
Keluarga Purnomo tengah menikmati sarapan bersama dengan santai ketika bell rumah berbunyi. Semua saling pandang bertanya-tanya siapa gerangan yang datang bertamu pagi-pagi. Alex sebagai anggota keluarga termuda bangkit dengan sigap menuju pintu depan.
Roti panggang yang dia pegang terjatuh ketika dia membuka pintu dan melihat siapa tamu mereka, atau mungkin lebih tepatnya tamunya.
"Chris, ngapain pagi-pagi kesini?" Alex teringat pemandangan di restoran China semalam.
"Aku datang untuk mengantarmu kerja, pokoknya sampai weekend nanti aku akan antar jemput kau pulang."
"Kamu ada salah makan ya? Keracunan makanan kemarin, atau kepalamu habis terbentur. Ada angin apa tiba-tiba menawarkan diri jadi sopir. Nggak Ah, aku nggak sanggup gaji kamu."
"Aku lagi bosen aja nggak ada kerjaan, tenang aku nggak minta bayaran kok."
"Nggak mau," tolak Alex yang masih ingin ngambek lebih lama, meskipun sebenarnya dia sadar kalo dia ga punya hak buat ngambek.
"Lex siapa itu yang datang?" tanya ibu berjalan menuju pintu depan. "Oh ternyata kamu Chris. Alex kenapa tamunya di biarin berdiri sih. Ayo masuk Chris, kamu udah sarapan belum, kalau mau ayo sarapan bareng."
"Boleh nih Bu, kebetulan saya belum sarapan."
"Ibu palamu sejak kapan keluarga ini mengadopsimu." protes Alex yang di tambah delikan lebih lebar.
Ibu yang mendengar perkataan Alex langsung mendelik dan berkata, " Lex ga boleh gitu, harus sopan ke tamu."
Ibu langsung mengajak Chris menuju meja makan. Dengan santainya tanpa rasa malu Chris bergabung di meja makan.
Alex yang mengekor di belakang mengambil setangkup roti bakar karena yang tadi jatuh sudah di buangnya. Sebenarnya kalau bukan karena Chris pasti dia tadi tetap akan menghabiskan rotinya karena dia memungut roti itu hanya berselang sekian detik. Kalau kata orang sih kalau belum di bawah 5 menit berarti masih aman di makan.
"Menyenangkan sekali ya bisa berkumpul dengan keluarga seperti ini di rumah, tidak seperti saya yang selalu harus makan sendiri."
" Kasihan, kalau kamu mau kamu bisa datang kapan saja untuk makan di sini. Memangnya orang tuamu di mana? " tanya Ayah yang cepat sekali merasa iba.
"Mereka tinggal di luar negri karena ada pekerjaan yang harus di urus di sana Pak."
"Ya sudah kalau kamu kangen keluarga kamu bisa mampir kesini kapan aja, " timpal ibu, dia bahkan mengoleskan mentega ke roti Chris setelah bertanya terlebih dahulu olesan mana yang di pilihnya.
"Terima kasih, oh ya sebenarnya saya kemari untuk memberi tahu Alex kalau saya akan mengantar jemputnya selama beberapa hari ke depan, mumpung saya lagi ga ada kegiatan."
"Sudah di bilang kan aku ga lagi nyari sopir pribadi. Boro-boro sopir, mobil aja nggak punya."
"Alex nggak sopan, jangan gitu, " tegur Ayah.
"Iya adik kecil, seharusnya terima kasih, biasanya kamu jarang nolak yang namanya gratisan kan, " ucap Andre meledek yang disambut tawa oleh Chris.
"Dia ini benar-benar membuat ku takjub, baru sekali ini aku bertemu gadis yang sanggup menghabiskan set menu keluarga sendirian." Chris menceritakan kejadian ketika dia mengajak Alex makan di restoran di tebing tengah laut.
"Dia ini memang apapun suasana hatinya pasti di lampiaskan dengan makan, sedih makan, senang makan, marah makan." Andre dan Chris saat ini seperti sudah jadi satu tim untuk mengejek Alex.
"Cih, beraninya keroyokan lawan cewek. Chris buruan makannya kalau belum selesai juga pas Kak Andre berangkat, aku ikut mobil Kak Andre lho, " ancam Alex.
"Berarti aku di terima kerja nih, yes, " canda Chris.
"Udah kamu bareng Chris aja, lumayan kan irit ongkos kereta, " saran Andre.
"Oh ya Ndre, perusahaan orang tuaku ingin menyumbangkan dana bantuan untuk pengrajin-pengrajin lokal, dan aku teringat pameran seni kemarin. Sepertinya kamu bisa bantu aku kemana saja bantuan itu aku salurkan."
"Bisa kok, kamu tinggal kasi tau berapa sumbangannya. Nanti aku tinggal survey siapa-siapa yang pantas dapat dan berapa. Kalau sudah deal aku tinggal buat proposalnya. Kita emang lagi cari donatur buat mereka, " jelas Andre bersemangat.
"Bau-bau ada yang bakal naik pangkat nih, udah berhasil dapat donatur, " celetuk Alex bermaksud membalas ejekan kakaknya tadi.
"Heh memangnya segampang itu, baru juga satu donatur, kita tuh perlu banyak karena rencananya kita ga cuman sekedar kasi duit sekali terus lepas tangan, kita maunya mereka punya tempat untuk memproduksi dan memasarkan usaha mereka seterusnya. Susah jelasin ke kamu soalnya otaknya belum nyampe, "ejek Andre lagi." Yah, Bu Andre berangkat ya. "
__ADS_1
" Chris ayo kita berangkat juga, " ajak Alex, tapi yang di ajak baru saja memasukkan gigitan roti terakhir ke mulutnya.
" Dorong pake minum aja, ga usah kunyah lama-lama. " Alex Sebenarnya hanya becanda.
" Alex, kasian anak orang tersedak nanti. Ga usah di dengerin Chris pelan-pelan aja. Mau lagi rotinya? " Ibu menawarkan.
"Nggak usah Bu makasi. Kami berangkat dulu ya, " sahut Chris lalu berpamitan pada kedua orang tua Alex.
Situasi terasa sedikit berbeda ketika saat ini mereka hanya berdua saja di dalam mobil yang melaju. Alex jadi diam seribu bahasa dan hanya memandang ke luar.
" Masih marah ya karena kejadian semalam di restoran. Seharusnya akulah yang marah, bisa-bisanya kau pergi dengan pria lain di belakang ku."
"Wah pak sopir ini, baru sehari kerja sekarang sudah minta aku laporan segala, " canda Alex. Dia memilih untuk tidak berkata jujur karena pasti akan aneh sekali kalau dia mengiyakan ucapan Chris. Apa haknya coba marah-marah hanya karena dia makan malam dengan wanita lain.
" Buat apa juga aku marah, itu bukan urusan ku kau mau keluar dengan siapa saja."
"Baiklah kalau kau bilang begitu, " ucap Chris kecewa. Suasana kembali hening.
"Nyetir nya agak cepetan dikit dong, aku ga mau ya kalau sampai telat, terus aku di pecat."
"Di pecat siapa?"
"Ya atasan ku lah, Bu Madeline."
" Ooooh atasanmu ya. "
" Iya deh Iya, aku lupa kalau sekarang aku sedang di antar oleh bos besar. Jadi kalau aku sampai telat tinggal sebut namamu 3 kali aku terbebas dari masalah kan, " ucap Alex tertawa. Akhirnya tak perlu waktu lama situasi mulai mencari.
******'
" Kamu nanti beneran mau jemput aku? " tanya Alex memastikan sebelum dia keluar dari mobil.
" Iya serius, aku ini laki-laki yang memegang ucapan ku, " sahut Chris lebay.
" Kenapa?, apakah aku sehina itu Non, sampai-sampai...." Chris tak bisa menyelesaikan ucapannya karena Alex membekap mulutnya.
" Nggak usah banyak omong kalau nggak mau di pecat jadi supir, "ancam Alex. Tapi yang di ancam malah meletakkan tangannya di tangan Alex dan menggigit lembut telapak tangan Alex yang menempel di mulutnya.
Alex merasakan sensasi seakan - akan dia sedang berada dalam bis yang sedang melewati jalan turunan. Ada desir-desir geli menyenangkan. Dia kemudian menarik tangannya dan berlari keluar mobil tanpa berkata sepatah katapun, bahkan memandang Chris pun tidak.
"Lex, ngapain sih dari tadi kayak orang gila, senyum-senyum lihat tangan terus geleng-geleng kepala, " tanya Dion yang dari tadi memperhatikan rekan satu tim nya. Alex sendiri kaget dengan pertanyaan Dion, dia tidak sadar akan kelakuannya sedari tadi.
"Nggak kok, nggak ada apa-apa heheheh. Aku bawa piringnya ke belakang ya, " sahut Alex sembari mengangkat nampan yang sudah berisi banyak piring kotor.
"Iya sana gih, sekalian minum kopi atau apa gitu, kamu nggak ketularan si Naila kan, dia dari tadi juga komat-kamit sendiri, katanya sih belajar akting, " tambah Bimo yang di sambut tatapan tajam dari Naila yang sedang membersihkan meja.
"Berantem aja terus, ntar lama-lama jadian."
"Amit-amit Lex, aku masih suka cewek waras."
"Heh belum pernah di lempar seperangkat alat makan ya, " ancam Nayla seolah-olah sedang bersiap melempar Bimo.
Seharian ini Alex memang sedang bingung bagaimana dia harus bersikap nanti saat di jemput Chris. Dia dari tadi menyalahkan dirinya yang salah tingkah setelah di gigit.
Seharusnya dia pura-pura bersikap biasa saja meskipun jantungnya sudah mau meledakkan diri. Kalau seperti ini kan jadi canggung nantinya.
Lagian apa maksudnya coba gigitan tadi. Apa dia membalas karena aku tutup mulutnya, atau......... Ah sudah-sudah kamu jangan mikir yang aneh-aneh Lex. Jangan berani berharap nanti sakitnya ga tertahankan. Mana mungkin kau bersaing dengan wanita-wanita sekelas Bu Madeline. Alex berusaha menasehati dirinya sendiri.
Di saat kau ingin menghindari seseorang selama mungkin malah waktu terasa berlalu begitu cepat. Alex berjalan pelan ke pintu keluar staff, setelah memastikan mobil yang di naiki Naila menjauh dia kemudian dengan cepat menghampiri mobil yang tadi mengantarnya dan masuk secepat kilat setelah yakin tak ada teman-teman kerjanya melihat.
__ADS_1
"Aku pikir tadi kau ganti profesi jadi mata-mata terroris, " ucap Chris yang memperhatikan gerak-gerik Alex dari tadi.
"Yaah, aku kan nggak mau kalau sampai ketahuan yang lain kalau aku bareng kamu."
"Memangnya apa masalahnya coba?"
"Malu kan, aku harus jawab apa coba, kenapa bos besar sampai antar jemput staff biasa macam aku."
"Ya jawab saja semaumu, aku tidak keberatan."
"Percuma mereka pasti mikir yang nggak - nggak."
"Misalnya?" pancing Chris.
"Ya banyak lah, sudah aku nggak mau bahas lagi. Mau ku pecat di hari pertama kerja ya, " ancam Alex berusaha mengganti topik pembicaraan. Dia tidak mau kalau nanti dia jawab pertanyaannya, Chris akan tertawa mengejek dan berkata Alex terlalu berharap.
"Kay berani memecatku?. Mau kugigit lagi, sepertinya gigitan di tangan tidak begitu berpengaruh untukmu ya?. Bagaimana kalau kugigit bahumu?." Chris tersenyum manis sambil menatap lembut bahu Alex.
Sementara Alex terdiam membeku. Di kepalanya sudah muncul bayangan dimana pria yang duduk di sebelahnya tengah menyondongkan tubuhnya dan mendaratkan gigitan lembut ke bahu. Kembali dia merasa berada di dalam bus berkecepatan tinggi yang melewati jalan turunan. Khalayalannya terhenti oleh suara mesin mobil yang dihidupkan.
Di liriknya Chris yang masih tersenyum kecil sambil menggigit ujung bibir bawahnya.
Alex sadarlah, jangan membayangkan yang aneh-aneh. Jangan mempermalukan dirimu sendiri sudah tidak usah lagi kau lirik-lirik ke sebelah kalau kau tak mau kehilangan muka. Dia bicara pada dirinya dalam hati.
Sepanjang perjalanan Alex menatap lurus ke depan atau keluar jendela tempatnya duduk. Tak sedikit pun satu kata terucap dari bibirnya, dan sepertinya Chris menikmati situasi karena dari tadi senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya.
" Eh kok kita berhenti di sini? " tanya Alex heran karena sekarang mobil yang dia kendarai berhenti di parkiran restoran China yang semalam dia datangi.
"Mau makan lah memangnya apa lagi."
"Tidak usah, langsung pulang saja, Ibu pasti sekarang sedang menyiapkan makan malam, " tolak Alex. Saat ini dia hanya ingin cepat sampai rumah dan bersembunyi dari pria ini.
"Mereka sudah ada di dalam. Aku mengundang mereka makan malam karena tadi aku sudah di undang sarapan."
"Hah!?!" Alex masih belum benar-benar mencerna apa yang terjadi.
"Awas nanti ada lalat masuk ke mulutmu. Tidak mau masuk? Yang lain sudah menunggu, " sahut Chris. "Apa mau ku gendong?"
"Tidak!!" Alex langsung keluar dari mobil berjalan cepat ke dalam restoran.
Kenapa kejadiannya seperti dejavu ya. Alex teringat kejadian yang sama tadi pagi.
Dan benar saja ternyata Ayah, ibu dan kakaknya sudah berada di dalam. Untunglah paling tidak Alex tidak hanya makan berdua dengan Chris,jadi dia bisa menyembunyikan kecanggungannya di balik kebisingan celoteh anggota keluarganya.
"Chris kamu nggak usah repot-repot lho,, nanti Ibu malah jadi sungkan kalau mau undang kamu makan."
"Nggak apa kok Bu, aku memang lagi kangen makan bareng keluarga, lain kali jangan kapok undang aku makan di rumah ya.
" Kamu bisa datang kapan aja kamu mau kok. "sahut Ayah sebagai kepala keluarga.
" Beneran ya Yah, aku bakal sering datang. "
Sejak kapan mereka jadi dekat begini, Ibu Ayah?, manggilnya udah kayak manggil orang tua sendiri. Kangen keluarga? keluarga siapa woi. Ini kenapa juga keluarga ku pada sok akrab gini. Jangan-jangan mereka tadi udah di sogok ya. Aduuuuuhhhh kenapa sih kok situasinya jadi kayak gini. Kasihanilah jantungku yang berdebar tak karuan dari tadi ini. Alex mengomel dalam hati.
Makan malam yang tidak lama tapi terasa sangat lama bagi Alex akhirnya selesai. Untungnya dia tidak harus berdua lagi semobil dengan Chris. Alex pulang dengan mobil ayahnya bersama anggota keluarga yang lain. Tadinya Chris ingin mengantarnya tapi di tolak Alex dengan alasan tidak ingin merepotkan dan kebetulan masih ada cukup tempat untuknya di mobil ayah.
Kalau saja bukan karena dia capek dan perutnya kenyang pastilah akan sulit untuk Alex tidur malam ini karena di kepalanya wajah dan senyum Chris yang sedang menggigit bibir bawahnya tak mau pergi dari kepala Alex. Ini baru hari pertama, masih sisa dua hari lagi dia akan di antar jemput. Apakah dia akan berhasil melalui ujian kehidupan ini.
****Pengumuman****
__ADS_1
Inikah yang namanya siksaan yang menyenangkan,, Harusnya Alex senang senang aja, kan dapat sopir pribadi 😁😁
Ayo yang mau kasi like, vote dan comment dipersilahkan heehehee