
Semenjak Ben lulus dan di terima bekerja di perusahaan besar di Ibu kota dia jarang bisa datang ke acara memancing yang selalu rutin di adakan dua minggu sekali. Namun dirinya selalu menyempatkan diri untuk tetap mengobrol lewat video call walaupun hanya beberapa menit, saat yang lain tengah berkumpul. Begitu juga dengan Amel, karena dia lebih banyak menggunakan hari liburnya untuk menjenguk Ben dan menghabiskan waktu bersama. Foto-foto mesra mereka akan bertebaran di setiap media sosial yang mereka miliki. Bethany biasanya yang paling sering menunjukkan foto-foto tersebut sambil berkomentar tidak suka pada Amel yang di anggapnya telah merubah Ben.
"Kamu saja yang belum mengenal Ben ke dalam-dalamnya," ujar Anthony yang merupakan teman Ben sejak bangku sekolah dasar.
Anthony kemudian menceritakan jika Ben itu kalau sudah jatuh cinta dan memiliki kekasih, dia akan terlihat seperti budak cinta lantaran cara dia memanjakan kekasihnya. Di Jamin apapun yang di minta, pasti Ben akan berusaha mengabulkannya. Sebelum kuliah sebenarnya Ben memiliki seorang kekasih bernama Deandra. Bisa di bilang di sekolah mereka itu pasangan ideal, bahkan sampai memiliki penggemar. Ben bahkan rela menolak beasiswa dari kampus ternama di Ibu kota demi tetap berada di sini karena Deandra masih harus menempuh kehidupan sekolah 2 tahun lagi. Sehingga Ben memutuskan kuliah di kota ini. Namun kerena perbedaan jadwal sekolah dan kuliah mereka tidak bisa bertemu sesering dulu waktu masih satu sekolah.
Akhirnya Deandra berselingkuh dengan teman sekelasnya. Anthony yang tanpa sengaja mengetahui itu, tidak tega memberi tahu Ben karena setiap kali main bareng dia selalu bercerita Betapa dia sangat mencintai Deandra. Bahkan Ben bekerja sambilan menabung uangnya untuk membeli kalung dengan liontin inisial huruf 'D' bertahtakan berlian untuk hadiah ulang tahun kekasih tercintanya. Naasnya pada saat Ben berpura-pura tidak bisa merayakan ulang tahun Deandra, agar bisa membuat kejutan malah mengetahui kebenaran perselingkuhan mereka.
Saat itu Ben melihat sendiri Deandra bercumbu mesra dengan pria lain. Bahkan hubungannya dengan Deandra saat itu tidak sampai sejauh itu. Setelah kejadian itu nilai-nilai kuliah Ben turun drastis begitu juga berat badannya. Anthony sangat merasa bersalah karena tidak memberi tahu sahabatnya sejak awal. Saat itu Anthony hanya berharap Deandra sadar dan kembali kepada Ben sebelum terlambat,namun itu tidak pernah terjadi.
Hingga hampir 2 tahun setelah kejadian tiba-tiba Deandra muncul meminta maaf dan ingin memulai kembali hubungan mereka. Entah apa yang ada di kepala Ben saat itu, dirinya menerima Deandra kembali seolah kejadian buruk yang dulu tidak pernah terjadi sama sekali. Mungkin karena Ben masih mencintai Deandra yang merupakan cinta pertamanya.
Sayangnya kesempatan kedua yang di berikan Ben malah di salah gunakan kembali oleh Deandra. Setelah lulus sekolah mereka tinggal berdua di sebuah apartemen. Deandra tidak ingin melanjutkan pendidikan kuliah dan memilih bekerja di toko kosmetik besar karena dia memang suka hal yang berbau make-up dan fashion. Suatu hari Ben harus menjaga ayahnya di rumah sakit akibat kecelakaan. Pada malam kedua, Deandra yang mengira Ben akan bermalam di rumah sakit selama beberapa hari, mengundang seorang pria ke apartemen mereka. Pria yang malam itu baru di temuinya saat pergi minum bersama teman-temannya di Bar.
Ben yang malam itu pulang ke apartemen karena mengira Deandra pasti merindukannya, harus melihat adegan panas yang bahkan serasa membakar tubuhnya sendiri.
Setelah menenangkan diri sambil merawat ayahnya di rumah sakit, Ben memutuskan untuk pergi meninggalkan Deandra meskipun sejak awal apartemen itu adalah miliknya. Deandra tanpa rasa bersalah menyalahkan Ben atas perbuatannya sendiri. Dia berkata jika Ben kurang pintar bergaul dan penampilannya terlalu biasa,sehingga Deandra malu untuk memperkenalkannya kepada teman-teman.
Sejak saat itu Ben sedikit demi sedikit berubah menjadi Ben yang kita kenal sekarang. Pria genius yang tampan dengan penampilannya yang tidak kalah dengan artis terkenal. Ben yang pintar bergaul, lucu, dan suka cengengesan.
Cerita kisah hidup Ben by Anthony selesai.
Semua yang mendengar jadi merasa iba. Bethany yang sampai tadi masih suka menyalahkan Ben dan Amel atas tindakan mereka yang di anggap menyakiti Alex jadi merasa bersalah telah menuduh Ben,tapi dia tetap tidak suka pada Amel.
Alex kembali teringat pada Chris dan kejadian di hotel bersama wanita lain. Ternyata di dunia ini ada orang yang kisahnya lebih menyakitkan dari dirinya. Batin Alex dalam hati.
******
Alex tengah sibuk memasukkan bekal buatannya ke dalam kotak bekal plastik,kemudian di masukkannya ke tas keranjang rottan piknik. Sebelum pergi di lihatnya kembali penampilannya di depan cermin. Dres kuning bergelombang dengan motif polka-dot putih selutut.
Hari ini dia akan pergi piknik di pantai. Di balik dress Alex sudah mengenakan bikini warna hitam. Setelah puas menatap dirinya Alex segera turun ke lantai 4 menemui Ryan.
Sesampai di pantai cukup ramai juga pengunjung di sana, untungnya masih tersedia tempat parkir yang dekat tempat masuk pantai, jadi mereka tidak perlu berjalan jauh. Mereka menyewa kursi dan payung pantai yang letaknya paling ujung, agak jauh dari kerumunan.
__ADS_1
Ryan segera melepas Kaos putih yang dikenakannya dan hanya memakai celana pantai yang memang di pakainya dari rumah. Alex yang baru pertama kalinya melihat tubuh Ryan menelan ludah secara diam-diam agar tidak di lihat Ryan. Selama ini tubuh atletisnya dan otot perutnya yang seksi selalu tertutup oleh pakaian. Memang Ryan selalu memakai pakaian yang agak longgar, sehingga tidak ada yang akan percaya betapa memikat dan seksi tubuhnya jika tidak melihat secara langsung.
"Alex kenapa malah bengong,jadi berenang, kan?" tanya Ryan.
Alex yang sedari tadi menikmati pemandangan setiap lekuk tubuh Ryan dengan gugup berkata, "Ah i-iya"
"Kamu mau renang pakai dress?" tanya Ryan tidak yakin.
Alex yang baru sadar jika dia belum melepas dress nya jadi semakin salah tingkah,dan segera melepas dress nya, meninggalkan sepasang bikini. Tidak rugi rasanya Alex meluapkan kekesalannya pada Ben dan Amel dengan mengikuti kelas gym di dekat apartemen. Kini dia bisa mengenakan bikini kesayangan nya dengan penuh percaya diri.
Otot perutnya terlihat jelas dan tidak ada lemak menggelambir di lengan, pinggang atau pahanya. Ada hasilnya juga selama 3 bulan ini dirinya menyiksa tubuhnya di gym.
"Sini jangan jauh-jauh!" perintah Ryan seraya menggamit tangan Alex, karena di lihatnya beberapa pria mulai meliriknya.
"Iya papa," canda Alex meniru suara anak kecil.
"Jangan bandel ya, nanti papa carikan mama tiri." Ryan melanjutkan gurauan Alex.
"Coba saja cari mama tiri yang lebih seksi dari aku, kalau bisa."
"Sejak cinta nya kandas 2 kali," ucap Alex yang lalu menertawakan leluconnya sendiri.
Awalnya mereka berenang di tepi, tapi kemudian mereka memutuskan untuk lomba berenang sampai ke batas pelampung penanda jarak paling jauh yang boleh di capai oleh pengunjung pantai.
Tentu saja yang menang adalah Ryan, tapi Alex sendiri tidak tertinggal terlalu jauh. Sampai lebih dulu di garis batas, Ryan menunggu Alex untuk kemudian berlomba lagi untuk kembali ke pantai. Ryan benar-benar tidak berniat untuk mengalah, meskipun lawannya adalah seorang wanita. Di ayunkannya tangan dan kaki secepat mungkin.
Saat hampir mencapai garis finished Ryan mendengar suara peluit penjaga pantai berbunyi sangat nyaring. Firasatnya mengatakan jika dia harus menoleh ke belakang, dan benar saja. Tangan Alex tampak berusaha menggapai permukaan.
Boat penyelamat beserta penjaga pantai bergerak cepat mengangkat Alex dan membawanya ke pantai.
Di baringkannya tubuh lemas Alex di area pantai yg datar dan tindakan CPR segera dilakukan. Ketika kompresi dada sudah dilakukan dan kesadaran Alex belum juga pulih, penjaga bermaksud melakukan napas buatan.
"Tunggu biar aku saja, aku pacarnya," ucap Ryan yang langsung mengambil posisi dan memberi napas buatan sesuai instruksi yang di berikan.
__ADS_1
Alex terbatuk dan air yang tadi menyumbat pernapasannya keluar seiring dengan batuknya. Dengan cepat penjaga pantai memiringkan posisi tidur Alex ke kanan agar untuk tetap menjaga saluran udara.
"Dia boleh bangun jika pernapasannya sudah benar-benar normal dan tenaganya pulih. Jika perlu sesuatu anda bisa meminta bantuan staf pantai yang lain," ucap penjaga pantai yang menyelamatkan Alex.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu panik. Untungnya pacarmu pintar memberi napas buatan. Istirahatlah," ucap nya lagi kali ini pada Alex.
Alex hanya tersenyum lemah menanggapi ucapan penjaga pantai. Dia tidak mengerti kenapa ada kata pacar di sebut. Dirinya masih terlalu lemas untuk bisa mencerna ucapan penjaga pantai tadi.
Ryan memilih diam membiarkan Alex beristirahat. Dia duduk di sisi Alex menatapnya lekat memastikan Alex tetap bernapas.
Sekitar sepuluh menit kemudian Alex bangun dari posisi tidurnya karena perutnya bersuara minta diisi. Ryan tak bisa menahan tawa, di bantunya Alex bangun dan berjalan menuju tempat bekal mereka.
Kondisi tubuh Alex sudah benar-benar kembali sehat setelah menghabiskan bekal sandwich yang dia buat.
"Maaf ya, karena aku terlalu serius berlomba denganmu, sampai-sampai aku tidak sadar kalau kau perlu bantuan," ucap Ryan.
"Enggak apa, ini bukan salahmu. Tadi itu kakiku tiba-tiba kram, mungkin karena kemarin aku terlalu lama di gym sehingga ototku lelah," sahut Alex tidak mau Ryan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.
"Tapi tadi sekilas aku dengar penjaga tadi menyebut soal pacar, apa maksudnya itu?" sambung Alex.
Ekspresi wajah Ryan langsung tegang dan pipi nya memerah, tadi dirinya terlalu panik hingga baru sekarang dia sadar kalau tadi bibir mereka bersentuhan saat Ryan memberi napas bantuan. Dengan cepat dan berusaha terdengar santai dia berkata, "Itu tadi aku bilang aku pacarmu dan aku memberi napas bantuan untukmu karena aku pikir kamu tidak akan mau di cium oleh orang asing."
Ryan menatap laut lepas saat menjawab pertanyaan Alex
Tentu saja semua orang tahu jika Ryan hanya membuat-buat alasan. Sebenarnya dia hanya tidak bisa melihat pria lain menyentuh bibir Alex.
Alex terbengong mendengar penjelasan Ryan. Entah dia harus bahagia karena Ryan menciumnya, atau dia harus sedih karena saat bibir mereka bersentuhan dirinya sedang tidak sadarkan diri.
"Ya, tentu saja aku tidak ingin di cium orang asing, terima kasih." ujar Alex datar. Dirinya tidak tahu harus berkata apa.
Mereka berdua pulang jauh lebih awal dari waktu yang di rencanakan agar Alex bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.
Sepanjang hari itu Ryan menemani Alex.
__ADS_1
*****Pengumuman *****
Ayo yang punya banyak poin sini, sudah tahu kan kalau bersedekah itu dapat pahala 🤣🤣🤣, jangan lupa like, rate dan comment ya