
Cicha Pov
Suara adzan subuh yang terdengar begitu merdu dari mushola yang tak jauh dari rumah, membangunkan ku dari lelapnya tidur ku.
Segera aku bangun dari tempat tidur ku, bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
Selesai melaksanakan shalat subuh, aku merapikan tempat tidurku. Ku lihat jam dinding di sudut kamar, masih jam lima pagi. Aku berpikir untuk membantu bunda menyiapkan sarapan terlebih dahulu.
Di halaman ruko yang tak terlalu luas, aku melihat ayah yang sedang menyiram bunga. Sedangkan kedua adikku, sibuk membersihkan sampah yang berserakan.
Ya, ayah sudah pulang dari luar kota sehari setelah aku pulang dari rumah sakit. Ayah memang sering pergi keluar kota karena tuntutan pekerjaan dari kantor tempat ayah bekerja.
"Pagi ayah....pagi dek...!" sapaku, melangkahkan kakiku menuju dapur.
"Pagi kakak...!" jawab kedua adikku dan ayah hanya menjawab dengan tersenyum.
dari pintu dapur, ku lihat bunda sedang mengupas bawang merah. Aku juga melihat beberapa bahan makanan sudah siap diatas meja dapur.
"Pagi Bun!" ku cium pipi bunda saat aku sudah berada disampingnya.
"Pagi anak bunda yang cantik !" jawabnya, sambil mencium balik pipiku. Itu sudah seperti ritual baut kami di pagi hari.
Seperti inilah kisah kegiatan yang kami lakukan setiap pagi. Aku dan kedua adikku selalu membantu orang tua kami melakukan pekerjaan rumah semampu kami. Orang tua kami mengajari kami melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak memberatkan buat kami. Berharap aku dan adik-adikku menjadi anak-anak yang mandiri dan tidak manja.
Apalagi aku sebagai anak perempuan, sekaligus anak pertama. Bunda sedikit agak keras padaku, saat mengajari ku melakukan pekerjaan rumah. Seperti bersih-bersih rumah, mencuci, terutama memasak. Bunda berharap aku tak hanya menjadi perempuan yang berpendidikan tinggi, tapi aku juga pandai dalam urusan rumah. Supaya kelak aku menjadi seorang istri idaman bagi suamiku dan menjadi menantu yang disayang mertuaku. Aku selalu merasa ada yang menggelitik dalam hatiku saat mengingat bunda mengatakan semua itu. Hhhhh. Entahlah, mengapa bunda sudah berpikir sejauh itu ?? Mungkin nanti aku bisa merasakannya saat aku sudah menjadi seorang istri.
πΈπΈπΈ
Keyndra Pov
Entah apa yang membuat ku hari ini bersemangat. Mungkin karena hari ini dia sudah bisa masuk sekolah lagi. Aku bisa lebih lama bersama nya jika di sekolah. Meski hanya memandang nya, melihat dia tersenyum, mendengar suaranya dan sejenak menghabiskan waktu bersama saat jam istirahat.
Entah mengapa sekarang dia seperti candu buatku. Tak bisa melihatnya sehari saja, membuat ku tak bergairah sama sekali. Aku ingin memilikinya seutuhnya, aku ingin dia bersama ku selamanya.
Sebenarnya aku sudah merasakan perasaan ini sudah lama. Selama dia menyimpan perasaannya kepada ku.
Ada sesuatu yang membuat ku tak berani untuk memulainya. Aku takut akan melukainya lebih dalam. Aku takut jika nanti aku akan meninggalkannya. Dan itu akan menjadi lebih berat buat diriku untuk melepaskan nya jika perasaan ini lebih dalam lagi.
Sebuah masalah internal keluarga yang menurut ku terlalu rumit untuk dimengerti. Dan mungkin hanya sebagian orang yang bisa memahaminya.
__ADS_1
Tapi mulai saat ini aku sudah bertekad, apapun yang terjadi aku akan berjuang untuk orang yang aku cintai. Aku yakin jika hanya kedua orang tuaku, aku bisa memberi penjelasan dan aku juga yakin mereka bisa mengerti. Tapi aku tak yakin untuk yang lain.
Aku sudah yakin dengan apa yang menjadi keputusanku. Aku tak akan menyerah kali ini. Aku akan membuat orang yang aku cintai bahagia selamanya. Tanpa mengecewakan orang lain yang juga mencintaiku.
Mungkin terlalu dini juga aku mengatakan aku tak bisa hidup tanpa dia. Tapi itu kenyataan yang aku rasakan.
Seseorang yang rela memendam perasaannya, hanya karena ingin menjaga perasaanku. Tak pernah ingin membuatku terbebani. Karena berpikir hanya dirinya yang memiliki dan merasakan cinta itu.
Tanpa pernah siapapun tahu jika selama ini aku juga tersiksa dengan perasaan yang sama. Tapi aku merasa betapa naif dan bodohnya diriku selama ini, sebagai seorang laki-laki yang tak bisa memperjuangkan cintanya.
Mulai saat ini, demi satu nama aku akan memperjuangkannya. Demi satu nama itu aku akan menjadi seorang laki-laki yang kuat.
Cicha Ayunda Prameswari... Ya nama itulah yang akan selamanya terukir dalam hatiku.
πΈπΈπΈ
Cicha sudah siap dengan seragam sekolah lengkapnya. Tas ransel sekolahnya juga sudah menggantung di bahunya.
"Kak... cepetan turun, ayah sama bunda sudah nunggu buat sarapan !" teriak Bisma salah satu adik Cicha, memanggil Cicha yang dari tadi masih di kamarnya.
"Ya dek....bentar lagi kakak turun." Jawab Cicha yang sudah siap di depan pintu kamarnya.
Cicha bergumam dalam hatinya saat melihat motor Keyndra terparkir di depan rumahnya. Tapi tak terlihat siempunya motor gede itu.
"Cha ayo nak cepetan, nih nak Key sudah nungguin kamu dari tadi." Ucap bunda saat Cicha sampai di meja makan.
Terlihat Keyndra sudah duduk di meja makan, bersama anggota keluarga Cicha yang lain. Cicha merasakan suasana hangat saat sampai di meja makan. Keyndra sesekali tertawa lepas saat bercanda dengan kedua adik Cicha. Bahkan ayah Cicha yang susah dekat dengan orang lain, apalagi itu teman cowok Cicha. Terlihat nyaman berbicara dengan Keyndra, seperti sudah lama saling mengenal. Ayah Cicha terlihat senang, terdengar dari suara tawa renyah mereka.
"Cepetan Cha sarapan, kamu mau kita terlambat. Jangan melamun aja!" ucap Keyndra tiba-tiba membuyarkan lamunan Cicha.
"Ya - i - ya...kamu udah sarapan Key?" tanya Cicha sambil menaruh makanan diatas piring nya.
"Udah, bahkan nambah aku tadi. Hhhhh. Makasih ya Cha masakan kamu enak, enak banget malahan, nggak sia-sia aku jemput kamu kepagian." Puji Keyndra memperlihatkan piring nya yang sudah kosong.
"Nungguin kamu kelamaan, jadi kami sarapan dulu, kasihan nak Key." Sahut ayah Cicha terlihat membela Keyndra.
Cicha tersipu malu, wajahnya merona mendengar Keyndra memuji masakannya. Hanya menundukkan kepalanya sambil menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Tak berani menatap pemuda yang duduk di depannya. Sementara Keyndra hanya tersenyum melihat tingkah gadisnya itu.
"Ehh... darimana kamu tahu aku yang masak??" tanya Cicha tiba-tiba saat dia sudah selesai menghabiskan sarapannya.
__ADS_1
"Bunda yang bilang tadi. Bunda juga bilang kamu tuh jago masak." Jawab Keyndra, matanya melirik bunda Cicha.
Bunda hanya tersenyum melihat tingkah pemuda yang sedang dekat dengan anak gadisnya itu.
"Cha aku rela jemput kamu setiap hari, asal bisa makan masakan kamu. Kamu tahu nggak, kamu itu istri idaman banget. Pasti mama seneng kalau ketemu kamu. Soalnya Mama juga hobi masak. Hhhhh." Entah sadar atau tidak Keyndra mengatakan itu didepan kedua orang tua Cicha.
Cicha hanya diam membisu, mulut nya seperti tak bisa bersuara lagi. Malu, salah tingkah dan bingung dengan apa yang dikatakan Keyndra tadi.
"Sudah-sudah sana berangkat sekolah. Nanti kalian terlambat." titah sang ayah.
"Bentar Cicha mau pake celana panjang dulu buat Daleman. Masak ya naik sepeda gede kayak gitu cuma pakai rok gini. Malu Cicha..."ucap Cicha berlari menuju kamarnya mengambil celana.
Cicha sudah siap, mereka berpamitan kepada ayah dan bunda. Sementara kedua adik Cicha sudah berangkat duluan.
"Assalamualaikum ayah... bunda...."pamit kedua nya, mencium punggung tangan kedua orang tua itu, bergantian.
"Wa'alaikum salam... Hati-hati, jangan ngebut. Titip anak ayah sama bunda ya nak Key."
Keyndra menganggukkan kepalanya dan tersenyum, mengiyakan apa yang dikatakan orang tua Cicha.
Motor gede itu sudah meninggalkan rumah Cicha. Membelah kemacetan jalan dipagi hari.
Terlihat suasana canggung menyelimuti kedua insan itu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar. Hanya terdengar kebisingan jalan.
Entah apa yang ada dalam benak mereka saat ini. ( Hanya author lah yang tahu. Hehehe ). Tapi yakin hati mereka saat ini ditumbuhi bunga-bunga yang bermekaran.
πΈπΈπΈ
Terima kasih buat yang sudah membaca
ππππ
Jangan lupa tinggalkan jejak ya setelah membacaπ€π€π€π€
πππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβοΈβοΈβοΈ
Dan jangan lupa komentarnya
Dukungan kakak2 semualah yang menjadi motivasi ku.πππ
__ADS_1