
Masuk!" perintah Chris.
Alex berjalan memutar kemudian duduk di kursi depan, di sebelah Chris. Mobil langsung melaju tanpa Alex tahu kemana tujuannya.
"Kenapa jam segini masih di sini ?. Bukannya kau sudah pulang 3 jam yang lalu."
" Iya tadi saya habis pergi ke Pasar Malam dengan teman." Alex merasa canggung karena dari tadi nada suara Chris agak sedikit ketus.
"Teman pria?"
"Pria dan wanita, mereka teman saya dari camp pelatihan Black Grill. Kami memang sudah dari dulu ingin pergi bareng, tapi baru kali ini kami punya kesempatan."
"Sudah makan ?"
"Sudah makan banyak jajanan tadi, perut saya sudah kenyang karena kebanyakan jajan." Jawab Alex. "Ini kita mau kemana ya?"
"Aku antar kau pulang, " sahut Chris singkat.
" Tidak usah, saya bisa pulang sendiri. Anda bisa menurunkan saya di stasiun berikutnya, saya bisa naik kereta dari sana." Alex menolak tawaran dari Chris.
'Ckiiiiiiiiittttt' mobil yang dikendarai Chris berhenti mendadak. Kalau bukan karena sabuk pengaman pastinya tubuh Alex sudah terpental ke depan.
"Seharian ini kau sudah bersama teman-temanmu, bahkan sehabis kerja juga. Aku hanya ingin mengantarmu pulang, tidak butuh waktu lebih dari sejam dan kau menolakku. Apa kau sebegitu tidak inginnya bersama ku? " cecar Chris geram. Dia mencondongkan dirinya sedekat yang diijinkan sabuk pengamannya ke arah Alex.
"Bu-bukan begitu maksud saya. Saya hanya takut merepotkan anda karena ini sudah malam." Alex mencoba menjelaskan sambil menunduk karena kalau tidak bisa-bisa jantungnya berdetak semakin keras seperti drum peperangan. "Kalau memang tidak merepotkan anda, saya sangat senang sekali menerima tawaran anda, " tambah Alex.
Kenapa seenaknya berkata aku tidak mau bertemu. Tidak tau ya betapa gembiranya aku tadi bisa menatapmu dari jauh sewaktu di restoran.
Mobil kembali melaju tapi kali ini hanya kesunyian yang menyelimuti. Alex benar-benar merasa kikuk dan tidak nyaman dengan situasi saat ini. Dia tidak tau kesalahan apa yang telah diperbuat yang membuat pria di sebelahnya kesal.
__ADS_1
" Saya hanya merasa tidak enak karena saya tadi pergi dengan teman, tapi malah anda yang mengantar saya pulang. Kalau saja tadi anda juga pergi dengan kami tentu saya tidak akan menolak tadi." Alex mencari alasan lain agar pria yang duduk di kursi kemudi di sebelahnya ini sedikit melunak.
"Saat di Fam Park kemarin kau juga menolak ku antar pulang, " dengus Chris.
Kalah telak. Alex sadar dirinya lagi-lagi salah ucap. Padahal keahliannya bermain dengan kata-kata biasanya tidak pernah gagal. Dia selalu menggunakan keahliannya untuk menghadapi tamu-tamu cerewet yang suka membuat drama. Karena tak lagi tau bagaimana harus menjawab Alex memilih untuk dia dan semakin menunduk dalam sekolah-olah dia ingin menyembunyikan wajahnya ke dalam tas di pangkuannya. Berharap mereka cepat sampai di tempat tujuan.
Chris mengalihkan pandangannya ke Alex sebentar kemudian kembali ke depan. Terlihat sedikit senyum tersungging di sudut bibir kirinya. Tak pernah sekalipun dia mendapatkan tolakan dari lawan jenis sebelum ini, bahkan sebaliknya merekalah yang selalu mencari-cari kesempatan untuk mendekatinya. Entah gadis ini terlalu bodoh tidak mengenali dengan siapa dia berurusan atau memang dia memang sama sekali tidak tertarik. Tapi itu tidak mungkin, wanita yang memiliki kekasihpun akan meninggalkan prianya dan berlari ke arahnya jika dia minta.
Apa karena aku terlalu tua untuknya?. Chris teringat ucapan Alex di restoran kemarin saat menjawab pertanyaan temannya, Ratna dan Stefi. Dasar bocah, dia tidak tau saja kalau gadis-gadis yang jauh lebih muda darinya pun mengidolakannya. Lihat saja nanti apa kau masih menganggap remeh umurku dan berani menolakku lagi.
"Kutambah hutangmu karena masalah ini. Jadi total hutangmu dua, "
"Baiklah, " jawab Alex pasrah. Dia sebenarnya tidak mengerti hutang piutang apa yang terjadi di antara mereka. Dan lagi masalah apa yang telah dilakukannya sampai pria ini marah.
"Kapan kau libur?"
"Baru kemarin."
"Senin dan Selasa depan."
"Jangan coba-coba membuat rencana dengan teman-temanmu atau siapa pun itu." Perintah Chris.
"Kenapa tidak menjawab? " gertak Chris.
"Iya Tuan, " ucap Alex keceplosan me manggil Chris Tuan.
"Sekali lagi kau panggil aku Tuan, akan kulipat gandakan hutang mu, " ancam Chris.
Susana yang tadinya canggung agak mencair . Obrolan kembali tercipta walaupun hanya sebatas membahas arah yang di ambil untuk sampai rumah Alex.
__ADS_1
"Siapa itu di depan?. Ayah dan pacarmu?" tanya Chris saat mobil berhenti di depan gerbang rumah Alex.
Mendengar ucapan Chris, Alex otomatis menoleh ke teras rumahnya. Ternyata ayah dan kakaknya tengah duduk asik mengobrol. Memang kalau angin malam tidak terlalu dingin ayah suka sekali duduk di teras, kadang di temani ibu, kakak atau dirinya.
Kedua laki-laki yang tadinya asik mengobrol langsung menoleh ke arah mobil hitam yang berhenti di depan gerbang rumah mereka. Tak langsung berdiri menghampiri karena bisa saja itu orang yang sedang kebetulan berhenti.
Dua sosok tampak keluar dari kedua pintu depan mobil melangkah masuk ke dalam menghampiri dua sosok laki-laki yang sekarang sudah mengenali siapa yang datang. Setidaknya satu dari dua orang.
" Malam Ayah, Kak Andre, " sapa Alex.
" Malam, kamu di antar siapa ini? " tanya Ayah, sementara Andre memandang Chris naik turun. Ini pertama kalinya Alex pulang diantar seorang pria. Ingin sekali dia mengintrogasi adik dan laki-laki asing di depannya, tetapi dia menunggu reaksi ayahnya dulu sebagai kepala keluarga.
Chris segera menjabat tangan memperkenalkan diri sembari membungkuk. Kemudian menjelaskan perihal keberadaannya bersama Alex.
Duduk sebentar untuk menikmati kopi yang disuguhkan Bu Yulia, kemudian pamit pulang.
Alex akhirnya bisa beristirahat dengan tenang setelak kakaknya puas mengintrogasinya. Orang tuanya saja tidak terlalu ambil pusing, mungkin karena pikir Alex sudah cukup dewasa dan bisa menjaga dirinya.
Lampu kamarnya sudah padam tapi Alex belum juga bisa tidur karena masih terbayang wajah Chris yang menakutkan tapi juga menggemaskan.
Kenapa aku tidak boleh membuat rencana apapun libur nanti?. Apakah kami akan bertemu lagi dan menghabiskan waktu bersama seperti di Fam Park. Atau dia akan memberinya pelajaran karena telah membuatnya kesal. Tapi memangnya kesalahan apa yang kulakukan sampai dia sekesal itu tadi. Masa gara-gara aku telat pulang. Apa haknya, orang tuaku saja tidak pernah keberatan. Hanya kakaknya saja yang kadang protes, tapi dia tidak pernah bereaksi seperti Chris tadi. Pikiran Alex berkecamuk.
Di liriknya jam dinding yang tergantung di depannya. Sudah lewat tengah malam dan belum juga dia bisa tidur. Segala posisi yoga yang membantu untuk tidur dilakukannya, di putarnya musik lembut yang biasa membuatnya tidur dalam waktu sekejap, tapi tetap tidak membantu. Setiap kali dia memejamkan mata bayangan wajah Chris kembali memenuhi pikirannya dan semakin dia tidak dapat tidur. Di ambilnya laptopnya di atas meja dan di bukannya situs untuk menonton anime kesukaannya sampai matanya menjadi lelah dan tertidur.
*********Pengumuman********
Terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca novel pertamakuuuu. Maaf kalau ada kekurangan, ini adalah novel pertama saya.
Kalau kalian menyukainya jangan lupa boomlike, rate dan vote ya ( Thor jadi berasa kaya youtuber aja :like, subscribe dan hidupkan lonceng 🤣😂🤣😂🤣😂)
__ADS_1
P.S :Kalo Ada saran atau keluhan (atau pujian 😝😝🤤🤤*Thor ngarep wkwkwkwk) silahkan tulis di comment yaaaaa**