Memilih Cinta !?!?

Memilih Cinta !?!?
Awal Pertemuan II...


__ADS_3

Ternyata apa yang dibayangkan Alex salah, banyak juga orang-orang yang tertarik untuk mencoba tester steaknya. Memang tidak seharusnya dia menilai semua orang kaya berdasarkan orang-orang kaya menyebalkan yang dia temui sebelumnya. Tapi kalau di pikir-pikir, dulu dia hanya bekerja di restaurant hotel bintang 3 jadi pasti lah tamu sok kaya yang dia temui di sana tidak sebanding dengan tamu-tamu di sini.


"Wah enak sekali steak ini, aku memang mendengar banyak tenang Black Grill, tapi baru kali ini aku mencicipinya. Sepertinya aku ingin menikmati lebih dari sekedar tester. " Diserahkannya piring kecil kosong pada Alex dan sudah berniat masuk ke restaurant.


" Maaf Tuan, hari ini adalah hari pembukaan pertama dan hanya tamu undanganlah yang di izinkan masuk, " jelas Alex tersenyum ramah dengan sedikit nada ber-empati. Jaga-jaga kalau misalnya lawan bicaranya merasa kesal karena di tolak masuk ke restaurant.


"Begitu ya, sayang sekali. Baiklah aku datang besok kalau begitu."


"Terima kasih Tuan, semoga hari anda menyenangkan dan sampai bertemu lagi besok. Kami sangat menantikan kedatangan anda." Intonasi suaranya semakin meninggi karena yang di ajak bicara sudah jalan menjauh. Alex kemudian pasangan muda yang berjalan bersama seorang anak laki-laki imut untuk menawarkan testernya.


Dia tidak menyangka kalau dia akan menikmati tugas ini, dimana sebelumnya ini adalah hal yang sangat di bencinya.


Dulu ketika masih kuliah Alex sempat ambil kerja sambilan di toko kosmetik di mall dekat rumahnya,karena tidak ingin terlalu membebani orang tua dan kakaknya dengan biaya kuliahnya. Setiap harinya dia harus menyerahkan brosur promo dan menawarkan produk make-up pada semua orang yang lewat,dan dia merasa kurang nyaman karena cara yang di ajarkan atasannya terkesan agak memaksa orang-orang untuk mengunjungi toko mereka.Mungkin itu yang menyebabkan dia tadinya tidak iklas menjalankan tugas ini.


"Adik apa mau mencoba juga?" Alex setengah berjongkok agar si bocah kecil bisa melihat isi nampan yang di bawanya,namun yang di tawari malah beringsut panik memeluk kaki ayahnya.


"Dia tidak bisa makan daging dengan potongan seukuran ini karena dia dulu pernah tersedak dan harus dilarikan ke rumah sakit,dan sampai sekarang membuatnya trauma," jelas sang ibu mengusap punggung anaknya.


Menyadari apa yang dia lakukan telah membangkitkan trauma seorang anak kecil Alex dengan cepat berdiri dan sedikit mundur agar anak itu tidak lagi melihat potongan steak di tangannya.


' BRUUUKKK!!!.'


Padahal hanya sedikiiiiiit saja punggungnya bertabrakan dengan entah siapa, sekarang nampan beserta isinya berserakan di bawah. Pasti karena terburu-buru menjauh dari si bocah keseimbangannya sedikit oleng, jadi sedikit benturan saja berakibat sefatal ini.


" Maaf Tuan saya tidak sengaja, saya benar-benar tidak sengaja." Segera dia membalikkan badan untuk memastikan tidak terjadi apa-apa pada orang yang di tabraknya. Saat ini di depannya berdiri seorang lelaki mapan, tampan, tinggi yang sedang memandangi daging-daging steak yang berserakan di bawah. Yah aku bilang mapan karena dia tampak jauh lebih tua dariku, tapi terlalu muda juga jika aku bandingkan dia dengan ayahku. Wajah yang tampan dan berwibawa, bahu yang lebar, badan tinggi. Dia bahkan terlihat begitu memikat walaupun hanya berdiri memandang ke bawah tanpa ekspresi. Tersadar dari lamunannya Alex kembali memastikan bahwa laki-laki yang ada di depannya tidak terluka atau ternoda makanan yang dia jatuhkan.

__ADS_1


"Apakah saya bisa mengambilkan segelas air untuk anda Tuan?. Maaf, saya pasti telah mengagetkan anda."


"Aku kesini ingin mencoba testernya, sayang sekali semua jatuh. Ah, mungkin ini artinya aku harus masuk dan menikmati seporsi steak kesukaanku." Dia sama sekali tidak menjawab ucapan Alex.


"Maaf Tuan hari ini adalah hari khusus untuk tamu undangan saja, saya harap anda berkenan datang kembali lain waktu," Entah sudah berapa kali Alex mengulangi kata-kata ini pada orang-orang yang telah mencoba tester.


"Tapi bukankah kau harus bertanggung jawab karena telah menabrakku?."


Apa!?!??. Ya aku memang menabrak anda, tapi kan hanya sedikit, bergeserpun tidak dari tempat dia berdiri, yang seharusnya mendapat pertanggung jawaban itu aku. Jelas-jelas nampanku yang jatuh, dan lihat lah dirimu, sedikit pun tak ada bekas noda di dirimu sedangkan aku bisa merasakan lengketnya cipratan saus steak di kakiku. Sekarang malah menuntut pertanggung jawaban. Tanggung jawab apa?. Kau mau kunikahi. Batin Alex kesal. Sayangnya dia tidak bisa mengijinkan unek-uneknya terlontar melalui mulutnya. Mana lagi keluarga tadi, tidak bisa apa sedikit membantu menjelaskan kalau tadi aku sedang menghindari kebangkitan trauma anak mereka.


"Maaf Tuan ini di luar wewenang saya, tetapi saya akan menanyakan kepada atasan saya." sudah berapa kali aku mengucapkan kata maaf. "Mungkin jika ada meja kosong anda bisa diijinkan masuk Tuan."


" Aku bisa menikmati steak ku di Bar sekalipun, tidak masalah."


" Maaf Tuan, kami bisa menghidangkan minuman yang anda pesan dari Bar di meja makan anda tapi tidak sebaliknya Tuan, kami tidak bisa menghidangkan makanan utama di Bar." Lagi-lagi aku harus mengucapkan kata maaf batin Alex kesal.


"Kenapa banyak sekali peraturanmu yang tidak menguntungkanku?.


" Saya benar-benar minta maaf Tuan , peraturan tersebut di tetapkan demi kenyamanan pengunjung Tuan. Saya mohon maaf jikalau itu kurang berkenan untuk anda. " jawab Alex sabar dan tetap menjaga kesopanan. "Jika berkenan saya bisa menanyakan permintaan Tuan pada manager saya."


"Tidak usah biar aku tanya sendiri saja, kau bersihkan saja apa yang berserakan, tidak enak dilihat kan." ucapnya sambil berlalu pergi menuju pintu masuk.


"Baik Tuan, terima kasih." Alex melambai kecil ke punggung laki-laki yang sudah berhasil membuat nya bad mood.


Aah bagaimana kalau dia mengadu yang tidak-tidak pada Bu Madeline agar dia bisa di terima tanpa undangan. Matilah aku. Kenapa juga tadi aku berterima kasih padanya coba.

__ADS_1


Kekhawatiran menyelimuti pikiran Alex sepanjang dia membersihkan semua isi nampan yang berserakan kemana-mana. Berharap harap cemas dan memasang telinganya dengan seksama jika nanti namanya akan di panggil.


Sampai dia selesai membersihkan kekacauan di depan restaurant dia tidak melihat laki-laki tadi keluar, apa itu artinya dia di terima sebagai tamu. Sekarang yang jadi masalah adalah apakah laki-laki tadi membuat masalah untuknya di depan Bu Madeline.


Alex berjalan sepelan mungkin berdiri di ujung koridor memicingkan matanya memandang sekeliling mencari sosok laki-laki yang dia tabrak tadi. Tampak dia sedang asik mengobrol di Bar bersama atasannya,,sesekali mereka tersenyum dan tertawa kecil. Bagaimana ini?. Apakah itu berarti posisinya sebagai staff di sini aman, atau memang masalahku belum akan kelar sampai laki-laki itu pergi dari tempat ini.


Alex memutuskan untuk menunggu di pantry yang sekaligus digunakan untuk staff istirahat, biarpun jam kerjanya sudah selesai.


"Lho Alex kenapa masih di sini, bukannya sudah selesai dari tadi?" tanya Bu Madeline kaget mendapati satu anak buahnya yang seharusnya sudah pulang sejam yang lalu.


"Eh Iya Bu, ini saya mau pulang, tadi mau istirahat bentar, dari pada tepar di tengah jalan eh malah keasikan hehehe." alasan Alex.


"Ya sudah jangan kemalaman juga, mending istirahatnya di rumah. Terima kasih untuk hari ini ya." Madeline keluar pantry dengan membawa segelas jus jeruk.


Wah maaf ya Tuan siapapun namamu, aku sudah salah sangka terhadapmu. Terima kasih sudah menjaga nama baikku. Alex tersenyum senang meninju udara, lalu berlari ke locker wanita untuk mengambil barang-barangnya dan pulang.


Di dalam kereta kembali dia teringat kejadian yang menimpanya tadi. Bayangan laki-laki itu terlintas sekali lagi. Kenapa juga dia tadi mengucapkan kata-kata yang membuatnya panik dan ketakutan kalau pada akhirnya dia tidak mengadu pada Bu Madeline. Apa mungkin karena dia terpesona pada kecantikan atasannya ya?, makanya dia mengurungkan niatnya membuat masalah mengatasnamakan aku tadi. Terka Alex asal.


tanpa undangan. Aaah palingan kasusnya sama, dia terpesona akan ketampanan dan aura kejantanan pria tadi. Alex sudah mulai sok menjadi detektif.


Tapi siapa yang akan menyangka kalau pertemuan tadi barulah awal dari pasang surut pengalaman hidup baru yang belum pernah dialami Alex seumur hidupnya. Mungkinkah setelah 23 tahun akhirnya Alex merasakan debaran perasaan aneh kepada pria.


***Pengumuman****


Buat yang mampir dan baca novel pertama ku, makasi banyak ya, sudi kiranya kasi like, rate dan vote,, dan yang paling penting dari semua itu adalah comment saran dan kritik, agar Thor bisa tambah ilmu dan kalian bacanya happy 😊

__ADS_1


__ADS_2