
"Kamu tidak bawa baju ganti kan? Mau beli baju dulu?" tanya Chris dalam perjalanan.
"Ini udah jam 12 malam,mana ada toko baju yang buka." ucap Alex mengernyitkan alisnya.
"Mall di apartment buka 24 jam kok."
"Haaa,,udah kaya kantor polisi aja buka 24 jam. Itu mall kan khusus buat kalian,ngapain sampai buka 24 jam kalau pengunjungnya itu-itu saja." Alex sedikit kaget dengan fasilitas istimewa para penghuni apartemen tempat Chris tinggal.
"Yah, bukan buat penghuninya saja sih, tamunya pemilik apartemen juga boleh belanja di sana."jelas Chris.
Benar juga sih, bukannya Chris bilang kebanyakan pemilik apartemen itu orang asing yang cuman pakai itu gedung buat tempat singgah dan pesta-pesta. Pasti lah semua bakal ambil kesempatan buat belanja kapan pun kalau mall nya buka 24 jam. Pikir Alex membayangkan gadis-gadis merayu pria tua hidung belang hanya untuk mendapat barang-barang branded.
Sejak pertama berkunjung ke apartemen, Alex memang sempat jalan-jalan melihat Mall nya. Tidak sebesar Mall yang ada di luaran, tapi semua gerainya adalah brand terkenal yang harganya selangit,yang kalau di beri diskon 90% pun Alex masih akan berpikir 1000 kali untuk belanja di sana.
"Tidak usah, nanti aku pinjam kaos mu saja ya. Aku nggak mau ngabisin tabunganku buat beli satu baju doang." ucap Alex jujur.
Begitu menyerahkan kunci mobil pada petugas parkir Chris langsung menggandeng Alex masuk mall yang letaknya memang di lantai 1 bersebelahan dengan lobby apartemen.
" Kamu beli apapun yang kamu suka, tapi jangan lama-lama ya, aku tunggu di sini." Chris menyerahkan salah satu kartu debitnya, kemudian dia masuk ke cafe yang ada di sebelah pintu masuk mall.
Bukannya tidak mau mengantar Alex berbelanja, akan tetapi Chris bisa melihat kalau Alex sedang memikirkan sesuatu yang serius sehingga seolah hanya badannya saja yang berada bersama Chris tapi jiwanya entah dimana. Karena alasan itu lah Chris memberi nya waktu untuk sendiri dan berharap dengan berbelanja dia bisa sedikit terhibur, meskipun dia tidak tahu masalah apa yang sedang di hadapai gadis kecilnya itu.
Tidak sampai sepuluh menit Alex sudah kembali menyusul Chris ke Cafe. Dia hanya menjinjing sebuah tas belanja.
Chris benar-benar tak habis pikir. Selama ini semua wanita yang di temuinya selalu memanfaatkan kesempatan mereka untuk membeli sabanyak - banyaknya barang yang mereka inginkan. Itu lah sebabnya Chris tidak pernah mempercayakan kartu debit atau kreditnya pada mereka karena mereka sudah menuntut banyak dari awal pertama kencan. Sedangkan Alex yang saat ini memiliki kesempatan untuk membeli seluruh isi mall malah datang hanya dengan membawa satu tas belanja.
"Cepat sekali, kamu yakin hanya perlu itu saja?" tanya Chris.
"Iya ini cukup kok." jawab Alex dengan senyum yang sedikit terlihat hambar. Dia mengunjungungi toko pakaian yang terlihat paling sederhana di banding toko lainnya, dan tetap saja harganya di luar batas normal Alex. Di ambilnya dua pasang dress, dan satu set pakaian atas-bawah. Kalau saja dia pergi ke mall dekat rumahnya dia bisa membeli pakaian untuk di pakai selama sebulan dengan harga pakaian yang dia ambil.
Karena tidak ada lagi yang Alex perlukan mereka berdua lalu menuju lantai 17 yang adalah apartemen Chris.
Bi Ina menyambut mereka berdua, dan kembali ke kamarnya setelah Chris dan Alex menolak di siapkan makanan atau minuman.
"Kamu mandi terus tidur ya, kalau ada apa-apa minta Bi Ina atau panggil aku di kamar ku." ucap Chris yang kemudian mengecup kening Alex dan menyuruhnya masuk ke kamar tamu. Chris ingin sekali menanyakan masalah apa yang sedang di pikirkan Alex, tapi lagi-lagi di urungkan niatnya itu.
Mungkin Alex akan jadi lebih baik besok pagi. Jadi sebaiknya berikan dia waktu sendiri malam ini. Begitulah pikir Chris, walaupun dirinya masih ingin bersama kekasihnya itu. Dia pun kemudian masuk ke kamar nya berganti pakaian dan merebahkan diri di tempat tidur, berusaha untuk tidur.
Satu jam berlalu mata Chris masih terbuka lebar menatap langit-langit kamarnya. Ternyata tidak mudah untuk tidur jika isi kepalanya adalah Alex yang tengah berada di kamar sebelah. Di benaknya hanya ada bayangan mereka berdua bercumbu mesra di setiap sudut apartemennya.
Tidak seharusnya aku pacaran dengan anak kecil. Begitulah dia menasehati dirinya sendiri. Tapi bukankah teman-teman sebayanya banyak yang menghabiskan waktu mereka bermain-main dengan gadis-gadis seumuran Alex, dan bahkan anak sekolahan yang lebih muda. Mereka tidak menemui kesulitan apapun dan mendapat apa yang mereka butuhkan .
Sepertinya gadis kecil ku memang berbeda dengan gadis-gadis kebanyakan, aku harus bisa mengerti itu. Lagi-lagi Chris bicara pada dirinya sendiri.
TOK... TOK...
Terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" sahut Chris tak beranjak dari tempat tidurnya. Dirinya langsung terduduk begitu melihat sosok yang bertamu ke kamarnya.
__ADS_1
Alex mengenakan gaun tidur berwarna maroon, dengan tali kecil dan potongan dada bentuk V yang rendah sehingga setengah bra nya yang berwarna senada terlihat. Dia berhenti di sisi ranjang lalu berkata, "boleh aku duduk?"
Chris menjawab pertanyaan Alex dengan anggukan. Dia tidak berani membuka mulutnya, sejak melihat Alex muncul dari balik pintu, mulutnya memproduksi ludah lebih banyak dari biasanya. Dengan pelan dia berusaha menelan ludah melewati tenggorokannya sedikit demi sedikit agar Alex tidak melihatnya. Tapi usahanya sia-sia ketika Alex bergerak naik ke tempat tidur dan duduk di depannya, suara 'Gluk' keras tak terhindarkan lagi. Mau pura-pura kalau suara itu tidak berasal dari tenggorokannya pun percuma karena jakunnya pasti terlihat bergerak tadi.
Alex duduk menekuk kakinya ke samping dan kedua tangannya berada di antara paha nya menindih gaun tidurnya yang menjadi semakin pendek saat dia duduk. Kalau tidak di tindih mungkin Chris bisa melihat segitiga terbalik warna maroon juga.
"Tidak bisa tidur ya? Mau menonton di ruang cinema? Aku akan siapkan popcorn untukmu." ucap Chris langsung beranjak dari duduknya.
Chris sadar kalau sesuatu yang tidak di inginkan akan terjadi jika mereka tetap berada di kamar itu.
Apa-apaan ini, kenapa aku panik begini. Biasanya juga langsung sergap. Kenapa sekarang malah aku yang keliatan takut di sergap. Batin Chris kesal. Tentu saja kalau bukan karena ucapannya sendiri yang katanya akan bersedia menunggu kesiapan Alex, pastinya saat ini sudah tak ada sehelai benangpun menempel di tubuh Alex. Kamar ini tidak akan sesunyi ini. STOP!! STOP CHRIS! berhenti lah membayangkan hal-hal yang membahayakan. Di dalam kepalanya Chris sedang bertarung dengan dirinya sendiri.
Belum sempat kakinya menapak lantai, tangan Alex sudah menggamit lengan bajunya dan menariknya mendekat. Perpaduan dari isi kepala yang penuh berisi argumen tidak jelas serta tubuh yang hanya bertumpu pada satu lutut sementara kaki satunya belum mendarat di lantai di tambah tarikan ke belakang oleh tangan mungil Alex menghasilkan olengnya keseimbangan yang mendaratkan punggung Chris di tempat tidur.
Otak Chris masih terkejut dan belum sepenuhnya sadar bagaimana posisi jatuhnya malah di kejutkan lagi dengan Alex yang tiba-tiba duduk di atas nya.
Dengan Alex masih berada di atas tubuh nya Chris bangkit perlahan untuk duduk kemudian mendekap Alex.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Ini bukanlah Alex yang aku kenal." ucap Chris masih mendekap Alex.
"Aku sudah siap Chris. Aku bisa buktikan kalau aku juga bisa memberi kan apa yang kamu mau, sama seperti wanita lainnya, sama seperti Bu Madeline." suara Alex sedikit bergetar seakan dia sedang menahan tangisnya.
"Jadi itu masalahnya, ini semua ternyata soal perjalanan ku Jumat depan." ucap Chris akhirnya berhasil menemukan petunjuk penyebab sikap aneh Alex.
"Aku sudah bilang jangan mikir yang aneh-aneh. Sebelum ada kamu pun aku dan Madeline sudah tidak ada apa-apa. Jangan paksakan dirimu, itu hanya akan menyakitimu. Aku tidak mau menjadi penyebabnya. Aku ingin kau menyerahkannya dengan senyuman, bukan keterpaksaan. " Chris mengangkat Alex dan mendudukkannya di atas tempat tidur. Meskipun inti masalah sudah terbuka dan situasi panas tadi bisa didinginkan tetap saja kalau terlalu lama Alex di pangkuannya akan mempersulit dirinya sendiri.
"Aku ingin tidur di sini, di peluk sampai aku tertidur." pinta Alex manja, dia masih khawatir, tapi ucapan Chris tadi membuatnya agak tenang.
"Tidak bisa. Kembali ke tempatmu, ini hukuman. Siapa suruh tadi kau mencoba menggodaku. Untung aku ini seorang laki-laki sejati."
"Jahat! Biasanya juga kau yang selalu menggodaku, dan aku tidak pernah menghukummu. Awas saja nanti!" omel Alex lalu mengecup bibir Chris cepat, kemudian berlalu pergi kembali ke kamarnya.
Tidak pernah menghukum bagaimana, setiap kali aku harus menahan diriku seperti orang gila. Kalau bukan hukuman lalu apa lagi namanya. Batin Chris.
Alex menghabiskan libur dua harinya bersama Chris. Mereka pergi sky diving kemudian mencoba arung jeram dan juga kegiatan luar yang menantang lainnya. Malamnya selalu di akhiri dengan makan malam romantis di restoran mewah,sampai di apartment mereka cepat tertidur karena kelelahan.
Chris sengaja mempersiapkan semua kegiatan yang menguras tenaga agar mereka merasa lelah dan tidur cepat, karena bayangan Alex dengan gaun tidur maroonnya masih berseliweran di dalam kepala Chris.
*********
Nayla mengekor Alex sepanjang hari di restoran. Dia ingin mendengarkan cerita exclusive dan mendetail sebagai imbalan karena Alex menggunakan namanya sebagai alasan berbohong selama Alex berada di apartment Chris.
"Dua hari dua malam dan tidak terjadi apa-apa,, ayolah Lex aku bukan anak kecil. Katakan sejujurnya." paksa Nayla.
"Memang apa yang akan terjadi, kami kan belum lama jadian Nay. Kamu sendiri sama Bimo gimana,pasti sama kan, anggap kita jadiannya barengan." sahut Alex kembali mengingat kejadian di hotel Queen saat dua sahabatnya jadian, dan di waktu yang sama dia baikan dengan Chris.
Nayla masih menatap Alex dengan tatapan tak percaya seakan Alex berbohong padanya.
" Tunggu, jangan bilang kamu dan Bimo udah..." Alex menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena tidak tahu harus menggunakan kata apa untuk melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Kita kan udah dewasa Lex, udah bisa ngasilin uang sendiri juga kok, keputusan ada di tangan kita." ucap Nayla santai.
"Apa hubungannya coba ngasilin uang sendiri sama begituan." sanggah Alex. Dia memang tidak bisa mengerti meskipun dia sendiri tahu kalau sudah banyak pasangan muda bahkan anak sekolah jaman sekarang yang melakukan hal sejauh itu.
"Ya selama kedua pihak setuju tanpa ada paksaan kenapa nggak. Kalau kita sama-sama seneng." Nayla menjelaskan lagi."Jadi beneran nggak terjadi yang begitu?" Nayla bertanya kembali karena belum yakin.
"Hampir terjadi sih, tapi Chris itu pria sejati." ucap Alex lalu menceritakan semuanya pada Nayla.
"Salut sih dia bisa tahan. Tapi kasian juga ya." ucap Nayla bersimpati.
"Kok kasihan?"
"Ya kamu tahu sendiri di umurnya yang sekarang pasti dia sudah biasa begituan, terus sekarang dia sama kamu harus tahan diri. Yang namanya pacaran itu kan kedua pihak harus sama-sama bahagia. Bukannya aku nyuruh kamu kasi ke dia. Tapi kasian aja, kenapa kamu nggak pacaran sama cowok yang sepemikiran sama kamu Lex. Cari yang perjaka ting-ting." ucap Nayla di akhiri tawa," Tapi sekarang mah sulit cari yang masih polos, kamu aja nih kayaknya satu di antara sejuta deh. "Nayla melanjutkan gurauannya.
" Terus aku harus gimana dong. "Alex berkacak pinggang menanggapi candaan Nayla.
" Udah ga usah di pikir, kalau kamu bahagia jalanin aja, biar Chris cari caranya sendiri bertahan dengan bocah kaya kamu. " Nayla tertawa terbahak.
Berhasil bebas dari kejaran Nayla giliran Ratna dan Stefi mengganggunya. Sampai-sampai applikasi obrolan grup di ponselnya error lantaran banyaknya pesan yang mereka kirim. Karena Alex malas keluar rumah akhirnya mereka mengobrol lewat panggilan video. Ryan sendiri absen karena perbedaan waktu, di sana dia sedang ada kuliah jadi tidak bisa menerima panggilan.
Chris masih setia mengantar jemputnya meski dia sendiri sibuk dengan pekerjaannya. Ternyata menjadi orang kaya itu bukan berarti kau bisa santai menikmati kekayaan.
*****
Saat keluarga Purnomo sedang santai berkumpuk sambil menonton TV, tiba-tiba Andre anak tertua menyampaikan kabar yang membahagiakan. Katanya saat ini dia sedang dekat dengan seorang gadis, dan akan memperkenalkannya pada anggota keluarga jika dia sudah benar-benar yakin pilihannya tepat.
"Asiiiiiikkkk akhirnya, tabungan kakak udah cukup kan buat nikah. Tenang aja Kak Andre, nanti Alex kasi pinjem tabungan Alex juga." ucap Alex bersemangat.
"Hush belum juga apa-apa." sahut Andre tidak mau memberikan harapan terlalu besar pada dua orang tuanya yang selalu ingin dirinya memulai hidup berumah tangga.
"Nggak usah lama-lama Kak. Ntar di tikung yang lain lho." ledek Alex.
"Coba bilang gitu ke Chris, berani nggak. Jangan lama-lama ntar aku keburu di tikung." balas Andre. Yang langsung di balas timpukan bantal oleh Alex.
"Beda dong Kak, aku ini sebagai adik harus menghormati yang lebih tua. Nggak boleh nyalip ntar kakak jadi jomblo seumur hidup, jodohnya jauuuuuuhhhhh di luar angkasa."
"Alien kali" celetuk ayah yang membuat seisi rumah tertawa.
Alex yang pertama pamit meninggalkan pertemuan keluarga untuk pergi tidur. Di lihatnya kembali ponselnya yang tadi dia letakkan di atas bantal. Dirinya sedang menunggu kabar dari Chris. Dia berangkat siang tadi, seharusnya pesawatnya sudah mendarat di tempat tujuan 2 jam lalu. Pesan yang di kirimnya belum sampai dan ponselnya tidak bisa di hubungi. Lagi-lagi rasa cemas menghantui Alex.
Apa mungkin dia kelelahan lalu langsung tidur? Tapi tidak perlu waktu lebih dari semenit hanya untuk mengirim pesan singkat kan?!. Seberapa keras pun dia mencoba berpikir positif tetap saja hati kecilnya merasa cemas. Bagaimana kalau Bu Madeline merayunya lagi, atau menaruh sesuatu dalam minumannya sehingga Chris akan.... Cepat-cepat di buang jauh pikiran buruk dari kepalanya. Ini pasti akibat tadi nonton sinetron bareng Ibu, jadinya mikir yang aneh. Alex menenangkan dirinya sendiri.
Ternyata begini rasanya saat khawatir akan sesuatu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata ucapan Chris malam itu hanya berhasil menenangkannya selama seminggu. Buktinya sekarang dia sudah cemas lagi. Tapi apakah hari ini dia tidak akan cemas kalau seandainya malam itu dia benar-benar menyerahkan dirinya pada Chris?
****Pengumuman ****
Ayo rame2 kasi like, vote dan comment yaaaaa (cih Thor nya sok banget, berasa yang baca novelnya banyak kali ya?!!?)
GA apa ngarep sekali2 hehe
__ADS_1