
Chris tampak mengendarai mobilnya dengan perasaan gembira, terlihat beberapa kali dia tersenyum sendiri, entah apa yang sedang di pikirkannya sampai dia sesenang itu. Tiba-tiba ponselnya berdering. Begitu dia melirik siapa yang menghubunginya langsung di raih ponselnya dan menjawab panggilan secepatnya walaupun dia sedang menyetir. Raut wajahnya yang tadi senang berubah menjadi serius, dan dia menepikan mobilnya.
"Apa tidak bisa dirimu saja?. Ayolah semua orang tahu siapa dirimu."ucap Chris kesal.
" Baiklah kau urus saja semua, aku tidak mau tahu. Merusak rencana ku saja." Chris mengakhiri pembicaraan dan melempar ponselnya ke kursi sebelah dengan gusar.
Aku sudah membuat rencana yang sempurnya untuk dua hari ini dan sekarang semua berantakan. Memangnya gampang apa?!.Maki Chris dalam hati.
Setelah menarik napas panjang dan menenangkan dirinya dia kembali melanjutkan perjalanannya. Senyum yang tadi menghiasi wajah tampannya sudah benar-benar hilang dari wajahnya. Sekarang ekspresi wajahnya datar tidak karuan. Tapi mungkin itu lebih baik daripada dia memasang tampang marahnya.
Sementara itu di sebuah rumah, ibu dan anak tengah asik mengobrol sembari memilih pakaian. Si anak tampak frustasi lantaran ibunya selalu mengacungkan kedua ibu jarinya pada setiap pakaian yang ditunjukkan anaknya.
"Buuuuuuuu,,, aku jadi tambah bingung kan kalau semua ibu bilang bagus, terus aku mesti pakai yang mana."Alex memasang tampang cemberut.
Sementara ibunya hanya terkekeh melihat kelakuan anaknya dan berkata," Mau bagaimana lagi, anak ibu selalu terlihat cantik pakai baju apapun kok. Lagian kenapa harus pusing, katanya kamu dan Chris cuma teman, biasanya kamu keluar sama Stefi atau Ratna ga pernah sampai harus bongkar isi lemari. Sudah kamu ngaku saja kamu sama Chris pacaran kan. "
Mendengar perkataan ibunya telinga Alex berubah merah.
" Ibu jangan sembarangan, kita beneran cuma teman. Mana mungkin orang setampan dan sekaya Chris memilih orang yang sangat-sangat biasa saja seperti ku. Ibu belum lihat sih para saingan ku. Mereka dan aku bagai langit dan lapisan terdalam dari bumi, jauh banget Bu. "
" Ya sudah kalau memang cuma teman, tapi perasaanmu yang sebenarnya bagaimana?. Jangan bohong ya, kamu ga bisa bohong sama ibu. "ancam Ibu pada Alex.
" Nggak tahu Bu, tahu sendiri kan aku belum pernah pacaran sama sekali. Mungkin aku suka dia atau perasaanku salah mengartikannya sebagai rasa suka karena ini pertama kalinya aku dekat dengan pria. " curhat Alex.
Melihat kegalauan putrinya Ibu Yulia membelai lembut tangan anaknya dan berkata," Nggak ada salahnya mencoba, jadi kamu bisa tahu perasaanmu sebenarnya. Asal kamu jangan takut sakit dan jangan kapok. "
" Maksud ibu? " tanya Alex bingung.
" Ya, nggak semua jawaban dari perasaan yang kita miliki mendapat jawaban seperti yang kita inginkan. Cari jodoh itu nggak gampang. Jangan baru gagal sekali terus ga mau coba cari lagi. Ntar kamu membujang seumur hidup lho. "
" Ibu Bahasa nya tempo dulu banget, membujang heheheheheh, sekarang itu di sebutnya jomblo Bu. "
" Husssh kamu di kasi nasehat kok malah ngetawain Bahasa ibumu ini lho. " Ibu dan anak tertawa terkikik bersamaan.
" Yah pokoknya jangan kapok kalau seandainya gagal, coba terus sampai nemu yang pas. " sambung ibu.
Karena jelas sekali dia tidak bisa membantu anaknya memilih pakaian ibu lalu keluar kamar membiarkan Alex pusing sendiri.
Baru saja hendak menyiapkan bekal makan siang suaminya tiba-tiba bel berbunyi. Tanpa melihat ibu sudah tahu siapa yang sedang menunggu untuk di bukakan pintu. Dia sendiri sedang tidak mengharapkan tamu. Hanya penghuni rumah yang satu lagi yang sedang mengharapkan tamu, dan sekarang dia pasti sedang panic nggak karuan mendengar bel pintu tadi, karena jelas-jelas tadi dia belum siap sama sekali.
Dan benar saja, begitu pintu di buka, Chris berdiri dengan senyum manisnya.
"Siang Bu." sapa nya pada sang pemilik rumah.
"Ayo masuk Chris, kayaknya kamu mesti sabar nunggu ya, soalnya Alex masih lama baru selesai."
"Lagi dandan ya Bu?. Dia itu padahal seperti hari-hari biasa aja cukup kok, ga perlu di apa-apain lagi." ucap Chris memuji anak dari lawan bicaranya. Entah dia mau mengambil hati orang tuanya dulu dengan memuji anak gadisnya atau dia sedang becanda saja.
"Tuh kan, tadi ibu juga bilang gitu waktu di suruh bantuin pilih baju yang mau di pakai, tapi dia ga percaya. Coba nanti kamu kasi tahu dia, siapa tahu kalau kamu yang kasi tahu dia denger, kan dandannya buat kamu."
Chris hanya nyengir mendengar ucapan Bu Yulia. Rasanya dia sudah mendapatkan lampu hijau dari semua anggota keluarga kecuali Alex. Ya, yang bersangkutan malah masih tidak sadar sama sekali akan maksud dari semua perlakuan Chris kepalanya selama ini. Seumur-umur ini pertama kalinya dia harus meminta nasehat pada salah satu temannya untuk menghadapi seorang gadis. Selama ini dia tidak pernah bersusah payah jika menginginkan seorang perempuan. Hanya cukup dengan mengajak mereka makan malam maka merekalah yang selanjutnya melakukan semua cara agar bisa semakin dekat dengannya dan menjadi pacarnya. Sedangkan Alex sampai sekarang masih belum menyadari sama sekali semua pertanda yang dia alami selama bersama Chris,dan itu benar-benar membuat Chris kesulitan, karena jujur saja pengalamannya mendekati wanita ya hanya sebatas mengajak makan malam tadi dan sudah bisa dipastikan dia akan mendapatkan wanita manapun itu.
"Nggak apa-apa ya kamu nunggu sendiri. Ibu mau ke studio percetakan bawain Ayah makan siang." ucap ibu pada Chris yang tengah duduk menonton TV di ruang keluarga.
"Kalau kelamaaan sekali kamu ambil tuh kaos oblong Andre terus tiduran, kasian kemeja kamu tar keriput kalau tiduran pakai itu." tambah ibu sembari tertawa geli lalu dia berlalu ke luar.
Sepuluh menit berlalu sejak kepergian ibu dan tanda-tanda kemunculan Alex masih belum tampak. Chris sudah mulai mengantuk karena bosan. Dia akhirnya memilih untuk menyusul ke kamar. Dia belum pernah masuk ke kamar manapun di rumah ini, tapi karena dia sering kemari dia sudah cukup sering melihat para penghuni rumah keluar masuk kamar masing-masing, jadi dia tahu kamar mana yang dituju.
Alex yang saat itu baru selesai memoleskan makeup ke wajahnya terperanjat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Segera dia beranjak dari meja riasnya untuk membuka pintu.
Pasti itu ibu mau suruh aku cepat-cepat karena kasian Chris menunggu lama. Terka Alex.
"Iya Bu ini aku udah hampir sele..." Alex tak menyelesaikan ucapannya karena yang saat ini berdiri di depannya adalah Chris.
__ADS_1
"Sejak kapan ibumu tinggi dan tampan?. Sudah selesai belum Tuan Putri, lama-lama cerita dongengnya bisa ganti cerita. Bukannya Putri Tidur, tapi Pengeran tidur saking lamanya nunggu Tuan Putri dandan."
"Kamu ngapain di sini, sana tunggu di depan, nanti ibu lihat dia bisa marah. Nggak sopan tahu ini kan kamar cewek." Alex celingak-celinguk memastikan ibunya sedang tidak melihat mereka berbicara di depan kamarnya. Bagaimanapun dekatnya pertemanan mereka tapi tetap saja kalau mereka itu pria dan wanita dan menurut orang tuanya hal seperti ini tidak pantas.
" Masih bengong, sudah sana." bisik Alex sambil berusaha mendorong tubuh Chris menjauh.
"Tenang aja di rumah cuman ada kita berdua. Ibu sudah dari tadi pergi ke tempat ayah." jelas Chris sehingga Alex berhenti mendorongnya, meskipun sebenernya dia tidak bergerak sedikit pun dari tempat berdirinya sejak awal. "Memang nya kenapa kalau ibumu melihat, kita akan dinikahkan begitu?. Bagus dong, lain kali aku akan coba lagi kalau orang tuamu ada di rumah."
"Sembarangan, siapa juga yang mau menikah dengan pria tebar pesona sepertimu. Tunggu di sini aku ambil tas dulu." meskipun ucapan Alex terkesan cuek sebenernya dia sedang berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang mendengar ucapan terakhir Chris. Entah kenapa sepertinya hatinya setuju dengan ide Chris soal dinikahkan.
Ketika dia hendak mengambil tas selempangnya di atas tempat tidur dia di dikejutkan oleh sepasang tangan yang melingkar erat di pinggangnya, dan punggungnya dapat merasakan hangatnya dan lebar nya dada Chris.
"Aku sudah tidak tahan lagi." ucah Chris menunduk membenamkan kepalanya ke tengkuk Alex. "Kalau kubiarkan terus semua ucapan mu, bisa-bisa tembok pertemanan yang kau bangun akan semakin tinggi dan akan sulit untukku melampauinya. Siapa yang bilang aku ingin kau jadi temanku?. Sejak awal kau lah yang memutuskan seperti itu, dan entah berapa kali sudah aku menunjukkan padamu dengan kata-kata dan perbuatan, tapi otak es mu tidak sadar juga dan malah membangun tembok pembatas semakin tinggi. " Chris meluapkan semua isi hatinya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan nasehat temannya yang menyuruhnya menyiapkan hal yang romantis dulu sebelum menyatakan perasaannya. Kalau sekarang dia di tolak maka terbuang sudah semua hal yang sudah dipersiapkannya sejak 3 hari kemarin. Alex tidak mencoba melepaskan diri dari pelukannya, apakah ini pertanda bagus.
"Alex apa kau masih hidup?. Kau mendengar semua yang ku katakan kan?." tanya Chris karena wanita yang di peluknya tidak bergeming sedikit pun.
"Ya aku rasa aku masih hidup." Alex meletakkan telapak tangannya di dada memastikan kalau jantungnya masih berdetak. "Aku tidak sedang bermimpi kan?. Selama ini aku berusaha sebisa mungkin menjadi teman yang baik untukmu, karena aku takut kalau aku sampai menunjukkan perasaanku yang sebenarnya kau akan menjauh dariku. Makanya aku pikir lebih baik menjadi teman asal aku bisa selalu di dekatmu. " akhirnya Alex berhasil mengumpulkan nyawanya yang sempat terpencar ke segala arah tadi, dan dia bisa mengucapkan beberapa patah kata untuk menjawab Chris.
" Dasar bodoh, apa kau benar-benar tidak sadar akan semua tanda yang aku tunjukkan. Kau benar-benar membuat ku bekerja keras." Chris menggigit lembut telinga kanan Alex.
Sebuah desahan lembut keluar dari mulut Alex dan dia segera menutup mulutnya dengan cepat begitu menyadari suara yang keluar dari mulutnya. Ketika gigitan tadi mendarat di kupingnya ada perasaan seperti dia naik roller coaster saat sedang menurun tajam, tapi alih-alih tegang ada perasaan menyenangkan yang dia rasakan. Perasaan tak terjelaskan karena baru kali ini dia rasakan.
Apa ini ya yang namanya perasaan bergairah?. Alex kembali menerka-nerka dalam hatinya. Dia memang belum pernah pacaran atau bahkan sekedar bergandengan tangan dengan lawan jenis,tapi dia sangat suka membaca komik dan novel romantis, jadi sedikit banyak dia tahu hal-hal tentang percintaan meskipun selama ini dia hanya menerka-nerka saja bagaimana rasanya.
"Sepertinya telingamu lumayan sensitif ya." Chris sudah hendak menggigitnya lagi tapi Alex dengan cepat menutup kedua telinganya.
Meskipun dia menikmati perasaan aneh yang sekejap dia rasakan tadi, tapi dia terlalu malu dan tak tahu harus bagaimana, jadi dia memutuskan untuk tidak merasakannya lagi.
"Aku sudah siap, ayo kita berangkat sekarang." ucap Alex mengalihkan diri.
Chris melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Alex sehingga sekarang mereka saling berhadapan dan bertatapan. Alex segera mengalihkan pandangannya karena dia merasa malu. Dia belum pernah berada di situasi seperti ini jadi dia tidak tahu harus bagaimana. Chris sepertinya menyadari apa yang terjadi, dia memegang dagu Alex dan membuat mereka bertatapan kembali dan berkata, "Apa kau merasa canggung dan malu?". Tatapan matanya beralih silih berganti dari mata ke bibir mungil gadis di depannya. Perlahan wajahnya semakin mendekat dan mengecup lembut bibir Alex, dengan mata terpejam Alex membalas kecupan lembut Chris. Saat tadi wajah Chris semakin mendekat dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dengan cepat otaknya kembali mengingatkan semua adegan ciuman dari novel-novel yang selama ini dia baca dan mempraktekkannya saat ini. Ketika wajah Chris hanya tinggal satu senti di depannya Alex segera menutup matanya menanti bibir Chris mendarat di bibirnya. Begitu dia merasakan bibir lembut Chris, Alex segera membuka sedikit bibirnya sehingga kini bibir bawah Chris berada di antara bibir mungilnya dan dia pun ********** pelan tapi pasti, semakin memperdalam ciumannya.
Chris yang awalnya hanya bermaksud memberi kecupan singkat untuk mengurangi perasaan canggung Alex terperanjat merasakan balasan ciuman dari Alex, tapi dia cepat menguasai keadaan dan menunjukkan pada Alex kalau dialah yang menguasai situasi. Dibiarkannya Alex mengulum bibir bawahnya sampai Alex merasa lebih tenang dan tidak setegang di awal kemudian dia membuka celah dengan lidahnya dan ******* bibir mungil Alex dengan lebih agresif.
"Apa kamu yakin aku adalah laki-laki pertamamu?. Sepertinya kamu cukup mahir untuk ukuran pertama kali." meskipun mereka sudah berhenti berciuman tangan Chris masih melingkar mesra di pinggang Alex.
"Aku hanya mempraktekkan apa yang kubaca dari novel. Bagaimanapun juga aku tidak mau terlihat memalukan dan tidak berpengalaman, meskipun memang aku tidak berpengalaman" sahut Alex sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah karena malu. Dia meraba bibirnya yang terasa menebal. Chris tak bisa menahan senyum nya melihat berapa lucunya reaksi Alex saat ini.
"Tampaknya aku harus berterima kasih pada semua pengarang novel yang kamu baca, karena sudah memberimu teori-teori yang berhasil membuatku meleleh." ucap Chris dan Alex langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu. "kita harus pergi sekarang, sebelum aku kehilangan kontrol atas diriku sendiri. Melihatmu menyentuh bibir dengan eksperi malu-malu begitu membuat ku ingin ********** lagi." lanjut Chris lalu menggandeng Alex keluar.
Di dalam mobil mereka tidak banyak bicara karena Alex masih saja merasa malu. Setiap kali mereka harus berhenti karena lampu lalu-lintas Chris akan menggenggam tangan Alex dan meremasnya lembut.
Mereka menikmati makan siang di restoran bawah laut. Alex sudah kembali membuka percakapan dan berkali-kali mengucapkan betapa dia senang sekali bisa datang ke restoran terkenal dan mahal ini. Dan tak henti-hentinya dia memandang takjub pemandangan bawah laut yang terlihat dari kaca yang memisahkan mereka dengan lautan.
"Maaf aku pasti kelihatan norak sekali ya?"
"Kamu terlihat sangat manis. Hei jadi lah dirimu yang biasanya karena itu lah yang kusuka darimu. Kau tidak usah merasa rendah diri." ucap Chris lalu mengecup tangan Alex.
Senyum terkembang dari bibir Alex, dia kembali mendapatkan rasa percaya dirinya dan keberaniannya. Di belai nya pipi Chris dengan lembut. Mereka benar-benar sedang di mabuk cinta.
Setelah makan siang mereka pergi menonton di bioskop. Tangan mereka berpegangan erat dan Alex bersandar pada Chris. Sepertinya film action yang mereka tonton sudah berubah jadi film romantis di dalam kepala mereka.
"Katakan padaku apa lagi yang ingin kamu lakukan karena aku tidak akan membawamu pulang." ucap Chris berbisik di telinga Alex.
"Ayo kita ke Game Arena." sahut Alex sembari menarik tangan kekasihnya menuju sebuah tempat yang memiliki berbagai macam permainan, dari mulai game balap, tembak, olah raga, disko dan banyak lagi. Mereka berdua mencoba semua jenis game yang ada. Yang menang boleh menjitak kepala yang kalah, dan tentu saja Alex terus kalah, tapi alih-alih menjitak Chris malah mengecup kepalanya atau mengacak-acak rambutnya. Tak terasa hari sudah menjelang malam. Chris kemudian mengajak Alex ke sebuah butik untuk membeli gaun yang akan di pakai untuk makan malam.
Alex merasa tidak enak begitu melihat harga yang tertera dan mengajak Chris untuk pergi ke toko pakaian biasa. Setelah beradu argumen cukup lama Alex menyerah karena Chris berkata dia sudah sangat lapar dan juga sudah memesan tempat untuk makan malam mereka. Alex akhirnya memilih sebuah dress merah selutut dengan potongan dada dan punggung bentuk V. Sebenarnya merah bukanlah warna kesukaannya, tapi dari buku yang dia baca warna merah terlihat berani dan menantang. Dia hanya ingin terlihat berbeda dan memukau Chris malam ini. Ternyata di dalam butik terdapat ruang ganti yang lengkap dengan ruang mandi. Sepertinya ini lah mengapa Chris bersikeras mereka membeli baju di sana jadi mereka bisa mandi juga. Begitu membayar pakaian yang mereka beli mereka pergi ke ruang ganti masing-masing.
Chris memilih kemeja putih dengan setelan jas berwarna hitam dan dasi yang senada dengan warna gaun Alex. Mereka berdua benar-benar tampak seperti pasangan kekasih. Pakaian yang tadi mereka pakai masuk ke tas belanja dari butik. Mobil pun segera melaju ke tujuan berikutnya. Sebuah hotel bintang lima terkenal dengan restoran seafood mereka.
"Apa kamu yakin mau makan seafood malam ini?. Sepertinya baju yang kita pakai lebih cocok untuk makan steak."
"Terserah padamu, mereka juga memiliki restoran steak yang bagus, meskipun tidak sebagus Black Grill. Kalau kamu mau kita bisa makan steak."
__ADS_1
"Tapi kamu bilang kamu sudah pesan tempat." ucap Alex tidak enak, selama ini dia tidak pernah diperlakukan special begini seolah-olah dia adalah ratu dan semua permintaannya di turuti.
"Aku memang sudah pesan karena aku tahu kamu suka sekali seafood, tapi tidak apa-apa kalau kau ingin makan steak." jawab Chris sambil menggenggam kedua tangan Alex dan meletakkan nya di dada."Tapi aku tidak mau kalau kamu memilih steak karena alasan pakaian kita. Kita akan makan steak karena kamu memang ingin makan steak." tambah Chris meyakinkan Alex untuk memilih apa yang dia benar-benar inginkan.
Setelah memikirkan apa yang di katakan Chris, Alex menetapkan pilihannya ke seafood, karena itu memang kesukaannya dan dia ingin mencoba semua tempat makan seafood sebanyak mungkin. Ternyata salah tadi Alex berpikir kalau restoran seafood kurang cocok dengan baju elegan mereka. Begitu masuk dia di buat takjub oleh kemegahan restoran itu. Kursi dan mejanya tampak seperti kursi dan meja kerajaan. Dekorasinya juga tampak mewah. Seragam staffnya juga terlihat mewah, untung saja dia tadi tidak ngotot memaksa Chris untuk membeli pakaian di tempat lain, bisa-bisa penampilannya kalah dengan seragam restoran. Sepertinya ini pertama kalinya dia makan seafood dengan garpu dan pisau, di tambah lagi dengan alunan Biola yang dimainkan oleh musisi yang memang sengaja di minta Chris untuk menemani makan malam mereka.
"Apa kamu menikmati makan malam mu?" tanya Chris ketika mereka sudah keluar dari restoran.
"Aku menyukainya, ini pengalaman baru untukku, meskipun agak sedikit canggung karena pemain biolanya,tapi aku menyukainya terima kasih." Alex melemparkan sebuah senyum dan meremas tangan Chris.
"Aku senang kalau kamu menyukainya, sekarang saatnya kita santai dan bersenang-senang menikmati malam yang indah." ucap Chris seraya mengajak Alex menuju lift dan mereka ke lantai atas tempat bar bernama Rooftop karena tempatnya memang berada di lantai paling atas. Susana yang remang-remang dan lampu yang kelap-kelip membuat Alex bingung kemana harus melangkah. Untungnya Chris menggenggam tangannya erat dan menuntunnya menuju sofa di pojok paling belakang. Suasananya begitu ramai, di depan Dj sibuk memutar musik dan banyak yang memenuhi lantai disko. Ini pertama kalinya Alex mendatangi tempat seperti ini dan sebenarnya dia tidak terlalu suka, tapi dia tidak ingin mengecewakan Chris, bagaimanapun juga satu hari ini Chris sudah menuruti semua keinginannya jadi tidak ada salahnya untuk mencoba mengenal dunianya Chris.
"Kamu mau minum apa?" tanya Chris berteriak di dekat telinga Alex karena harus mengimbangi suara kerasnya musik agar suaranya bisa kedengaran.
"Aku tidak tahu, aku tidak pernah minum alkohol."
"Aku pesankan yang tidak ada alkoholnya ya."
Alex menjawab Chris dengan anggukan agar dia tidak perlu berteriak.
"Apa kamu mau menari?" tanya Chris lagi sambil menunjuk lantai disko. Alex segere menggelengkan kepalanya keras-keras menolak. Untuk duduk di sini saja sudah sangat tidak nyaman untuknya apalagi menari berdisko.
Tangan kiri Chris menggenggam tangan kanan Alex, sementara tangan kanannya merangkul bahu Alex. Di ciumnya tangan Alex yang dia genggam, ciumannya semakin naik dan naik menuju bahu lalu leher lalu dagu dan perjalanan berakhir di bibir Alex. Tangan yang tadinya bergantung di bahu Alex sudah pindah memegangi belakang kepala Alex. Awalnya Alex sedikit canggung dan menolak karena ini di tempat umum sehingga matanya malah melirik kesana kemari saat dicium.
"Tidak usah malu, tidak ada yang peduli dengan kita di sini." teriak Chris di telinga Alex kemudian mengulum telinga Alex. Lagi - lagi Alex merasa berada di roller-coaster yang bahkan lebih kencang dan menggairahkan dari saat di kamarnya tadi. Tangan kirinya secara refleks meremas punggung Chris. Mendapat balasan yang diinginkannya Chris kembali menyerang bibir Alex dan kali ini dia mendapat serangan balik, lidah mereka saling bertautan dan saling menggigit bibir lawan. Perlahan Chris melepaskan genggaman tangan kirinya dan meraba dan meremas paha Alex sedangkan tangan kanan Alex yang kini bebas segera memegangi wajah Chris sambil tetap membenamkan bibir mungilnya sedalam mungkin. Alex sedikit terkejut karena tangan Chris yang tadi meremas pahanya kini menyusup ke bawah gaunnya, tapi karena letaknya hanya sedikit di atas lutut Alex memilih membiarkannya dan kembali menikmati ciuman Chris yang sekarang sedang mengemut bibirnya. Pelan tapi pasti tangan Chris yang berada di balik gaun mengelus lembut ke atas sedikit demi sedikit. Dan akhirnya Alex menghentikan ciumannya secara tiba-tiba, tangannya yang tadi memegangi wajah Chris dengan cepat menekan bagian atas pahanya yang dimana sebenarnya dia sedang menghentikan tangan Chris yang berada di balik gaun nya
"Maaf tapi aku tidak bisa." ucap Alex gugup.
"Apa kamu malu karena banyak orang?" Chris menarik tangannya dan membelai rambut Alex untuk menenangkannya. "Jika kamu mau kita aku akan memesan kamar dan kita lanjutkan di sana."
Alex merasa ingin menangis. Dia memang sangat bahagia karena pria yang dia cintai membalas perasaannya dan di kencan pertama ini dia benar-benar merasa melayang bahagia, ini pertama kalinya dia berkencan dan diperlakukan seperti seorang ratu. Tapi ini terlalu cepat untuknya yang baru mengenal apa itu cinta.
"Alex kamu nggak apa-apa kan?" tanya Chris khawatir melihat perubahan ekspresi wajah Alex.
"Maaf Chris tapi aku tidak bisa, tolong antar aku pulang."pinta Alex.
" Ada apa, kukira kamu menikmati kencan kita, kamu selalu tersenyum dan terlihat bahagia." Chris tidak mengerti apa yang terjadi karena tadi yang dia rasakan Alex menikmati ciuman mereka.
" Maaf tapi ini terlalu cepat untukku."jelas Alex.
" Tidak ada yang terlalu cepat jika kita saling suka, aku benar-benar menginginkanmu untuk jadi milikku."
"Aku tidak bisa, tolong antar aku pulang sekarang atau aku pulang sendiri." mata Alex sudah mulai berkata-kaca. Jika dia harus membuka mulutnya lagi untuk bicara pasti air matanya akan mengalir keluar.
"Baiklah aku akan antar kamu pulang, jangan khawatir." Chris segera memanggil pelayan bar yang melayaninya tadi untuk membayar minuman mereka yang bahkan belum sempat mereka nikmati. "Ambil saja kembaliannya untukmu." ucap Chris menyerahkan selembar uang bernominal besar. Dia tidak mau menunggu si pelayan membuat bon pesanannya karena dia ingin membawa Alex keluar sesegera mungkin. Pelayan bar tampak tersenyum senang menerima uang dari Chris, tak hentinya dia mengucapkan terima kasih.
Dalam perjalanan pulang tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Apakah Chris marah padaku, kenapa dia tidak mengatakan apa-apa?. Bagaimana ini?. Bagaimana kalau dia meninggalkan ku. Kenapa tadi aku tidak biarkan saja dan turuti keinginannya, toh dia bilang dia ingin aku jadi miliknya. Sekarang atau nanti tidak akan ada bedanya kan, ini hanya masalah waktu. Batin Alex bergelut dengan hati kecilnya.
Chris apa yang kau lakukan. Kau membuatnya ketakutan. Apa yang harus kukatakan sekarang. Bagaimana kalau aku salah bicara dan membuatnya semakin takut. Seharusnya aku tidak bergerak terlalu cepat. Tapi mau bagaimana lagi, untuk seorang Chris aku sudah cukup lama dan bersabar menunggunya. tapi tetap saja Alex tidak seperti gadis-gadis yang selama ini dikenalnya. Apa yang harus kulakukan sekarang, dia pasti ketakutan sekali. Batin Chris gusar.
"Kita sudah sampai." ucap Chris pada Alex. Dari tadi dia menundukkan kepalanya jadi dia mungkin tidak tahu kalau sudah sampai. Bisa saja dia mengira mobilnya berhenti di tempat lain dan semakin ketakutan. Mobil berhenti di depan gerbang. Lampu rumah tampak sudah mati, sepertinya orang rumah sudah pada tidur.
"Maaf Chris aku benar-benar tidak bisa, maafkan aku." ucap Alex masih menunduk, kemudian langsung keluar mobil dan berlari masuk ke dalam tanpa memberi kesempatan Chris untuk bicara, bahkan menatapnya pun tidak.
Chris mengacak-acak rambutnya dan memukul setir mobilnya berkali-kali untuk melampiaskan perasaannya yang bercampur aduk. Di raihnya ponselnya dan dia menghubungi seseorang.
"Madeline aku akan sampai di tempatmu dalam 30 menit, kau sudah harus siap saat aku sampai. Tidak usah banyak tanya." panggilan berakhir dan Chris melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi.
*****Pengumuman ****
Maaf ya kalau update nya lama, maaf sekali lagi, jangan kapok-kapok ya nungguin update dari Thor *kedip2
__ADS_1