
Alex terbangun karena dia merasakan ciuman lembut mendarat berkali-kali di tengkuknya, akan tetapi dia masih enggan untuk membuka matanya sehingga dia hanya menggeliat kecil berharap tidurnya tidak lagi di ganggu.
Melihat ciumannya tak di gubris dan Alex kembali melanjutkan tidurnya, Chris yang dari tadi setengah berbaring bertumpu pada sikunya menonton gadis kecilnya tidur, akhirnya memilih untuk merebahkan dirinya kembali. Ditariknya tubuh Alex agar dia bisa memeluknya dari belakang.
Alex yang belum sepenuhnya kembali tidur merasakan tangan besar Chris melingkar di pinggangnya, kemudian menariknya mendekat ke pelukannya. Entah kenapa perasaan kali ini berbeda dengan kencan pertama mereka dulu. Dirinya merasa nyaman dengan semua sentuhan Chris. Apa mungkin karena kejadian semalam yang akhirnya membuat dirinya lebih percaya pada Chris atau karena memang dirinya mulai siap untuk memulai sebuah hubungan yang lebih jauh.
Entahlah tidak usah berpikir terlalu ribet Lex, nikmati saja kebahagiaanmu hari ini. Begitulah Alex menasehati dirinya sendiri.
"Apa kamu yakin akan tidur terus melewatkan sarapanmu?" tanya Chris saat merasakan Alex menggenggam tangannya dan menariknya sehingga pelukannya semakin erat.
"Memangnya ini jam berapa?" tanya Alex. Dia merasa dia tidak tidur terlalu lama.
"Sudah jam 10 pagi sayang ku." sahut Chris
Cara Chris memangggilnya benar-benar membuat Alex serasa melayang terbang tinggi di awang - awang. Bagaimana mungkin dirinya sebahagia ini hanya karena satu kata. Sahabatnya juga sering memangggilnya dengan panggilan yang sama, tapi rasanya jauh berbeda.
"Tidaaaakkk." pekik Alex langsung terduduk. Dirinya seakan habis terhempas keras jatuh dari langit. "Bagaimana ini, aku harus ada di Bandara 30 menit lagi. Ryan hari ini akan berangkat. Pasti tidak terkejar, Bandara Internasional kan ada di kota sebelah, mau ngebut secepat apapun tidak akan terkejar. Mana belum mandi lagi, nggak bakalan terkejar." cerocos Alex panik dan juga merasa bersalah, dia mencari ponselnya bermaksud menghubungi Ryan untuk minta maaf.
" Kamu lupa ya kalau kamu ada di tempatku. Kalau sekarang kamu bisa siap dalam 10 menit kita masih bisa bertemu pria menyebalkan itu di Bandara." jelas Chris menenangkan Alex.
Alex menatap Chris sesaat lalu senyum nya terkembang lebar. Dia lupa kalau dia ada di apartment Chris, bukannya di rumahnya. Tanpa pikir panjang dia langsung bangkit dan berlari menuju kamar tamu untuk mandi dan bersiap.
Cih sebahagia itukah dia saat tahu dia bisa bertemu laki-laki menyebalkan yang katanya hanya sahabat itu. Batin Chris sedikit kesal.
Tidak sampai 5 menit Alex sudah selesai mandi. Di lihatnya di atas tempat tidur ada Kaos lengan panjang warna merah dan celana jeans pendek dan di lantai terdapat sepatu kets putih.
Pasti tadi Chris menyuruh Bi Ina menyiapkan nya, pikir Alex. Dirinya jadi merasa sedikit tidak enak karena tadi langsung melesat meninggalkan Chris tanpa berkata apapun. Apa yang harus ku lakukan nanti sebagai ucapan tanda terima kasih?. Pikir Alex keras.
Setelah selesai berpakaian dia segera keluar kamar. Di dapatinya Chris sudah duduk menunggu di ruang tengah. Berapa kagetnya Alex melihat penampilan Chris. Kaos berwarna merah lengan panjang, celana panjang jeans dan sepatu kets putih. Mereka seperti anak kembar yang di pakaikan baju sama oleh orang tua mereka.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Chris.
Alex hanya mengangguk, meski sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin dia katakan, akan tetapi itu dikesampingkan dulu karena mereka tidak punya banyak waktu.
"Kenapa kita pakai baju kembar begini?" tanya Alex dalam perjalanan.
"Sudah jelas kan, supaya semua orang tahu kita itu sepasang ke kasih. Kamu itu milikku dan orang lain harus tahu itu." ucap Chris dengan wajah datar.
Alex merasa geli memikirkannya. Seorang Tuan Chris yang selalu tampak gagah, berkharisma dan di segani banyak orang sekarang malah seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta dan punya pacar.
" Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Chris memastikan.
"Aku suka kok, hanya saja aku tidak menyangka." sahut Alex. "Aku suka,, suka sekali." tambahnya langsung mengecup bahu Chris karena sabuk pengaman menahan dirinya yang hendak mendaratkan ciuman di pipi Chris.
Begitu tiba di Bandara Alex langsung berlari menuju keberangkatan international, sementara Chris masih harus memarkirkan mobilnya.
"Ryaaaannn,," panggil Alex sekencangnya saat melihat sahabatnya sedang duduk bicara dengan Ratna dan Stefi dekat pintu masuk Internasional.
"Maaf ya aku telat bangun, syukurlah masih keburu." ucap Alex dengan nafas ngos-ngosan.
Ketiga sahabatnya malah saling pandang dan tersenyum geli.
"Maaf Lex, tapi ini ide dari Ratna dan Stefi. Sebenarnya kita masih punya waktu 30 menit lagi." jelas Ryan sedikit merasa bersalah, tapi juga lega karena telah mengikuti rencana Ratna dan Stefi. Mereka sengaja mengatakan Jam keberangkatan Ryan 30 menit lebih awal dari jam aslinya. Entah kenapa Stefi dan Ratna berfirasat kalau Alex akan terlambat saat tahu kalau dia akan berkencan dengan Chris ,apalagi setelah Alex menghubungi Stefi soal dia berkata pada keluarganya kalau dia menginap di rumah Stefi. Makin yakin lah mereka kalau Alex akan terlambat.
"Kalian jail sekali sih, tapi makasi buanyaaaaakkk. Berkat kalian aku bisa ketemu Ryan untuk yang terakhir kali." Alex memeluk Stefi dan Ratna erat.
"He-eh jangan ngomong sembarangan, apanya yang bertemu terakhir kali. Tahun depan aku juga balik kok. Lagian yang pergi kan aku kok yang di peluk mereka sih." protes Ryan langsung bergabung ke grup berpelukan.
"Uhukkk,, Uhukkk!!" Chris sengaja pura-pura batuk, karena kesal. Tidak masalah bila Ryan berdiri di antara Ratna dan Stefi, bukannya di sebelah Alex. Dan suara pura-pura batuknya yang sangat kentara berhasil membubarkan pelukan mereka.
"Waaaahhh Lex kamu pakai jimat apa sih, bagi dong. Aku aja yang pacaran 3 tahun belum berhasil membujuk pacarku buat pakai baju couple. Katanya malu kaya abg bucin. " ucap Stefi setelah melihat penampilan Chris.
"Hmmm itu..." Alex tak tahu harus menjawab apa karena bukan dia yang memiliki ide.
"Aku sendiri yang minta, bukan Alex." Chris yang menjawab pertanyaan Stefi. Dirinya langsung mendekat dan merangkul Alex sehingga Ryan mengambil langkah mundur sedikit.
Mereka memesan kopi di Cafe dekat pintu masuk sambil menunggu jam keberangkatan Ryan.
__ADS_1
" Aku ke toilet dulu ya. "ucap Alex berdiri dari tempat duduknya.
" Kamu tahu dimana toiletnya?, mau aku temani? "Chris menawarkan diri.
" Duh udah kayak pengantin baru aja ga boleh jauh dikit. Noh dari sini juga keliatan kok tulisan TO-I-LET. " canda Ratna di sambut tawa oleh yang lain.
" Wah.. Wah aku pikir aku sudah tidak akan bertemu lagi denganmu setelah kau mempermalukanku di hotel Queen malam itu."
Alex terkejut melihat Bu Madeline berdiri di depan wastafel tepat di depan pintu toilet yang dia gunakan.
Seenaknya saja bicara, dia duluan yang membuat masalah dan memutar balik kan fakta. Terlebih lagi bukankah Nayla dan Chris yang membuka semua kebusukannya, kenapa dia yang malam itu hanya diam saja malah sekarang di salahkan. Omel Alex dalam hati.
"Oh Bu Madeline, saya lupa kalau hari ini adalah hari keberangkatan Ibu. Maaf karena libur, saya jadi tidak bertemu anda sampai hari terakhir di Black Grill." ucap Alex basa-basi kemudian menuju wastafel di sebelah untuk mencuci tangan.
"Aku tadi melihat Chris tengah duduk mengobrol dengan anak-anak seumuranmu. Melihat pakaian yang di pakainya, sepertinya kalian datang bersama." Madeline masih mengoceh dengan angkuhnya. "Apa kau sengaja?, melihat hari ini adalah hari keberangkatan ku sudah pasti beberapa staf Black Grill akan datang mengantar. Itu sebabnya kau mengajak Chris kemari dengan pakaian couple kan?. Norak sekali. Ingin pamer ya di depan rekan kerjamu nanti."
Ya ampun, kenapa juga dia sok jadi korban sekarang. Lagian mana aku tahu dia juga akan ada di sini sekarang. Alex masih berusaha menahan diri dengan hanya mengoceh di dalam hati saja.
"Maaf Bu saya kesini untuk mengantar sahabat saya, permisi." ucap Alex singkat tidak mau berlama-lama meladeni nenek sihir gila di depannya.
"Kita lihat saja sampai kapan kau bisa bertahan dengan Chris. Kau tidak tahu apa-apa tentangnya atau keluarganya. Kau pikir orang tuanya akan menerimamu. Jangan mimpi, lihat siapa dirimu. Kau hanya seorang pramu saji." suara Madeline semakin meninggi karena yang di ajak bicara berjalan menjauh.
Apa yang di miliki bocah itu yang tidak aku miliki sehingga Chris tergila-gila padanya. Bahkan dia bersedia memakai baju kembar. Kekanakan sekali. Pikir Madeline geram.
Setelah mengucapkan selamat jalan pada Ryan, Stefi dan Ratna langsung pulang karena mereka masih harus pergi kerja. Alex yang awalnya juga berniat pulang mengurungkan niatnya setelah bertemu dengan Madeline. Bagaimana kalau nanti dia berpapasan dengan rekan-rekannya yang datang untuk mengantar keberangkatan mantan atasannya itu. Pasti nanti jadi bahan gosip lagi,kenapa kami ke Bandara tapi tidak mengantar Bu Madeline. Begitulah mungkin pemikiran teman-temannya. Dan lagi tadi dia sudah di tuduh yang bukan-bukan oleh si Nenek sihir, jadi sekalian saja dia lakukan apa yang di tuduhkan.
"Chris tadi aku bertemu Bu Madeline di toilet, ternyata dia juga berangkat hari ini. Ayo kita juga antar dia." ajak Alex.
"Baiklah." ucap Chris mengiyakan ajakan Alex.
Mereka berdua lalu pergi menuju pintu international yang satunya yang terletak di di pojok sebelah kanan agak jauh dari pintu masuk tempat Alex dan Chris mengantar Ryan.
Sepertinya Madeline sengaja memilih pintu masuk satunya untuk menghindar.
Dan benar saja, dari jauh Alex bisa melihat rekan-rekannya secara giliran bersalaman mengucapkan selamat jalan pada Bu Madeline.
Alex mempercepat langkahnya dan langsung ikut bergabung dengan rekan-rekannya yang lain menunggu giliran bersalaman. Semua yang datang mengantar adalah staf kerja sore dan juga Bimo dan Rachel yang hari itu sedang libur juga.
Madeline berusaha menyembunyikan kekesalannya. Di jabatnya tangan Alex dengan cukup keras untuk meluapkan kemarahannya. Akan tetapi Alex tidak tampak kesakitan sedikit pun. Maklum lah sudah terbiasa tangannya kesakitan mengangkat piring-piring seabrek di restoran.
"Terima kasih sudah meluangkan liburmu yang berharga untuk datang kemari." ucap Madeline melepaskan jabatan tangannya kemudian mengangguk pada Chris yang berdiri agak di belakang.
Spontan semua yang ada di sana menoleh ke arah Madeline memandang dan baru sadar kalau Bos besar mereka berdiri di sana. Tanpa di komando semua minggir teratur mengangguk segan, kemudian membuka jalan.
Chris berjalan mendekat dan menjabat tangan Madeline cepat sambil berkata,
" Selamat jalan."
Semua yang hadir tampak melirik Chris dan Alex silih berganti dalam diam. Hanya Nayla yang tersenyum senang sambil memberi kode dengan memegang bajunya lalu menunjuk Alex dan Chris dan terakhir mengacungkan dua jempol. Mungkin maksudnya baju Chris dan Alex bagus.
Setelah drama di Bandara selesai Alex meminta Chris mengantarnya pulang setelah berhasil membujuk Chris untuk mengganti pakaiannya. Keluarganya masih belum tahu kalau mereka sudah jadian, malu kan kalau tiba-tiba mereka datang pakai baju couple. Meskipun mungkin ayahnya yang polos dan sedikit ketinggalan jaman akan berpikir kalau itu mungkin adalah kaos yang di dapat dari tempat kerja (karena memang mereka bisa di bilang satu tempat kerja sih).
Mereka sampai di rumah tepat saat Ibu Alex baru saja selesai menyiapkan bekal makan siang untuk ayah. Mereka bertiga lalu pergi ke Toko percetakan. Biasanya Ibu selalu berangkat naik angkutan umum baru nanti pulang sore di jemput Kak Andre atau ikut pulang dengan Ayah saat Toko tutup. Cukup lama Chris berada di Toko mengobrol dan juga belajar mencetak foto yang masih menggunakan klise foto. Bisa di bilang tempat percetakan milik Ayahnya Alex adalah satu dari sedikit tempat percetakan yang masih menerima jasa cetak klise foto.
Karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan Chris kemudian pamit pulang.
"Terima kasih tumpangannya." ucap Alex pada Chris yang masih sempat mengantarnya ke rumah sebelum dia pulang kembali ke apartemen nya.
"Orang tuamu masih di toko, kakakmu juga belum pulang. Itu artinya kita berdua saja di rumah kan?" ucap Chris menatap nakal pada Alex.
"Jangan macam-macam ya, aku tidak akan melakukan apa yang kamu pikirkan di rumah ku." Alex melepaskan sabuk pengaman.
Sebelum berhasil meraih pintu mobil, Chris sudah terlebih dulu mengangkat tubuh mungil Alex dengan mudah lalu mendudukkannya di pangkuan, dan kemudian berkata," Kalau begitu kita lakukan di halaman rumah saja. "
Sebuah ciuman mendarat di bibir Alex sebelum dia sempat mengucapkan penolakan. Melihat lawannya pasrah menerima serangannya bibir Chris bergerak turun perlahan menuju leher, tangan kirinya mengangkat pelan kaos yang di kenakan Alex sementara tangan kanan nya menopang tubuh Alex. Melihat tidak ada penolakan apapun Chris menghentikan serangannya dan menatap gadis di depannya yang tampak memejamkan matanya, terlihat ada ekspresi takut di wajahnya. Di turunkannya kembali Kaos merah yang baru terangkat sampai pertengahan perut kemudian di kecupnya kening Alex, "Aku sudah bilang aku tidak akan memaksamu."
Alex membuka matanya perlahan. Dia memang takut tadi, akan tetapi di kepalanya terngiang ucapan Chris semalam saat dirinya pura-pura tertidur. Entah kenapa kali ini dia ingin mencoba memberanikan diri melakukan apa yang Chris inginkan. Itu lah sebabnya dia tidak menolak atau menghentikan Chris. Untuk melihat sejauh apa dia bisa menerimanya.
__ADS_1
"Kau tidak akan marah jika aku terus-terusan menolak?."tanya Alex lega tapi juga khawatir."maksudku, aku tidak tahu sampai kapan aku akan siap. Bisa saja seminggu, sebulan atau setahun." tambah Alex.
"Kalau aku bilang aku akan menunggu sampai kamu siap artinya aku akan tunggu berapa lama pun,jadi tidak usah berpikir yang bukan-bukan dan membuat dirimu tertekan." di belainya rambut Alex untuk menenangkan kekhawatirannya. "dan sebaiknya kamu cepat masuk ke rumah sebelum aku berubah pikiran, karena tampangmu yang ketakutan tapi sok berani itu benar-benar menggemaskan." canda Chris pura-pura mendorong Alex menjauh.
"Cih tadi katanya akan menunggu." omel Alex yang susah payah bangkit karena keterbatasan ruang bergerak. "Aku sangat mencintaimu Chris." ciuman kilat mendarat di bibir Chris sebelum Alex bangkit dari pangkuan nya dan kemudian buru-buru berlari ke dalam rumah.
Alex melempar dirinya ke tempat tidur, terlentang memandang langit-langit kamarnya. Dia tak habis pikir kenapa kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Tidak aneh sih, mengingatkan mereka adalah sepasang kekasih, tapi kenapa sekarang jantungnya berdegup kencang dan keras, kemudian sekujur tubuh nya serasa hangat. Jadi ini yang namanya jatuh cinta.
**********
Sudah hampir 2 minggu Chris mengantar - jemput Alex kerja. Orang tuanya juga sudah mengetahui hubungan mereka. Chris sendiri yang mengatakannya saat dia ikut sarapan di rumah Alex ketika akan mengantar Alex kerja pagi. Saat itu dengan entengnya dia minta ijin untuk berpacaran dengan Alex, hingga Alex tersedak jus jeruk saking kagetnya. Dan yang lebih memalukan lagi jus nya keluar muncrat lewat hidung. Benar-benar pemandangan yang tidak ingin kau tunjuk kan pada pacarmu.
Hari libur kemarin mereka pergi mendaki gunung bersama grup pendaki dan bermalam di puncaknya untuk menyaksikan matahari terbit. Sebenarnya Chris ingin Alex menginap di apartment miliknya, tapi itu tidak mungkin mengingatkan orang tua Alex sudah pasti tidak akan mengijinkan. Bagi mereka anak gadis tidak pantas menginap di rumah pacar, apalagi Chris tidak tinggal dengan orang tua. Dan Alex tidak mau lagi berbohong dengan alasan menginap di rumah teman. Jadi lah mereka menggunakan alasan mendaki berburu matahari terbit sebagai alasan untuk bisa melewati malam berdua. Meskipun sebenarnya tidak benar-benar berdua karena grup mendakinya terdiri dari 15 orang termasuk mereka berdua. Sejak itu setiap harinya Chris berpikir keras mengenai berbagai cara dan alasan agar bisa melewatkan libur berikutnya bersama Alex semalaman.
"Benar-benar tidak ada alasan lain yang bisa di pakai ya." ucap Chris putus asa. Alex menolak untuk berbohong dengan berpura-pura menginap di rumah Ratna atau Stefi.
"Maaf ya, tidak enak juga kan kalau tiap libur aku tidak di rumah. Lama-lama mereka pasti curiga." ucap Alex yang menolak semua cara yang di ajukan kekasihnya.
"Apa aku menyelinap saja ya malam-malam ke kamarmu." Chris mencetuskan satu lagi ide.
"Mau di panggilkan pak hansip ya. Jangan ngawur." ancam Alex yang kemudian keluar dari mobil setelah mencium Chris, karena dia sudah sampai di tempat kerja.
Semenjak semua rekan kerjanya tahu kalau Alex sudah resmi menjadi kekasih Chris yang adalah pemilik Black Grill, mereka jadi bersikap sangat baik padanya. Tidak ada yang berani menegurnya jika dia secara tidak sengaja melakukan kesalahan. Alex sendiri memilih untuk bersikap professional. Dia tetap bekerja giat seperti sebelumnya, dan untungnya Pak Radit yang sekarang menjadi manager juga bersikap professional dan tetap menegur Alex jika ada yang salah. Sayangnya Joyce asisten baru mereka tidak begitu, kentara sekali dia menganak emaskan Alex di banding staf yang lain. Alex sebenarnya tidak suka diperlakukan spesial, tapi dia juga tidak enak menegur atasannya karena itu terlihat kurang pantas.
Akhirnya satu lagi hari yang melelahkan berlalu. Masih sehari lagi sampai hari liburnya tiba. Tapi selelah apapun fisik dan pikirannya, semua akan hilang saat bertemu Chris yang sudah pasti sekarang sedang menantinya di gerbang khusus staf. Awalnya Chris bersikeras menjemput Alex di depan restoran karena sebagai pemilik restoran dia mendapat akses layaknya pengunjung Paradiso, yang bisa memasuki area dengan kendaraan pribadi. Akan tetapi Alex menolak perlakuan khusus itu, bagaimanapun dia berusaha tidak menunjukkan perbedaan yang menonjol sebagai staf bawahan.
"Maaf sudah membuatmu menung..."
"Sepertinya aku benar-benar akan menyelinap ke kamarmu besok malam dan malam berikutnya." Chris memotong ucapan Alex.
"Ya ampun Chris, apa seharian ini kamu hanya memikirkan hal itu?" tanya Alex tak percaya. Chris memang cukup sering melontarkan candaan tentang cara agar mereka bisa melawatkan malam bersama, tapi kali ini dia tampak serius.
"Karena kalau tidak aku akan tersiksa merindukanmu. Jumat depan aku harus terbang ke NY. Madeline berhasil membuat pertemuan bisnis dengan seorang yang penting dan orang itu ingin bertemu langsung." jelas Chris.
"Pertemuan bisnis apa pertemuan bisnis." ucap Alex ketus. Entah kenapa emosinya tiba-tiba muncul mendengar nama Madeline di sebut.
"Apa kah Tuan Putri sedang cemburu?" canda Chris senang.
"Bilang saja kamu mau begini - begitu karena masih harus bersabar menunggunya dari ku kan." tuduh Alex kesal karena Chris menanggapinya dengan becanda.
"Hey tenang lah. Aku tidak akan melakukan hal yang kau pikirkan." Chris menepikan mobilnya kemudian menenangkan Alex dengan memeluk dan membelai kepalanya lembut. "Maaf aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya merasa senang melihatmu cemburu."
Alex merasa kesal dengan sikapnya sendiri yang kekanak-kanakan. Mau bagaimana lagi, belum ada sebulan mereka menjalin hubungan yang bahagia sekarang muncul hal yang dia khawatirkan selama ini. Chris sudah sering melakukan apa yang pria dewasa lakukan dengan wanitanya dan sekarang dia harus menahan diri karena Alex.
"Ayo jalan aku tidak apa-apa" ucap Alex bohong. Dari ilmu yang dia dapat lewat membaca dan saran sahabatnya, sebagai wanita kita tidak boleh terlalu memperlihatkan kecemburuan dan ketakutan akan di tinggalkan secara berlebih karena itu malah akan membuat si pria meninggalkanmu. Jadi Alex akan berusaha menyembunyikan ketakutannya dan bersikap layaknya wanita yang santai.
Chris mengantar Alex hanya sampai di depan gerbang karena sudah larut malam dan semua sudah tidur. Sekali lagi dia meyakinkan Alex agar tidak berpikir yang aneh-aneh dan tidur dengan nyenyak.
Keesokan siangnya Alex berusaha tersenyum seperti biasa saat Chris datang untuk mengantarnya ke tempat kerja.
Chris sendiri bisa melihat wajah murung yang berusaha di tutupi Alex, akan tetapi dia pura-pura tidak sadar akan hal itu untuk membuat Alex lebih nyaman pikirnya.
Seharian itu Alex lebih banyak melamun di tempat kerja. Pak Radit sampai harus memanggilnya, karena dia salah menuliskan pesanan tamu. Untungnya masalah bisa di selesaikan dengan memberi potongan harga pada tamunya dan gaji Alex akan di potong untuk menutupi sisa potongan harga yang di berikan.
Jam kerja yang terasa lebih panjang dari biasanya akhirnya selesai juga. Ini pertama kalinya Alex melangkah gontai lagi sejak terakhir dia bermasalah dengan Bu Madeline, dan sekarang hal yang sama terjadi lagi dengan orang yang sama sebagai penyebabnya.
"Kau tampak lelah sekali,tidurlah dalam perjalanan pulang." ucap Chris saat Alex masuk ke dalam mobil.
"Ayo pulang ke apartemen mu. Aku sudah bilang pada ibu kalau aku akan menginap di rumah Nayla karena orang tua nya pergi ke luar kota." ucap Alex yang sekali lagi berbohong pada ibunya.
Wajah Chris berbinar senang, sepanjang perjalanan dia meraih tangan Alex dan mengecupnya setiap kali tangannya bebas dari kendali gear mobil. Dirinya masih melihat ada ekspresi sedih yang terlihat di balik senyum Alex, tapi itu bisa di bicarakan nanti saat mereka sampai di apartment. Akan ada banyak waktu untuk bicara dan menyelesaikan apapun masalah yang sedang di hadapi gadis kecilnya. Yang jelas saat ini dia merasa senang bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan gadis yang dicintainya.
Meskipun dirinya menjawab semua celotehan bahagia dan ngawur dari Chris yang sedang bergembira, jauh di dalam kepala Alex pikirannya sedang berkecamuk.
Apakah dengan menyerahkan semuanya malam ini bisa menghilangkan kegalauannya dan membawa ketenangan dalam dirinya saat Chris pergi perjalanan bisnis nanti, atau haruskah dia bertahan dan menguji Chris sekali lagi?. Lalu bagaimana kalau dia tidak lulus ujian kali ini. Apakah Chris akan kembali padanya setelah mendapat 'hal itu' dari wanita lain?. Dapatkah dia menerima Chris kembali jika dirinya tahu Chris melakukannya dengan wanita lain nantinya. Begitu banyak pertanyaan bergaung di kepalanya dan tidak satupun yang berhasil dia jawab.
****Pengumuman ****
__ADS_1
Maaf kali ini updatenya lama karena Thor salah menghitung hari.... detik demi detik (Eh ini bukan lagi nyanyi tembang kenangan Thor)
Terima kasih buat semua dukungan like, vote,dan comment nya,, jangan kapok buat nambah lagi ya Thor tunggu dengan sabar, tapi jangan terlalu lama (apaan sih Thor nggak tetap pendirian) pokoknya lope yu semua