi pernahkah kamu berpikir tentang perasaan wanita itu."
"Siapa sebenarnya wanita yang kamu bicara kan dari tadi, karena aku sama sekali tidak bersama siapa pun, " ucap Chris semakin bingung. "Aku hanya pergi ke luar negri dengan Madeline, dan itu untuk urusan bisnis, tidak lebih. Selain dia tidak ada lagi wanita manapun."
Alex terdiam mendengar penjelasan Chris. Sekarang dia bingung, selama ini dia hanya mendengar cerita dari Bu Madeline.
"Tapi kamu membawanya jalan-jalan, makan malam romantis dan menghabiskan malam berdua seperti saat kalian pacaran dulu."
"Bagaimana kamu bisa tahu,, tunggu bukan itu masalahnya. Memang kami melakukan apa yang kau ucapkan tadi, tapi tidak seperti bayanganmu. Itu hanya sebatas rekan kerja tidak lebih." Chris kemudian menceritakan secara mendetail kesalahpahaman yang terjadi.
"Sepertinya aku harus bicara pada Madeline,agar kamu berhenti salah paham."
"Lalu bagaimana dengan dia yang masih memegang kunci apartment mu. Itu berarti kamu masih menginginkan dia datang kesana kan. Kamu bahkan menyuruhnya menaruh barang pesananmu langsung ke apartemen mu." satu demi satu Alex mempertanyakan segala yang mengganggu hatinya.
" Alex aku memiliki asisten rumah tangga di apartemenku, itu lah sebabnya aku menyuruhnya membawanya ke sana untuk di serahkan pada asisten rumah tangga ku. Masalah kunci aku tidak pernah terpikir seperti apa yang kamu pikirkan, jika kamu mau akan ku ganti kuncinya saat aku pulang nanti. " Chris merogoh ponsel dari kantongnya.
" Kamu mau apa ambil ponsel? " tanya Alex.
" Mau menghubungi Madeline dan menyuruhnya kemari sekarang. "
" Jangan!! "Alex segera merebut ponsel dari tangan Chris.
" Ini bukan soal dia, tanpa dia pun belum tentu aku akan memaafkanmu "
Bagaimana ya, pasti akan canggung jadinya kalau ada Bu Madeline di sini. Dilihat dari situasinya pasti Chris akan memarahinya habis-habisan, dan itu membuat dirinya merasa tidak enak pada atasannya itu.
" Tapi tetap saja aku tidak ingin kamu berpikir macam-macam tentang aku dan Madeline. Dulu kami memang bersama tapi jujur aku tidak pernah ada rasa apapun pada nya atau perempuan manapun yang pernah denganku."
"Bagaimana aku bisa yakin aku berbeda dari wanita-wanita itu!" suara Alex meninggi. Sekarang dia merasa kesal sebagai seorang wanita. "Bisa saja itu yang kamu katakan pada semua wanitamu sebelum aku."
"Karena aku tidak perlu berusaha dan menunggu jika menginginkan mereka. Merekalah yang mengejar - ngejarku, menyerahkan harga diri mereka di kakiku. Aku tidak akan pernah memilih wanita seperti itu sebagai kekasihku."
"Maaf tapi aku tidak bisa Chris, kamu sudah merendahkan martabat banyak wanita."
"Kenapa sekarang kamu tiba-tiba berlagak seperti pejuang Hak Asasi wanita. Ini semua tidak ada hubungannya dengan mereka atau wanita manapun. Kamu tidak perlu membela mereka." Chris benar-benar gusar, dia tidak menyangka arah pembicaraan mereka jadi melenceng jauh begini. Kenapa juga sekarang Alex bertindak seolah dia itu pahlawan pelindung wanita.
" Sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan Chris. Maaf, tapi perbuatanmu sudah membuat ku marah, bukan hanya perbuatanmu padaku, tapi juga pada semua wanita yang pernah kamu tiduri."
" Tidakkah kamu terlalu berlebihan?. Apakah kamu akan melibatkan seluruh masalah di bumi ini dalam setiap masalah di hidupmu. Aku tidak akan bicara apa-apa lagi, karena jelas sekali masalah kita sudah melenceng kemana-mana dan tidak akan ada penyelesaian, " ucap Chris kecewa.
" Aku harap kamu tidak akan mengatakan apapun pada Bu Madeline mengenai ini. "
" Aku tidak bisa, aku harus mendapatkan penjelasan darinya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun berbicara omong kosong tentang ku. Masuk lah ke mobil aku akan mengantarmu pulang. " Chris kemudian berdiri dari kursinya.
" Aku bisa pulang sendiri, rumahku hanya satu blok dari sini. " Tolak Alex.
" Aku tidak ada maksud apa-apa. Sebagai seorang laki-laki yang mengantarmu pulang aku harus menepati ucapan ku. Aku tidak akan berkata apa-apa lagi, tidak akan memohon atau memaksa mu mempertimbangkan hubungan kita lagi. Kamu sudah mengambil keputusan dan aku akan menghormati keputusanmu. " suara Chris sedikit bergetar.
Alex berjalan masuk mobil tanpa sepatah kata pun. Bahkan saat sampai dia mengucapkan terima kasih tanpa memandang Chris sedikit pun. Pikirannya bercampur aduk. Hatinya merasa sedih saat mendengar ucapan terakhir Chris tadi. Kenapa dia merasa sedih, bukankah itu yang dia minta dari Chris dan dia mengabulkannya, lalu kenapa hatinya terluka dan terasa sakit. Chris sudah menjelaskan semuanya mengenai Madeline dan itu benar-benar berbeda 180° dengan cerita Madeline. Siapa yang harus dia percaya sekarang. Hatinya berdesir senang saat Chris menceritakan versi ceritanya tadi. Seharusnya dirinya tidak terlalu naif dan mementingkan ego nya sendiri,dan memastikan kebenarannya dulu sebelum mengambil keputusan. Sekarang dia benar-benar telah kehilangan Chris.
Malam itu Alex menangis sejadi jadinya di bawah bantal, karena tak ingin anggota keluarganya terbangun mendengar tangisannya. Dia teringat pada Ryan, seandainya mall masih buka, pastilah dia akan berlari ke sana saat ini menuju toko es krim.
Chris menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia hanya ingin meluapkan kemarahannya dengan mengebut. Tidak pernah sebelumnya ada wanita yang menolaknya, apalagi dengan alasan yang menurutnya sangat bodoh. Tadinya dia berniat menuju rumah Madeline untuk meminta penjelasan, tapi di urungkannya niat itu karena saat ini dia tengah emosi dan kalau dia lepas kontrol bisa saja dia meluapkan kemarahannya dan memberi wanita itu pelajaran. Jujur dia sendiri masih belum paham akan apa yang terjadi, kenapa Alex tahu banyak mengenai dirinya dan Madeline, tapi dengan cara pandang yang sangat berbeda,akan tetapi dia yakin kalau Madeline terlihat
Keinginannya untuk pergi ke klub malam pun di urungkannya dan dia akhirnya memilih untuk pulang. Kalau sampai dia mabuk dalam kondisi begini bisa-bisa dia akan mengajak berkelahi seseorang atau tidur dengan wanita manapun yang di temuinya di sana. Dulu dia tidak akan peduli, tapi sekarang bayangan wajah Alex terlintas setiap dia hendak melakukan hal buruk. Betapa gadis itu telah merubah dirinya.
Akhirnya Chris menuju ke apartemennya berdiri di bawah shower masih dengan pakaian lengkap dan mengguyur dirinya dengan air dingin. Mungkin dia berpikir kemarahannya akan reda jika di guyur air dingin.
Aku tidak akan melepaskanmu Alex...
*****PENGUMUMAN
Benarkah guyuran air dingin dapat meredakan emosi??? Silahkan coba sendiri untuk mengetahui jawabannya (air dingin dan resiko di tanggung masing2 yaaaaa)
__ADS_1
Ayo ayo beramai-ramai dukung novel ini dengan vote dan like, daripada beramai-ramai di tempat umum nanti kena virus merona..( EH..!?!?) -_-'