Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Sakit...


__ADS_3

"Chris aku mohon jangan pergi, kenapa kau tega sekali. Setelah aku berikan milikku yang paling berharga." Alex bersimpuh memegang kaki Chris yang acuh dan memaksa melangkahkan kakinya. Alex yang berusaha menahannya ikut terseret.


"Lepaskan aku, kau ternyata tidak bisa membuatku puas. Hubungan ini tidak bisa di lanjutkan. Sia-sia aku menahan diri selama ini." Chris menghentakkan kakinya sementara tangannya mendorong Alex hingga dia terjungkal ke belakang.


Alex terbangun dari tidurnya terisak, sudut kedua matanya basah oleh air mata. Ini pertama kalinya dia bermimpi hingga menangis. Mimpi tadi benar-benar terasa nyata, dadanya benar-benar terasa sesak. Di raihnya segelas air di meja samping tempat tidur yang selalu dia siapkan sebelum tidur. Setelah nafasnya kembali normal dia kemudian mengambil ponselnya. Ada satu pesan dari Chris 3 jam lalu.


Kepada Alex : Aku sudah sampai, ada sedikit kendala dengan signal di sini karena badai salju jadi baru sekarang aku bisa memberi kabar. Jangan berpikir yang aneh-aneh sayang ku. Aku akan menghubungimu nanti.


Perasaan khawatir yang menderanya sebelum tidur sekarang sudah hilang setelah membaca pesan dari Chris. Kali ini dia kembali tidur dengan perasaan tenang dan lupa akan mimpi buruknya tadi.


Meskipun perbedaan waktu cukup jauh, akan tetapi Chris dan Alex selalu menjaga komunikasi dengan baik. Mereka selalu menyempatkan diri untuk melakukan panggilan video setiap hari walaupun kadang hanya lima menit saja. Namun tetap saja Alex merasa kesal karena perjalanan bisnis yang awalnya hanya untuk tiga hari diperpanjang lagi kemungkinan menjadi seminggu karena klien nya agak sedikit susah di atasi.


"Kemungkinan jadi seminggu, itu baru kemungkinan berarti akan bisa lebih lama dari itu kan," protes Alex saat melakukan panggilan video dengan Chris.


"Sudah sebesar itu ya rindumu padaku. Apa itu artinya aku akan mendapat kejutan saat kembali nanti," goda Chris.


"Iya akan kucubit sekujur tubuhmu sampai memar karena membuat ku menunggu lama," sahut Alex mengancam.


"Jangan marah sayang ku, aku janji begitu masalah di sini selesai aku akan langsung pulang."


"Jangan-jangan kau hanya membuat alasan agar bisa bersama Bu Madeline lebih lama," sindir Alex dengan tampang cemberut. Pipinya yang mengembung membuatnya terlihat menggemaskan.


"Hahahahha, aku hanya bertemu dengannya sekali, setelah itu aku sibuk pertemuan dengan klien. Sudah.. Sudah, bukannya hari ini kamu ada acara keluarga. Aku juga ada pekerjaan yang harus di urus. Akan kuhubungi lagi nanti."


"Ya sudah, jangan coba-coba menggoda wanita lain ya," Alex memonyong kan bibirnya memberi ciuman jarak jauh pada Chris lalu keluar kamar.


Hari ini akan ada tamu special datang makan malam ke rumahnya. Sesuai janji, Kak Andre akhirnya akan memperkenalkan kekasihnya malam ini. Tidak ada acara special yang di persiapkan, hanya makan malam keluarga seperti biasanya. Orang tuanya bilang tidak usah memberi pemanis untuk menyambut calon mantu, dia harus tahu keadaan keluarga ini yang sebenarnya.


Novita Kusuma Jaya itulah nama yang di perkenalkan oleh Andre pada keluarganya. Namanya tidak asing di telinga karena orang tuanya adalah pengusaha tekstil yang lumayan di kenal bahkan sampai ke kota-kota tetangga. Sebenarnya hanya dengan mengetahui siapa orang tuanya, semua pertanyaan lainnya mengenai latar belakangnya terjawab sudah. Kehidupan mereka tidak pernah lepas dari berita Koran dan televisi lokal setempat. Orang-orang di kota pun selalu membicarakan mereka. Novita adalah anak bungsu dan kedua kakak laki-laki nya sudah lebih dulu berumah tangga. Pesta pernikahan mereka di adakan secara besar-besaran hingga di tayangkan di TV. Mereka mengundang semua kalangan Rakyat bawah dan juga panti asuhan dan panti jompo. Memang keluarga mereka di segani karena mereka sangat dermawan.


Makan malam perkenalan berlangsung baik. Novita anak yang supel dan ramah. Dengan mudah dia bergaul dengan orang tua Andre dan juga adiknya, Alex. Meskipun anak dari keluarga terpandang tidak sedikit pun dia menyombongkan harta keluarganya. Dia lebih banyak bercerita tentang hubungannya dengan Andre yang ternyata sudah terjalin selama 3 bulan. Dari awal pertemuan mereka, ketika Andre menjadi sukarelawan untuk membersihkan pantai dan masuk dalam grup yang sama dengan Novita, dan tepat esok harinya mereka bertemu lagi karena tugas kantor Andre yang harus mendata dan menyampaikan bantuan pemerintah pada panti jompo di kotanya dan saat itu Novita sedang membantu ayahnya yang kebetulan membawa sumbangan sembako untuk panti jompo. Dari sanalah mereka saling mengenal lebih jauh,dan kemudian memulai hubungan yang serius.


"Apa kamu benar-benar yakin dengan pilihanmu Andre? Kamu sudah tahu kan siapa keluarganya," tanya Ibu saat membereskan meja makan di bantu Alex.


"Novi bukan anak manja yang hanya bergantung pada harta orang tuanya Bu. Andre sudah bertemu dengan orang tuanya, mereka sudah memberi restu dan tidak mempermasalahkan status keluarga kita yang adalah orang biasa saja. Kebetulan aku sering mengajukan diri sebagai perwakilan kantor setiap ada kegiatan amal, jadi aku cukup sering bertemu Pak Jaya, dan dari sanalah aku mendapat restu. Beliau senang karena aku juga peduli dengan mereka yang membutuhkan," jelas Andre panjang lebar.


Karena kedua belah pihak sudah saling memperkenalkan diri ke keluarga, maka hal selanjutnya yang perlu di lakukan adalah pertemuan keluarga kedua pihak untuk menentukan bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Apakah langsung ke jenjang pernikahan atau masih menunggu kesiapan dua sejoli yang menjalani hubungan.


Dan setelah melihat jadwal kesibukan pihak keluarga masing-masing, akhirnya di tetapkanlah hari pertemuan keluarga lima hari lagi tepatnya hari Minggu.


******


"Lex kamu udah dapat ijin libur buat besok?" tanya Ibu Yulia saat putrinya Alex menikmati sarapan.


"Udah Bu, beres," sahut Alex mengacungkan jempol dengan senyum manis. Besok adalah hari pertemuan keluarga antara keluarganya dan keluarga Kak Novi, pacar kakaknya.


Alex mengambil jatah cutinya besok dan di lanjutkan dengan hari liburnya yang memang jatuh pada hari Senin dan Selasa, jadi total hari libur Alex menjadi tiga hari.


Sebenarnya bukan itu saja yang menjadi penyebab senang hatinya hari ini. Kemarin malam Chris memberi tahukan kalau besok dia akan terbang pulang karena urusan bisnisnya sudah selesai. Akhirnya setelah delapan hari penantianya berakhir.


Hari itu Alex bekerja lebih semangat dari biasanya. Biarpun Black Grill sangat sibuk sekali hari itu, Alex tidak tampak lelah sama sekali. Bahkan dia masih sempat pergi jalan-jalan dengan Ratna dan Stefi sepulang kerja.


"Yaaaahhh sekarang kita udah nggak bisa lagi menikmati ketampanan Kak Andre," desah Ratna.


"Iya sekarang Kak Andre sudah bukan milik kita lagi," ucap Stefi menimpali.


"Heh!! Sejak kapan kakak ku jadi milik kalian," protes Alex bercanda.


"Yah gimana ya, dari awal kita temenan sama kamu kan karena pengen deket Kak Andre," celetuk Stefi yang langsung menerima jitakan dari Alex.


Sorenya sekembali dari jalan-jalan Alex langsung mandi dan bersiap untuk tidur. Dia ingin tidur lebih awal karena dia ingin membangunkan Chris di sana agar tidak terlambat sampai di Bandara. Setelah menghitung perbedaan waktu antara tempatnya dan tempat Chris, Alex kemudian menyetel alarm di ponselnya lalu pergi tidur.


Pukul 01.30 dini hari.


Alunan musim rock terdengar dari ponsel Alex memenuhi kamar tidurnya. Dirinya sengaja memakai nya sebagai alarm karena dia tidak begitu suka musik rock sehingga hal itu selalu berhasil membuatnya bangun dengan cepat. Segera dia menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, dan kemudian menepuk-nepukkan kapas berisikan toner agar wajahnya terlihat segar. Setelah memastikan wajahnya terlihat segar, Alex kembali ke tempat tidur menyelimuti dirinya dengan selimut seolah dia baru bangun dari tidur. Di raihnya ponselnya di meja samping dan kemudian menghubungi Chris.

__ADS_1


Sementara itu di belahan dunia lain, tepatnya negara NY, jam meja digital yang terletak di meja kecil sebelah tempat tidur menunjukkan pukul 09.00 pagi. Suara dering dan getar ponsel yang berada tak jauh dari jam digital itu berdering memaksa pria yang tengah tertidur pulas menggapai asal ke arah suara yang mengusik tidurnya.


"Ada apa sayang?" tanya nya setelah berhasil memaksa matanya terbuka menerima panggilan video yang ternyata dari kekasihnya.


"Chriiiiiiisssss ternyata firasatku tidak salah, bagaimana mungkin kamu masih tidur, sejam lagi pesawatmu berangkat!" omel Alex dari seberang benua.


"Alex sayang masih ada waktu dua jam. Aku masih punya banyak waktu," sahut Chris sambil menguap setelah dia mengecek waktu setempat.


"Tapi bukannya kamu harus check in terlebih dahulu."


"Alex ku, aku naik jet pribadi. Aku tidak harus mengantri seperti orang-orang yang naik pesawat biasa," jelas Chris dengan suara serak.


"Maaf aku tidak tahu, aku kan belum pernah naik jet pribadi." Alex memberi alasan. "Tapi jangan tidur lagi ya, ayo mengobrol. Nanti saja lanjut tidurnya dalam pesawat," pinta Alex. Dia senang sekali melihat kekasihnya berbaring di tempat tidur serba putih, memperlihatkan dada bidangnya. Dia tampak sangat seksi dan tampan.


Sebenarnya kepala Chris masih terasa berat akibat terlalu banyak minum semalam, tapi dia tidak bisa menolak permintaan Alex.


"Baiklah, Tuan Putri ingin mengobrol apa?"


Senang mendengar jawaban Chris, Alex pun memborbardirnya dengan sederet pertanyaan, "Kenapa kamu tidur tidak pakai baju? Di sana sedang turun salju kan? Apa di bawah kamu memakai sesuatu?"


Chris mengusap wajahnya dengan tangannya yang tidak memegang ponsel, lalu menjambak pelan rambutnya untuk mengurangi sakit kepalanya. Dia sendiri tidak sadar kalau dia tidak memakai pakaian,dan kamar hotelnya memiliki penghangat ruangan sehingga dirinya tidak merasa kedinginan sama sekali.


"Di sini ada pengha..." belum selesai menjelaskan pada Alex, Chris merasakan ada sesuatu yang lembut bergerak di bawah selimutnya.


"Kau bicara dengan siapa? bukankah ini masih terlalu pagi untuk mengobrol."


Rasa kantuk dan sakit kepala Chris lenyap seketika melihat sosok tanpa sehelai benang yang muncul dari balik selimutnya. Dengan cepat di liriknya layar ponselnya.


Sudah terlambat, dia tidak bisa mengarahkan ponselnya ke tempat lain agar Alex tidak melihat situasi yang bahkan membuat dirinya sendiri kaget. Yang dia lihat adalah Alex menatapnya dengan tatapan marah, sedih, bingung, dan sedetik kemudian panggilan terputus.


Chris mencoba menghubungi Alex namun nomornya mati dan tak dapat di hubungi.


Dia kemudian beralih pada sosok wanita tanpa busana di depannya yang kembali tertidur.


"Kenapa kau bisa ada di sini Charlotte?" tanya Chris gusar, dia tidak peduli kalau lawan bicaranya adalah wanita, di tambah lagi sedang tidur.


Chris mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi. Dia kemudian bangkit menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dari shower. Dia perlu mendinginkan kepalanya dan menenangkan diri agar bisa mengingatkan apa yang terjadi. Setelah merasa agak segar dia memakai jubah mandinya lalu membuat secangkir kopi dan duduk di sofa yang menghadap ke balkon.


Sedikit demi sedikit ingatannya kembali. Kemarin akhirnya kesepakatan besar terjalin antara dia dan kliennya yaitu Charlotte. Untuk merayakan terjalinnya hubungan bisnis ini Charlotte mengadakan jamuan perayaan. Chris memang bukan orang yang kuat terhadap minuman alkohol, tapi jika dia hanya meminum saju jenis minuman berturut turut dia selalu bisa menguasai diri untuk tidak membuat masalah.


Sayangnya semalam Charlotte berhasil meyakinkannya untuk mencoba beberapa minuman yang berbeda termasuk cocktail yang kandungan alkoholnya cukup tinggi. Dirinya hanya berpikir karena ukuran gelasnya kecil jadi itu tidak akan berpengaruh apa-apa, dan sekarang dia benar-benar menyesalinya.


Kejadian panas semalam kembali muncul samar-samar di dalam kepalanya, dan dia juga teringat jika saat dia melakukannya dengan Charlotte bibirnya menyebut 'gadis kecilku'. Panggilan yang hanya dia tujukan untuk Alex.


Di lihatnya Charlotte yang terbaring nyenyak di tempat tidur. Untung saja tadi dia tidak langsung mengusirnya. Bagaimanapun dirinya lah yang membawa Charlotte kemari meskipun saat itu otaknya tidak bekerja dengan benar akibat pengaruh alkohol. Tidak adil jika tiba-tiba dia di usir setelah apa yang dirinya lakukan pada wanita itu.


Kembali Chris memikirkan Alex. Pastilah saat ini gadis kecilnya sangat membenci dirinya. Tapi yang lebih membuatnya khawatir adalah betapa sakitnya perasaan Alex melihat apa yang dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Chris mengutuk dirinya karena gadis yang paling ingin dia bahagiakan malah terluka karena ulahnya.


Satu jam berlalu, Charlotte akhirnya terbangun dari tidurnya. Di lihatnya Chris duduk di sofa menatap kosong ke arah balkon.


"Apa kita membuat masalah? Apa mungkin orang yang bicara denganmu tadi adalah kekasihmu?" tebak Charlotte.


"Ini semua salahku," ucap Chris datar masih menatap kosong ke luar lewat balkon.


"Aku tidak bermaksud merusak hubungan kalian. Aku tidak tahu jika kau memiliki kekasih," ucap Charlotte merasa bersalah. Dirinya memang mendengar kalau Chris suka gonta-ganti wanita dan tidak pernah memiliki kekasih serius. Itulah sebabnya dia tidak menolak ajakan Chris semalam. Siapa wanita yang tidak tergoda dengan sosok Chris yang tampan, seksi, dan berkharisma.


"Jika kau perlu bantuan ku, aku bisa menjelaskan pada kekasihmu jika ini semua kesalahanku." ucap Charlotte yang kemudian bangkit dan memakai pakaiannya yang berserakan di lantai.


Mendengar ucapan Charlotte membuat Chris merasa bersalah dua kali lipat. Dia tidak hanya berlaku buruk pada satu wanita, melainkan dua. Dengan lirih dia berkata,"Terima kasih, tapi ini murni kesalahanku. Aku harus bertanggung jawab sendiri. Maaf atas perlakuan ku padamu. Jika kau ingin membatalkan kerja sama kita aku tidak akan menuntut apa-apa."


"Hey ayolah, ini adalah kerja sama yang menguntungkan kedua pihak, kenapa aku harus membatalkannya. Aku ini orang yang professional. Ini adalah urusan pribadi, tidak ada hubungannya dengan kontrak kerja kita," Charlotte menghampiri Chris setelah dia selesai berpakaian dan merapikan penampilannya." Tidak usah sungkan, bila aku harus menjadi kambing hitam agar hubungan kalian kembali baik, akan kulakukan itu. Aku sudah terbiasa di benci banyak orang yang iri dengan keberhasilanku. Tak ada masalah jika bertambah satu."


Chris berdiri memeluk Charlotte dengan formal karena Charlotte akan kembali ke tempatnya." Terima kasih atas pengertianmu, mungkin jika itu adalah satu-satunya cara yang tersisa aku akan bersimpuh di depanmu sebagai ucapan terima kasihku," ucap Chris.


*********

__ADS_1


Tubuh Alex tidak berhenti bergetar, nafasnya sesak karena tangis yang tak mau berhenti. Kebahagiaannya sirna dalam sekejap. Ingin rasanya dirinya menolak apa yang di lihatnya tadi. Apakah salah jika dirinya langsung berpikiran buruk tanpa mendengar penjelasan dari Chris.


Memangnya penjelasan apa lagi yang perlu di dengarnya setelah melihat kekasihnya berada di tempat tidur bersama seorang wanita dan mereka telanjang. Apa akan ada sebuah penjelasan yang akan membuat hubungan mereka tetap sebagai sepasang kekasih .


Alex membenamkan wajahnya ke dalam bantal agar suara isak tangisnya teredam.


Kenapa kisah cinta pertamanya harus semenyakitkan ini. Kini tangisnya berubah menjadi sesenggukan keras karena dadanya sungguh sesak dan membuatnya sulit bernafas. Di pukul-pukulnya dadanya sendiri seolah itu bisa mengeluarkan sakit di dadanya.


"Alex kamu kenapa Nak?" Ibunya membuka pintu kamar Alex dan kaget melihat keadaan putri satu-satunya. Dia awalnya pergi ke dapur untuk mengambil segelas air, namun saat melintas depan kamar Alex, sayup-sayup di dengarnya suara sesenggukan tangis.


"Sa - sakit Bu, sakit se-kali,, kenapa cinta itu se-me-nyakit-kan i-ni." ucap Alex terbata-bata.


Mendengar ucapan anaknya Ibu Yulia pun bisa menebak hal apa yang menimpa putrinya. Dengan lembut di peluk dan di belainya kepala Alex dan berkata, "Sayang, terkadang rasa sakit itu perlu, agar kita bisa belajar dan meraih kebahagiaan yang jauh melebihi rasa sakit yang pernah kamu rasakan."


"Tapi Bu, Alex nggak tahu apa Alex bisa."


"Hush, jangan ngomong sembarangan. Kamu tahu berapa kali ibu di sakiti pria, sampai akhirnya Ibu bertemu ayahmu. Lihat sekarang, ibu sangat bahagia dengan keluarga Ibu," ucap ibu menyenangkan hati Alex.


"Menangislah sepuasnya, setelah itu bangkitlah. Yang pertama memang terasa sakit sekali. Ingat kata ibu, jangan kapok. Carilah Kebahagiaanmu, dan ingat kamu masih punya Ayah, Ibu dan Kak Andre. Kami akan selalu ada buat kamu."


"Makasi Bu." Peluk Alex erat.


Hampir satu jam Ibu menemani Alex sambil mengobrol hal-hal yang lucu atau yang dapat menenangkannya. Alex kemudian menyuruh ibunya kembali tidur setelah tangisnya terhenti dan dia bisa menguasai diri.


Meskipun Alex tidak bisa kembali tidur, tapi di pejamkannya matanya. Seperti yang ibunya sarankan dia mulai membuat daftar tentang hal baik apa saja yang sudah terjadi selama bersama Chris, meskipun pada akhirnya dia kehilangan nya. Sekecil apapun hal itu harus masuk dalam daftar, itu bisa sedikit membantu mengurangi rasa sakit kehilangan. Begitulah ucap Ibunya tadi.


"Aku punya banyak barang-barang mahal," gumam Alex pada dirinya sendiri, memulai membuat daftar hal baik. "Aku mengunjungi berbagai tempat Indah dan mewah. Aku pernah naik mobil mahal. Aku pernah merasakan Gaya hidup orang kaya."


Alex membuka matanya dan berkata, "Di atas segalanya, aku tidak menyerahkan sesuatu yang paling berharga bagiku untuk kemudian mendapat penghianatan seperti ini." Senyum puas sedikit tersungging dari sudut bibirnya.


Kalau di pikir kembali kehilangan Chris bukanlah sesuatu yang merugikan, toh banyak hal yang ku dapat, dari materi dan juga pengalaman baru, dan aku tidak kehilangan bagian yang paling berharga bagi diriku. Ini baru yang pertama untukmu Alex. Jadikan pembelajaran. Batin nya dalam hati.


Meskipun keluarganya memberinya ijin untuk tidak ikut ke acara pertemuan keluarga, Alex bersikukuh ingin ikut. Dia berharap dengan berpura-pura tegar, dirinya akan menjadi benar-benar tegar.


Dari acara pertemuan keluarga telah di sepakati jika sebulan lagi akan di adakan acara pertunangan di susul dengan pernikahan sebulan setelahnya.


"Lex mau pergi jalan-jalan? Kakak yang traktir," tanya Andre. Ibunya sudah memberi tahunya dan juga Ayah mengenai masalah Alex, jadi dia ingin sedikit menghibur adik kesayangannya.


"Nggak ah, Alex mau tiduran aja," tolak Alex lalu berlalu ke kamarnya.


Suara bell pintu terdengar di sore hari saat keluarga Purnomo santai berkumpul di teras belakang. Biasanya tugas Alex sebagai anggota termuda lah yang membuka pintu. Tapi kali ini Alex meminta kakaknya untuk membuka pintu. Entah mengapa firasatnya tidak enak, karena seharusnya pesawat Chris sudah mendarat sejam yang lalu.


Benar saja, betapa marahnya Andre melihat sosok yang berada di balik pintu.


"Untuk apa kau kemari. Kau pikir karena kamu kaya kamu bisa bersikap seenaknya. Jangan karena kau lebih tua dariku aku akan takut melawan mu!" bentak Andre hingga terdengar sampai teras belakang.


Ayah yang mendengar suara tinggi Andre dari awal langsung bergegas menyusul ke depan.


" Andre cukup, jangan tidak sopan begitu pada tamu. Masuk lah biar Ayah yang bicara," perintah Ayah tegas.


"Terima kasih Pak, saya kemari ingin bertemu Alex, ada hal yang harus saya jelas kan," ucap Chris sopan. Dia langsung kemari dari Bandara.


"Maaf Nak Chris, tapi Alex berpesan pada bapak kalau dia tidak ingin bertemu dengan Nak Chris," jelas bapak tenang. "Bapak harap kamu memberi waktu untuk Alex menenangkan dirinya. Tidak ada gunanya bicara jika pikiran dan emosi kalian berdua tidak tenang," lanjutnya.


Mendengar jawaban Ayahnya Alex, Chris lalu pamit undur diri. Dia tidak tahu cara apa lagi yang harus dia gunakan agar Alex mau bertemu dengannya. Sebenarnya bisa saja dirinya datang lagi besok dan besoknya lagi, dan seterusnya sampai Alex bersedia bertemu dengannya, akan tetapi itu artinya dia tidak menghormati permintaan Ayah Alex.


*******


Setelah mengurung diri selama dua hari di kamar akhirnya Alex harus menghadapi dunia luar kembali. Meskipun perasaannya semakin membaik apalagi Ratna, Stefi, Nayla dan Bimo datang untuk memberi samangat dan menghiburnya, tetap saja kembali bekerja di tempat yang memiliki kenangan mendalam dengan Chris bukanlah perkara mudah. Dengan setengah hati dia melangkah keluar dari ruang ganti menuju restoran.


"Alex bisa ikut ke ruangan saya sebentar," panggil Pak Radit saat Alex sampai di area restoran. Semua staf yang lain menatapnya tersenyum iba padanya. Mereka seolah tahu mengapa Pak Radit memangggilnya.


"Tuan Chris sedang menunggumu di dalam Lex, " ucap Pak Radit ketika mereka sampai di depan ruang kantornya. Di tepuknya pelan bahu Alex memberi semangat, kemudian dia berlalu pergi meninggalkan Alex berdiri lemas di depan pintu.


*****Pengumuman******

__ADS_1


Terima kasih bagi yang masih setia membaca. Jangan lupa like, vote rate dan comment yaaa. Pokoknya jangan lupa jangaaaaaan lupaaaaaaa (Thor nyanyi)


__ADS_2