
Gimana nih, masa sopirnya telat," omel Leslie ketika Ben baru tiba di apartment Alex.
"Maaf tadi lupa taruh baju di mana," ucap Ben memberi alasan.
"Belum tua sudah ada gejala pikun," ejek Fred.
"Bukan pikun, otakku ini terlalu penuh di isi ilmu pengetahuan 3 tahun terlalu awal, jadi wajar jika aku lupa hal sepele," ucap Ben menyombongkan diri, kerena memang di usia 25 tahun ini dirinya sebentar lagi menyelesaikan kuliah S-2 nya berkat mengikuti percepatan semester.
" Sudah jangan ribut ayo berangkat, eh kamu kenalan dulu nih sama temen Alex, namanya Amel. Katanya adik jurusan kita, mungkin kamu udah kenal secara kan Bapak Professor mengajar mahasiswa semester 1 dan 2," ucap Fred sambil mengenalkan Amel.
"Memangnya aku petugas sensus apa bisa ingat nama semua mahasiswa jurusan kita," gerutu Ben.
"Hai, siapa tadi namanya, Amel ya? Aku Ben. " Ben menjabat tangan Amel.
" Iya aku tahu, kan aku di ajar kamu," ujar Amel tersipu malu.
Alex baru sadar jika cowok yang selama ini di taksir Amel itu adalah Ben, setelah mengetahui kalau Ben lah asisten dosen yang mengajar salah satu mata kuliah Amel.
Mereka lalu turun menuju mobil milik Ben. Amel yang biasanya bertingkah manja dan heboh tiba-tiba berubah menjadi anggun, sikapnya jadi terlihat lebih dewasa dan tenang. Ketika sampai di tempat parkir mobil dia sudah berjalan menuju pintu mobil di kursi depan, sayangnya langkahnya terhenti ketika Ben memanggil Alex untuk duduk di kursi incaran Amel.
Ketika tiba di kampus suasana sudah sangat ramai. Selain stand makanan ada juga stand game yang lucu dan seru dengan hadiah berupa kupon makanan dan minuman, serta barang menarik lainnya.
"Ayo kita foto-foto dulu sebelum lipstick dan riasanku luntur," ucap Bethany menunjuk pojok untuk berfoto. Di sana terdapat latar berbagai tempat wisata terkenal dunia dalam bentuk 3D.
"Mel, tolong fotoin kita ya," pinta Leslie sambil menyerahkan kamera yang sedari tadi menggantung di lehernya.
"Lumayan nih, nanti ada kenang-kenangan untuk orang yang sebentar lagi mendapat gelar S-2 nya," ucap Anthony sambil melirik Ben.
Ben adalah yang termuda di antara temannya, namun dirinya sudah berada di semester akhir untuk gelar S-2 nya, sedangkan yang lain masih harus menyelesaikan masa kuliah 2 tahun lagi untuk menyusul Ben.
" Ok, makasi ya Mel sudah bersedia jadi fotographer dadakan. Sini kamu juga mau foto kan, biar aku fotoin." Ben mengambil kamera dari tangan Amel.
Setelah mengambil beberapa foto sendirian, Amel meminta foto bersama yang lain juga.
"" Lex tolong gantiin Ben dong, aku juga mau punya foto yang ada Ben nya, " pinta Amel.
Setelah sesi foto selesai mereka berencana menyerbu stand makanan. Saat yang lain berjalan meninggalkan stand foto Amel menarik lengan Alex agar menunggunya.
__ADS_1
" Ben boleh minta foto berdua nggak, buat kenang-kenangan kan sebentar lagi kamu lulus," pinta Amel, kebetulan saat itu Ben berjalan pelan di belakang yang lain.
"Kan tadi sudah waktu foto rame-rame, nanti wajah ku jadi rata kebanyakan foto," tolak Ben sambil bergurau lalu mempercepat langkahnya.
Di stand makanan mata orang-orang di sambut oleh berbagai jenis makanan khas yang terkenal di penjuru dunia. Jurusan Management Pariwisata ternyata benar-benar mempersiapkan bazzar ini dengan sempurna. Karena banyak sekali makanan yang tersedia dan sudah pasti perut mereka tidak akan cukup untuk menampung semua, Alex dan yang lain memilih menu yang berbeda untuk kemudian saling mencicipi, kerena jika mereka memakan satu porsi per-orang, perut mereka akan penuh begitu mencicipi 3 jenis makanan saja.
"Lex coba ini, sudah aku tiup, nggak panas kok," ucap Ben seraya menyodorkan toppoki ke mulut Alex.
"Aku mau juga dong, enak nggak?" tanya Amel sepertinya juga ingin di suapi oleh Ben.
"Itu ambil saja di Fred, dia yang bawa tadi." Lagi-lagi usaha Amel untuk mendapat perhatian dari Ben gagal.
Alex jadi merasa tidak enak pada Amel, tapi mau bagaimana lagi kalau orangnya tidak mau.
Mereka tidak mencoba semua menu sekaligus, karena mereka ingin bermain game dulu untuk membakar makanan yang masuk ke perut mereka. Sekalian berharap memenangkan kupon makan gratis agar uang saku mereka tetap aman di kantong.
"Fred coba yang ini deh, kamu kan jago main sepak Bola," panggil Leslie.
Game yang di maksud Leslie adalah memasukkan bola sepak ke gawang. Sebenarnya jarak antara gawang dan tempat menendang bola cukup dekat, hanya saja si penendang harus memakai kaki katak (sepatu snorkeling yang bentuknya mirip kaki katak, untuk memudahkan berenang saat snorkeling).
Fred mendapat 3 kali kesempatan dan ketiganya gagal. Jangankan untuk menendang, untuk berjalan selangkah saja sudah sulit, karena kaki katak harusnya di pakai di dalam air, bukan di darat.
Wajah dan rambut Leslie basah kuyup karena dirinya mencoba game mengambil apel dengan mulut, dimana apel-apelnya di letakkan di ember yang berisi air. Alhasil peserta harus membenamkan kepala mereka ke air untuk mendapatkan apel. Sayangnya Leslie gagal karena mulutnya terlalu kecil untuk bisa menangkap apel-apel yang ukurannya cukup besar. Awalnya Leslie kecewa karena dirinya sangat menginginkan tablet mini yang menjadi reward bagi yang berhasil mengambil 10 apel dalam 20 detik. Hingga Anthony kemudian maju menjadi kesatria berkuda hitam yang berhasil mendapatkan hadiah yang diinginkan Leslie.
Banyak sekali game lain yang mereka coba malam itu yang kemudian di lanjutkan lagi dengan mencoba sisa menu yang tadi belum mereka cicipi.
Alex teringat ucapan Ryan saat dirinya putus dengan Chris. Ryan bilang, mungkin ini semua demi kebaikannya, dan sekarang Alex merasa ucapan Ryan ada benarnya. Saat ini dirinya benar-benar menikmati masa-masa seperti ini, menghabiskan waktu bersama teman-teman. Masa-masa yang tidak dia dapatkan semasa sekolah dulu.
Sebaiknya aku bungkusan beberapa makanan untuk Ryan nanti. Pikir Alex.
Karena energi mereka sudah hampir habis dan perut mereka sudah terasa berat, mereka memutuskan untuk beristirahat di deretan kursi taman dekat kolam ikan.
Ben menarik Alex untuk duduk di tepian kolam ikan tidak jauh dari yang lain.
Ben melepas sandal Alex dan meletakkan kaki Alex di pangkuannya kemudian mulai memijat telapak kaki Alex.
"Pasti capek kan, lagian gaya banget pakai sandal yang ada hak, biarpun hak pendek juga pasti tetep pegel, kan?"
__ADS_1
"Ben, nggak usah aku nggak apa-apa," Alex mencoba menurunkan kakinya tapi di tahan oleh Ben.
Alex bersikeras menurunkan kakinya karena merasa tidak enak dengan yang lain,tapi entah di sengaja atau tidak, sepertinya yang lain tengah sibuk mengobrol dan tidak memperhatikan mereka berdua. Hanya Amel yang sesekali melirik sambil tetap pura-pura mengikuti obrolan dengan yang lain.
Setelah tiba di apartemen Alex, semua langsung pamit pulang ke rumah masing-masing, kecuali Amel dan Ben. Amel harus menunggu ayahnya yang sedang ada urusan sehingga tidak bisa langsung menjemput.
"Kamu ngapain masih di sini, bukannya mobilmu ada di bawah? Tinggal turun terus bisa langsung pulang," ujar Alex pada Ben.
Alex merasa tidak enak pada Amel, dan dia tidak ingin Amel berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya dan Ben.
"Iya ini juga mau pulang, tapi pinjem toilet dulu," ucap Ben langsung nyelonong masuk kamar Alex, karena memang toiletnya berada di sana.
Amel hanya diam saja sepeninggal Ben, tapi raut wajahnya tampak tidak senang.
"Lex, sarung bantalnya tidak kamu ganti dari waktu itu, apa jangan-jangan kamu suka aroma tubuhku yang menempel di sana," candaan Ben benar-benar membuat Alex merasa tidak enak pada Amel.
Ben memang selalu bergurau hal-hal konyol sama seperti yang lain, tapi kali ini suasananya berbeda. Saat ini yang ada bersama mereka bukan Anthony, atau Fred, atau Beth dan Leslie yang sudah terbiasa dengan ucapan konyol satu sama lain. Berbeda dengan Amel yang baru saja bergabung dengan mereka, terlebih lagi Amel menyukai Ben.
Heh, jangan sembarangan!! Itu sarung bantal sudah aku cuci langsung hari itu juga. Sudah sana minggat," usir Alex sambil mendorong keluar Ben.
"Iya, Iya ini juga mau pulang. Bye Amel, aku duluan ya," Ucap Ben sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.
Pintu di tutup dan suasana kembali hening. Alex tidak bisa menemukan topik untuk di jadi kan bahan obrolan.
"Lex, kamu ada hubungan apa dengan Ben?" Amel bertanya pada Alex dengan tampang serius.
"Kita cuma teman dekat. Dia itu kalau bicara memang suka asal dan membuat orang lain salah paham, tapi itu sudah biasa, dan yang lain sama parahnya dengan Ben," jelas Alex meyakinkan Amel, karena memang begitulah kenyataannya.
"Terus apa kamu ada rasa pada Ben, secara dia baik banget ke kamu. Tadi aku lihat dia pijetin kaki kamu." Amel masih belum puas dengan jawaban Alex tadi.
"Nggak Mel, kita cuma temenan, sama dengan yang lain. Mungkin karena kamu baru kali ini bareng kita, jadi kamu salah paham."
"Lalu maksud Ben soal sarung bantal tadi itu apa? Apa dia pernah menginap di sini?"
Alex kemudian bercerita tentang kejadian dari awal mulai dirinya bertemu Ben, bahkan sebelum dia mengenal Amel, hingga cerita tentang kejadian saat Ben ambruk di jalan karena mabuk.
Aura di dalam apartemen Alex semakin terasa tidak menyenangkan. Untungnya Ayah Amel cepat datang untuk menjemput putri kesayangannya.
__ADS_1
****Pengumuman ****
Teruntuk pembaca yang budiman, aku menargetkan diri untuk mengupdate 2 episode per-hari selama seminggu. Ini baru Hari ke dua diriku sudah kewalahan. Tapi akan tetap di coba. Untuk deretan novel favorite ku yang belum sempat aku baca, tunggulah aku...