Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Jadian...???


__ADS_3

Awalnya Alex mengira jika Amel akan menjauhinya, tapi untungnya setelah 3 hari tidak bertemu, Amel sudah kembali ke kehidupan Alex dengan kecentilan dan kehebohan yang dia bawa.


"Lex, kamu sepertinya dekat dengan Amel ya?" tanya Melani teman satu jurusannya.


"Iya kami berteman," sahut Alex.


"Kamu sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya, aku dengar gosip tidak enak dari senior kita yang katanya kenal dia di negaranya." Melani mengingatkan Alex.


"Pantesan aku merasa kurang suka hanya dengan melihatnya saja," timpal Rose.


"Hush kalian jangan gosipin yang nggak jelas, lagian Alex kita pasti bisa jaga diri. Sekarang fokus kerjakan tugas kelompoknya," ucap Robert si ketua kelompok.


Alex benar-benar menikmati masa-masa kuliahnya. Dia memiliki banyak teman baik di dalam ataupun di luar jurusannya. Sudah tidak ada lagi masa dimana dirinya di kucilkan teman-teman sekolah.


Sepulang kuliah Alex berpapasan dengan Ryan dan Amel di depan gedung apartemen. Tersenyum Alex menyapa keduanya.


"Baru selesai kuliah?" tanya Ryan basa-basi, padahal dirinya tahu kalau hari ini Alex ada kuliah sampai sore.


"Iya, kalian berdua mau kemana?" Alex balik bertanya, dan dia langsung menyesalinya, karena tentu saja itu bukan urusannya.


Ryan sudah membuka mulutnya hendak menjawab, namun Amel menyambar, berkata, "Iya kita lagi buru-buru nih, duluan ya Lex.


Amel segera menggandeng lengan Ryan dan menariknya menjauh menuju tempat parkir. Ryan hanya menoleh ke belakang melambai cepat pada Alex.


Kenapa rasanya ada yang mengganjal di hatinya saat melihat mereka berdua ya? Sepertinya ada sedikit perasaan tidak rela timbul di hati Alex. Pasti karena aku khawatir jika Amel nanti menemukan target baru dan menyakiti Ryan. Aku tidak mau jika sahabat ku terluka. Pikir Alex di dalam lift menuju apartemennya.


Malam itu seharusnya Alex tidak ada kerja sambilan, tapi pemilik Bar menghubunginya dan meminta Alex untuk masuk kerja karena mereka sangat sibuk malam itu. Selain pengunjung biasa yang sudah memadati Bar, ada sekelompok grup besar datang untuk merayakan ulang tahun di Bar.


"Heh! Ngapain kesini, mau mabuk dan tidur di jalan lagi? Kali ini aku nggak mau nampung kamu lho," omel Alex saat melihat Ben datang ke tempat kerjanya.


"Sembarangan, aku mau nonton kamu kerja rodi," ejek Ben kemudian memesan sebotol minuman soda lalu duduk di Bar lounge.


Sampai Bar tutup Alex sangat sibuk sampai tidak sempat lagi menghampiri Ben. Begitu semua tamu pergi Alex langsung di ijinkan pulang tanpa ikut bersih-bersih karena dia sudah bekerja lebih dari jam kerja sambilannya. Saat keluar Bar dirinya kaget melihat Ben yang masih berdiri di depan Bar seorang diri.


"Kenapa masih di sini?" tanya Alex.


Ben berbalik ke arah suara dan berkata,"Nunggu kamu. Aku lapar nih mau makan Ayam goreng di depan sana, temenin ya."


"Dasar bocah, makan saja harus di temenin," gerutu Alex, tapi mengikuti Ben menuju gerai Ayam goreng cepat saji yang buka 24 jam.


Ternyata banyak dari tamu di Bar nya juga makan di sana. Mungkin perut mereka jadi lapar setelah minum banyak. Alex sendiri lapar karena tadi dia hanya makan sedikit, lalu tenaganya diporsir sampai habis.


Ben meminta Alex mencari tempat duduk sedangkan dia memesan makanan.


"Ben, aku nanya serius ini, sebenarnya kamu ke Bar itu ngapain?" tanya Alex sambil tetap menikmati sayap Ayam spicy kesukaannya.


"Aku sudah jawab tadi, kalau aku mau nonton kamu kerja," ucap Ben memberikan jawaban yang sama.


"Nggak ada kerjaan banget ya."


"Biarin, kenapa? Nggak suka?"


"Kalau di traktir begini, mau di tonton tiap kali kerja juga nggak masalah buat aku, ini namanya rejeki," sahut Alex bercanda.


"Kalau begitu aku akan datang tiap kamu kerja, lumayan aku jadi ada partner makan ayam."


Mereka berdua menikmati ayam mereka sambil asik mengobrol. Ben mengantar Alex pulang setelah selesai makan. Saat keluar dari mobil mereka bertemu dengan Ryan di tempat parkir.

__ADS_1


"Ben, Alex?" sapa Ryan sedikit terkejut.


"Kalian berdua saling kenal?" tanya Alex lebih terkejut lagi.


"Ryan ini teman baik ku. Kita dulu satu angkatan, terus karena di kampusnya tidak ada sistem percepatan, kemudian aku pindah ke kampus kita sekarang," jelas Ben yang di jawab anggukan oleh Ryan meng-iyakan penjelasan Ben.


"Aku tidak tahu jika kalian saling kenal, karena kalian kan beda jurusan," ucap Ryan.


"Iya ada sedikit kejadian yang membuat kami jadi dekat." Lagi-lagi Ben yang menjawab.


"Aku masuk ya, harus tidur, ini sudah jam 2 pagi, besok aku masih ada kuliah. Ryan mau masuk juga, kan?"


Setelah mengucapkan sampai jumpa pada Ben, Alex dan Ryan masuk ke dalam gedung apartemen.


Apa dari tadi sore sampai jam segini Ryan bersama dengan Amel terus? Alex bertanya di dalam hati. Sejak kapan mereka jadi begitu dekat? Kenapa Amel tidak bercerita padanya? Apa sebenarnya dia masih kesal karena masalah dengan Ben? Tapi bukankah aku sudah menjelaskan kalau tidak ada apa-apa antara aku dan Ben.


"Bye Lex, selamat tidur," ucap Ryan lalu keluar lift.


Alex baru sadar kalau dari tadi dirinya hanya diam, tidak mengajak Ryan bicara,katena pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan. Biasanya Ryan selalu ikut naik mengantar Alex sampai di depan apartemen, baru kemudian dia turun lagi menuju apartemennya sendiri. Tapi kali ini berbeda. Lagi-lagi Alex merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Bukankah harusnya dirinya bahagia jika pada akhirnya Ryan memiliki kekasih. Hal itu kan yang di inginkannya dulu saat menolak perasaan Ryan.


************


Alex memasukkan buku-buku ke dalam tas dengan lesu. Dirinya hanya tidur selama 4 jam dan badannya masih lelah karena kurang tidur dan istirahat. Untungnya hari ini dia hanya ada dua mata kuliah, jadi dia bisa cepat pulang dan melanjutkan tidurnya.


Dalam bus menuju pulang, Alex berusaha menjaga matanya tetap terbuka agar dia tidak tertidur. Saat bus melewati Taman Kota, Alex melihat bangunan tua antik yang dulu sering di kunjunginya untuk meminjam buku. Ada papan di pasang di gerbang masuk, sepertinya proses pengalihan fungsi dari perpustakaan menjadi restoran sudah mulai berjalan. Alex berharap Chris sangat sibuk dan hanya akan datang pada saat acara pembukaan saja. Alex berharap dia tidak bertemu dengan Chris. Alex berharap dirinya bisa menghapus luka di hatinya.


Sesampai di apartemen Alex tidak bisa langsung tidur karena keluarga di rumah menghubunginya lewat panggilan video. Mereka memnyampaikan kabar menggembirakan untuk Alex yang ternyata akan memiliki keponakan.


"Wah, nanti kasi tahu perkiraan lahirannya ya Kak, aku mau ambil cuti kuliah," ucap Alex menatap layar ponsel.


"Masih lama Lex, masih 8 bulanan," sahut Novita, Iparnya.


"Sebentar lagi persiapan ujian semester berarti, belajar yang rajin ya," pesan Andre.


"Iya Kak, pasti itu, aku rencananya ambil beasiswa, jadi nilai ku harus memenuhi syarat."


"Teman-teman kamu di sini bagaimana kabarnya, sejak kamu berangkat mereka nggak pernah main kesini lagi."


"Ibu ini, ngapain mereka main ke rumah kalau aku nya nggak ada. Kita masih tetap saling kontak, Bu. Tapi agak jarang karena kendala selisih waktu, Bu. Mereka tidur aku bangun, terus aku tidur mereka bangun," jelas Alex pada Ibu nya.


Setelah selesai mengobrol dengan keluarganya, Alex langsung tertidur tanpa berganti pakaian, dan bahkan sepatunya belum dilepas.


Saat sore menjelang malam tiba, Alex di bangunkan oleh suara ketukan pintu. Alex bangun dengan malas dan mengintip lewat luang pintu.


"Ada apa?" tanya Alex sambil membuka pintu untuk Ben.


"Ayo keluar lihat bintang," ajak Ben.


"Nggak mau, aku bisa lihat bintang dari balkon."


"Ini beda ayoooo, yang lain sudah menunggu di bawah.


Alis Alex mengernyit, memang bintang apa yang akan mereka lihat, tampaknya seru sekali. Bukankah bintang di langit terlihat sama, hanya ada beberapa yg terlihat lebih besar dari yang lain.


" Ayo cepat nanti kita ketinggalan."


"Aku belum mandi dan ganti baju dari pulang kuliah."

__ADS_1


"Nggak usah, nanti keburu hilang bintangnya," ucap Ben seraya menyeret Alex.


"Paling nggak ijinkan aku ganti baju dan cuci muka," Alex berontak.


"Ya sudah buruan," suruh Ben.


Tidak sampai 5 menit Alex sudah berganti pakaian, cuci muka dan gosok gigi. Sebelum turun dia mengambil sebotol air mineral untuk di minum.


"Kita mau melihat bintang di mana? Bukankah dari balkon ku juga bisa melihat bintang. Eh ternyata ada Amel," kata Alex saat menoleh ke kursi mobil paling belakang,diman Amel duduk bersama Anthony.


"Iya tadi pas kami tiba, Amel baru saja keluar gedung apartemen mu, kupikir tadi kalian habis bertemu," sahut Ben.


"Aku sedang ada perlu tadi dengan seseorang," ucap Amel.


Sosok Ryan terlintas di kepala Alex. Apa mereka benar-benar sudah jadian, lalu kenapa Ryan ataupun Amel tidak memberi tahunya. Ah, Alex memangnya siapa dirimu sampai mereka harus melapor padamu.


Mereka sampai di gedung Astronomi, yang sudah memiliki cukup banyak pengunjung. Bethany menjelaskan pada Alex kalau malam ini akan ada hujan meteor, maka dari itu mereka ingin melihat lebih jelas dari sini.


Walaupun pengunjung lumayan banyak Ben dan yang lain masing-masing mendapat pinjaman satu teropong. Banyak dari pengunjung datang membawa teropong bintang mereka sendiri sehingga stok teropong milik gedung Astronomi tidak banyak di gunakan.


Ini pertama kalinya Alex melihat pemandangan langit begitu indah. Andai saja bisa di abadikan melalui ponsel, dia ingin memperlihatkan keindahan ini pada keluarganya di rumah.


"Nggak sia-sia aku ikut kalian sampai nggak mandi, tadi itu pertama kalinya aku lihat hujan meteor," seru Alex senang.


"Iya, meskipun sebentar tapi benar-benar tidak mengecewakan," timpal Amel.


"Sekarang tujuan kita selanjutnya kemana nih?" tanya Ben selaku supir.


"Ayo makan seafood di pantai dekat sini. Murah kok, soalnya kita sendiri yang membuat api dan memanggangnya, mereka cuman kasi alat dan bahan," usul Leslie yang tahu semua letak tempat makan karena dia memang punya hobby makan.


"Maaf, kali ini aku nggak ikut, aku harus siap-siap untuk kerja. Biar nanti aku naik bus di halte dekat pantai," ujar Alex. Salah satu hal yang di sukai Alex dari tempat ini adalah tersedianya halte bus di mana-mana, bahkan sampai pelosok.


"Mana boleh Alex pulang naik Bus saat Ben yang jadi supir," goda Bethany.


"Aku taruh yang lain di tempat makan dulu baru aku antar kamu pulang," ucap Ben.


"Enggak usah repot," tolak Alex.


"Tenang saja Lex, kamu nggak pernah ngerepotin Ben kok," seru Leslie dari kursi paling belakang.


"Bersyukur malah," tukas Anthony menimpali, kemudian di sambut tawa yang lain.


"Ya sudah kalau begitu, tapi lain kali kalian harus ajak aku makan di sana ya, aku juga kan suka seafood," pinta Alex.


Berkat di antar Ben, Alex jadi punya banyak sisa waktu untuk bersiap-siap.


Walaupun tempat kerja Alex merupakan Bar yang kecil, akan tetapi tempat itu tidak pernah sepi pengunjung. Waktu jadi berlalu sangat cepat dan tentu saja bayaran nya memuaskan dan selalu tepat waktu.


"Bos semua sudah beres, aku pulang ya," pamit Alex tidak lupa melambai pamit pada staff lain yang masih belum pulang karena tugas bagian mereka belum selesai.


Saat membuka pintu dan melangkah keluar tiba-tiba dari kejauhan tampak 2 sosok yang di kenal Alex tengah berjalan menuju arahnya. Dengan cepat Alex masuk kembali ke dalam Bar, menghindar.


"Ada yang kelupaan?" tanya Bos Alex ketika melihat Alex masuk kembali.


"Iya, ada yang ketinggalan di loker," sahut Alex buru-buru masuk ke dapur Bar yang juga merupakan ruang staf.


*******Pengumuman ******

__ADS_1


Sepertinya aku harus menyerah untuk bisa update 2 kali sehari. Selain karena tidak cukup waktu luang untuk menulis aku juga merindukan novel noveltoon di rak favorite ku. Kalau aku terus pakai waktu luang ku yang ga seberapa untuk nulis, jadi ga ada waktu untuk baca novel 😅😅


__ADS_2