
Pemandangan di balcony tampak redup dan sejauh mata memandang hanya tampak kegelapan hutan di malam hari. Hotel Queen sendiri terletak di tepi tebing jadi memang sejauh mata memandang hanya ada pepohonan. Hotel Queen sudah sejak lama bekerja sama dengan pemerintah setempat dalam menjaga kelestarian hutan beserta hewan yang hidup di dalamnya, karena hamparan hijau itu lah yang menjadi daya tarik tamu di hotel. Terlebih lagi kolam renang tak berbatas yang terletak di tepi bukit membuat sekolah-olah para tamu berenang di hutan belantara.
Alex tidak tahu harus bersikap bagaimana, saat ini dia hanya berdua saja dengan Chris menikmati gelapnya hutan. Hiruk pikuk suara pesta tidak begitu terdengar dari luar,tetapi dia bisa melihat ke dalam melalui tirai putih tipis yang membentang sepanjang dinding kaca balcony. Banyak dari mereka yang turun ke lantai dansa dan menari lincah seolah tak ada beban. Beberapa ada yang lebih memilih duduk menjadi penonton atau asyik mengobrol. Semua tampak menikmati pesta yang berlangsung.
"Apa kamu ingin kembali ke dalam?" tanya Chris.
Alex sebenarnya hanya mencoba menyibukkan dirinya yang kikuk sehingga dia terus melayangkan pandangannya ke dalam, karena di sisi satunya terlalu gelap jadi tidak ada yang bisa di lihat.
"Terima kasih, tadi Nayla menceritakan padaku kejadian saat makan malam tadi, " ucap Alex menatap Chris dan dirinya baru sadar kalau tangan mereka masih berpegangan.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Maaf seharusnya aku bertindak lebih cepat, jadi kamu nggak di siksa mereka, " ucap Chris menarik pelan tangan Alex yang sedari tadi digenggamnya sehingga kini mereka berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Tidak apa-apa, mereka tidak menyiksaku. Ini hanya kesalah pahaman, " sahut Alex mendongakkan kepalanya menatap wajah Chris. Meskipun dengan heels, tingginya hanya sampai sebahu pria di depannya.
"Boleh aku memelukmu? Aku rindu sekali." Chris memilih untuk bertanya terlebih dahulu meskipun dia ingin sekali memeluk erat Alex.
Alex tak menjawab pertanyaan Chris, dia hanya memalingkan wajahnya menatap gelapnya hutan.
Chris melingkarkan lengannya di pinggang Alex dan meletakkan dagunya di bahu kiri Alex. Dia tidak memeluk dengan erat karena takut akan membuat Alex ketakutan seperti malam itu. Bahkan kali ini bagian depan tubuh mereka tidak bersentuhan sama sekali.
"Aku kan belum menjawab, " ucap Alex lirih. Seperti ada luapan bahagia terlontar dari tubuhnya dan dia ingin Chris memeluknya lebih erat lagi, akan tetapi kenapa masih ada perasaan ragu yang tertinggal, dan susah sekali mulutnya menjawab pertanyaan tadi padahal jelas-jelas dia ingin sekali di peluk.
"Aku tidak memelukmu. Ini bukan caraku memeluk orang yang kucintai, kamu tahu itu kan, " jawab Chris, dia sudah cukup bahagia karena Alex tidak berusaha melepaskan diri darinya. "Jadi boleh tidak?" tanya nya lagi.
"Hanya peluk, tidak boleh yang lain, " ancam Alex sok tangguh.
Chris yang mendengar ucapan Alex langsung mempererat pelukannya. Tangannya yang tadi hanya menggantung menyilang di belakang pinggang Alex kini melingkar sempurna dan mengangkat tubuh mungil Alex agar posisi mata mereka sejajar menatap mata gadis di depannya penuh cinta.
Kejadian berikutnya benar-benar sangat mengejutkan, Alex merutuki dirinya sendiri atas apa yang telah dilakukannya. Entah bagaimana awalnya tangan Alex yang tadinya berpegangan di bahu Chris karena kakinya tak lagi menyentuh lantai saat Chris mengangkatnya beralih ke wajah Chris dan wajahnya refleks mendekat mendaratkan ciuman lembut. Chris yang sedikit kaget membiarkan gadis kecilnya menguasai keadaan. Sebenarnya hampir tadi dia membalas serangan, akan tetapi dia menahan diri karena dia ingin membuat Alex merasa nyaman dan tidak merasa di intimidasi. Untuk mengendalikan dirinya Chris hanya mempererat pelukannya.
Lipstik yang seharusnya anti air dan tahan delapan belas jam di bibir Alex kini sudah berpindah tempat. Matanya membelalak kaget begitu dirinya sadar atas apa yang terjadi dan seketika wajahnya menjadi merah padam. Dia meronta minta di turunkan.
"Hey mau kemana." Chris menangkap lengan Alex menahannya berlari masuk. "Sepertinya kamu harus sedikit merapikan riasanmu sebelum masuk. Sedikiiiiit saja, " lanjut Chris sambil menggerakkan telunjuknya memutar di bibirnya sendiri yang sekarang terlihat berwarna orange coral cerah.
Alex menutup matanya dengan tangan yang terbebas dari genggaman Chris. Dirinya merasa malu sekali." Jangan ketawa! " ancamnya, tapi mendengar itu Chris malah tertawa terbahak-bahak. Alex langsung melotot dan memasang tampang cemberut.
"Apa perlu aku ambilkan handuk atau tissue?" tanya Chris masih menahan tawa.
"Ambilkan tas ku, tadi ku titipkan di locker pintu masuk ballroom, " pinta Alex seraya menyerahkan Plat kecil berwarna keemasan bernomor 13 yang terikat pada tali elastis berwarna sama yang menggantung melingkar seperti gelang di pergelangan tangannya. "Ini nomer locker nya."
__ADS_1
"Tunggu sebentar." Panggil Alex saat Chris hendak pergi menunaikan tugasnya. Alex mendekat dan menggosok bibir Chris dengan tangannya menghapus sisa lipstick yang masih membekas di bibirnya.
Ketika Chris berlalu pergi Alex berteriak dan menjitak kepalanya sendiri atas kebodohan yang dia perbuat. Kenapa otak dan hatinya tidak pernah sinkron sih kalau berhadapan dengan Chris, begitulah dia mengeluh pada dirinya sendiri. Mau bagaimana lagi sepertinya hatinya sudah terikat dan jatuh hati pada Chris seolah-olah sudah siap menyerahkan segala miliknya pada pria itu, akan tetapi otaknya selalu berpikir lebih jernih akan segala konsekuensi yang mungkin akan terjadi dan hampir semuanya tampak tidak begitu menyenangkan.
Chris datang membawa tas tangan berwarna merah di tangannya.
"Tidak ada yang melihatmu membawa tas ku kan?" tanya Alex panik.
"Bagaimana ya, tadi aku mengangkatnya tinggi begini lalu aku berjalan berputar berkeliling seperti model." canda Chris yang langsung membuat mata Alex membelalak lebar. "Tenang saja tadi aku simpan di balik jas ku. Lagi pula memangnya kenapa, tidak usah mendengarkan omongan orang."
Alex kemudian mengambil tissue basah dan bedak dari tas nya dan menghapus lipstiknya yang belepotan kemana-mana.
'KRIIIIINNNGGGG KRIIIIINNNGGGG' ponsel Alex berdering. Dilihatnya nama Nayla tertera di layar ponsel.
" Halo Nay, " Alex menjawab panggilan Nayla.
"Masih betah nih di balkon?. Nggak kedinginan, eh lupa kan udah ada penghangat ya, " gurau Nayla.
Alex kaget, bagaimana Nayla bisa tahu dimana dan dengan siapa dia berada. Jelas-jelas tadi semua tampak tidak memperhatikan mereka,"Tahu darimana kita ada di balkon?"
"Tembok di sini punya mata Lex. Gimana, mau pulang sekarang bareng aku atau di anter yang lain. Anak-anak beberapa udah pada pulang juga."
"Tunggu aku..." ucapan Alex terhenti karena Chris merebut ponselnya.
Memang pria ini kadang terlihat tegas berwibawa dan menakutkan, tapi kadang bisa lucu juga seperti anak remaja.
" Apa itu tadi, jadian di tanggal yang sama? " Alex merebut kembali ponselnya.
" Oh, jadi kamu tidak mau mempertanggung jawabkan perbuatanmu padaku tadi?" ucap Chris tersenyum melihat ekspresi malu Alex. "Sudah mencium ku seperti itu masih tidak ingin menjadikan ku sebagai pacarmu?"
"Terus sekitar sebulan yang lalu kau menembakku terus kita kencan itu bukan jadian namanya?" ucap Alex berusaha menghilangkan rasa malunya , karena dia tidak mau di goda terus oleh Chris.
"Habis baru sehari jadian aku langsung di campakkan selama sebulan lebih, kupikir itu tidak termasuk dalam kategori jadian."
"Enak saja tidak termasuk, sudah mencium ku sepanjang hari juga." Alex memukul dada bidang Chris, dan ketika pukulan kedua kalinya hendak mendarat, Chris menagkapnya dan menarik Alex ke pelukannya. Kali ini Alex memeluk erat Chris. Meskipun pikirannya masih di penuhi keraguan, tapi tak bisa di pungkiri kalau dia mencintai Chris dan merasa sangat bahagia saat ini.
Biarlah masalah yang akan timbul di kemudian hari itu urusan belakangan, yang penting saat ini dia bahagia. Begitulah pikir Alex.
Chris sengaja mengemudikan mobilnya pelan agar dia bisa bersama dengan Alex lebih lama. Sebenarnya dia ingin mengantar Alex sampai rumah dan menyapa keluarga Alex, karena sudah lama dia mengilang tanpa kabar,akan tetapi Alex melarangnya dan meminta Chris untuk menurunkannya di gerbang depan rumah saja.
__ADS_1
Meskipun menurut Chris itu kurang sopan karena dia mengantar Alex pulang saat sudah malam dan dia mengenal baik keluarga Alex, tapi karena Alex yang meminta dia menurut saja. Bisa di anggap ini adalah kencan kedua mereka setelah sebulan lebih terpisah karena salah paham. Dia tidak ingin mengacaukannya lagi.
Sepanjang perjalanan mereka berbicara panjang lebar tentang kehidupan selama sebulan terakhir. Kali ini semua terjelaskan dengan baik karena suasana hati mereka sedang berbunga-bunga, tidak seperti saat di minimarket malam itu.
Alex pun tidak lupa meminta pada Chris untuk bersabar karena dia tidak bisa menjalani pacaran layaknya wanita-wanita yang Chris kencani sebelum dirinya, dan Chris mengiyakan permintaan Alex. Satu hal yang membuat Alex ragu terselesaikan sudah. Memang sepertinya dia harus lebih berani mengungkapkan isi hatinya, ketimbang lari menangis tanpa penjelasan dan akhirnya mendatangkan salah paham.
Sesampainya di depan rumah Chris mengecup bibir Alex lembut sebelum keluar dari mobilnya. Dia masih ingin bersama gadis kecilnya, tapi tidak mengapa, toh besok mereka akan bertemu lagi karena Alex akan libur selama dua hari ke depannya. Dan dia akan menemani Alex melewati hari liburnya.
"Lho Nayla mana?, nggak mampir?" tanya ibu saat melihat Putri nya pulang dengan wajah sumringah.
"Alex di antar Chris Bu, kasian soalnya rumah Nayla kan beda arah Bu."
"Chris udah balik dari luar negri?, terus kok nggak mampir?" kali ini kakaknya Andre yang bertanya.
"Udah malem Kak, besok aja katanya. Titip salam tadi dia buat semua. Alex masuk dulu ya, ngantuk."
Keluarganya hanya saling lirik di belakang Alex ketika dia masuk ke kamar. Mereka tahu pasti sebelumnya ada masalah di antara Alex dan Chris dan perjalanan keluar negri hanya alasan, tapi mereka memilih pura-pura tidak tahu. Selama ini Alex tidak akan bercerita selama dia merasa kalau dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia hanya akan bercerita pada sahabatnya, dan keluarga Alex kenal baik dengan Ratna dan Stefi. Mereka tahu jika masalahnya sudah berat maka kedua bocah itu akan melapor pada mereka.
"Tuh Ndre adikmu saja sudah punya kisah cinta, kamu kapan?" sindir Ayah.
"Kenapa jadi aku yang di serang nih." protes Andre di sambut tawa oleh orang tuanya.
*****
Alex merasa sangat tidak enak menjelaskan semuanya pada Ryan, tapi ini semua demi kebaikan semua pihak. Dia harus memberi tahu Ryan terlebih dulu sebelum dia menceritakan semua pada Stefi dan Ratna,karena bagaimanapun juga dia menghargai perasaan Ryan pada dirinya.
"Sekali lagi maaf kan aku ya." Alex menatap Ryan penuh rasa bersalah.
"Hey tidak perlu merasa bersalah, kau tidak melakukan kesalahan padaku Alex. Sejak awal kau memang sudah bersamanya dan aku yang seenaknya menyatakan perasaan saat kalian ada masalah," ucap Ryan sok tegar, padahal hatinya sakit hancur berkeping-keping, cinta rahasia yang dia pendam sejak lama benar-benar pergi.
" Jangan canggung, sekarang kita teman." Ryan mengacak rambut Alex,dan akhirnya Alex kembali tersenyum.
" Buka mulutmu, ini sebagai ucapan selamat atas kembalinya cinta bersemi di hati sahabat ku." Ryan menyuapi Alex es krim dark chocolate kesukaannya.
"Baiklah dan ini dariku, sebagai ucapan terima kasih karena tidak meninggalkan ku setelah menolak mu," giliran Alex yang menyuapi Ryan.
Mereka pun tertawa riang tidak sadar kalau di seberang toko seorang pria dari tadi memperhatikan mereka dengan tatapan penuh amarah.
*****Pengumuman****
__ADS_1
Kali ini Thor update nya sedikit, karena masih sibuk, tapi Thor usahakan tetap rutin updates nya (max 3 hari sekali sih Kalo bisa)
Thor harap kalian nggak kabur dan masih setia membaca karya Thor yang ga seberapa ini. Jangan lupa, like, comment, rate dan vote ya (akhirnya setelah latihan, kali ini ngomongnya ga salah kaya kemaren) 😅😅