
Semua mata memandang ke arah Alex dan Naila yang baru saja tiba di ballroom hotel Queen, tempat pesta staff Black Grill di adakan.
"Tuh kubilang juga apa, pasti semua terpukau lihat kamu, " ucap Naila pelan sehingga hanya Alex yang mendengarnya.
"Sembarangan, mereka terpana melihatmu, ngapain pakai gaun desainer terkenal coba, " sahut Alex.
Sebenarnya apa yang di katakan Nayla benar. Semua terkejut melihat penampilan Alex, karena selama ini Alex yang mereka tahu adalah Alex yang selalu hanya memakai Kaos bergambar animasi dan celana panjang entah itu jeans atau bahan lainnya, plus sepatu kets dan tas ransel.
Sedangkan Naila sendiri hampir setiap hari pakai dress kasual atau semi-formal, jadi tidak ada yang begitu mengejutkan.
Alex tampak anggun dengan gaun hitam halter neck sepanjang lutut yang bagian belakangnya memperlihatkan keindahan punggungnya, dipadankan dengan heels merah. Rambutnya yang di gelung tinggi dan sengaja di buat tampak sedikit berantakan. Keseluruhan penampilannya membuatnya terlihat tegas, berani, dan menggoda.
Semua rekan kerja prianya tampak menyapa atau sekedar mengannguk dari jauh, sedangkan para wanita sedang sibuk bergosip lagi secara terang-terangan.
"Apa sih sok cantik, lihat gayanya, seolah-olah dia itu pemilik perusahaan kaya seperti sinetron di TV, " ucap Gabby dengan nada tidak suka.
"Iya, maunya dia apa sih, bikin kesel aja." Lina menimpali.
"Jangan-jangan dia habis morotin uang Bos Besar makanya dia bisa tampil semewah itu."
"Morotin apa jual diri, " celetuk Gabby yang disambut tawa yang sengaja di buat terdengar keras dan mengejek.
"Tapi kenapa si Nayla malah nempel lagi ke dia. Padahal kemarin kan kita udah berhasil menarik dia ke grup kita, " tanya Jane heran
"Nggak tahu juga, mungkin dia di iming-iming sesuatu. Atau mau di kenalin sama temennya si Bos. Tahu sendiri lah dia kan dari dulu centil pecicilan, " ucap Lina si ratu nyinyir, kembali tawa yang di buat-buat terdengar.
Nayla yang bisa menebak apa dan siapa yang mereka bicarakan sudah bersiap hendak menghampiri dan melabrak mereka, sayangnya di tahan oleh Alex dan Bimo.
" Nay jangan, kamu hargain Alex dong."
"Ya ini karena aku ngehargain temenku makanya aku bakal kasi mereka pelajaran, " sahut Nayla kesal.
"Ya nggak gini juga caranya Nay, pesta ini udah di tunggu banget sama yang lain jangan di bikin gaduh. Ntar kita di usir pihak hotel lho kalau liat kalian jambak-jambakan." tangan Bimo sudah melingkar di pinggang Nayla karena dia tetap ngotot.
"Iya Nay udah biarin aja aku nggak apa-apa kok. Kita kesini kan mau senang-senang." Alex ikut meyakinkan Nayla.
"Wah wah ada apa nih, kok Tuan Putri kayanya mau ngamuk." Dion datang menghampiri.
"Pengen tutup mulut orang-orang yang isinya sampah,bisa-bisa nih satu ruangan bau busuk gara-gara mereka, " sahut Nayla yang sudah tidak lagi hendak pergi menghajar gerombolan nyinyir.
"Memang ya kamu ini Nai, Tuan Putri barbar, " kata Dion sambil menepuk lembut kepala Naila.
Bimo tampak tidak suka dengan apa yang di lakukan Dion dan berkata, "Kamu ngapain ke sini Yon?"
"Lah kan aku juga staf Black Grill, ya pasti lah ikut pesta, " canda Dion.
"Bukan itu maksudnya biji catur." Nayla mencubit lengan Dion.
"Namaku Dion bukan Pion, " canda Dion lagi yang menghasilkan satu lagi cubitan dari Nayla.
Alex sekilas menangkap ekspresi tidak suka Bimo melihat adegan barusan. Dia jadi mengira-ngira sesuatu.
"Yah habis mau kemana lagi, nggak asik kalau pesta kaya gini ngumpulnya sama cowok doang. Sementara yang cewek tuh lagi pada ngumpul di sana pada bergosip masa aku nimbrung ke sana cowok sendiri. Makanya aku kesini menemani dua Putri cantik yang tersisa, atau mungkin satu Putri soalnya mungkin yang satu sudah ada yang punya, " jelas Dion sambil melirik Nayla dengan tatapan jail dan nakal.
__ADS_1
Bimo menggamit lengan Nayla dan berkata," Nai temenin ambil minum yuk "
" Ambil minum aja di temenin, kan deket, masih keliatan juga. "
" Sekalian bantu bawain cemilan yang banyak trs kita duduk, nggak capek apa berdiri terus, mana heels nya tinggi gitu lagi."
Keduanya berlalu menuju meja prasmanan yang lengkap mengidangkan segala jenis cemilan ala hotel.
Dion mengajak Alex duduk di sofa dekat mereka berdiri sambil menunggu.
" Kamu nggak takut ntar di musuhin yang lain kalau deket aku Yon? "
" Nggaklah aku orangnya netral, nggak ambil pusing urusan orang. Lagian mereka nggak bakal musuhin aku, adanya malah bakal tambah baik biar aku lebih milih gabung ke mereka, " ucap Dion nyengir.
Jadi begitu, mereka berencana membuat semua jauhin aku. Bagus juga sih jadi temen-temennya yang masih baik nggak bakal kena sasaran kebencian kalau dekat dirinya. Batin Alex lega. Dia tidak peduli dengan dirinya sendiri. Dia hanya tidak mau teman-temannya juga jadi korban lantaran memilih untuk mengobrol atau menemaninya.
Bimo dan Nayla datang dengan piring yang berisi berbagai macam makanan.
Pintu Ballroom terbuka dan Bu Madeline tampak masuk bersama Chris. Mereka berjalan beriringan menuju podium kecil yang telah di sediakan. Bu Madeline tampak anggun menenakan gaun panjang berwarna biru indigo dengan belahan samping yang sampai ke paha membuat kakinya terlihat jenjang setiap kali belahannya tersibak ketika dia melangkah. Chris sendiri tampak gagah dan tampan seperti biasa dengan setelah jas hitam dan kemeja biru langit. Mereka tampak seperti pasangan dengan warna pakaian senada.
"Selamat malam semuanya, semoga kalian menikmati pesta perayaan yang sempat tertunda ini. Kami sudah menyiapkan semua makanan, minuman. Untuk makan malam akan di hidangkan sebentar lagi, dan setelah itu akan ada game dengan hadiah yang pasti kalian suka, " ucap Bu Madeline yang kemudian menyerahkan mic pada Chris.
" Saya tidak akan berkata banyak, pertahankan kerja keras kalian. Dan selamat menikmati pestanya. " Tepuk tangan mengakhiri pidato singkat Chris.
Begitu mereka turun dan pergi mengambil minuman para staf menghampiri mereka silih berganti, untuk sekedar menyapa menunjukkan wajah mereka, berharap mereka akan di ingat dan mungkin memiliki hubungan yang lebih dekat, untuk memantapkan posisi mereka di restoran. Tidak ada yang salah dengan itu, siapa yang tidak ingin memiliki hubungan baik dengan atasan.
"Bagaimana pestanya apa kalian suka?" Chris menghampiri sofa tempat Alex dan yang lain duduk. "Kau tampak anggun Alex, " tambahnya lagi, seketika aura di sekitar jadi terasa canggung.
"Alex ini seperti permata yang belum di asah. Dia itu berias sedikit saja sudah terpancar aura menawannya." Nayla berusaha mencairkan suasana.
Alex mencoba bersikap sesantai mungkin, sedangkan Nayla tampak bahagia dan dia cukup sering melirik ke arah gerombolan wanita nyinyir yang sekarang sudah terpancar menjadi beberapa. Bu Madeline sendiri tengah sibuk mengobrol dengan Pak Radit.
Saat makan malam di hidangkan Alex sengaja menghabiskan waktunya berkeliling meja prasmanan karena dia tidak ingin duduk semeja dengan Chris. Sedangkan Chris sendiri sudah duduk di meja yang sama dengan Nayla, kemungkinan dia berpikir kalau Alex pasti akan duduk bersama Naila. Bu Madeline kemudian ikut duduk di meja yang sama diikuti oleh Jane, Gabby dan Lina. Alhasil tidak ada lagi kursi kosong. Dengan santainya kemudian Alex duduk di meja sebelah mereka yang baru diisi oleh Dion, Patrick, dan Maria.
Alex sengaja duduk di kursi yang agak membelakangi Chris, sedangkan dari posisi kursi Chris dia bisa melihat sisi kiri Alex dengan jelas.
"Anda dan Bu Madeline tampak serasi seperti pasangan ke kasih dengan pakaian yang senada Tuan Chris, " puji Lina. Nayla terang-terangan meliriknya dengan tatapan tidak suka dan Chris menahan senyum melihatnya.
"Terima kasih atas pujianmu, tapi ini hanya ketidak sengajaan. Kami bukanlah pasangan,mungkin lebih dari setahun yang lalu Iya. Hubungan kami sekarang ini hanya sebatas pekerjaan, " sahut Chris yang di sambut wajah bingung Jane, Gabby dan Lina sendiri.
Melihat tampang bingung rekan-rekannya Nayla kemudian memberanikan diri pura-pura bertanya, "Jadi apakah itu artinya saat ini anda sedang sendiri Tuan?"
"Benar sekali karena wanita yang kusukai menolakku tanpa alasan yang jelas, " sahut Chris menambah tanda tanya di benak tiga serangkai yang selama ini gencar menyebar gosip.
Tahu rasa kalian sekarang. Pasti tadi kalian merasa menang bisa duduk di sini mengikuti junjungan kalian si nenek sihir Madeline. Batin Nayla senang tapi kesal.
"Menu hotel ini enak ya, apa kalian mencoba hidangan bebek nya. Sungguh enak sekali." Madeline berusaha mengganti topik. Chris sudah memintanya menyelesaikan kesalahpahaman yang dia buat, akan tetapi dia tidak mau melakukannya karena akan menjatuhkan namanya di depan anak buahnya.
" Wah siapa gadis bodoh yang telah menolak anda? " Nayla kembali membahas topik yang dihindari Madeline, tapi kali ini dia seolah mendapat dukungan dari rekan semejanya yang lain, karena mereka yang tadinya bingung kini tampak menatap Chris penuh rasa ingin tahu.
Nayla sudah tidak ambil pusing lagi, dan berani menjatuhkan Bu Madeline di sini. Toh beliau hanya akan jadi managernya sampai lusa saja, begitulah pikir Nayla.
" Sahabatmu Alex, " ucap Chris sambil menatap Alex. Sepertinya dia menangkap maksud dari semua ucapan Naila sehingga dia mengikuti saja alur sandiwara Naila.
__ADS_1
Jane, Gabby, dan Lina tampak saling tatap kemudian tatapan mereka beralih ke Madeline seolah meminta penjelasan.
Madeline pura-pura sibuk makan tanpa menggubris sekitarnya.
" Anda tidak tahu sih kalau di lingkungan kerja sedang beredar berita yang kurang mengenakkan untuk sahabat saya, tapi karena pada dasarnya dia itu baik bak malaikat, dia hanya memilih diam dan menunggu semua berlalu sendiri nya, " lanjut Nayla lagi. Dia sudah tidak peduli kalau Madeline atasannya sedang menatapnya tidak suka." Kalau saya ada di posisi itu, saya akan buat semua orang yang mengganggu saya dapat pelajaran, apalagi sebagai gadis yang di sukai Bos seperti anda, apa sih yang tidak anda berikan. Bukan begitu Tuan Chris, " lanjut Naila.
"Tentu saja, jika aku menyukai seseorang aku akan melakukan apapun untuk orang itu. Bukan begitu Madeline?. Kau sendiri tahu bagaimana rasanya menjadi kekasihku kan."
"Ya itu benar sekali, " ucap Madeline canggung. Ingin rasanya saat ini terjadi gempa hingga semua berlari keluar dan pembicaraan ini berhenti. Ya gempa masih jauh lebih baik daripada dipermalukan begini, pikirnya dalam hati.
Ketika acara game berlangsung Madeline pulang awal dengan alasan ada beberapa urusan. Sedangkan Tiga sekawan nyinyir langsung menghampiri Alex yang baru saja selesai bermain game dart. Mereka meminta maaf atas semua perlakuan buruk mereka. Mereka juga berjanji akan meluruskan semuanya pada yang lain. Alex hanya tersenyum mengangguk kemudian berjalan cepat ke arah Naila yang sedang asik mengobrol dengan Bimo. Dia langsung memeluk sahabatnya mengucapkan terima kasih. Tanpa mendengar cerita sebenarnya pun dia tahu kalau permintaan maaf rekan-rekannya tadi adalah berkat Naila.
"Baiklah sekarang sampai pada game terakhir dengan hadiah yang lebih menggiurkan, "ucap pengisi acara sambil membawa papan seperti kwitansi bertuliskan nominal yang lumayan besar.
" Ini game berpasangan jadi kalau pasangan kalian ada di sini atau yang baru sekedar naksir diam-diam,ayo ikut. Yang cuman temen juga boleh asal pasangan pria dan wanita ya, " jelasnya lagi.
"Nay ikut yuk, lumayan kalau menang bagi dua, " ajak Bimo
"Ayo, siapa takut, " sahut Naila antusias. Dia sih hanya ingin seru-seruan, menang kalah ga jadi soal."Eh tunggu bentar deh sini" Naila membisikkan sesuatu ke telinga Bimo yang di jawab anggukan tanda mengerti oleh Bimo.
Bimo kemudian menarik lengan Alex yang baru saja datang dari mengambil minum, untuk kemudian di ajak ke lantai dansa tempat game akan berlangsung.
Naila bergegas menghampiri Chris yang tengah duduk menonton bersama pak Radit dan beberapa rekan pria lainnya.
"Tuan Chris ayo ikut, kalau menang hadiahnya bagi dua." ajak Naila. Yang lain langsung tertawa mendengar ucapan Nayla, jelas lah uang segitu mana berarti buat Chris. Itu kan uang dari kantongnya.
Chris yang melihat Alex sudah berdiri bersama Bimo segera bangkit dan maju ke depan menggandeng Naila yang langsung melambai ke segala arah layaknya ratu menyapa rakyatnya. Semua riuh menyoraki tingkahnya.
Jane, Gabby, dan Lina benar-benar memegang ucapan mereka. Dengan cepat cerita di meja makan tadi tersebar ke semua staf dan kesalahpahaman pun berakhir. Terbukti sejak tadi mereka sudah menyapa Alex seperti biasa. Sebagian meminta maaf, sebagian lagi bersikap biasa seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sekarang lima pasang peserta sudah berdiri di atas lima lembar koran yang di sebar di lantai dansa. Jika musik di mainan mereka harus menari sendiri-sendiri di luar koran, dan jika musik berhenti mereka harus berada di atas koran entah dengan siapa pun asalkan tetap berpasangan pria dan wanita. Musik di mulai dan satu lembar koran telah disingkirkan yang artinya akan ada peserta yang tersingkir.
Ketika musik berhenti Alex tampak panic mencari dimana posisi koran terdekat, begitu hendak menginjak koran di depannya dia merasakan tubuhnya terangkat. Ketika menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang telah mengangkatnya betapa terkejutnya dia. Chris tersenyum manis menatapnya dan tangannya masih berada di pinggang Alex. Kontan semua penonton dan peserta yang lain menyoraki mereka.
Dion dan Ari tereliminasi karena tidak mendapat Koran. Raisa dan Lina juga tereliminasi karena mereka berdiri di Koran yang sama dan mereka berdua perempuan.
"Wah,,, wah tidak disangka langsung dua pasangan yang tereliminasi, " ucap pengisi acara yang kemudian memberi tanda agar musik di mulai. Babak ke dua menyisakan Alex bersama Bimo melawan Chris dan Nayla.
"Kembali ke posisi awal penonton sekalian. Siapakah pasangan yang beruntung? Musik!" pengisi acara menjentikkan jarinya pertanda musik di mulai.
Hanya satu koran tersisa di lantai dan musik berhenti. Bimo yang pertama menginjak koran. Ketika Alex hendak melompat bergabung, Bimo malah menarik tangan Nayla keras sehingga Naila lebih dulu berdiri di atas koran saat hanya kaki kiri Alex yang baru menyentuh tepi koran. Nayla sedikit oleng karena kaget di tarik, mulai hilang keseimbangan. Bimo dengan sigap menangkap Nayla melingkarkan kedua tangannya erat di pinggang Nayla sehingga tampak seperti Bimo sedang memeluk Nayla dari belakang. Alex yang melihat itu menarik kakinya dari koran dan bertepuk tangan untuk keduanya. Sedangkan yang lain kemudian bersorak kemudian menggoda mereka dengan siulan dan ucapan seperti 'pasangan baru' dan candaan lainnya.
Mendengar itu semua bukannya melepaskan pelukannya tangan Bimo malah betah bertengger dan karena Naila juga tidak menolak atau mencoba melepaskan diri alhasil sorakan dan ucapan selamat semakin menggema memenuhi ruangan.
"Maaf permisi, kalau boleh Saya mau ambil korannya itu, lupa tadi Saya belum baca halaman yang itu, " canda pengisi acara yang di sambut tawa terpingkal-pingkal oleh yang lain.
Ternyata benar perkiraan Alex, kalau Bimo memang naksir Nayla, tapi yang lebih mengejutkan adalah, sepertinya perasaan Bimo di sambut oleh Nayla.
Tangan Alex di tarik menjauh dari hiruk-pikuk perayaan dadakan jadiannya Bimo dan Nayla. Tanpa melihat orangnya Alex tahu siapa pemilik tangan besar dan hangat ini.
*******Pengumuman
Maaf update nya agak lama dan sedikit. Thor lagi sibuk. Jangan kapok nungguin ya, jangan kabur ya (Thor senyum manis sambil pegang parang)
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, comment, subscribe, dan tekan lonceng (*eh salah lapak)