
Alex duduk santai di ruang ganti. Jam kerjanya sudah berakhir sepuluh menit yang lalu, tapi dia masih ada di restoran karena dia akan pulang dengan Bu Madeline yang kebetulan ada keperluan di Black Grill yang terletak di kota Alex. Bu Madeline menawarkan tumpangan untuk Alex. Sebenarnya Alex ingin menolak tadi tapi dia tidak punya alasan yang cukup bagus untuk digunakan.
"Lama nunggu ya, ayo berangkat sekarang, " ajak Bu Madeline. Alex langsung mengekor atasannya menuju halte bus untuk para staff. Tak perlu waktu lama mereka sudah berada dalam mobil yang melaju menuju kota XX yang adalah tempat tinggal Alex.
Bu Madeline harus menepikan mobilnya di tengah perjalanan karena dia menerima panggilan telfon.
"Maaf Chris aku tidak bisa menemanimu hari ini, aku ada urusan pekerjaan, " ucap Bu Madeline pada lawan bicaranya di telfon.
"Aku tidak bisa menyerahkan urusan ini pada Radit, sebagai asisten manager dia sudah cukup sibuk dengan masalah operasional restoran. Jangan ngambek padaku ya ini kan pertama kalinya aku ingkar janji, kau makan sendiri dulu hari ini, lain kali aku tebus kesalahanku,, sudah ya aku buru-buru ini jangan ganggu aku menyetir. "Bu Madeline langsung memutus sambungan telfon dan kembali mengemudi.
Alex sebenarnya merasa penasaran apakah Chris yang menelpon Atasannya adalah sosok pria yang sama yang saat ini ada di benaknya?. Kalau memang benar, dari cara bicara Bu Madeline sepertinya mereka benar-benar dekat. Ingin sekali Alex memastikan rasa penasarannya, tetapi bagaimana caranya?, pasti aneh kan kalau dia bertanya pada atasannya apakah Chris yang bicara dengannya di telfon tadi adalah owner Black Grill. Memangnya dia punya Hak apa bertanya masalah itu.
"Maaf ya perjalanan kita terhambat, tadi itu Bos besar kita Chris. Aku sudah janji akan menemaninya makan tapi tiba-tiba aku harus pergi ke cabang Black Grill kota XX, dan aku belum sempat memberi tahunya ternyata dia sudah sampai di restoran kita." Ternyata nasib memihak pada Alex, tanpa bersusah payah pertanyaannya yang dari tadi ada di benaknya terjawab sudah.
" Beliau sering sekali makan di tempat kita ya Bu. "
" Hahaha,, mungkin kalau tidak melihat ku, makanan di depannya tidak terasa enak, " canda Madeline.
Entah kenapa hati Alex merasa agak panas mendengar ucapan atasannya, walaupun mungkin maksudnya bergurau.
Untuk apa juga hatinya merasa sakit, bukankah pria itu sudah bilang kalau ada banyak wanita yang mendekatinya. Tidak mungkin kan dia tidak mengambil kesempatan emas itu. Apalagi jika mendapat yang seperti Bu Madeline. Sudah cantik, sexy, pintar lagi.
"Hehe bisa jadi Bu, " sahut Alex memaksa dirinya tertawa. "Oh ya Bu, saya turun di tempat yang sama dengan ibu saja, soalnya ada yang mau saya beli di mall."
"Baik kalau begitu,tapi bener ya ada yang kamu mau beli, bukannya karena kamu ga enak di anter pulang sama aku, " ucap Madeline santai.
"Nggak Bu, beneran kok." sanggah Alex.
Begitu sampai di Mall Mentari Alex segera pergi setelah mengucapkan terima kasih pada atasannya.
Saat pikirannya sedang pelik yang bisa membantunya merasa lebih baik adalah ice-cream dark chocolate. Segera dia menuju gerai ice cream yang paling sering dia kunjungi dulu setiap kali dia merasa stress menghadapi ejekan teman-teman sekolahnya.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya seorang pemuda yang tak lain adalah staff Chollato, saat dia meletakkan ice cream porsi super jumbo ke meja Alex.
"Iya aku baik-baik saja, kenapa memangnya, ada yang terlihat aneh di wajahku?" tanya Alex balik, mungkin saja dari tadi dia tak sadar kalau tampangnya tidak terlihat baik.
"Tidak bukan begitu, kau terlihat cantik, hanya saja kau akan memesan porsi besar ini tiap kali kau ada masalah, begitulah tebakanku."
Siapa laki-laki ini, bagaimana mungkin dia tahu kebiasaan ku. Dan dia bilang aku cantik.
Alex yang merasa baru kali ini melihat pemuda itu kemudian bertanya," Maaf apa kita saling kenal? "
" Bagaimana menjelaskannya ya. " Pria itu menggaruk-garuk kepalanya.
Ternyata dia adalah anak pemilik gerai ice-cream, dan dulu dia sering membantu orang tuannya tiap pulang sekolah. Dari sanalah dia tahu Alex dan diam-diam memperhatikan Alex. Saat itu Alex sering datang masih dengan seragam sekolah dengan mata sembab seperti habis menangis dan akan memesan ice cream porsi super jumbo yang biasanya di pesan untuk satu keluarga. Dari situlah dia menyimpulkan kalau hari ini Alex sedang dalam masalah makanya dia pesan porsi super jumbo.
" Ini pertama kalinya aku kembali setelah 3 tahun, dan senang sekali bisa melihatmu lagi. Tadinya aku tidak yakin kalau kau adalah gadis ice-cream itu. Kau benar-benar banyak berubah, " ucap pria itu ramah seolah-olah mereka adalah teman lama yang baru bertemu kembali.
__ADS_1
" Dulu itu aku tidak berani menyapa karena takut kau akan menangis lagi dan merasa terganggu. Tapi sekarang aku tidak akan melewatkan kesempatan yang kupunya. "
" Maaf aku sama sekali tidak sadar kalau kau dulu yang sering membawakan pesananku." Alex tak tahu harus ngobrol apa lagi. Karena dia tak memiliki kenangan apapun dengan pria yang sekarang duduk di depannya. Memang dulu dia selalu datang kemari setelah puas menangis di toilet sekolah. Selalu memesan porsi super jumbo agar dia bisa lama duduk di sini untuk menghilangkan bekas menangis dari keluarganya.
"Tak usah minta maaf. Akulah yang harusnya minta maaf, kupikir kau akan marah atau takut setelah tahu dulu aku selalu diam-diam memperhatikanmu, " sahutnya. "Karena sekarang kau sudah tahu, bagaimana kalau kita kenalan. Namaku Ryan, " tambahnya sambil mengulurkan tangan.
"Alexandria, panggil aja Alex."
Cukup lama mereka berbincang dan bergurau. Menceritakan kesibukan masing-masing. Ryan mendapat beasiswa di luar negri dan sudah tiga tahun ini dia menjalani kuliahnya di sana. Kalau bukan karena ancaman ayahnya yang akan menghapus namanya dari kartu keluarga sebenarnya dia tidak ada niat untuk pulang menghabiskan libur tengah semester, karena dia malas menempuh dua hari perjalanan, belum lagi harus transit di airport selama tujuh jam.
Saking asiknya ngobrol Alex sampai lupa dengan alasan apa yang membuatnya memesan ice-cream porsi jumbo. Sekarang ice-cream itu malah dihabiskannya berdua dengan Ryan. Tidak biasanya dia cepat dekat dengan orang baru, apalagi lawan jenis, tapi Ryan berbeda. Dia punya aura yang menyenangkan, ramah-ramah bodoh dan juga lucu. Banyak sekali dia punya cerita lucu tentang kehidupannya di luar negri yang sukses membuat Alex terpingkal-pingkal. Kalau buka karena telfon dari Kak Andre yang menanyakan keberadaan adik tersayangnya yang tidak ada kabar sampai jam makan malam pastilah saat ini Alex masih mengobrol.
"Thanks ya traktirannya. Nanti kalau ada waktu kita ngobrol-ngobrol lagi ya, " pamit Alex setelah bertukar no hp. Ryan menolak saat Alex hendak membayar pesanannya, padahal tadi itu dia juga makan brownies. Ngobrol itu paling enak sambil ngemil.
Sampai di rumah dia langsung mandi buru-buru karena keluarganya sudah menunggunya di meja makan.
"Besok-besok kalau main kemana gitu bilang, kasian Ibu dan Ayah, " omel Andre.
"Iya Kak, maaf tadi itu aku lupa waktu."
"Pasti gara-gara si Chris itu kan, ayo ngaku tadi kamu keluar bareng dia ya?" tebak Andre asal.
Ucapan kakaknya kembali mengingatkan Alex tentang kekesalannya yang tak beralasan pada Chris.
"Sudah-sudah jangan ribut, ini kapan makannya ayah sudah lapar, " ucap ayah mengetahui ekspresi wajah putrinya tiba-tiba berubah saat Andre menyebut nama Chris.
" Bu tadi aku kan makan sedikit, berarti bekal makan siangku besok banyakin ya, " ucap Alex seraya menyimpan lauk makan malam yang tersisa di kulkas. Sudah menjadi kebiasaan mereka kalau lauk makan malam sisa pasti besoknya masuk kotak bekal mereka. Jadi Ibu tidak terlalu sibuk masak.
" Bagi rata dong, siapa suruh tadi makan sedikit, " protes Andre tak setuju.
"Kalau perutku tidak penuh sudah kuhabiskan tadi semuanya, biar besok kakak makan pakai telur goreng aja."
"Siapa bilang, aku kan bisa beli bakso iga Pak Slamet. Kau saja yang makan telur goreng sambil ciumin aroma steak." Andre balik mengejek adiknya.
"Enak saja aku kan bisa beli steak di tempat kerja ku, dapat discount staff 50%."
"Kenapa ga bilang-bilang, mau dong sekali-sekali makan steak terkenal."
"Iya deh nanti aku ajak kalian, tapi di Black Grill yang di mall mentari ya. Kalau uang di Paradiso harganya lebih mahal pajak PPN nya lebih besar. Tapi tenang aja kualitasnya sama kok." Alex menjelaskan. Memang dia sudah ada rencana membawa keluarganya mencicipi steak no wahid itu. Hanya saja baru tadi dia dan staff baru lainnya lulus masa percobaan yang artinya mereka akhirnya mendapat keuntungan sebagai staff Black Grill, yaitu potongan harga 50% di setiap cabang Black Grill di mana pun.
"Asiiiiikkk,, kapan dong adikku sayang, kakak ga sabar nih pingin cicip steak mahal, " rayu Andre.
"Aku cuman traktir Ayah dan Ibu lho, kakak bayar sendiri, " canda Alex lalu berlari masuk kamar sebelum kakaknya sempat mengejar.
Lampu kamar sudah padam dan Alex bersiap menarik selimut ketika ada nada pesan masuk dari ha-pe nya.
Chris ; sudah tidur?
__ADS_1
Tadinya Alex tak berniat menjawab karena dia masih merasa kesal, tapi itu malah membuat pikirannya kacau. Setelah menunggu sekitar 10 menit dia lalu membalas pesan dari Chris.
Alex ; ini mau tidur.
Chris ; besok kerja pagi kan, sampai ketemu
besok. Selamat tidur.
Alex sengaja tidak langsung membalas pesan pertama Chris tadi, dia berharap Chris sudah meletakkan ponselnya dan tidak melihat balasan darinya, tapi sepertinya Chris tengah sibuk dengan ponselnya jadi dia bisa membalas pesan Alex dengan cepat.
Pasti sedang sibuk merayu wanita. Atau sedang sibuk chat dengan Bu Madeline ya, tadi mungkin dia kecewa tidak bisa bertemu. Tebak Alex kesal.
Kembali ada nada pesan masuk berbunyi. Dengan kesal Alex bangkit dari posisi tidurnya. Ternyata dari Ryan. Ada senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.
Ryan ; Hey maaf mengganggu tidurmu, besok
kau ada waktu luang tidak?. Aku punya
kupon restoran China. Tahu sendiri kan
porsi mereka banyak, tidak mungkin
aku menghabiskannya sendiri.
Dengan cepat Alex membalas pesannya.
Alex ; Boleh tapi aku selesai kerja jam enam sore.
Memangnya perutmu bisa
menungguku?.
Ryan ; Pasti bisa, aku bisa ganjal dulu
dengan ice-cream hehe. Jam tujuh siap?
Alex ; Ketemu di toko ice-cream ya.
Ryan ; Sampai ketemu besok. Selamat tidur.
Alex merasa lebih baik setelah mendapat pesan dari Ryan. Sekarang pikirannya penuh dengan menu-menu masakan China yang tak sabar dia cicipi besok.
********PENGUMUMAN ******
Thor sebenarnya menemui masalah bagaimana harus menuliskan pesan /chat di ponsel. Kalau ada saran silahkan tulis di comments ya.
Jangan lupa like, rate, vote (Thor ngomong sambil nyengir**)
__ADS_1