
Senyuman bahagia tak pernah luntur dari wajah cantiknya, senyuman yang terlihat jelas menggambarkan kondisi hatinya saat ini. Dengan langkah gembira dia melangkah ketempat sang bunda berada.
"Pagi bundanya Cicha yang paling cantik!" sapanya kemudian mengecup sekilas pipi sang bunda.
"Pagi, cantiknya bunda!" jawab wanita yang ia dipanggil bunda itu, mengecup balik pipi sang anak, tersenyum hangat pada anak gadisnya, kemudian melanjutkan kegiatan memotong wortel yang akan dimasak.
"Mau masak apa nih Bun?" tanyanya, memakai celemek, lalu mencepol rambut panjangnya, supaya tidak menganggu.
"Mau masak sayur sop, sambel kecap, sama ayam goreng aja buat sarapan, Cha."
"Hmmm... dengernya saja udah bikin perut keroncongan," ujarnya sambil mengusap perutnya.
"Kamu mah, anak gadis hobinya makan mlulu. Tuh liat pipinya sampai kayak bakpao," ledek bunda.
"Gak pa-pa, yang penting masih cantik, hehehe," pede-nya sambil terkekeh pelan.
"Bisa aja kalau jawab," sahut bunda, menarik ujung hidung mancung Cicha. Lalu kedua wanita berbeda generasi itu sama-sama tertawa.
"Udah, sekarang bantuin bunda masak, sebelum para lelaki tersayang kita pada ngerek kelaparan," ujar bunda sambil memotong daging ayam yang akan digoreng.
"Siap ibu ratu!" jawab Cicha dengan tangan kanannya yang memberi hormat.
Setelah itu suasana menjadi hening. Ibu dan anak itu sibuk dengan pekerjaan memasak mereka. Sampai sekitar kurang lebih 45 menit, masakan itu sudah terhidang diatas meja makan.
Beberapa saat kemudian seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Tampak suasana sarapan yang penuh kehangatan. Mereka terlihat begitu menikmati makanan yang mereka makan. Sesekali terdengar canda tawa mereka disela-sela kegiatan itu.
Bunda mengambil piring untuk ayah, dan mengisinya dengan beberapa centong nasi, serta lauk pauk nya, kemudian memberikannya kepada sang suami. "Ini buat ayah."
"Makasih bunda!"
"Sama-sama ayah!"
Yang kemudian dilanjut dengan yang lain mengambil sendiri makanan yang akan mereka makan.
"Kak, emmm... Kak Key gak kesini lagi?" tanya Bisma si bungsu.
uhuukk....uhuukk....
Pertanyaan dari sang adik seketika membuat Cicha tersedak. Dia segera mengambil air putih yang ada didepannya dan meminumnya.
"Pelan-pelan aja kak kalo makan! gak ada yang mau ngrebut," ujar sang ayah, sambil menggelengkan kepalanya.
Ya, yah," jawabnya.
"Emang ada apa kamu tiba-tiba nanyain dia?"
__ADS_1
"Hehehe.... Gak pa-pa sih, cuma kemarin kak Key mau bawain komik, kalau mau kesini lagi."
"Ihh, kamu mah dek, pasti kamu yang minta ya?" Cicha menatap adiknya penuh tatapan menyelidik.
"Jangan minta-minta gitu dek, ayah gak suka!" tegur ayah halus, tapi penuh penegasan.
"Gak yah, aku gak minta kok. Kak Key bilang dia juga suka baca komik, dia punya banyak koleksi komik dirumahnya. Terus kak Key bilang aku mau dikasih beberapa koleksi dia," jelas si adek.
"Lain kali jangan gitu, jangan ngerepotin orang lain," tutur bunda menasehati anak-anaknya.
Mereka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"hmmm... kak, kak Key ganteng ya, baik lagi orangnya. Yang aku liat kak Key suka deh sama kakak, kalo kakak suka gak sama kak Key?" Rangga menggoda Cicha. Si anak kedua dari tiga bersaudara ini menatap kakaknya sambil menaik turunkan kedua alis matanya.
Blushh....
"Nggak usah ngaco deh dek, tahu dari mana dia suka sama kakak? Emang kamu cenayang?" Cicha menatap adiknya itu kesal. Sebenarnya dia sedikit gugup mendengar pertanyaan adiknya, sedikit melirik kearah ayah dan bundanya. Dia memang belum cerita ke orang tuanya, jika dia sudah berpacaran dengan Keyndra. Cicha takut jika orang tuanya akan marah. Karena ayah dan bundanya ingin dia fokus kesekolahnya.
"Ihh, anak ayah pipinya merah. Anak gadis ayah udah gede ya ternyata?" goda ayah, tersenyum jahil melihat semburat merah yang muncul di wajah Cicha.
Cicha tersenyum kikuk, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Ayah ihh..., jangan ngledek!" ucapnya salah tingkah, membuat semua yang ada disitu tertawa.
"Gimana, romantis gak Keyndra nembaknya kemarin?" tanya ayah dengan nada jahil. "Udah sold out dong anak gadis ayah yang cantik?" lanjutnya, sedangkan bunda dan kedua adik Cicha menatap Cicha penasaran, menunggu jawaban Cicha.
uhuukk...uhukk....
"Ayah tahu darimana?" tanyanya gugup. Cicha was-was, dia takut ayahnya akan marah.
Ayah Cicha tersenyum, beliau tahu apa yang dipikirkan Cicha. Pria paruh baya itu juga tahu jika anaknya takut, kalau dia akan marah. Ayah sebenarnya tak pernah mengekang semua anaknya, beliau hanya ingin anak-anaknya fokus pada sekolahnya. Beliau ingin anak-anaknya menjadi orang yang berhasil dimasa depan.
"Mau tahu atau mau tahu banget?" ayah terkekeh melihat wajah Cicha yang tegang, takut untuk memandang ayahnya.
Flashback on
"Hmm, om, tante, saya sebenarnya mau minta ijin sama kalian," ucap Keyndra gugup sambil menggaruk tengkuknya.
"Ijin?" tanya bunda Cicha penasaran, sementara ayah Cicha memandang Keyndra tajam tanpa sepatah katapun, menunggu apa yang akan dikatakan Keyndra selanjutnya.
"Ya ijin, ijin buat jadiin Cicha pacar Key," Keyndra membasahi bibirnya, menjeda omongannya. " Sebelumnya Key minta maaf sama om dan tante, karena berani ngomong gini. Tapi saya gak bisa bohong, saya sudah lama menyukai Cicha, saya sudah tidak bisa menutupi perasaan saya lagi. Key janji sama kalian, Key tidak akan buat Cicha sedih, janji akan bantu om dan tante buat jaga Cicha dan buat Cicha bahagia terus," jelas Keyndra serius.
Ayah dan bunda Cicha masih diam, raut wajah mereka terlihat serius mendengar penjelasan Keyndra.
"Keyndra janji ini semua gak akan mempengaruhi sekolah maupun prestasi Cicha," sahut Keyndra mencoba meyakinkan kedua orang tua Cicha.
"Key janji, kami akan saling mendukung, akan saling memberi semangat, untuk terus menggapai cita-cita kami, sampai kami sukses," lanjutnya.
__ADS_1
Ayah dan bunda Cicha saling pandang, saling melempar senyum. Mereka bisa melihat keseriusan dari pemuda didepannya ini. Mereka juga bisa melihat, kalau Keyndra tulus menyayangi putrinya, mereka bisa melihat semua itu dari keberanian Keyndra. Sulit ditemukan pemuda seperti Keyndra, yang hanya mau nembak cewek saja harus meminta ijin dulu pada kedua orang tua si cewek.
"Iya, om dan tante kasih ijin," ujar bunda tersenyum tulus pada Keyndra.
"Beneran tante, om?" tanya Keyndra antusias.
"Iya, beneran," jawab bunda tanpa ragu. " Iya, kan Yah?" lanjutnya, yang kini menatap suaminya yang dari tadi duduk disamping.
Ayah Cicha hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Tapi inget satu hal, kami gak butuh janji, kami butuh bukti!" tuturnya tegas penuh penekanan.
Keyndra menelan ludahnya kasar, mendengar apa yang dikatakan ayah Cicha terdengar tidak main-main. "Iya om saya akan buktikan!" jawabnya tanpa ragu.
"Kamu lucu Key, mau nembak Cicha aja udah kayak orang mau ngelamar anak gadis orang. Tapi tante suka cowok kayak kamu, gantle. Hihihi...," tutur bunda sambil memberi dua acungan jempolnya pada Keyndra.
"Anggap aja ini DP- nya dulu Tante, ya itung-itung belajar buat nanti kalau mau ngelamar Cicha," ujar Keyndra dengan senyum malu-malu nya, yang membuatnya terlihat tampan dan menggemaskan.
"Hahahaha..., kamu ini bisa saja. Sekolah aja dulu dipikirin, nanti kalau udah sukses baru mikirin ngelamar anak tante."
"Siap Tante mertua, doain Key sama Cicha langgeng, biar bisa ngasih kalian cucu yang yang lucu-lucu. Hehehe...,"
"Amiin...," ucap ketiganya bersama-sama.
"Karena Key udah dapet restu, Key pamit dulu ya om, tante. Jangan kasih tahu Cicha, do'ain besok Key sama Cicha udah jadi pacar ya! biar Key gak jadi sadboy," ujar Keyndra dengan raut bahagia diwajahnya dan binar dimatanya, lalu berdiri dari duduknya bersiap untuk pulang.
"Ya, kami pasti do'ain," jawab bunda yang juga berdiri dari duduknya diikuti ayah.
"Key pulang dulu ya, Assalamualaikum," pamit Keyndra sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Cicha.
"Wa'allaikumsalam...," jawab ayah dan bunda Cicha bersama-sama.
"Hati-hati dijalan, gak usah sok jadi pembalap!" nasehat ayah sambil menepuk bahu Keyndra.
Keyndra tersenyum, menganggukkan kepalanya, lalu naik keatas motornya, memakai helm full face nya, lalu menghidupkan mesin motornya itu, dan berlalu meninggalkan pelataran rumah Cicha.
Flashback off
Ayah menceritakan pada Cicha, tentang bagaimana Keyndra yang dengan berani meminta ijin kepada mereka. Jangan ditanya bagaimana bahagianya Cicha mengetahui hal itu.
"Kalau gitu, ayah sama bunda kasih ijin dong ke Cicha keluar jalan-jalan sama Key?!" tanya Cicha takut-takut gak dikasih ijin.
"Cieee...cieee..., kakak aku udah gede, kakak mau nge-date ya?" tanya Rangga menggoda kakak nya.
Cicha tersenyum malu, wajahnya merah merona. "Apaan sih dek?" Cicha salah tingkah.
"Ayah kasih ijin, tapi inget jangan aneh-aneh, paling lambat jam sembilan harus udah pulang!" ujar ayah.
__ADS_1
"Aye...aye...captain!" jawab Cicha senang.
❤️❤️❤️❤️