
Tiga hari berlalu sudah, kini Alex merasa kakinya sangat berat melangkah ke tempat kerja. Sejak itu dia memang tidak bertemu Bu Madeline, jam kerja selalu berbeda dan dia selalu di kantornya. Alex merasa tidak enak, lebih baik dia di marahi daripada di hindari seperti ini. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Padahal sebelumnya Bu Madeline selalu mencari alasan untuk bertemu.
"Semuanya tolong kumpul di kantor Bu manager." Panggil Doni saat acara bersih-bersih sebelum restoran di buka selesai.
Semua kemudian menuju ke ruang kantor sambil saling lirik bertanya-tanya apa yang akan di umumkan.
Entah kenapa Alex merasa ada suasana yang aneh terjadi di sekitarnya, sepertinya dia tidak lagi mendengar teman-temannya bergosip tentang Bu Madeline dan Chris. Tapi Alex tidak ambil pusing, karena memang sejak awal dia tidak terlalu suka bergosip dan lebih suka fokus pada pekerjaan. Biasanya Naila lah yang selalu merecoki kupingnya dengan gosip yang lagi viral. Kalau restoran sedang tidak sibuk Alex akan dengan senang hati membantu area Bar setelah tugasnya beres.
"Terima kasih sudah datang,, ada berita baik yang ingin saya sampai kan. Mengenai acara perayaan kemarin yang gagal karena cuaca di Pantai sangat tidak mendukung, dan Tuan Chris selaku owner tidak bisa hadir. Saya tahu kalian pasti kecewa, bagaimanapun juga pesta ini di adakan untuk berterima kasih atas kerja keras kalian. Tapi jangan khawatir karena Tuan Chris sudah kembali beberapa hari lalu dan menyetujui saran saya untuk mengadakan pestanya di hotel Queen lima hari lagi, "ucap Bu Madeline yang disambut sorakan bahagia oleh semua staf yang hadir.
" Tenanglah sebentar, karena masih ada beberapa pengumuman lain yang harus disampaikan dan jam buka restoran sudah hampir tiba. " Bu Madeline meminta semua mendengarkannya lagi.
" Tolong yang kesana membawa mobil tulis nama kalian di kertas ini, yang tidak di kertas ini. " di letakkannya dua buah kertas berdampingan di atas meja, kemudian beliau berkata," Saya ingin tahu apakah saya perlu menyewakan mobil atau cukup menumpang di mobil teman kalian. "jelasnya.
Satu persatu staf maju ke depan untuk menulis kan nama mereka.
" Tidak apa ya Saya lanjut bicara sambil mengisi daftar nya. Jadi pesta besok ini juga akan menjadi pesta perayaan naiknya jabatan Pak Radit sebagai manager Black Grill di sini mengganti kan Saya." Serentak suasana yang tadinya masih di iringi bisik-bisik kecil hening dan semua manatap Bu Madeline.
" Apa ibu akan berhenti? " tanya Jane mewakili keingin tahuan semua orang.
" Saya di beri kepercayaan untuk memimpin salah satu cabang Black Grill di luar negri. Ini kesempatan bagus untuk saya, yah sekalian mencari suasana baru. Jadi mohon bantuannya lima hari ke depan ya. "
Lagi-lagi Alex merasakan sesuatu yang tidak enak. Kali ini lebih jelas dari yang tadi. Dia bisa melihat semua mata meliriknya silih berganti. Ketika mencoba menoleh mereka membuang muka pura-pura melihat ke arah lain.
" Baiklah kalau sudah selesai kembali ke tempat kerja kalian, lima menit lagi restoran buka, cek lagi apa yang kurang ya. Alex bisa tunggu di sini sebentar Saya ingin bicara." ucap Bu Madeline.
Semua keluar saling berbisik dan sekilas melirik Alex.
Pasti sesuatu yang terjadi dan tidak dia ketahui. Batin Alex dalam hati.
" Duduklah Alex"ucap Bu Madeline ketika semua staf yang lain keluar.
"Aku bertemu Chris dua hari yang lalu. Aku hanya ingin bertanya padamu mengapa kau mengadukan semua curhatanku padanya. Padahal aku begitu percaya padamu."
Alex terperanjat kaget mendengar ucapan Bu Madeline. Siapa juga yang mengadu.
"Maaf Bu tapi saya tidak mengadu, saya hanya memastikan kebenaran karena Chris berkata berbeda."
"Kau memangggilnya tanpa sebutan Tuan atau Pak, sedekat itukah hubungan kalian?"
"Kami memang sempat dekat, tapi itu sebelum saya tahu hubungan kalian berdua."
"Lalu sekarang?" selidik Madeline.
"Kami tidak ada hubungan lain sebatas prekerja dan pemilik restoran, " ucap Alex bergetar.
"Kamu tahu betapa kecewanya Saya karena kamu menyalahgunakan kepercayaan yang Saya berikan." Madeline kembali menggunakan bahasa formal. "Saya pikir sebagai sesama wanita kamu bisa menyimpan curahan perasaan Saya. Tapi sudah lah, saya juga kurang berhati-hati dan malah memilih orang yang memiliki hubungan dengan pria yang Saya cintai sebagai teman curhat. Seharusnya kamu bilang soal hubunganmu dengan Chris. Kamu boleh pergi, sudah tidak ada lagi yang ingin saya katakan.
Banyak sekali hal yang ingin Alex ucapkan, tapi dia memilih untuk beranjak pergi tanpa sepatah katapun.
Apa-apaan ini, kalau memang Chris benar-benar bicara padanya itu berarti curhatannya selama ini bohong dan versi Chris lah yang bentar. Lalu kenapa dia berkata seolah ini semua salahku. Memang ya orang yang memiliki posisi di atas selalu seenaknya, selalu merasa benar sendiri. Omel Alex dalam hati.
Hari ini Alex merasa semua orang menjauhinya, mereka hanya bicara padanya mengenai pekerjaan, dan mereka selalu sibuk berbisik kemudian diam seribu bahasa ketika Alex mendekat. Ingin sekali dia bertanya secara langsung mengapa dia mendapatkan perlakuan seperti ini, tapi dia sendiri ragu apa ini hanya karena perasaannya yang sedang sensitif. Coba hari ini Naila tidak libur paling tidak masih ada satu orang yang akan mengganggu kupingnya dengan suara ceriwisnya. Mana besok dia masih libur lagi.
******
Sehari setelah malam pertemuan Alex dan Chris.
Madeline duduk di sofa masih menggunakan baju tidurnya. Hari ini dia masih libur dan dia tidak mengira Chris akan datang ke tempatnya sepagi ini.
"Katakan padaku apa maksud dari semua ini. Tidak pernah terjadi apapun di antara kita semenjak kita putus setahun lalu. Kenapa kau mengarang cerita sampah di depan ex." tanya Chris geram.
"Karena dia tidak pantas untukmu, apa hebatnya dia di banding aku, pendidikannya rendah, dan penampilannya terlalu sederhana, dia terlalu naif, terlalu lugu, terlalu bodoh, buktinya dia menelan mentah-mentah semua ucapan ku, "sahut Madeline. Untungnya kemarin dia mendapatkan laporan kalau Chris datang ke restoran menemui Alex jadi paling tidak dia ada sedikit persiapan menghadapi Chris.
" Kau ini seorang publik figur Chris, banyak orang menghormatimu dan juga membencimu, Alex tidak akan bisa mengimbangi gaya hidup mu, " hasut Madeline.
"Berhentilah bicara omong kosong padaku, hidupku bukan urusanmu. Apapun yang ku inginkan dan siapa pun yang ku inginkan bukan urusanmu ataupun orang lain. Jangan lagi pernah mengusik kehidupan ku atau kau akan tahu akibat nya, " ancam Chris. Dirinya sadar bahwa yang dia ancam adalah seorang wanita, tidak sebanding dengan pria kekar sepertinya, tapi kesalahan tetaplah kesalahan di mata Chris tidak peduli siapapun orangnya.
" Baiklah Chris maafkan aku, aku begini karena aku masih mencintai mu, " ucap Madeline sendu.
__ADS_1
Awas saja nanti kau Alex, akan kubuat kau tidak betah kerja dan mengundurkan diri.
"Kau punya dua pilihan, pertama berhenti kerja dengan ku atau pindah ke cabang lain di luar negri."
Madeline tampak kaget dengan ucapan Chris, tidak mungkin kan Chris bisa membaca pikirannya barusan lalu sekarang menyingkirkannya demi kebaikan Alex.
"Chris tidak kah ini terlalu berlebihan. Aku akan minta maaf pada Alex."
"Aku tidak akan mengubah keputusanku, kuberi kau waktu sampai besok pagi untuk memutuskan." Chris lalu pergi begitu saja.
Bagaimana ini, jika di pindahkan ke luar negri itu artinya dia akan jarang bertemu Chris, akan tetapi jika dia memilih berhenti dia akan kehilangan semua fasilitas mewah yang dia dapat, apalagi jika Chris masih marah bisa-bisa tidak ada tempat lain yang akan menerimanya bekerja. Madeline kenapa juga kau sok-sok an membuat masalah begini, kenapa tidak kau biarkan saja mereka berdua, pasti juga Chris akan bosan dan kembali padanya lagi saat belum menemukan wanita pengganti. Madeline merutuki kebodohannya sendiri.
Bahkan sehari setelahnya kelakuan mereka semakin menjadi-jadi terutama staf wanita. Para staf pria sendiri masih berlaku wajar meskipun beberapa dari mereka tampak memilih menghindar dari Alex, tapi ada juga yang tetap bersikap biasa seperti Bimo, dan beberapa bartender yang biasa dia bantu selama ini. Menurut pendapat Tim Penjaga Alex (begitulah Ratna, Stefi dan Ryan menyebut diri mereka) ini semua juga pastinya ulah Bu Madeline, bisa jadi dia menyebar gosip sehingga rekan-rekannya membenci Alex. Tapi karena tidak ada bukti tentu saja Alex tidak mau menuduh sembarangan.
Alex sendiri tidak terlalu ambil pusing karena restoran juga selalu sibuk jadi dia lebih fokus ke pekerjaan di banding memperdulikan teman-temannya di tempat kerja. Dan lagi hari ini Naila akan kembali bekerja, jadi setidaknya ada satu suara cempreng yang akan mengisi jam kerjanya hari ini.
"Alex aku kangen kamu," Naila langsung memeluk Alex saat Alex berganti pakaian. "dua hari serasa dua Abad." lanjutnya lebai.
"Nai udah selesai ganti baju, langsung ke resto yuk, " ajak Gabby yang langsung menarik tangan Naila keluar dari ruang ganti.
Baru saja Alex hendak membuka mulutnya menyapa Naila, sekarang sosoknya sudah mengilang di seret mbak rese.
Sudahlah toh hari ini Naila satu tim dengannya jadi mereka bisa melepas kangen nanti. Begitu pikir Alex, tapi ternyata sesampainya di area restoran betapa kaget dirinya karena Naila tidak satu tim dengannya. Padahal jelas kemarin dia sudah mengeceknya dengan mata kepala sendiri. Di lihatnya Naila tampak tengah melayani tamu yang baru datang. Seharian itu yang lain sepertinya berusaha menjauhkan Naila dari Alex,namun Alex cukup senang karena setiap pandangan mereka bertemu Naila selalu tersenyum dan melambai cepat. Itu saja sudah cukup bagi Alex.
Bahkan saat jam kerja telah berakhir dan mereka berganti baju, Jane dan Gabby terus mengajak Naila mengobrol kemudian menggandengnya di kiri dan kanan mengajaknya keluar tanpa menunggu Alex yang sedang mengganti pakaian,padahal biasanya semua saling menunggu.
"Kalian duluan aja, aku ada sedikit urusan dengan Bimo dan dia masih di resto jadi aku tunggu dia di sini, soalnya nggak mungkin keburu bis yang sekarang, dia Kan harus ganti baju dulu." Naila mencari alasan agar dia bisa bersama Alex. Dirinya sendiri belum yakin akan gosip yang sedang beredar, sehingga dia ingin mendengar juga penjelasan dari sisi Alex supaya adil.
" Lex kamu nggak apa-apa kan? "tanya Naila menunggu Alex menalikan sepatunya.
" Nggak kok, aku nggak tahu kenapa mereka jauhin aku, tapi aku kesini untuk kerja, bukan untuk ngurusin mereka kan. Ayo. "
" Iya sih, udah duduk aja dulu, bis nya juga pasti baru datang. Kalau keluar sekarang ntar bareng mereka lagi kan. Di sini aja dulu mumpung ga ada siapa. " Naila kagum dengan temannya satu ini. Alex itu orangnya unik, dia sangat perhatian pada yang lain, tapi juga cuek di saat bersamaan. Selalu ingin menolong, tapi dianya selalu berusaha mengerjakan tugasnya sendirian.
" Jadi kamu beneran nggak tahu alasan mereka cuekin kamu?" tanya Naila yang di jawab gelengan kepala oleh Alex.
"Ya ampun Nai, itu foto udah dulu pas hari peringatan UMKM ( Usaha Menengah Kecil Masyarakat)" jelas Alex. Coba saja fotonya tepat saat mereka keluar dari pameran, pasti dia bisa buktikan pada semuanya kalau dia bukan pelakor seperti gosip yang sedang panas-panasnya." Kenapa kamu baru ngomong sekarang Nai, kalau gosipnya udah beberapa hari kemarin?"
"Yah, aku kan nggak begitu percaya juga, orang fotonya dari seberang jalan, mana fotonya tampak belakang lagi, aku mikirnya sih itu cuman orang yang mirip kamu Lex. Soalnya aku tahu kamu tuh nggak mungkin jadi pelakor."
Alex tersenyum mendengar ucapan Naila dan berkata," Thanks ya Nai kamu nggak langsung percaya dan nuduh aku. Yuk pulang, aku ceritain semuanya dari awal ke kamu, tapi jangan di sini, ntar ada yang dateng, "ajak Alex.
Mereka memilih kedai minuman di stasiun kereta sebagai tempat ngobrol. Alex menceritakan semua dari sejak awal bertabrakan dengan Chris di depan restoran sampai saat terakhir di minimarket beberapa hari lalu.
"Wah kita harus cari ini siapa dalang penyebar gosip hoax yang sedang beredar. Aku sendiri sih yakin pasti Bu Madeline biang keroknya, tapi nggak mungkin kan dia sendiri yang menyebarkan gosip itu ke semua staf."ucap Naila serius." Aku nggak nyangka orang yang tampak berkelas seperti dia malah bertingkah murahan. "
Kalau tadi Naila menceritakan gosip secara garis besar, sekarang dia menceritakannya secara mendetail. Dari yang katanya Alex mencoba merayu Tuan Chris dan mengadu yang tidak-tidak sehingga Bu Madeline di pindah tugas kan. Setelah mereka saling bertukar informasi akhirnya terkuak semua kebohongan Bu Madeline.
"Aku sendiri memang tidak punya bukti apa-apa untuk membantah gosip-gosip itu, tapi aku ingin sekali meluruskan semua kebohongan ini."
"Tenang Lex aku akan bantu kamu, dan kita masih punya satu anggota lagi." Naila menenangkan Alex.
"Hah, siapa?" tanya Alex.
"Tuh." ucap Naila sambil mengarahkan pandangannya ke pintu masuk kedai. Terlihat Bimo baru saja masuk dan berjalan ke arah mereka.
"Nai apaan sih misi penyelamatan Alex, lebay banget." Bimo menoyor kening Naila. Dia tadi maunya langsung pulang tapi karena membaca pesan Naila yang lebay dia malah mampir ke sini. Bimo menunjukkan isi pesan yang di kirim Naila
*Bim, jangan pulang dulu, mampir ke kedai sebelah kiri pintu masuk stasiun. Kita harus membicarakan misi penyelamatan Alex. Kita tidak bisa tinggal diam melihat Alex di fitnah, kita kan seperjuangan di sini. *
Alex terkikik membacanya. Naila anaknya memang selalu heboh dari dulu.
Kemudian Naila dan Alex bergantian menceritakan semuanya pada Bimo. Dari cerita yang di dengarnya Bimo menyimpulkan kalau pasti ada satu staf yang mendapat berita itu langsung dari Bu Madeline, dan bertugas menyebarkannya ke staf yang lain,dan kita harus menemukan siapa staf itu untuk kemudian mendapat informasi siapa sebenarnya akar dari semua gosip ini.
"Tadi kamu bilang sumbernya Bu Madeline, kenapa kita harus cari lagi staf mana yang di suruh nyebarin gosip?" tanya Naila bingung.
"Ya buat bukti dan saksi Nai, nggak mungkin kan kita asal ngomong nuduh Bu Madeline tanpa bukti, ntar jatuhnya kita juga sebarin gosip bodong."
"Terus emangnya kalau udah ketemu saksi dan buktinya mau apa, mau nuntut Bu Madeline gitu, emang ini persidangan apa."
__ADS_1
"Itu nantinya ya terserah Alex lah bagaimana dia bertindak, kita cuman bisa bantu sebatas cari bukti selebihnya kita harus hormati keputusan apapun yang di ambil Alex nanti."
"Udah jambak aja sekalian cakar-cakar Lex, " ucap Naila emosi.
Akhirnya setelah berunding mereka menemukan satu strategi untuk menemukan siapa penyebar gosip. Naila akan berpura-pura ikut memusuhi Alex dan masuk grup mereka agar mendapat gosip secara lebih mendetail.
" Kamu harus total aktingnya Nai, kita cuman punya waktu 4 hari lagi lho, habis itu Bu Madeline tidak akan menunjukkan batang hidungnya lagi di resto, " kata Bimo mengingatkan Naila, karena itu adalah hari terakhir Bu Madeline bekerja di Black Grill Paradiso.
Entah kenapa hari-hari belakangan ini Alex di sibukkan oleh pertemuan-pertemuan yang membahas kehidupannya. Baru tadi dia rapat dengan Naila dan Bimo, sekarang dia sudah duduk bersama Ratna, Stefi dan Ryan. Mereka selalu meminta Alex melaporkan hal sekecil apapun. Sedikit merepotkan memang, akan tetapi Alex bersyukur memiliki teman-teman yang selalu ada untuknya.
*******
Siapa yang akan menyangka kalau Naila yang tidak pernah bersikap
serius, selalu heboh dan sedikit teledor ternyata adalah detektif yang handal dan juga aktris hebat. Hanya dalam kurang dari sehari dia sudah berhasil mengetahui siapa si penyebar 'virus hoax' pada rekan kerja yang lain. Dan tidak hanya itu saja dia bahkan berhasil mengorek berita dari orang itu bagaimana awal mula dia mendapat kepercayaan sebagai penyebar 'Virus Hoax' tersebut,lengkap dengan rekaman suara lewat ponsel sebagai bukti valid. Dengan senyum bangga dia menunjukkan bukti itu pada Alex dan Bimo di kedai yang sama sepulang sekolah. Dia tersenyum lebar melihat ekspresi takjub kedua bocah di depannya.
Dari rekaman suara yang diperdengarkan Naila terkuak jika Bu Madeline juga memperdayai Jane yang tak lain adalah si penyebar 'Virus Hoax'. Dengan alih-alih menyuruhnya datang ke rumah untuk membawa beberapa berkas yang di ambil di resto di hari dia kembali dari perjalanan bisnis. Bu Madeline bercerita pada Jane kalau dia merasa ragu hubungannya dengan Chris yang kembali membaik sejak dia di tugas kan di Paradiso akan menemui masalah lagi, karena kehadiran Alex yang jauh lebih muda dari dirinya. Dia bahkan berkata kalau Alex menggunakan keperawanannya untuk memikat Chris sehingga semakin hari Chris semakin menjauh. Lalu di pertemuan ke dua, yaitu sehari sebelum pengumuman kepindahan Bu Madeline. Beliau mengajak Jane makan siang dan berkata kalau Alex meminta Chris untuk menyingkirkannya dari Paradiso, dan jika tidak dia tidak akan menyerahkan dirinya pada Chris,dan begitulah akhirnya Chris yang sudah tergila-gila pada Alex dengan embel-embel keperawanannya memutuskan untuk memindahkan Bu Madeline ke luar negri.
Alex merasa kupingnya panas mendengar semua pengakuan Jane. Dia juga kecewa kenapa rekan-rekannya tidak menyelidikinya terlebih dahulu sebelum menelan bulat-bulat gosip sampah itu. Tapi mau bagaimana lagi, jika di pikir apa yang di karang Bu Madeline benar-benar terlihat nyata dan cocok dengan semua kejadian yang berlangsung.
"Ni nenek kayaknya kebanyakan nonton sinetron sampah deh. Terus kamu sekarang mau gimana Lex?. Mau hajar aja sekalian, aku bantuin deh pegangin tangannya nanti, " celoteh Naila geram.
"Woi jangan bar-bar dong, lagian Nai, ini kan kamu tadi yang denger langsung dari Jane, harusnya kan sekarang emosimu udah mereda di banding denger untuk pertama kalinya tadi."
"Ya kan tadi aku harus mendalami peran Bim, jadi aku harus pura-pura memberi rasa empati ku untuk si nenek Madeline agar Jane semakin banyak kasi info."
"Terus sekarang kamu mau gimana Lex?" tanya Bimo
"Ya gimana lagi kita harus kasi hmmmfffffff..." mulut Naila di tutup oleh Bimo.
"Aku sendiri nggak tahu mau gimana, paling nggak sekarang aku udah tahu siapa di balik semua ini." Alex sendiri memang bingung harus berbuat apa sekarang, dia tidak seperti Naila yang emosinya meluap-luap tanpa filter. Dirinya sendiri selalu akan berpikir dulu, apa yang terjadi jika dia begini atau begitu, bagaimana perasaan yang lain.Ya benar sekali kenapa setelah di perlakukan seperti ini pun dia masih mementingkan perasaan yang lain.
"Kamu punya waktu 3 hari Lex, apapun itu tindakan yang kamu ambil nanti pasti kan kamu nggak akan menyesalinya." saran Bimo.
Untuk menghilangkan rasa kesal mereka bertiga lalu pergi shopping, sekalian cari gaun buat pesta di hotel Queen besok yang bertema elegant.
Sesampainya di rumah Alex langsung meminta kakaknya Andre menggosok punggungnya agar daki-daki yang selama ini betah menempel luntur dan punggungnya terlihat mulus dan kinclong.
"Tumben-tumbenan minta punggungnya di amplas, Jangan-jangan ntar ada badai datang nih, " goda Andre. Sayangnya Alex tidak bisa mencubit kakaknya karena lengannya sedang menjepit kain yang di gunakannya untuk menutupu area depan tubuhnya, kalau tidak sudah habis babak belur kakaknya di cubitin.
" Besok kan pesta yang aku ceritakan itu lho Kak, jadi temannya elegan, terus besok aku bakal pakai gaun yang Bagian punggungnya agak lebar Kak, malu dong kalau kelihatan ada daki bergelayut manja."
"Lex mending jangan pakai baju itu deh." ucap Andre serius, "ntar kamu dikira sundel bolong, " tambahnya terkekeh. Alex hanya bisa mendengus kesal.
Malamnya sebelum tidur tidak lupa dia memakai masker yang juga di belinya tadi sore dengan Naila dan Bimo.
Nada pesan di ponselnya berbunyi.
Dari Ryan : Hai, bocah es krim bagaimana keadaanmu malam ini?
Kepada Ryan : Iya aku baik-baik saja. Sedang memakai masker wajah supaya besok aku terlihat cantik hahaha.
Malam ini dia memang tidak berkumpul dengan Ratna dan yang lain, tapi Alex tadi sudah menceritakan semua soal Jane dan rekaman suaranya lewat grup chat.
Dari Ryan : apa perlu besok aku stand by dekat hotel Queen, jadi kalau-kalau kau tak menikmati pestanya aku bisa membantumu kabur dari sana?.
Kepada Ryan : tidak usah repot begitu, tenang saja aku akan baik-baik saja, tapi kalau memang aku perlu tumpangan kau pasti yang pertama aku hubungi.
Dari Ryan : Bagus!!! Sekarang istirahatlah biar besok wajahmu segar dan bersinar menyilaukan heeheheh.
Kepada Ryan : Terima kasih, selamat malam.
Alex kemudian meletakkan ponselnya,kemudian bersiap untuk tidur setelah melepaskan masker dari wajahnya. Biarpun pesta besok akan di adakan sore hari, bukan berarti dia boleh bangun siang besok. Dia akan pergi jogging besok pagi agar berkeringat dan kulitnya terlihat sehat. Pokoknya besok dia ingin terlihat cantik. Sebelum tertidur Alex kembali teringat Bu Madeline, apa yang harus dia perbuat untuk meluruskan ini semua. Apa teman-temannya akan bersikap biasa jika dia membeberkan kebenaran ini pada mereka, atau dia tetap akan di benci karena mungkin mereka hanya perlu alasan lain untuk memperlihatkan ketidak sukaan mereka atas kedekatannya dengan Chris yang merupakan Bos besar mereka.
********Pengumuman
Ayoooo kira-kira Alex akan berbuat apa pada Madeline???
Jangan sampai ketinggalan episode selanjutnya, dan jangan lupa like dan comments ya ( Thor pake suara sok imut)
__ADS_1