
Alex memasuki ruang ganti dengan langkah lesu, kejadian semalam masih memenuhi pikirannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa, Chris sama sekali tidak menghubunginya.
"Hoi,, kok suram gitu sih mukanya, senyum dong, " ucap Nayla ceria. Pasti karena jam kerjanya sudah berakhir. "Hari ini nggak ada para boss jadi kerjanya santai, " tambahnya.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Alex heran.
"Iya, Pak Radit kan hari ini memang libur, terus Bu Madeline ada tugas ke luar negri gitu seminggu."
"Oh ya?. Kok ga ada pemberitahuan ya sebelumnya." Jane yang baru datang ikut nimbrung.
"Mendadak katanya, tadi Pak Radit datang kesini bentar untuk pemberitahuan. Katanya kalau ada masalah langsung telfon dia, " jelas Naila.
"Ke luar negri ya?. Berarti pasti bareng dengan Bos besar kan. Wah-wah bakal seru nih. Nay, tahu nggak mereka ke negara mana?" tanya Jane penasaran.
"Bos besar siapa?" tanya Alex, meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak, tapi tetap saja perlu kepastian.
"Siapa lagi kalau bukan Tuan Chris. Mereka ada urusan kerja ke Negara PP, negara yang terkenal dengan keromantisannya. Beruntung banget ya Bu Madeline yang di ajak, bukannya Manager cabang lainnya. Perjalanan bisnis bersama Bos tampan, udah seperti cerita novel saja " khayalan Nayla sudah kemana-mana.
" Kalian anak baru sih, jadi pasti belum tahu ya kalau mereka itu dulunya pacaran. Katanya sih sekarang sudah putus, tapi siapa yang tahu."Jane yang merupakan senior mulai bergossip.
" Waaahhhh beneran??? Jangan-jangan Bos besar sebenarnya ingin baikan, makanya dia terus kesini. Dan Perjalanan bisnis ini tuh sebenernya alasan aja. Pasti mereka bakal menikmati romantisnya perjalanan bisnis mereka, " cerocos Nayla tidak menyadari ekspresi wajah Alex yang langsung bercampur antara sedih dan marah.
Alex segera menuju toilet, air matanya tidak bisa di bendung lagi mendengarkan kenyataan yang baru dia tahu. Kejadian kemarin terngiang lagi di kepalanya. Bagaimana mungkin baru kemarin Chris menyatakan perasaannya dan sekarang dia sudah bersama wanita lain. Apa ini karena dia menolak permintaan Chris jadi dia sekarang lebih memilih bersama Bu Madeline. Pastinya Chris akan mendapat apa yang diinginkannya, mereka dulu pernah pacaran, dan mereka tampak masih dekat. Ada rasa sesak yang tak tertahankan terasa di dada Alex hingga dia harus bernapas dengan mulutnya terbuka agak lebar. Air mata terus mengucur walau dia terus menghapusnya. Dia harus mengontrol emosinya. Bagaimana dia bisa bekerja bila air matanya terus mengalir.
"Lex kamu udah selesai? Aku ke resto duluan ya, " ucap Gabby dari balik pintu. Tak ada yang mengira kalau di dalam Alex sedang menangis.
Hari itu Alex benar-benar merasa waktu berjalan dengan lambat. Dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannnya dan sesekali harus berlari ke toilet karena matanya kembali terasa panas dan berkata-kaca. Rekan-rekan kerjanya merasa khawatir karena tidak biasanya Alex bersikap seperti itu, tapi tak ada satu orang pun yang mendapatkan jawaban pasti ketika mereka bertanya. Alex hanya menjawab dia sedang tidak enak badan, atau tidak apa-apa,tapi tentu saja semua tahu kalau itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.
*****
__ADS_1
Seusai kerja tanpa sadar kakinya membawanya ke toko ice cream yang selalu dia datangi saat sedih. Dia sebenarnya tidak ingin kesana, tapi pikirannya sedang kacau dan tanpa terasa dia sudah berada di sana. Ketika dia hendak berbalik pulang di lihat ya Ryan sedang melambai ke arahnya dari dalam toko. Mau tidak mau Alex terpaksa masuk untuk menyapa.
"Wah lihat siapa yang datang, sudah lama sekali sejak kita makan malam kemarin. Kupikir apa aku buat salah sampai-sampai kau tidak menghubungi ku sama sekali. Bagaimana kabarmu?" cerocos Ryan senang.
Alex tidak bisa menjawab pertanyaannya Ryan karena dia bisa merasakan matanya sudah mulai panas lagi dan sedikit saja dia membuka mulutnya pasti dia tak akan bisa menahan tangisnya.
Ryan yang sepertinya tahu situasi yang sedang terjadi segera mengajak Alex masuk ke sebuah ruang kerja kecil tempat dimana biasanya laporan keuangan di periksa.
"Duduklah, tidak ada yang akan masuk kemari jadi kau bisa menangis di sini, " sebenarnya masih ada yang ingin di ucapkan Ryan, tapi melihat gadis di depannya sudah mengucurkan air mata dan sesenggukan dia memilih untuk diam. Di serahkannya sekotak tissue untuk menyeka air mata Alex, dan segelas air untuk sedikit menenangkannya. Kemudian dia hanya duduk di sana membelai lembut punggung Alex berharap itu juga bisa membuatnya tenang dan berhenti menangis. Setelah beberapa lama Alex tampak agak tenang, Ryan memberanikan diri bertanya, "Apa yang terjadi?"
"Aku...aku...." air mata kembali mengalir dari mata Alex meskipun tidak sederas tadi.
"Sudah tidak usah di jawab, nanti saja kalau kau siap. Tapi kalau kau punya teman atau keluarga yang bisa kau ajak bicara sebaiknya ceritakan masalahmu pada mereka, keluarkan semua unek-unekmu. Itu bisa banyak membantu, jangan di pendam sendiri. Tunggu sebentar ya, aku segera kembali. " Ryan berjalan keluar dan tak berapa lama kembali dengan dua mangkuk es krim dark chocolate kesukaan Alex.
" Daripada bersedih lebih enak makan es krim. "
Alex sedikit tersenyum menyambut es krim pemberian Ryan dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Agar Alex tidak lagi memikirkan masalahnya Ryan mencoba mencari topik pembicaraan lain dan memilih untuk kembali protes soal Alex yang tidak pernah menghubunginya sama sekali setelah makan malam mereka di restoran China,dia berpikir kalau Alex tidak mau lagi bertemu dengannya. Tapi ternyata itu hanya salah paham karena Alex sebenarnya tidak menghubungi karena memang dia tidak pernah punya kenalan pria jadi dia tidak berani menghubungi duluan. Mereka berdua tertawa akan kesalah pahaman yang terjadi dan lanjut mengobrol santai sampai jam tutup mall yang artinya toko es krim juga harus tutup.
Untungnya berkata Ryan sekarang hatinya sudah sedikit lebih tenang, meskipun tadi dia tidak curhat apa-apa.
**********
Atas saran Ryan, Alex menghubungi dua sahabatnya, Ratna dan Stefi. Alex hanya memberi tahu kedua sahabatnya kalau dia kangen ingin bertemu dan ingin ngobrol,karena kalau dia beritahu lewat telfon mereka berdua pasti akan ke rumah tak peduli jam dan hari apapun, bahkan bisa di pasti kan mereka akan ijin libur kerja agar bisa bertemu secepatnya, dan Alex tidak mau itu terjadi karena keluarganya bisa curiga dan mungkin saja sahabatnya bisa dapat masalah di tempat kerja mereka. Begitu menemukan waktu luang mereka pun bertemu di rumah Alex,dan di dalam kamar yang sudah di kunci, jaga-jaga agar tidak ada yang nyelonong masuk saat Alex menceritakan masalahnya dengan berurai air mata. Ratna dan Stefi mencak-mencak marah meluapkan emosi mereka, tapi masih ingat untuk menjaga suara mereka agar tidak terdengar keluar. Mereka yang awalnya mendukung hubungan Alex dan Chris kini malah ingin bertemu Chris untuk mencakar-cakar pria itu.
"Tapi untunglah sifat buruk cecunguk itu cepat katahuan. Kebayang kalau dia terus berpura-pura manis dan menjerumuskan gadis lugu kita ke jurang kegelapan," gerutu Stefi kesal. "Sudah jangan menangisi cecunguk itu," lanjutnya.
"Iya Lex, kamu ambil positifnya saja, apa yang di bilang Stefi benar. Dan lagi akhirnya kamu ciuman juga ciieh ciiieh. Gimana rasanya ciuman pertamamu. Aduh!!" Ratna meringis mengelus kepalanya yang di jitak Stefi.
"Ngomong apa kentut itu mulut, masih sempet bahas ciuman," tegur Stefi.
__ADS_1
Alex kembali mengingat ciuman pertamanya di kamar ini. Entah kenapa ada setitik perasaan hangat yang menyenangkan terasa di dadanya. Mungkin bagaimanapun sedih dan sakitnya dia akan perlakuan Chris, tidak dapat di pungkiri kalau dia memang memiliki perasaan cinta untuk laki-laki itu.
"Tuuuuuhhhh lihat yang di tanya lagi bengong senyum-senyum, sini kamu aku jitak balik."
Lamunan Alex buyar karena suara cempreng Ratna.
"Yah anggap aja pelajaran ya, jadi kalau aku ketemu cowok lain yang ku taksir paling nggak aku udah ada pengalaman ciuman," canda Alex menghibur diri.
"Ni anak patah hati sekali otaknya jadi miring ya. Harusnya bilang kalau ketemu cowok lagi harus lebih hati-hati, ini malah ciumannya yang di
bahas. "
" Yang aneh itu kamu Stef, biasanya di antara kita orang yang omongannya selalu ngawur itu kan kamu. Tumben sekarang bijak. Habis nelan buku filsafat ya, "gurau Ratna yang langsung diiringi tawa kedua sahabatnya.
" Kamu bilang perjalanan bisnis nya seminggu kan, berarti besok mereka balik dong. Kamu udah siapkan hatimu kan Lex?" tanya Stefi khawatir. Sahabatnya ini dulu sering jadi bahan bully di sekolah dan dia kuat menghadapinya, tapi urusan cinta itu lain lagi ceritanya. Dia tidak mau kalau Alex bersedih terlalu dalam.
" Ingat Lex kamu nggak boleh nunjukin ke si cecunguk itu kalau kamu ngerasa sedih apalagi patah hati. Di depan dia kamu harus pendam perasaanmu itu, tunjukin kalau kamu biasa aja dan bahagia, " nasehat Ratna di dengar baik-baik oleh Alex.
"Benar itu, kamu bisa nangis sesenggukan jerit-jerit di depan kita, tapi kalau di depan cecunguk itu kamu harus pakai topeng wajah bahagia. Ngerti?" tanya Stefi yang di balas dengan anggukan meyakinkan dari Alex.
"Okelah,, berhubung besok ada kemungkinan kamu harus akting bahagia, ayo sekarang kita senang-senang. Lumayan besok kamu jadi ada hal-hal menyenangkan yang bisa diingat." Stefi mencetuskan sebuah ide.
"Boleh tuh, aku boleh ajak temen satu lagi ya?" Alex meminta ijin. Dia ingin mengajak Ryan sebagai ucapan terima kasih karena dia juga membantu Alex menenangkan diri. Selalu menceritakan hal-hal lucu yang membuatnya tertawa dan menemaninya ngobrol di telfon sampai larut malam sehingga Alex tidak terlalu bersedih. Dan Ryan tidak protes meskipun sampai saat ini dia tidak tahu masalah apa yang tengah di hadapi ex. "Namanya Ryan, dia temenku, anak yang punya toko es krim langgananku itu lho." jelas Alex.
"Lex ini urusan patah hati yang ini belum kelar kamu sudah mau berpaling ke urusan hati yang Baru."
"Bukan begitu Stef, dia cuman temen beneran sumpah."
"Hmmmm kayak dejavu ya. Waktu sama si Chris kampret itu pertama kamu kenalin ke kita juga cuma temen, " sindir Ratna. "Nggak,, pokoknya ini ladies only, " lanjutnya.
__ADS_1
Dan mereka pun menghabiskan waktu bersenang - senang dengan cara sederhana,, shopping-shopping ga jelas, belanja baju cantik, nyemilin contoh makanan di mall,pura-pura cari barang yang sebenarnya nggak hilang sama sekali, dan banyak hal nggak penting dan nggak jelas lainnya.
Semoga aku bisa menghadapi hari peperangan besok. Harus bisa dan pasti bisa, aku nggak boleh kelihatan lemah karena itu artinya aku kalah. Batin Alex dalam hati.