Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Ulang Tahun...


__ADS_3

Besok adalah ulang tahun Ryan, dan Alex ingin memberikannya kejutan tepat saat malam pergantian hari. Tadi sebelum berangkat kerja sambilan dia sudah membeli sebuah kue ulang tahun kecil yang saat ini dia titipkan di lemari pendingin Bar, tempat dia bekerja. Juga sebuah kado berisi sebuah kemeja model fit body yang sudah pasti akan mempertontonkan tubuh seksi Ryan. Dari sejak memilih kemeja tersebut Alex sudah senyum - senyum sendiri membayangkan betapa menggiurkannya tubuh Ryan saat mengenakannya.


Alex apa-apaan kau ini, ingat Ryan itu hanya sahabatmu. Meskipun mereka sudah ciuman minggu lalu, tapi tetap saja itu tidak bisa di hitung, karena situasi saat itu terjadi demi menyelamatkan nyawanya. Alex menasehati dirinya sendiri.


Setelah gagal lagi untuk kedua kalinya, kini Alex semakin ingin memiliki sosok pria untuk menjadi kekasihnya. Kekasih yang bisa dia tunjukkan pada Ben dan Amel. Kekasih untuk membuktikan pada para penduduk kampus yang masih saja berbisik di belakangnya yang mengatakan jika dirinya masih belum bisa melupakan Ben, sehingga sampai sekarang dia masih sendiri.


Mereka sudah tidak lagi mencibir Amel, dan bahkan sekarang memuji betapa beruntungnya dia memiliki Ben dan semua ucapan manis lainnya, lalu kenapa juga Alex masih terjebak di situasi yang sudah hampir 4 bulan berlalu. Tentu saja karena pada dasarnya mereka merasa lebih baik saat melihat yang lain memiliki masalah, sehingga mereka lebih memilih mempercayai dan memupuk berita itu agar tampak lebih menyedihkan, dan membuat perasaan mereka semakin baik. Pada dasarnya begitulah sifat manusia. Selama orang yang bersangkutan bukan orang yang penting bagi mereka, mereka akan menunjukkan rasa empati untuk sekedar basa-basi saja.


Bukannya tidak ada satu laki-laki pun yang datang pada Alex,lumayan banyak malah. Tapi semua tidak ada yang mampu melelehkan hati Alex. Mereka datang dengan membawa rasa iba karena gosip yang sudah terlanjur beredar dan menyombongkan diri jika mereka bukan laki-laki seperti Ben. Belum apa-apa Alex sudah merasa kesal duluan.


Panjang umur juga, baru di pikirkan ternyata orangnya muncul. Tapi kenapa senyumnya kecut begitu. Pikir Alex melihat sosok yang baru saja masuk ke Bar dan sekarang sedang menghampirinya.


"Ada angin apa ini, tidak memberi kabar kalau kau datang, apa yang lain tahu? Mana Amel?" tanya Alex beruntun.


"Aku sudah putus dengan Amel," sahut Ben sedih.


Alex tidak percaya akan apa yang di dengarnya.


"Duduk dulu, kalian bertengkar? Tenang saja paling besok baikan lagi. Yang namanya pacaran memang gitu kan, ada putus nyambung nya," ucap Alex mengutip dialog dari novel yang pernah di bacanya, secara dia tidak punya banyak pengalaman pacaran dan sekarang harus menghibur orang yang putus cinta.


"Ini beda Lex, kami sudah putus 3 hari kemarin, dan sekarang Amel sudah punya pacar baru."


"Mana mungkin secepat itu, mungkin kamu salah lihat, jadinya salah paham."


"Mau salah paham bagaimana, dia sendiri yang mengatakan padaku barusan. Aku sengaja ambil libur besok, dan langsung kemari sepulang kerja untuk memintanya kembali padaku."


"Kamu kan belum lihat dia dengan pria lain. Bisa saja itu hanya alasan Amel karena dia masih marah."


"Semoga saja," harap Ben.


"Memangnya kenapa kalian sampai putus. Kalian itu kan pasangan ter-Romantis Abad Ini," ucap Alex, mengingat begitulah julukan yg di berikan orang-orang di kampus.


"Entahlah aku juga tidak begitu yakin, dia awalnya jarang menelpon dan mengirim pesan, dengan alasan banyak tugas. Lalu akhir pekan kemarin dia tidak datang menjenguk ku. Karena itu aku protes, kalau alasannya banyak tugas aku kan bisa membantu menyelesaikan tugasnya sebagaimana biasanya. Dia tiba-tiba bilang putus detik itu juga lewat telpon, katanya aku terlalu mengatur nya, " tutur Ben.


" Tenang saja, beri dia waktu untuk menenangkan diri, mungkin memang dia sedang sibuk dengan kuliahnya," ujar Alex memberi nasehat. Dirinya lalu mengambilkan sebotol bir untuk Ben dan kembali bekerja sambil sesekali tetap menghampiri Ben untuk mengobrol singkat agar dia tidak kesepian.


15 menit menuju jam 12 malam. Alex menuju ke belakang mengganti seragamnya dengan cepat. Malam ini dia memang sudah mendapat ijin untuk pulang lebih cepat. Tidak lupa Alex mengambil kue miliknya di lemari pendingin.


"Sudah mau pulang? Bagaimana kalau kita jalan sebentar atau makan ayam dulu," ajak Ben.


"Maaf tidak bisa, aku akan memberi kejutan ulang tahun untuk Ryan."


"Oh, kalian tampaknya semakin dekat, apa kalian pacaran?"


" Nggak pacaran, dia itu sahabat ku."


"Kalau begitu aku ikut ya, kejutannya lebih seru kalau ada tambahan orang, kan aku juga teman Ryan."


Alex mengangguk setuju. Ada bagusnya juga kalau Ben ikut, jadi dirinya tidak terlalu tampak kecentilan datang tengah malam memberi kejutan ulang tahun.


Mampir dulu ke apartemen untuk mandi kilat, Alex memakai setelan piyama pink kesukaannya.


Alex berdiri di depan pintu apartemen dengan kue ulang tahun yang lilinnya sudah menyala. Ben menekan bel pintu apartemen Ryan.


Tidak sampai semenit Ryan sudah membuka pintu. Senyum bahagia terkembang di wajahnya melihat Alex berdiri dengan imutnya memegang kue dan bernyanyi lagu selamat ulang tahun.


"Ada Ben juga," ucap Ryan mempersilahkan kedua tamunya masuk.


"Tadi kebetulan dia datang ke bar. Lagi patah hati dia, nggak usah di tanya-tanya," lapor Alex meletakkan kue di atas meja ruang tamu.


"Ini." Alex menyerahkan tas kertas berisikan kado ulang tahun yang sedari tadi menggantung di lengannya.


"Terima kasih cantik," ucap Ryan. Memang sejak kejadian di laut kemarin Ryan sudah tidak canggung lagi bicara dengan kata-kata yang terasa lebih intim.


"Wah aku suka sekali, tapi sepertinya ukurannya agak kecil." Ryan mengangkat kemeja lengan panjang berwarna hijau gelap setinggi kepalanya.

__ADS_1


"Coba dulu baru comment," suruh Alex yang tengah sibuk memotong kue dan menyerahkannya pada Ben.


Ryan berlalu ke kamar nya untuk mencoba hadiah pemberian Alex.


"Memang kekecilan," ucap Ryan sembari keluar kamar.


"Tolong ya, bedakan apa itu namanya kekecilan dan pas. Sensasi yang sedang anda rasakan saat ini namanya memakai baju yang ukurannya pas dengan badan anda," jelas Alex.


"Tapi ini ukuran M, aku selalu memakai baju ukuran L."


"Jangan salahkan ukurannya, kamunya yang selama ini salah memilih ukuran. Pokoknya jangan membantah, orang bagus gitu kok," ucap Alex tidak kalah ngotot.


Ben tersenyum memandang perdebatan kedua temannya. Dia jadi semakin merindukan Amel.


"Aku pulang dulu ya, kalian lanjutkan saja pertengkaran kalian," pamit Ben.


"Mau pulang kemana?" Setahu Ryan sejak pindah ke ibu kota, Ben sudah melepas apartemennya yang di sini.


"Ke rumah orang tua ku lah, tadinya mau menginap di tempat Amel, tapi ternyata kita nggak jadi baikan."


Ben memang berasal dari kota ini, dirinya menyewa apartemen karena ingin merasakan kehidupan seorang mahasiswa yang mandiri dan lebih bebas. Padahal sebenarnya jarak rumah orang tuanya lebih dekat dengan kampus.


"Jangan lah, kasihan kalau kamu bangunkan mereka jam segini. Tidur di sini saja," saran Ryan.


Ben mengangguk setuju. Ryan lalu meminjamkannya baju ganti.


"Kamu tadi belum tidur ya, cepat sekali buka pintu," tanya Alex saat berdua saja dengan Ryan. Ben sedang mandi karena badannya lengket oleh keringat yang menempel seharian.


"Tadi sedang video call dengan Ayah dan Ibu," sahut Ryan.


Mereka duduk di sofa panjang, saling berhadapan. Alex duduk bersila di atas sofa sambil menikmati kue ulang tahun bagiannya, sementara Ryan duduk dengan satu kaki terlipat di atas sofa dan kaki lainnya tetap di lantai.


"Ngobrolin apa?"


Alex mengulurkan sesendok kue ke mulut Ryan, sambil berkata, "Terus kamu bilang mau pulang? Kalau pulang, kita bareng saja ya, aku juga mau pulang libur kuliah nanti. Mau lihat lahiran ponakan ku."


Alex kembali menyuapi Ryan setelah menyuapi dirinya sendiri.


"Ya sudah nanti kita tentukan tanggalnya dulu bulan depan," jawab Ryan. Di lihatnya ada sedikit sisa cream di sudut bibir kirinya.


Dengan ibu jari, di hapusnya sisa cream tersebut lalu di jilatnya sisa cream yang kini berpindah ke ibu jarinya.


"Aku jadi merasa bersalah menginap di sini dan mengganggu kemesraan kalian ujar Ben yang sudah selesai mandi dan bergabung ke ruang tamu.


Alex terperanjat dan otomatis menurunkan kakinya dari sofa, berpaling kembali ke arah TV. Sedangkan Ryan hanya tersenyum melihat tingkah gugup Alex yang terlihat manis di matanya.


"Aku pulang dulu ya, ngantuk nih," ucap Alex canggung.


"Ya sudah, ayo aku antar," ucap Ryan bangkit dari duduknya.


"Besok libur, kan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan. Anggap saja untuk merayakan ulang tahun ku. Nanti aku ajak Ben juga," ucap Ryan di dalam lift menuju lantai atas.


"Boleh, jam berapa?"


"Siang saja, sekitar jam makan siang."


"Oke, sampai ketemu besok," ucap Alex melangkah keluar dari lift karena sudah sampai di lantai apartemennya.


"Terima kasih ya, ini ulang tahun yang paling berkesan untukku." Ryan melambaikan tangan dari dalam lift yang sudah mulai menutup.


****


Di pagi hari yang cerah tampak Alex sudah sibuk mematut diri di depan cermin mencoba beberapa pakaian untuk acara nanti siang.


Seharusnya kemarin akau bertanya kemana kita akan pergi, jadi aku tahu apa yang harus di pakai. Bagaimana kalau nanti aku salah kostum. Alex menyesali kebodohannya. Setelah berpikir agak lama, dia menetapkan pilihan pada celana jeans pendek high waist dengan atasan crop top model sabrina berwarna hijau muda yang di padankan dengan sepatu kets putih.

__ADS_1


Setelah urusan pakaian selesai Alex lanjut dengan luluran dan mandi, terakhir adalah melakukan facial sendiri. Kemudian tidur sambil menunggu masker di wajahnya kering.


Alex senang sekali karena ternyata siang itu Ryan mengenakan kemeja yang dia berikan. Meskipun mengenakan kemeja, penampilannya tetap terlihat santai. Lengan kemeja digulung sebatas siku, celana pendek katun warna coklat muda dan sepatu kets hitam.


"Ben mana?" tanya Alex karena tidak melihat sosoknya.


"Dia tidak ikut, katanya mau mencoba membujuk Amel lagi untuk balikan," sahut Ryan.


"Semoga mereka balikan ya, kasihan Ben."


"Kalau mereka nggak balikan kamu gimana?"


"Bagaimana maksudnya itu?"


"Kamu bakal coba pepet dia lagi nggak, menyambung rasa yang dulu nggak kesampaian."


"Iiihhh apa sih, pepet lagi, memangnya sejak kapan aku pepet dia, yang ada dia yang pepet aku sampai bikin orang salah paham."


"Kenapa marahnya ke aku. Sana marah ke Ben, lumayan lagi patah hati siapa tahu jadi berpaling ke kamu," canda Ryan berusaha menangkis serangan cubitan Alex.


"Mau dia beneran putus juga aku nggak bakal lagi deket sama dia lebih dari sekedar teman. Untung saja ya hari ini ulang tahunmu, kalau enggak sudah habis kamu aku cubit sampai biru sekujur tubuh. Ayo katanya mau ajak jalan."


Mereka lalu turun ke bawah menuju tempat parkir di basement.


" Kita mau kemana? " tanya Alex sambil memasang sabuk pengaman.


" Ke kota sebelah, katanya ada tempat bagus yang ada sungai buatan dan bisa naik sampan seperti di negara ITY itu lho, yang katanya romantis," sahut Ryan.


"Oh jadi ceritanya hari ini kita pura-pura pacaran gitu?"


"Ya mumpung bajunya sama-sama hijau seperti pasangan, sekalian saja, kan," sahut Ryan. "selama aku belum menyatakan cinta pada gadis impianku aku masih bisa menemanimu jalan-jalan. Nanti belum tentu bisa, jadi manfaatkan saja aku selagi bisa," lanjutnya.


Entah kenapa perasaan bahagia Alex jadi sirna mendengar ucapan terakhir Ryan. Dulu juga dia sempat berkata hal yang sama, dan Alex memilih diam tidak menanggapi karena Alex tidak ingin tahu mengenai sosok gadis beruntung itu.


Alex yang sudah merasa bahagia dengan perhatian Ryan seakan tidak rela jika nanti dirinya kehilangan perhatian itu saat Ryan memiliki kekasih.


Tempat yang mereka kunjungi bernama Little Romance Village, merupakan tempat replika beberapa tempat yang terkenal romantis di penjuru dunia. Tempat ini sengaja di bangun untuk menarik wisatawan.


"Tunggu sebentar," suruh Alex saat mereka berada di gerbang masuk.


Alex berjinjit untuk melepas dua kancing teratas kemeja Ryan. Dari tadi Alex merasa ada yang sedikit mengganggu dari penampilan santai Ryan. Ternyata dia mengancing kemejanya sampai atas.


" Kalau begini kan terlihat lebih santai," ucap Alex.


"Kalau begini orang-orang pasti benar-benar mengira kita pasangan," canda Ryan mengulang dua kata terdepan yang Alex ucapkan.


"Biar saja, jadi tidak akan ada wanita yang berani mendekatimu," ucap Alex cepat, lalu berlari masuk di susul Ryan yang tampak sumringah mendengar ucapan Alex.


Alex dan Ryan mencoba semua hal yang ada di sana, dari mulai naik gondola, bianglala, balon udara, dan banyak lagi sampai tidak terasa hari mulai menjelang malam.


"Mau makan sebelum pulang?" tanya Ryan dalam perjalanan pulang.


"Beli pizza saja tapi makan di rumah," sahut Alex yang tidak terlalu lapar karena tadi dia mencoba berbagai cemilan yang di jual di sana.


Sesampai di apartemen Alex, mereka langsung melempar diri ke sofa kelelahan. Tadinya mereka tidak merasa lelah karena terlalu asik bermain. Ryan membuka minuman soda yang termasuk dalam paket pizza yang mereka beli.


"Lex, bagaimana menurutmu jika aku menyatakan perasaanku pada gadis yang aku suka?" tanya Ryan tiba-tiba.


Alex tidak menjawab. Dirinya meraih botol soda di tangan Ryan, meletakkannya di atas meja. Kemudian tanpa pemberitahuan apapun dia mencium Ryan.


"Jangan katakan padanya," pinta Alex kemudian hendak mencium Ryan kembali, namun di tahan oleh Ryan.


*****Pengumuman *****


Maaf ya ceritanya menggantung, tiba-tiba otak blank, nggak tahu kenapa, mungkin like dan comment kalian bisa membantu 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2